My Mine Is Human

My Mine Is Human
50. Memantau



Author Pov


Gelapnya langit malam tergantikan dengan sinarnya mentari pagi ini. Semua orang dirumah sudah bangun, kecuali dikamar Lucien dan Ashina. Lelaki itu baru saja membuka matanya karena sebuah suara kicaun burung dipagi hari ini, matanya menyipit untuk membiaskan cahaya didalam ruangan yang terpantung oleh sinar mentari disela-sela jendela kamarnya.


Lelaki itu bangkit dari berbaringnya dan menyenderkan badannya diatas kepala tempat tidur. Kepalanya melirik kearah Ashina dimana gadis itu masih nyaman dengan tidurnya, sesaat tangan Lucien mengelus pelan pipi Ashina sehingga gemulatan kecil Ashina membuat Lucien menghentikan tangannya.


Dengan senyuman kecil lelaki itu mengecup pelan kening Ashina sebelum beranjak untuk pergi mandi. Ya, Lucien tersenyum tipis karena melihat Ashina yang ternyata tak merasa terganggu dengan usapan tangannya.


Beberapa saat berlalu, Lucien keluar dengan wajah yang segar lalu mengganti bajunya seperti biasa. Hari ini dia memilih cuti karena ingin menghabiskan waktu dengan Ashina yang beberapa hari ini tak ia dapati darinya karena sibuk dengan urusan Pack maupun pekerjaan kantornya.


Lelaki itu melirik kembali kearah Ashina yang masih tertidur dengan pulasnya. Lalu membiarkan gadis itu tidur untuk beberapa saat lagi, dan meninggalkannya untuk turun kebawah dan sarapan bersama keluarganya. Benar saja semuanya sudah kumpul dimeja makan termasuk.... Ah wanita itu juga ada dimeja makan.


"Selamat pagi," sapa Lucien sebagai rutinitas.


"Pagi," jawab mereka semua serempak.


Lalu Lucien duduk disamping Venus dan jauh dari hadapan Ambarita. "Kak Ashina dimana?" tanya Venus sambil menaruh beberapa lauk dipiringnya.


"Dia masih tidur." Jawab Lucien.


"Kenapa kau membiarkannya bangun telat? Bukankah seorang Mate dan calon Luna harus rajin dan disiplin?" timbrung Ambarita.


"Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan Nona, sama sepertimu." Kata Venus dengan nada tak sukanya.


Ambarita menaikkan sebelah alisnya bingung. "Apa aku salah berkata seperti itu?" tanyanya.


"Pikirkan saja sendiri," gumam pelan Venus.


"Sudah. Tak baik kalian berdebat dimeja makan, hormati orangtua yang ada disini," tegur Luna Ashley kepada mereka.


Lalu matanya menatap kearah Lucien yang tengah memakan sarapannya. "Apa dia sakit?" ucap lagi Luna Ashley.


"Tadi malam dia mengeluh kepalanya sangat sakit secara tiba-tiba," kata Lucien sambil menatap sekilas Ambarita dengan tatapan tajamnya. "Karena itu membuatnya terjaga ditengah malam, dan aku membiarkannya tidur untuk beberapa saat hingga dia bangun sendiri dan merasakan enak lagi kondisinya." Lanjut Lucien panjang.


"Jika dia masih pusing jangan lupa bawa Ashina ke rumah sakit Pack ini. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa," kata Luna Ashley.


"Baik Mom, aku mengerti." Ucap Lucien berusaha menenangkan keadaan.


Tak beberapa lama gadis yang dibicarakan itu turun dari tangga dan menghampiri mereka yang masih sibuk dengan sarapannya yang terbilang sepi kali ini. Tidak ada drama Mars dan Venus saling bertengkar karena masalah sepele, sangat berbeda!


"Selamat pagi semua, maafkan aku karena terlambat bangun." Ujar Ashina dengan suara sedikit serak.


"Ash, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau tak enak badan." Kata Amma melihat wajah Ashina yang sedikit pucat.


Dengan senyum tipis, gadis itu berucap. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir."


"Duduklah disamping Lucien. Ve, kau boleh pindah disamping Mars yang kosong." Ujar Luna Ashley yang diangguki cepat oleh Venus.


Mereka bertukar posisi dan kini Ashina duduk disamping Lucien. "Apa kau yakin baik-baik saja?" tanya lagi Lucien memastikan dengan menyapu helaian rambut yang menutupi pipi Ashina.


"Ya, tenang saja. Kenapa kau tak membangunkanku? Aku tak enak kepada semuanya," bisik Ashina.


"Aku tahu, tapikan--" ucapan Ashina terpotong oleh suapan Lucien yang mendarat tepat didepan mulutnya.


"Buka mulutmu jangan banyak bicara. Selesaikan sarapan dan kita akan berbicara sepuas yang kau mau, oke?" kata Lucien.


"Baiklah," ujar Ashina lalu melahap suapan yang diberikan oleh Lucien. Tangan lelaki itu terulur untuk mengacak gemas rambut Ashina yang masih sedikit basah karena habis mandi.


"Ya, lakukan saja. Anggap saja kita disini hanya patung," beo Mars memulai.


"Sudah biasa setiap pagiku melihat kemesraan ini." Imbuh Venus. Semua orang tertawa kecuali Ambarita yang juga tertawa namun seperti dendam.


Tangannya disembunyikan dibawah meja makan, terlihat jika tangan wanita itu mengepal dengan sangat kuat. Bibirnya tersenyum palsu dan hatinya penuh dengan amarah dan kecemburuan, namun apakah Ambarita masih berhak atas rasa cemburu itu?


Sarapan selesai, mereka masing-masing melakukan pekerjaannya. Lucien dan Ashina berada ditaman belakang menghabiskan waktu berdua untuk sekedar bercengkrama.


"Ash, saat kita menikah nanti aku ingin mempunyai anak denganmu 10. Bagaimana?" kata Lucien sambil memainkan jemari Ashina dan menyandarkan kepalanya dipundak gadis tersebut.


"Kau gila! Jika kau mau, maka kamu saja yang hamil lalu melahirkan mereka semua," ucap Ashina sedikit memukul tangan Lucien dengan pelan.


Lelaki itu tertawa renyah. "Tapikan banyak anak kecil maka rumah kita akan semakin ramai," ujarnya lagi.


"Ya aku tahu itu. Mengasuh mereka apa itu mudah dilihat? Yang benar saja, menurutku dua anak saja sudah cukup." Kata Ashina.


"Jika kau tak bisa memberiku 10 anak, maka kita buat saja 5 bagaimana?" nego Lucien sambil melepaskan tangannya dari tangan Ashina dan badannya tegak duduk.


Tangan lelaki itu menunjukkan kelima jarinya kearah Ashina. Gadis itu tertawa begitu juga dengan Lucien, mereka terlihat sangat bahagia ditambah dengan bunga-bunga disekeliling mereka menambah kesan romantis dan humoris yang dirasakan.


Ashina sangat senang, walaupun Lucien terkenal sebagia Alpha yang kejam dan berwatak dingin. Namun jika sudah dengannya sifat itu seolah hilang begitu saja, Ashina juga sudah pernah melihat Lucien memarahi anggotanya, memukul warriornya, menghabisi rogue liar yang berusaha masuk kedalam Pack ini. Awalnya sempat terkejut dan trauma, namun dia berusaha membiasakan diri dibantu dengan buku yang bercerita tentang kehidupan Werewolf.


Gadis itu mengerti, jika pasangannya itu melakukan hal seperti yang sudah terjadi dan terbilang sadis hanya untuk melindungi Pack dan para Anggota juga keluarganya. Maka dari itu Ashina sudah terbiasa akan hal semuanya.


Disisi lain, Ambarita terus melihat gerak gerik dari mereka berdua. Amarah demi amarah seolah menumpuk didada Ambarita dan ingin sekali ditumpahkan begitu saja, namun ini bukanlah awal strategi dia datang kemari. Permainan perlahan demi perlahan akan sangat menyenangkan menurut Ambarita sendiri.


"Kita lihat saja Ash, mungkin kali ini kau masih bisa bahagia dengan Lucien. Namun aku tak akan membiarkan hal itu bertahan lama," ujarnya pelan dengan dirinya sendiri.


Lalu sebuah tepukkan tangan dipundaknya cukup membuat wanita itu terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orangnya.


"Sedang apa kau kemari?!"


\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued....


Hi guys happy reading. Santaikan saja jangan terpancing emosi sama Ambarita😂 semoga suka, jangan lupa like vote dan comment.


Nah tuh Ambarita punya prinsip "permainan perlahan demi perlahan akan sangat menyakitkan." kira-kira gimana ya?😳


Stay terus dicerita ini❤️❤️


See you next part**