My Mine Is Human

My Mine Is Human
24. Mencari tahu



Ashina Pov


Pagi-pagi sekali seperti biasanya aku langsung memegang benda keramat yang tak lain adalah pembersih rumah. Menyapu, mengepel, masak atau yang lainnya adalah rutinitasku setiap pagi buta seperti ini, saat Ibu dan Adella bangun. Mereka hanya tinggal sarapan saja, ya aku sudah terbiasa dengan itu.


Setelah semua dirasa sudah beres, aku menghembuskan napasku lelah. Tapi entah kenapa pagi ini hatiku sangat senang, apa karena aku tidak sabar mengetahui apa itu makhluk Werewolf dan makhluk Immortal lainnya? Entahlah aku pun bingung.


Aku langsung bergegas mandi dan berganti baju kerjaku untuk siap-siap pergi ke-Cafe. Dengan bersenandung senang aku terus menatap wajahku kearah pantulan cermin.


"Oh Ashina, kau nampak lebih baik hari ini." Kataku berbicara sendiri, senyuman tak terlepas dari bibirku.


Dirasa semuanya sudah selesai dan rapi, aku langsung keluar dari kamar dan melihat Ibu juga Adella tengah sarapan berdua. Seperti biasa mereka seolah tak meganggapku ada jika sedang makan.


"Aku berangkat dulu, semoga suka dengan menu baruku," ucapku dengan tersenyum tipis lalu pergi keluar dari rumah.


Ya, aku mencoba menu sarapan baru yang resepnya dikasih oleh salah satu teman karyawanku disana. Entah aku yang terlalu bahagia atau waktu yang begitu cepat, aku langsung sampai didepan cafe dan mataku langsung menyapu keseluruh sudut ruangan cafe yang membuatku memiliki uang saat ini.


"Selamat pagi Ash," sapa Anna dari arah belakang dengan tiba-tiba.


Aku sedikit terperanjat namun masih bisa ku tahan karena melihat pelaku itu adalah Anna. "Kau ini hampir membuatku jantungan!" cercaku.


Gadis itu menampakkan cengirannya seperti tak berdosa. "Maafkan aku, ah ya aku membawa apa yang kamu minta semalam. Ini," katanya sambil mengulurkan tangan dengan sebuah novel yang aku minta semalam.


Seketika kekesalanku kepadanya sirna begitu saja. Mataku langsung berbinar senang, novel yang berjudul tentang mitologi Werewolf yang aku tunggu akhirnya didapatkan juga.


"Ah aku sayang padamu An, terimakasih banyak. Aku akan meminjamnya apa kau tidak keberatan?" ucapku penuh antusias pembicaraan kita terus berlanjut sambil berjalan menuju bar Cafe.


"Tidak masalah, bacalah sesukamu. Aku sudah membacanya, tapi semalam kau belum menjawab pertanyaanku." Katanya sambil menaruh tas sling bag nya diatas meja.


"Pertanyaan yang mana?" tanyaku tak ingat.


Anna berdecak pelan. "Tumben sekali kau ingin membaca novel? Apalagi judulnya tentang fantasi begini, kau kan suka bilang jika memegang buku seperti gadis nerd saja. Padahal kau tidak membaca saja fashion-mu sudah kuno." Katanya seperti mengejek.


Aku melototkan mataku kearah Anna. "Ya terimakasih sudah memujiku Anna, aku sangat tersanjung. Aku hanya sedikit penasaran dengan asal usulnya," ucapku sambil memakai celemek dengan nama Cafe tempatku bekerja ini.


Anna hanya tertawa ringan, begitu pun denganku. Tak ada yang menganggap perkataan Anna serius, hingga akhirnya kita disibukkan dengan pelanggan yang silih berganti berdatangan. Hingga akhirnya jam istirahat dimulai.


Aku langsung meraih buku tersebut dan langsung membacanya tanpa membutuhkan waktu lama lagi. Untungnya pengunjung tidak begitu ramai hari ini dan para karyawan membiarkanku sedikit memperbanyak waktu istirahat untuk sekedar membaca, ah mereka memang sangat baik kepadaku aku mencintai mereka!


Hingga akhirnya aku sedikit memahami jika seorang Werewolf tak selamanya menyeramkan, mereka juga punya sisi baiknya karena mereka buka serigala sepenuhnya, hanya setengah serigala. Dan aku baru mengetahui jika didalam diri seorang Werewolf terdapat serigala dan bisa berganti badan kapanku.


Oh astaga, apakah Lucien juga seperti itu? Didalam tubuh kekar dan wajah tampannya terdapat makhluk lain didalam dirinya? Untuk membayangkannya saja sudah mengerikan, bagaimana aku melihatnya langsung, ah aku tidak ingin melihatnya.


Aku sudah mengetahui arti dari nama Luna, Beta, Gamma, Omega dan lainnya. Ini sangat unik menurutku apalagi yang namanya Pack, memiliki wilayah sendiri yang dipimpin oleh Werewolf terkuat diwilayahnya. Entah kenapa ini sangat keren.


Namun aku baru ingat dan sedikit terkejut, aku baru mengerti saat Luna Ashley berkata tentang meting yang artinya adalah berhubungan lebih dari sekedar berciuman? Ini gila, dan lebih gilanya jika seorang Werewolf bertemu dengan Mate-nya maka harus segera menandai. Tapi kenapa Lucien tidak seperti itu kepadaku?


"Apa kau sakit?" tanya suara seorang lelaki yang membuat pijitanku berhenti.


Aku menolehkan pandangan mataku kepada suara tersebut. Dan... Ya siapa lagi suara lelaki itu jika bukan LUCIEN, oh god apa lelaki ini tidak bisa sehari saja tak menampakkan wajahnya dihadapanku? Menyebalkan.


"Tidak," jawabku acuh tak acuh.


"Kenapa sifatmu seperti ini, Ash? Apa ada masalah? Ceritalah padaku," desaknya.


Aku menghela napas pelan, dengan senyum semanis mungkin aku berkata kepadanya. "Aku baik-baik saja Luc, sedang apa kau kemari? Karyawan akan menghampirimu dan menanyakan kau memesan apa."


Lelaki itu ikut tersenyum, sangat manis! "Aku hanya ingin pesananku diantarkan olehmu saja," katanya seperti tengah menjeda ucapannya. Lalu berkata lagi, "kau tengah membaca buku apa?"


Dengan buru-buru aku langsung menyembunyikan buku tersebut dibelakang tubuhku. "Tidak ada, hanya iseng saja," kilahku cepat lalu berdiri dan menanyakan, "ingin memesan apa?" tanyaku.


Nampak wajah Lelaki itu seperti sedang meneliti kebohongan diwajahku, oh ayolah semoga tak ketahuan. "Seperti biasa," ucapnya sambil menatapku lekat.


"Baiklah, silahkan kembali dan aku akan mengantarkan pesananmu." Ujarku, Lucien menuruti dan balik dimeja yang dia tempati.


Selang beberapa menit, aku langsung mengantarkan pesanannya. "Silahkan dinikmati, permisi." Kataku dengan ramah seperti biasa.


"Duduklah denganku," pintanya.


Aku tersenyum tipis. "Maaf tuan aku sedang sibuk bekerja, ini waktu kerjaku." Kataku dengan sopan.


"Baiklah," katanya. Aneh tidak seperti biasanya, iya biasanya dia akan mencekal tanganku dan memaksaku untuk menuruti permintaannya, tapi ini tidak.


Karena aku tak beranjak pergi dari hadapannya, Lucien kembali berkata. "Kenapa kau masih disini? Bukankah kau bilang sedang sibuk? Atau---"


"Aku kembali, permisi." Potongku cepat.


Terdengar suara tawa lelaki itu renyah sekali, sampai aku melihat seorang wanita terpana akan hal itu. Karena aku sudah kembali dibar Cafe, aku bisa melihat jika perempuan itu mendekat kearah Lucien.


Mau apa wanita itu? Dasar, matanya tak bisa dijaga jika melihat lelaki tampan didepannya. Eh tunggu, kenapa aku jadi kesal dan panas seperti ini? Apa urusanku akan hal ini? Lagian Lucien bukan siapa-siapaku, tak ada hak. Ya Ash, kau tidak ada hak atas hal ini.


Tapi mataku terus menatap kearah mereka, terdengar sekilas wanita itu menyapa.


"Hai, boleh berkenalan?" katanya dengan nada yang... menggoda?


**To be continued.....


Up nih, sesuai judul chapter kemarin (butuh waktu) author juga butuh waktu ide🤣 oke deh ayoloh Lucien ada cewek yang deketin, kenapa Ashina bilang panas? Emang dicafe ac nya rusak yak Ash? wkwk, oke jangan lupa like vote dan comment yang banyak biar author semangat up, boleh juga ajak temen, keluarga atau partner yang suka fantasi baca ceritaku hehe. Maaf ya suka telat up😌


See you next part🐺❤️**