
Ashley Pov
Bagaimana perasaanmu jika tiba-tiba kau dikejutkan dengan kedatangan teman lamamu yang sudah seperti keluarga sendiri? Apa tidak senang? Itulah yang aku rasakan saat Josh tiba-tiba datang menghampiriku dicafe tempatku bekerja.
Josh ini teman semasa aku sekolah SMA, hanya dia yang ingin menjadi temanku tanpa memandang aku dari keluarga apa. Walaupun banyak yang membicarakan jika Josh hanya kasihan kepadaku, nyatanya tidak perlakuan Josh selama denganku sangat-sangat baik, aku suka karena dia seperti kakak lelaki bagiku.
Kedatangannya entah diwaktu yang tepat atau bukan seketika langsung membuat suasana hatiku yang panas berubah menjadi dingin kembali saat lelaki itu datang masuk kedalam cafe dan memanggil namaku.
"Bagaimana kau tahu jika aku bekerja disini?" tanyaku saat kita duduk disalah satu tempat tersebut.
"Apa yang aku tidak tahu tentang dirimu?" jawabnya seperti menyombongkan diri sendiri, ini yang membuatku sedikit terhibur walaupun menjengkelkan.
Aku membalasnya dengan berdecak pelan. Lalu obrolan semakin seru, namun bukan berarti aku melalaikan pekerjaanku, jika ada pelanggan yang masuk aku akan melayaninya terlebih dahulu lalu kembali berbincang dengan Josh, dan aku melupakan seseorang yang tak jauh disamping mejaku.
Ya, siapa lagi jika bukan Lucien. Aku hampir melupakan keberadaannya, tapi saat mataku ingin melirik kearahnya, lelaki itu bangkit dari tempat duduk dan berjalan dikasir. Apa dia mau pergi sekarang? Ah terserah dia saja mau kemana.
Saat kita kembali berbincang banyak hal dan langkah seseorang mendekat kearah meja. Itu Lucien, aku sedikit melirik kearahnya tanpa diduga dia pun tengah menatapku dengan tatapan tajam dan menusuk? Ini mengerikan sekali jika kalian mengalaminya langsung.
Tetapi setelah itu Lucien kembali melangkah keluar dari cafe dan pergi entah kemana. Aku sedikit meliriknya sampai dia masuk kedalam mobilnya. Tak disadari Josh memperhatikan gerak-gerikku.
"Apa kau mengenal lelaki itu?" tanya Josh sambil ikut melirik kearah Lucien.
Aku langsung gelagapan dan mengalihkan pandanganku. "Ti-tidak, aku tidak mengenalnya," aku merutuki jawabanku yang terdengar sangat gugup.
Terdengar Josh tertawa pelan. "Kau ini tidak bisa membohongiku Ash, aku adalah temanmu jika masalah ini saja aku tak tahu, ah itu keterlaluan sekali." Katanya dengan nada bercampur.
"Memangnya ada lelaki yang ingin mendekati gadis sepertiku jika bukan kau saja?" ucapku menertawakan diri sendiri.
"Hey, kau ini gadis yang cantik dengar itu. Aku yakin lelaki yang mendapatkanmu nanti akan jauh lebih beruntung karena memiliki perempuan sepertimu, jika saja aku belum memiliki tunangan, tentu saja aku akan memilihmu hanya saja wanita itu sangat menarik dimataku." Oceh Josh panjang lebar.
"Kau memiliki tunangan?" tanyaku memastikan.
"Ya, memang kenapa?" tanyanya balik.
"Tidak ada, hanya saja aku penasaran siapa wanita yang mau dengan lelaki menyebalkan sepertimu Josh," kataku sedikit mengejeknya, sudah lama juga aku tak membuatnya kesal.
Lirikkan tajam Josh berikan kepadaku, namun gelak tawa keluar begitu saja dari mulutku tanpa diduga sebelumnya. "Tentu saja ada yang mau denganku, aku lelaki tampan dikantorku kau tahu itu?!" ucapnya penuh dengan percaya diri.
Saat aku ingin kembali berkata tiba-tiba suara dering ponsel membuatku tak jadi berkata. "Sebentar, aku mengangkat telfon dulu," katanya sambil merogoh saku jas nya.
"Ah, baru dibicarakan tunanganku sudah menelfon. Aku angkat dulu ya." Katanya lagi sambil berdiri bangkit, aku menunggunya dengan membolak-balikkan telapak tanganku.
Tak selang beberapa lama akhirnya Josh kembali dengan senyuman sumringah. "Aku harus pergi dulu Ash, ah ya. Aku akan bertunangan resmi dengan wanitaku 1 bulan lagi, aku harap kau bisa datang bersama kekasihmu Ash," katanya sambil tersenyum.
Sebenarnya aku kesal karena dia terus saja menyuruhku memiliki lelaki, tapi senyuman tak lepas dari bibirku juga. "Akan aku usahakan Josh, semoga hari-harimu menyenangkan." Ucapku berdiri bangkit dari tempat duduk.
"Kau juga, kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih untuk waktunya, bye Ash!" pamitnya sambil melangkah keluar dari cafe.
Aku membalas lambaian tangannya sambil tersenyum. Lalu membersihkan meja sisa minumannya dan kembali kebelakang untuk bekerja, namun saat aku ingin membawa gelas itu ditempat pencuci piring tiba-tiba Aletta salah satu pegawai memanggilku.
"Ash!" panggilnya sambil berlari kecil menghampiriku.
Tangan Aletta terulur dengan memegang sebuah kertas kecil ditangannya. "Ini, ada surat untukmu." Katanya.
Aku menaikkan sedikit alisku bingung. "Dari siapa?" kataku sambil mengambil kertas tersebut dari tangan Aletta.
"Dari lelaki yang memakai jas berwarna biru tadi, ah dia sangat tampan. Apa itu pacarmu? Tapi kenapa kau mengabaikannya dan berbicara dengan lelaki lain?" ucapnya penuh dengan pertanyaan.
"Ah jika aku menjelaskannya kepadamu, kau tahu? Itu tidak akan ada ujungnya seperti bentuk bumi ini!" cercaku sedikit kesal namun dengan bibir tersenyum.
"Kau ini, kalau begitu aku kembali bekerja dulu. Kau juga!" ucapnya ramah dan melangkah kembali ketempat kasir.
Langkah kakiku berhenti dan duduk disalah satu bangku yang sering aku tempati. Lalu membuka kertas tersebut dengan cepat karena aku perempuan yang sangat ingin tahu.
"Kau ingin bermain-main denganku rupanya Ash, calm down. Aku akan membalasnya dan mengikuti permainanmu baby, tunggu aku sayang!"
Begitulah yang aku baca isi dari surat tersebut. Apa yang ditulis oleh Lucien? Aku tidak mengerti, tapi buat apa juga aku mengerti jika dirinya saja bermain perempuan didepan mataku secara terang-terangan dasar lelaki!
Lihat? Kenapa aku malah kembali memanas saat mengingatnya? Ah Lucien kau membuatku gila hari ini!
"Ash, antarkan pesanan untuk meja nomor 34." Teriak salah satu pegawai kepadaku.
"Ya, aku datang." Jawabku berteriak, namun sebelum itu, surat dari Lucien aku simpan didalam saku seragam kerjaku ini lalu menjalankan tugasku.
Hari ini, waktu seperti cepat berlalu atau memang suasana hatiku saat ini tengah baik-baik saja? Entahlah, yang penting pekerjaanku hari ini sudah selesai. Langit yang semula berwarna jingga bergantikan dengan gelapnya malam dan sinar bulan ditemani oleh ribuan bintang.
"Anna, aku bawa novelmu bersamaku malam ini ya? Aku belum selesai membacanya." Kataku saat sudah ingin pulang.
"Bawa saja, kembalikan sesukamu. Tapi ingat jangan sampai rusak atau hilang," kata Anna yang tengah merapihkan rambutnya dikaca.
"Terimakasih, aku pulang dulu. Bye Ann!" pamitku sambil melangkah keluar dari cafe.
Saat tengah menunggu bus lewat. Tiba-tiba pesan masuk terdengar dari ponselku yang tengah aku genggam. Tertera nama Lucien disana. Tunggu! Sejak kapan aku mempunyai nomor ponsel dia?
Aku langsung membuka pesan dari Lucien bertepatan dengan bus yang sudah datang. Aku menjedanya sebentar untuk masuk kedalam bus. Saat sudah duduk aku kembali membaca isi pesan tersebut.
"Aku akan sangat merindukanmu"
Seperti itulah isinya. Kenapa dia harus merindukanku? Ah isi pesan atau surat dari dia membuatku bingung saja! Tanpa membalasnya, aku mengabaikan pesan tersebut.
'Ada apa dengannya?' kataku berbicara didalam hati.
TO BE CONTINUED.....
**Hi guys, makasih buat kalian yang masih setia nunggu kelanjutan cerita ini☹️ rela kok aku ngetik sampe jam 1 malem gini buat kalian, sayang deh🤭 semoga suka, jangan lupa like vote dan comment. Lucien ngasih teori konspirasi tuh wkwk ada yang mau pecahkan teori itu? Aku tunggu comment kalian❤️
Btw gak ada yang mau ngucapin HBD gitu sama Author😌🤭
See you next part guys🐺❤️**