My Mine Is Human

My Mine Is Human
31. Kau cantik!



Author Pov


Mobil yang dikendarai Lucien berhenti disebuah apartemen mewah. Lelaki itu turun dari mobil dan memutar untuk membuka-kan pintu mobil untuk Ashina, gadis itu turun dengan senyum yang tak enak hati.


"Kenapa kau membawaku kesini? Apa pestanya diadakan disini?" tanya Ashina setelah Lucien menutup kembali pintu mobil.


Kepala Lucien menggeleng. "Tidak, sudahku bilang. Aku sudah mempersiapkan baju dan orang yang akan mendandani mu malam ini, ayo masuk." Ucap Lucien sambil merangkul pinggang Ashina.


Awalnya gadis itu menolak untuk dipeluk seperti itu, karena saat mereka masuk. Banyak pasang mata yang melirik kearah mereka berdua, seketika bisik membisik terjadi diruangan itu.


"Hey lihat lelaki itu, betapa tampan wajahnya!" ujar seseorang gadis.


"Ah kau benar, tapi siapa gadis itu?"


"Siapa gadis biasa disamping lelaki tampan tersebut?"


"Huh, gadis itu tak pantas berada disampingnya. Cantik juga aku!"


Masih banyak lagi bisikan dan ocehan para gadis yang mereka lewati. Namun disaat Ashina tak enak dengan suasana tersebut, Lucien membisikan sesuatu kepadanya.


"Jangan dengarkan apa yang orang lain bicarakan tentangmu. Belum tentu yang dilihat mata itu tak sama dengan yang dilihat oleh perasaan." Kata Lucein dengan kalimat menenagkan sekaligus bijak.


Seketika perasaan Ashina sedikit membaik. Dia membiasakan tak memperdulikan ucapan yang tak ada guna untuk didengarkan. Setelah masuk kedalam lift untuk menuju kelantai 5 mereka akhirya keluar dan masuk kedalam kamar nomor 503 yang sudah dipesan.


Menekan pin untuk membuka pintu dan akhirnya terbuka. Mereka memasuki ruangan dengan disuguhi interior yang sangat mewah, pantas saja jika semuanya serba mewah, ini adalah apartemen yang sangat terkenal.


"Oh, kalian sudah datang?" suara seseorang mengagetkan Ashina yang tengah mengagumi setiap sudut ruangan.


Lucien hanya tersenyum tipis namun dengan muka yang dingin. Ah begitulah. "Ini Ashina. Ash, ini Mrs.Eilgar." Ucap Lucien memperkenalkan mereka masing-masing.


"Hay, aku Eilgar," kata Eilgar sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Aku Ashina," balas Ashina dengan senyuman manisnya dan membalas jabatan tangan Eilgar.


"Sudah, kalau begitu cepat lakukan perubahan kepada gadisku. Nanti kita akan telat kepesta." Ungkap Lucien.


Mrs.Eilgar terkekeh pelan. "Ah ya, gadismu sudah sangat cantik walaupun tanpa make-up Tuan Luc." Usil Mrs.Eilgar


Lucien hanya mendatarkan wajahnya, sedangkan Ashina tertawa pelan dengan bahagianya. Tanpa membuang waktu lama, Mrs.Eilgar membawa Ashina kesatu ruangan dimana semuanya sudah disiapkan.


Mulai dari Dress dan alat make-up sudah disiapkan. Beberapa lama kemudian, Ashina keluar dengan tampilan yang berbeda. Dress berwarna putih selutut, pinta kecil dibagian samping dengan tata rambut yang curly yang sangat gemas diwajah Ashina yang kecil tersebut.


Polesan make-up membuat aura Ashina malam ini terasa beda sekali. Sepatu hak tinggi begitu senada dengan Dress-nya.


"Luc," panggil Ashina pelan. Lelaki yang dipanggil namanya tersebut mendongakkan kepalanya saat dirinya tadi tengah sibuk dengan ponselnya.


Tatapan matanya terpaku kepada Ashina. Tak ada kedipan matapun yang terlewatkan, seolah Ashina begitu menjadi daya pusatnya saat ini. Sedangkan Ashina yang ditatap seperti itu pun mendadak menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang dia yakini buka memerah karena blush on.


Lelaki itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Ashina yang menunduk dan memainkan jari-jarinya. Saat langkahnya sudah dekat didepan Ashina, tangan Lucien terangkat dan menaikkan dagu Ashina agar menatapnya.


"Tatap aku Ash," pinta Lucien.


Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Ash, aku bilang tatap mataku!" perintahnya lagi lebih dipertegas.


Mau tak mau, Ashina akhirnya menuruti perkataan Lucien. Gadis itu menatap mata Lucien yang tengah menatapnya juga, semburat merah muda mengiasi pipi mulus Ashina. Lucien yang melihat hal itu merasa gemas sendiri.


"Kau sangat-sangat cantik malam ini, walaupun setiap hari kau terlihat cantik. Namun aura malam ini sangatlah berbeda," ujar Lucien dengan percaya dirinya.


"Aku serius!" katanya tak terima jika ucapannya hanya omong kosong.


Ashina menatap Lucien, lalu menurukan tangan Lucien yang berada didagunya. "Ayo kita pergi, kau pasti sudah telat datang kepesta itu." Ucap Ashina berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Biarkan saja, atau kita tidak jadi berangkat saja." Kata Lucien.


"Kau ini! Kau ingat sudah meng-iyakan ucapan mu untuk datang kepesta itu untuk mengganti Ayah dan juga Ibumu Luc, jika kau tak datang akan seperti apa nanti?" omel Ashina.


"Iya iya, kita akan pergi kesana. Namun kau harus memenuhi satu syaratku!" ujar Lucien dengan gerlingan matanya. Sedangkan Zerky didalam sana sudah melolong jenuh karena melihat sifat Lucien yang tak bergerak cepat.


"Apa?"


"Cium aku, lalu kita akan pergi. Bagaimana?" kata Lucien seperti tawaran namun juga tantangan bagi Ashina.


"Apa-apaan kau ini, sudahlah ayo pergi!" kata Ashina.


"Okey, pergi saja sendiri. Aku tak ikut," cetus Lucien.


Saat Ashina ingin kembali berkata. Namun suara Mrs.Eilgar menghentikan ucapannya. "Apa aku sopan mendengar pertengkaran kecil sepasang kekasih ini?" beo Mrs.Eilgar dengan senyuman jahilnya.


Ashina yang baru sadar masih ada Mrs.Eilgar diruangan tersebut mengalikan pandangannya kearah lain. "Kita bukan sepasang kekasih," kilah Ashina.


"Ya, kita bukan sepasang kekasih," kata Lucien membenarkan. Namun ternyata ucapannya kembali menyambung. "Kita bukan sepasang kekasih, namun sepasang calon suami-istri, benarkan sayang?"


Gadis itu langsung melayangkan pukulan kedada bidang Lucien. "Kau ini!" ucapnya pelan sambil menahan malu dan kesal.


"Ah baiklah, aku tidak ingin mengganggu kalian. Pekerjaanku sudah selesai, aku pamit terlebih dahulu. Bye Tuan Luc dan Nyonya Ash." Pamit Mrs.Eilgar dan pergi dari ruangan tersebut.


Dengan cepat, Ashina juga meraih tas tangan yang berada disofa dekat mereka. Lalu berjalan meninggalkan Lucien. "Ayo pergi, tidak ada waktu lagi!" kata Ashina sambil berjalan menuju kearah pintu.


Namun dengan cepat juga. Lucien meraih pergelangan tangan Ashina lalu menariknya, hingga gadis itu kehilangan keseimbangannya dan berakhir jatuh diatas dada bidang Lucien.


Tanpa aba-aba, Lucien langsung mendaratkan bibirnya kearah bibir Ashina. Gadis itu melotot saat bibir Lucien berada dibibirnya, kecupan kecil didapati oleh Ashina. Lalu ******* demi ******* pun didapatinya.


Hingga akhirnya Ashina tersadar dan langsung mendorong keras tubuh Lucien. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya yang semakin memerah karena malu. Ini gila! Lucien benar-benar gila.


"Ash?" panggil Lucien. Namun tak ada sahutan dari gadis tersebut, tentu saja hal itu membuat Lucien merasa khawatir sekaligus merasa salah.


"Ash? Apa kau marah kepadaku?" tanyanya lagi.


"Ash, bicaralah denganku!"


"Ayo pergi, kita sudah terlambat." Katanya sambil keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut dan meninggalkan Lucien sendiri.


Lelaki itu tersenyum senang. Ah kenapa gadisnya tambah manis dan menggemaskan? Jika saja dia bisa membatalkan pergi kepesta, sudah dipastikan Ashina tak akan dilepasnya malam ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**To be continued.....


Ciyeeee kangen kan sama moment mereka berdua? Wkwk jangan lupa tinggalkan jejak like vote dan comment. Selain up cepet, apa kalian gak mau ngasih saran atau kritik dan perasaan kalian setelah baca part ini? Hehehe


Okey see you next part guys🐺


Wawaa**......