
Disepanjang perjalanan dari tengah hutan sampai bertemu dijalan kota, tak ada percakapan yang mengisi diantara mereka. Haya sekelebat motor atau mobil yang berlalu lalang mendahului kecepatan mobil yang mereka gunakan.
Diam-diam Lucien selalu mencuri pandang kearah Ashina, namun matanya harus fokus kejalan raya agar tak terjadi apa-apa yang tak diinginkan, terlebih ini sudah larut malam. Walaupun banyak lampu kota yang terpasang, tetap saja terasa sunyi jika diantara mereka saja seperti sedang berada diruangan ujian. 'jangan berisik!' haha.
"Apa kau baik-baik saja? Kau sakit?" tanya Lucien akhirnya setelah beberapa kali melihat tingkah laku Ashina yang diam dan menatap lurus kearah jalanan.
Gadis tersebut melirik sebentar kepada Lucien, lalu pandangannya tertuju kembali kedepan jalanan. "Ya, aku baik-baik saja." Jawab Ashina acuh tak acuh.
"Tingkahmu berkata lain, Ash." Ujar Lucien tak nyaman.
"Hanya perasaanmu saja Luc, aku baik-baik saja," ucap Ashina dengan nada yang tak yakin.
Lelaki itu menghela napasnya lelah. Tak ada percakapan lagi diantara mereka sampai mobil yang dikendarai oleh Lucien terparkir tepat didepan rumah sederhana Ashina, terlihat rumah itu sudah sunyi dan rapat. Entah orang rumah sudah tidur atau sengaja menguncinya dari dalam, Ashina tak tahu.
Gadis itu membuka seatbelt mobil lalu melirik kembali kearah Lucien sambil berkata. "Terimakasih sudah mengantarkanku pulang, aku masuk dulu." Ucap Ashina sebelum tangannya membuka knop pintu mobil.
Saat tangannya menutup pintu mobil, Lucien bergegas keluar dari mobil dan menahan tangan Ashina agar tak pergi. Tangannya ditarik cukup kuat oleh Lucien sehingga tubuh Ashina limbung namun masih bisa gadis itu tahan.
"Bicaralah padaku Ash, jika aku salah bicaralah." Kata lelaki tersebut dengan nada sayunya.
Ya begini, jika seorang Werewolf sudah menemukan pasangan hidupnya atau sering disebut sebagai Mate, jadi jika Mate itu bersikap acuh tak acuh kepada pasangannya. Maka yang dirasakan oleh pasangan tersebut adalah ketersiksaan karena sifat Matenya. Intinya, seorang Werewolf akan tersiksa sendiri jika melihat Mate-nya marah dengannya.
"Tidak ada, lepaskan aku Luc ini sudah malam aku ingin masuk," ucap Ashina sambil meronta agar dilepaskan pergelangan tangannya yang dicekal.
Bukannya melepaskan, lelaki itu malah menarik tubuh Ashina dan memeluk dari belakang. Dagunya dia sandarkan diatas bahu Ashina, hidung mancungnya menghirup dalam-dalam tubuh Ashina yang sejak awal bertemu membuat Lucien candu untuk menghirupnya.
"Kau tahu, aku benar-benar mencintaimu, aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Entah sejak pertama kali kau menamparku saat dirumah sakit atau untuk pertama kalinya aku menciummu karena tingkah lakumu yang menggemaskan," ungkap Lucien terus memeluk erat tubuh Ashina.
Gadis itu bergeming ditempat, dirasa tak ada tanda-tanda gadis itu untuk bicara. Lucien kembali berkata. "Aku tahu kau pasti sangat sulit menerima keadaan seperti ini, dengan dirimu yang hanya manusia biasa sedangkan aku dan keluargaku adalah seorang Werewolf. Tapi Ash, kau harus percaya, seorang Werewolf tak akan pernah menyakiti pasangannya bagaimana pun juga. Jika suatu saat aku menyakiti dirimu, sama saja aku tengah menyakiti diriku sendiri."
Perkataan Lucien membuat gadis itu tertegun, tertangkap jelas bahwa lelaki itu tulus mengatakannya. Pelan-pelan, Ashina berusaha melepaskan tautan tangan kekar Lucien yang melingkar dipinggang kecilnya. Gadis itu memutarkan badannya dan menatap wajah Lucien yang terlihat sangat frustasi.
"Luc, kau sangat baik dan pengertian kepadaku. Aku senang jika kau berkata seperti itu, kau benar tadirku saat ini sangat aneh. Bertemu dengan kalian yang memiliki sifat yang berbeda seperti manusia biasanya. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya, terimakasih sudah mencintaiku, aku butuh waktu untuk menjawab semuanya. Apa kau tidak keberatan?" ujar Ashina panjang.
Dengan cepat kepala lelaki itu menggeleng menandakan jika dirinya tak keberatan akan hal itu. "Tidak masalah, aku akan menunggumu sampai kau menemukan jawabannya dan meyakinkan hatimu. Tapi Ash, satu hal yang harus kau ingat. Jangan menghindar dariku, jika kau sengaja menghindar maka aku tak akan memikirkan bagaimana kau setuju atau tidak kau harus tetap menikah denganku!" ucap Lucien penuh dengan auranya.
Gadis itu meneguk salivanya kasar. Seperti lelaki itu bisa membaca pikirannya saat ini. "Ti-tidak, a-aku tidak akan menghindar. Sudahku bilang, aku hanya butuh waktu," kata Ashina dengan gugup.
"Baiklah, kalau begitu aku percaya kepadamu." Ucap Lucien. Tangan kanannya terulur kedepan dan mengelus pelan rambut Ashina.
Degupan jantung Ashina bertambah dua kali lebih cepat dari biasanya. Namun buru-buru dia memundurkan satu langkah kakinya kebelakang. "Luc, aku harus masuk dan tidur. Kau juga harus istirahat karena sudah malam, pulanglah, hati-hati dijalan. Aku masuk dulu, dah!" ujar Ashina cepat dan bergegas masuk keperkarangan rumahnya.
Sedangkan gadis yang sedari tadi melirik kearah mobil Lucien pun menghembuskan napasnya lega saat mobil lelaki tersebut sudah pergi. Dengan ragu, tangannya terulur dan mengetuk pelan pintu rumahnya.
"Bu, aku pulang," kata Ashina namun tak ada jawaban dari siapapun. "Adella, apa kau belum tidur? Tolong buka pintunya." Ashina kembali berkata sembari berteriak sedikit.
Ketukkannya yang semula pelan kini mengetuk-ngetuk dengan sangat cepat. Hingga akhirnya pintu tersebut terbuka dan menampakkan sosok sang Ibu dengan wajah garangnya. Hal itu membuat Ashina sedikit terkejut dan memundurkan selangkah kebelakang.
"Darimana saja kamu?!" bentak Bu Meisha dengan galaknya.
"Aku ada urusan diluar, maaf sudah mengganggu waktu tidurmu, Bu." Ucap Ashina tak enak.
"Sudah tahu kau mengganggu tidurnya orang, kenapa masih mengetuk pintu rumah dengan sangat banyak! Jika kau tahu diri, tidurlah diluar sampai aku terbangun dipagi hari." Kata Bu Meisha kesal.
"Tapi diluar akan sangat dingin dengan angin malam," ujar Ashina polos.
"Sudahlah aku muak berbicara denganmu. Masuk sebelum aku tutup kembali pintu ini!"
Gadis yang seperti tengah diancam oleh Ibunya sendiri itu langsung bergegas masuk kedalam rumahnya. Tanpa menunggu ucapan dari sang Ibu, Ashina langsung masuk kedalam kamarnya dan menutupnya rapat-rapat.
"Hey, suruh siapa kau tidur, pekerjaan rumah belum selesai!" teriak Bu Meisha dari luar kamar.
"Besok pagi aku akan mengerjakannya." Balas teriak Ashina. Tak ada balasan lagi kali ini dari Ibunya.
Gadis itu menghembuskan napasnya kasar. "Huft, sangat melelahkan. Ah aku lupa ingin mengirim pesan kepada Anna," ujar gadis tersebut sambil meraih ponsel kuno nya.
"Anna, apa kau memiliki satu novel bergenre fantasi?" Ashina mengirimkan pesan tersebut kepadan Anna. Tak butuh waktu lama, balasan dari Anna didapatkan oleh Ashina.
"Tentu saja, kau ingin novel apa? Tapi tumben sekali kau ingin membaca novel?" itulah isi balasannya.
"Novel tentang makhluk Immortal, aku meminjamnya sebentar apa bisa?" balas lagi Ashina.
"Tentu saja dude, aku akan membawanya besok kecafe."
Balasan Anna membuat senyuman Ashina berkembang. 'aku akan mencari tahu!' batinnya.
**To be continued.....
Karena aku sayang kalian wkwk, aku up dua kali🤗 semoga suka para readers tersayangku❤️ jangan lupa like vote dan commentnya biar author semangat up hehe.
See you next part guys🐺❤️**