
Komplotan perampok itupun menoleh cepat kearah Dean. Perampok itu berjumlah lima orang. Dua orang dari mereka sendang sibuk memegangi wanita yang jadi korban. Sedangkan tiga dari lainnya sudah mengobrak abrik mobil yang dipastikan milik si korban.
Salah satu perampok itu memberikan smirk. "HAHA! Bocah, apa kau gak kapok berurusan sama kami?!"
Dean yang masih berkacak pinggang tertawa renyah. "Hum! Sebenarnya sih gue udah males banget harus ngotorin tangan gue,"
Mendengar perkataan Dean membuat mereka geram habis-habisan. Satu dari mereka sudah melayangkan tinjunya tapi langsung ditangkis oleh Dean. Melihat itu, dua orang yang lainnya langsung maju secara bersamaan. Jadilah tiga lawan satu, karena dua orang lainnya masih memegangi wanita itu yang sekarang sudah lemah.
Perkelahian pun terjadi, meskipun Deandra sudah mendapatkan memar diwajahnya dan luka dibibir bawahnya tapi dia tetap unggul. Bagaimana tidak, karena tiga perampok itu kewalahan menghajar Dean yang masih muda apa lagi lihai dalam urusan bertinju. Mereka sudah mendapatkan banyak pukulan dan ada yang sudah terkepar lemah. Sampai pada akhirnya satu perampok yang memegangi wanita itu menghampiri Dean secara diam-diam sambil membawa pisau di tangannya dan langsung menancapkan kearah perut bagian kiri Dean.
Dean yang menyadari dirinya sudah mendapat luka tusukkan membuatnya terhuyung kedepan. Perampok yang masih memegangi wanita itu langsung menampar kuat sang wanita sehingga menyebabkan pipinya merah. Komplotan perampok langsung berlari meninggalkan mereka karena tidak mau ambil resiko. Dean yang melihat itu masih berusaha menguatkan dirinya, ia menghampiri wanita itu sambil memegangi perut kirinya berusaha menghentikan pendarahan.
"Apa anda masih sadar?" Khawatir Dean, karena melihat wanita itu sudah tidak berdaya.
Dean membalik badan sang wanita, yang tadinya terbaring tengkurap karena ulah salah satu perampok itu yang menamparnya kuat. Ternyata wanita yang jadi korban adalah Aryna, Ibu dari ketiga kakak beradik yang Dean kenal. Tapi sayangnya, Dean tidak mengenal Aryna.
Dean mengoyang-goyangkan badan Aryna, berharap wanita itu masih bisa sadar. "Bangunlah!"
Karena menyadari Aryna sudah tidak sadar lagi, cepat-cepat Rajendra menggendong nya. Meskipun Dean sendiri mendapatkan luka tusukan. Dean membawa Aryna kedalam mobil untuk segera kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Aryna langsung mendapatkan perawatan tapi tidak dengan Dean, ia malah terlihat sedang duduk diruang tunggu menyandarkan kepalanya pada kursi dan memejamkan kedua matanya. Banyak orang yang memperhatikan nya. Bagaimana tidak, Deandra benar-benar terlihat sangat pucat seperti mayat hidup. Tapi ia tetap menyembunyikan luka diperutnya. Setelah dirasanya cukup lama Deandra pun beranjak dari tempat itu menuju lift dengan tertatih. Ketika ia hendak masuk lift tiba-tiba Jane keluar dari lift yang berbeda sehingga mereka tidak sempat berpas-pasan. Jane berlari pelan menuju meja Resepsionis. Wajahnya memancarkan kekhawatiran.
"Suster dimana ruangan ibu saya?" Jane sangat panik.
Setelah di beritahu suster, ia langsung berlari menuju ruangan Ibunya. la melihat ibunya yang sedang terbaring lemah dengan Infus dan bantuan oksigen.
"Mami kenapa bisa gini?" Jane menitikkan air mata, di genggamnya kedua tangan Aryna.
Jane pun keluar dari ruangan ibunya dan pergi lagi ke meja Resepsionis.
"Suster tadi anda bilang ada orang yang membawa ibuku kemari. Sekarang dimana orangnya?"
Suster itu mendongkak. "Akh, iya.. Itu disebelah sa-" Ucapannya terhenti karena tidak mendapati Dean duduk di ruang tunggu. "Kemana dia? Tadi disana! Dia juga keliatannya gak baik-baik aja. Mukanya pucat banget kayak mayat hidup," Beritahu sang Suster.
Jane refleks menoleh kearah yang ditunjuk Suster. Ia mengerutkan kening ketika mendengar kata-kata terakhir penjaga Resepsionis itu. "Kayak mayat hidup? Maksudnya gimana suster? Kenapa gak di kasih perawatan?"
"Tadinya, pas orang itu menyuruh saya buat menghubungi keluarga ibu anda, saya udah nyaranin perawatan buat dia tapi dia nya malah nolak." Tandas Suster itu mencoba menjelaskan. Jane mengehela nafas pasrah, niatnya ingin berterimakasih harus dia urungkan karena sudah kehilangan penyelamat ibunya.
Di Kediaman Deandra. Iya yang sudah lama menunggu temannya itu pulang akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat Dean.
Iyan menyipitkan mata. " Kenapa dia pucat banget?" Monolognya. Seperti ada yang tidak beres apalagi setelah melihat Deandra yang berjalan tertatih.
Brug! Dean langsung terjatuh tepat dipelukan Iyan.
"Njir! Kenapa lo?" Iyan kaget, ia mengira jika Dean sedang mengerjainya. "Si bego.. Becanda mulu lo!" Pekik Iyan.
Tanpa sengaja tangannya menyentuh dimana luka Deandra berada. "Kok?" Iyan terbelalak, tangannya sampai bergetar menyadari ia sudah menyentuh cairan darah yang mengental di tangannya. "Wo-woii! Lo kok,"
Iyan sampai tidak bisa berkata-kata lagi, matanya sudah memerah menahan ingin menangis. "Hiks! Lo bego apa gimana? Sialan! Siapa yang berani ngelakuin ini ke lo, hah?" Maki Iys. lantas menangis sejadi-jadinya. "Lo ngapain nyiksa diri lo sendiri gini sih?"
Tepat pukul dua puluh Aryna sadarkan diri. Disana sudah ada Jane dan Grace karena Jihan dan Irene masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan ayahnya, Ario masih perjalanan bisnis yang diketahui dua minggu lagi baru pulang.
"Mami udah sadar, Kak panggil Dokter!" Perintah Jane kepada Grace yang langsung berlari keluar.
Tidak butuh waktu lama untuk Grace memanggil Dokter. Kini ia sudah membawanya dihadapan Aryna.
Dokter pun memeriksa keadaannya. Setelah itu ia langsung memberitahu bahwa Aryna dalam keadaan baik-baik saja. Hanya mengalami Syok ringan atas kejadian yang ia alami dan ia lihat. Setelah menyampaikan pesan, Dokter itu langsung meninggalkan ruang rawat Aryna.
"Mi, Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Jane setelah ia rasa Ibunya sudah lumayan sadar.
Aryna mulai menceritakan kejadian itu yang masih dingatnya meskipun tidak sepenuhnya karena ia pingsan pada saat-saat terakhir.
"Apa Mami ingat wajah cowok itu?"
Aryna menghela nafas. Ia mencoba mengingat kembali tetapi kepalanya masih terasa pusing. "Huft! Entahlah, pas dia nyamperin, Mami langsung pingsan. Jadi mukanya keliatan samar-samar," Beritahu Aryna. Sejurus ia teringat akan satu hal. "Tunggu, apa dia sudah dirawat?"
Jane menggeleng pelan. "Nggak! Kata Perawat, dia liat orang itu udah pergi," Sungguh, Jane sangat berat untuk menyampaikan itu.
"Astagaa.. Dia di tusuk sama perampok itu," Panik Aryna, merasa bersalah atas apa sudah yang terjadi.
Dilain sisi, empat sahabat Deandra sedang berkumpul di depan ruang operasi. Mereka mondar-mandir gelisah, itulah yang dirasa. Wajah khawatir di diri mereka masing-masing bahkan belum juga pudar. Sampai akhirnya dokter pun keluar dari ruangan itu.
Gara langsung menyambutnya. "Dokter, apa teman kami baik-baik aja?"
Dokter itu memperhatikan mereka satu persatu. "Dia kehilangan banyak darah tapi untungnya stok darah yang kami miliki cocok dengan darahnya jadi dia sekarang sudah dalam tahap pemulihan. Jadi tinggal tunggu dia sadarkan diri,"
Wajah lega terpancar dari keempat cowok itu. "Makasih, Dok!" Ucap mereka bersamaan. Setelahnya Dokter itupun pergi meninggalkan mereka.
"Guys, inget! Jangan sampai ada yang tau soal kejadian ini!" sergah Gara mengingatkan ketiga temannya itu. "Besok, di sekolah kita kasih alesan kalau dia lagi demam. Mengerti?" Tambahnya lagi yang langsung diberi anggukkan mantap oleh ketiga sahabatnya.