
Deandra POV.
Aku sekarang lagi di taman. Berusaha menghibur diri setelah mengetahui bahwa keluargaku benar-benar telah mencampakkan ku, mungkin sudah tidak menganggapku lagi. Uang jajan yang sering mereka kirim satu bulan sekali kini sudah tidak ada lagi. Semenjak tiga bulan terakhir. Itu membuatku harus ekstra bekerja. Untungnya aku punya sahabat-sahabat yang dengan senang hati membantuku.
Keluargaku sekarang sedang berada di Jakarta. Entah apa yang mereka lakukan disini, yang jelas aku sempat melihat mereka berkeliaran di Mall. Mereka tampak bahagia, melihat aku yang ada di sana pun seolah-olah mereka tidak mengenali dan mengetahui nya. Jujur ini menjadi beban bagiku, membuatku semakin stress dan terpuruk. Aku terus berjalan, tersendu. Ingin ada orang yang menguatkan ku saat ini.
Tidak lama setelah itu tiba-tiba handphone ku bergetar, menandakan panggilan masuk. Aku tersenyum seketika, melihat nama yang tertera dilayar benda pipih ini. Tanpa mengangkat panggilan darinya, aku langsung bergegas menuju motorku. Ingin pergi menemuinya sekarang juga.
Deandra POV End.
Ceklek! Deandra memutar kenop pintu unit apartment Jane. Nampak lah Jane yang sekarang sudah melipat lengannya di dada, terlihat sedikit angkuh. Membuat Dean enggan rasanya ingin masuk. Setelah masuk, Dean langsung menutup pintu kembali begitu pelan. Takut jika wanita itu akan memarahinya.
"Kenapa kamu malah nanya, apakah kamu boleh pergi sama temen-temen kelas kamu itu?! Aku yang lebih dulu ngajak kamu keluar, jadi harusnya kamu gak boleh pergi! Ngapain pergi kalau ada cewek lain juga, padahal kamu punya pacar?! Bukan cuma aku yang liat kamu ganteng tapi cewek lain juga juga mikirnya gitu, kamu tau itu kan?! Kamu tau kalau kamu ganteng, ngapain kamu malah pergi kesana padahal tau fakta soal itu! Kamu pikir aku bisa santai ngadepinnya, gara-gara aku bersikap biasa aja, iya?! Aku sama sekali gak suka kamu kayak gitu, marahnya aku sudah sampai level maksimal, hampir aja aku mecahin bumi, paham?!" Jelas Jane panjang lebar dengan nada cepat tanpa jeda sama sekali. Ekspresi kesalnya sambil melototkan matanya.
Deandra yang melihat itu hanya bisa terdiam mematung masih di depan pintu. la mengelus-elus kedua pipinya reaksi ngeri yang ia rasakan. Di saat Jane mulai memarahinya.
Jane mondar mandir tidak jelas. Mencoba mengingat apakah itu yang pernah ia katakan didepan Grace. "Bentar yaa.. Itu cuma latihan! Aku ulangin lagi, sampai dimana tadi?"
Tiba-tiba Deandra mendekat dan langsung memeluknya Jane. "Izinin aku peluk kamu lebih lama," Lirihnya.
Percayalah kali ini Deandra benar-benar sedih sekaligus bahagia karena masih ada orang yang peduli terhadapnya. Tampak diraut wajahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia memeluk Jane meminta lebih lama karena tidak ingin kekasihnya itu melihat kesedihan nya.
Sedangkan Di Tempat Lain.
Jihan sekarang sedang berada di Cafe dekat kantornya seorang diri. Tidak lama dari itu datanglah sorang wanita yang diketahui adalah kakaknya yaitu Irene. Sang kakak langsung mengambil duduk di depan Jihan, sedangkan Jihan yang masih tidak menyadari kehadirannya karena sedari tadi sibuk dengan handphone genggam miliknya.
"Heh, Juhan! Udahan deh main hp nya!"
Jihan terkesiap. "Astaga Kak! kapan kamu datang?" Siapapun yang di posisi Jihan pasti akan kaget juga.
Sedangkan yang di tanya hanya membuang muka malas. "Ntar malem temenin Kakak belanja ya!" Pinta Irene yang lebih terdengar menyuruh.
"Gak bisa Kak! Aku ada janji sama Gia," Ucap Jihan sambil memamerkan sederet gigi putihnya.
"Ckck! Kamu selalu aja kayak gini," Irene berdecak kesal. Jihan terkekeh melihat reaksi memelas Irene yang lebih terlihat menggemaskan.
"Ajakin Jane aja! Biar sekali-sekali gitu kalian jalan berdua," Suruh Jihansekaligus menawarkan. Tangannya terulur mengambil handphone yang nampak ada pesan masuk.
Sejurus ia mulai fokus kembali memainkan benda pipih itu. Bibirnya mulai terangkat, mengukir senyuman kecil.
"Makan yang banyak, biar cepet tinggi. Hehe!" Isi pesan Alvin kepadanya.
"Biarin! Biar gini banyak yang suka kok," Balas Jihan, ia menyelipkan emoticon menjulurkan lidah di akhir kalimat nya.
"JIHAN! Kamu dengerin kakak atau nggak sih?!" Irene yang sudah meninggikan suaranya. Tidak peduli lagi dengan pengunjurng Cafe yang lain.
Jihan sampai menutup mata di buatnya. "Kakak ihh! Bisa gak sih jangan pake teriak teriak juga?! Ini tempat umum tau!" Celetusnya.
Irene semakin kesal dibuatnya. Sedari tadi ia berbicara tetapi tidak di respon bahkan lebih parahnya tidak di dengar.
"Kakak bilang apa barusan?" Jihan mulai merayu karena melihat Airin yang semakin kesal.
"AKU BILANG MAU NYAMPERIN JANE!" Irene menekan setiap bagian kalimat. "kamu chatting sama siapa sih? Sibuk banget perasaan," Tambahnya.
"Hum.. Bukan cuma sama satu orang Kak, hehe.." Jawab Jihan bangga, ia menaik-turunkan alisnya.
Irene geli melihat kelakuan adiknya itu, ia juga sangat hafal sifat Jihan yang sedari sekolah menengah atas menyandang gelar Playgirl.
Beberapa Saat Berlalu.
Tut! Tut! Tut!
Sekarang ia sudah di perjalanan menuju Apartment Jane dan selama di perjalanan itu juga ia berusaha menghubungi Jane tetapi selalu tidak di angkatnya.
"Jane! Kakak sekarang lagi di jalan mau ke apartemen kamu. Bentar lagi kakak sampai!"
Irene menghela nafas, mungkin respon Jane agak sedikit membuat nya harus menahan sabar.
"Apa kamu telat? Kakak udah sampai ini,"
Irene memutus panggilan sepihak, tidak membiarkan Jane menyelesaikan kalimatnya. Kini ia mulai menaikan kecepatan nya, karena jalanan yang tidak begitu padat.
Dilain tempat Jane mulai gelisah mondar sana sini.
"Kamu pulang sekarang! Kak Irene mau kesini," Akhirnya Jane memutuskan.
"Hadeh! Kenapa gak bilang dari tadi sih?!" Kesal Deandra sambil bangkit dari duduknya.
Dean berjalan cepat menuju pintu keluar, tapi ia kembali lagi keruang tamu setelah menyadari barangnya ada yang tertinggal. Jane juga ikut dibuat repot olehnya. Karena tidak mau berpaspasan dengan Irene, ia memutuskan berlari menuju pintu dan langsung memutar kenop pintu.
"Kamu yakin gak bakal pake sepatu?" Tanya Jane setelah melihat penampilan Dean yang masih memakai sendal.
"Njir lah!" Alhasil ia Kemabli kedalam lagi.
Setelah memakai kembali sepatunya, Dean langsung bangkit berdiri. "Aku pulang dulu!"
Lalu ia mengecup kilat bibir Jane, dan langsung berlari menuju Lift. Sedangkan Jane hanya bisa melambaikan tangan nya sambil tersenyum manis.
Untungnya Dean membawa topi, jadi bisa menutup sebagian wajahnya. Ia mulai mengambil ancang-ancang jika harus pas-pasan dengan Irene.
Ting! Pintu Lift terbuka, Dean langsung melangkahkan kakinya buru-buru, sambil sesekali menunduk dengan tangan kanannya memegang ujung topi miliknya.
Sedangkan Irene hendak berjalan meninggalkan parkir. Begitu ia berjalan hentakkan high heels mengema di ruangan itu.
Dean mulai was-was karena didepan sana sudah ada Irene yang beberapa langkah lagi mendekatinya. la pun berusaha memalingkan wajahnya ke kiri sambil tetap menunduk.
5 detik...
Mereka berpas-pasan. Irene yang merasa janggal dengan tingkah pemuda yang baru saja melewatinya. Berpikir jika pemuda itu orang jahat karena berpakaian serba hitam dan juga menyembunyikan wajahnya. Irene melihat sisi wajah dari pemuda itu. la mengerutkan keningnya, lalu berhenti sejenak.
"Kayak gak asing deh?" Gumam Irene, lalu ia memutar badannya, refleks. "Tunggu!"
Deandra yang tidak mau dikira orang jahat langsung berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. Masih berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk, tangan kirinya yang mulai gemetaran di buatnya mengepal.
Keringat dingin dari sisi pelipis kanannya mulai bercucuran, sehingga membuat bibirnya memucat yang langsung digigitnya bibir bagian bawahnya.
Irene yang tidak melihatnya mencoba membalik badan nya itu, lalu mulai mendekati pemuda itu yang cuma berjarak lima langkah. la berjalan perlahan sambil menyipitkan matanya.
Dean mulai gugup mendengar hentakkan heels itu mulai mendekat secara perlahan. Ia berusaha menahan nafas seketika, dengan keringat yang semakin bercucuran, lalu ia menutup paksa kedua matanya.
Irene sudah di sampingnya, tangan kanannya terangkat naik lalu mendarat di bahunya. Irene sedikit mendongkak karena ia yang tingginya hanya sebahu Deandra.
Mendongkak pun tidak memberikan nya jawaban atas penasarannya akan wajah pemuda itu. Karena sang pemuda yang sedari tadi menunduk membuang muka. Irene hanya bisa melihat sisi wajah dengan keringat yang bercucuran.
Penasaran di wajah Irene makin menjadi, ia berusaha mendekatkan wajahnya untuk melihat siapa orang yang membuatnya menghentikan langkah.
2 detik kemudian.
"Kamu!"