
Deandra mengerang, badan nya terasa sakit semua setelah duduk hampir lima jam. Itulah rutinitas nya dari dulu, sebagai calon arsitek. Kadang mengambar denah, praktikum lapangan yang sangat sulit. Apalagi sekarang mengambil gelar S2. Itu benar-benar sangat harus ekstra dalam belajar, dan lagi tugas-tugas nya yang semakin banyak. Jendra teralihkan oleh handphone nya yang bergetar. Nama Sagara yang tertera di layar benda pipih itu.
"Jangan terlalu keras sama Madam!"
Dean mencerna apa maksud dari isi pesan Gara. Dia bukanlah telat dalam berfikir, tetapi memang ia tidak paham. Lagian juga fikirnya, dia tidak pernah bersikap keras kepada wanita itu.
"Maksudnya lo apa?"
Hanya tiga kata itu yang bisa Dean ketik sebagai balasan.
"Lo jangan kelamaan bersikap acuh sama dia! Mungkin dia bisa jamin gak bakal nyerah dan milih buat berjuang. Tapi lo harus inget, manusia itu punya titik lemah dan bisa ngeluh kapan aja. Oke! Lo tau dia cinta banget sama lo, kalau sifat lo gini mulu terus tiba-tiba dateng orang lain yang bisa ngerbut posisi itu, lo mau apa? Kita gak pernah tau kapan itu bakal terjadi, gue cuman nyaranin jangan terlalu larut dalam keegoisan lo itu! Lo boleh bersikap acuh tapi lo juga harus coba buat perhatiin dia!"
Dean menjatuhkan badan nya di ranjang. Dia berdehem setelah membaca isi pesan Gara. Benar-benar pesan yang panjang. Dean melamun seketika, mencoba memikirkan apa yang akan ia lakukan. Jujur dia tidak ingin jika wanita itu berpaling lagi dan pesan Gara barusan juga ada benarnya.
Tak mau menjadikan nya beban, Dean memilih untuk memejamkan matanya. Dia harus tidur, sekarang sudah pukul dua puluh tiga lebih delapan belas menit. Besok hari Rabu dan ia ada kelas pagi. Senin Rabu kelas pagi dan Kamis-Jum'at kelas siang yaitu tepat pukul tiga belas.
Di Kampus.
Deandra mengacak rambutnya frustrasi. Sejak membaca isi pesan dari Gara semalam, dirinya selalu terpikirkan akan hal itu. Bahkan penjelasan dari Dosen juga tidak ia dengarkan dengan baik.
"Kenapa lo?" Tanya Brayen sambil membawa dua botol Pocari. Dia menyodorkan sebotol Pocari itu kepada Dean.
"Huft!" Dean hanya bisa menghela nafas sambil tangan nya membuka tutup botol Pocari yang tadi Brayen berikan dan langsung meneguknya setengah. Benar-benar kehausan pikir Brayen.
"Menurut lo gimana, apa gue terlalu keras sama Jane?"
"Hum.. Mungkin!" Brayen menatap Lurus kedepan, mengikuti arah tatapan Dean. Sekarang mereka sedang berada ditaman Kampus. "Gue juga gak yakin sih, itu bisa di katakan keras atau nggak! Tapi yang jelas, kalau lo masih cinta sama dia, lo harus tunjukin pelan-pelan biar dia tau! Tapi kalau lo udah gak cinta, lo harus omongin baik-baik sama dia! Jangan PHP sama orang yang serius berjuang!"
Bukan nya tersentuh, Dean malah tekekeh mendengar ucapan dari Brayen. "Widih! Emang lo tau apa soal ngasih harapan? Lo aja suka mainin cewek, ckck!"
Brayen menatap datar Dean yang kini sedang menertawakan nya. Ia benar-benar bersungguh-sungguh ingin memberikan pencerahan kepada sahabat nya itu. tetapi orang itu malah menganggap remeh, malahan membawa-bawa sifatnya selama ini.
"Gue belum nemuin yang tepat aja, makanya main-main aja dulu. Lagian gak enak kalau gue harus menolak cewek,"
Dean berdiri, lalu mengacak-acak rambut Brayen seperti anak kecil. "Yaudah gue cabut dulu, ada yang lebih penting dari pada dengerin curhatan lo itu." Brayen hanya bisa kesal, melihat perlakuan Jendra yang memperlakukan nya seperti anak kecil.
Disini lah Deandra sekarang. Ia menatap gedung megah di depannya yang sangat menjulang tinggi.
"Maaf, anda perlu apa?"
Dua orang Security menghalangi Langkah Deandra. Security itu memandangi Dean dari atas sampai bawah, yang dimana sekarang Dean benar-benar seperti pemuda pada umumnya. Jaket denim berwarna hitam dengan dalaman kaos berwarna putih, dia juga menggunakan topi pada saat ini. Masih seperti penampilan nya dari kampus, ranselnya juga masih ia bawa.
"Ekhem!" Dean berdehem untuk menyadarkan dua security itu, yang sedari tadi sibuk memandangi dirinya sangat intens. "Saya mau bertemu Jane, akh! Maksudnya Janessa Sempani!"
"Pliss banget tolong! Hp saya mati gak bisa ngabarin dia dulu," Kedua Security itu tidak bergeming. Malah menatap Deandra dengan tatapan Introgasi. "Gini aja deh, saya boleh masuk? terus nunggu di lobby. Tapi kalau kalian gak ngizinin, saya bakal aduin dan mungkin kalian bisa di pecat!"
Deandra tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi dari kedua Security itu yang sekarang sedang saling memberi tatapan ngeri jika mereka harus dipecat.
"Baiklah! Saya akan mengantar anda ke Lobby. Tapi ingat jangan macam-macam!" Hardik Security yang sedari tadi diam, sambil mengancungkan telunjuk kepada Deandra, memberi peringatan.
Deandra berjalan mengikuti arah Security itu. Kedatangan nya membuat para Karyawan yang tidak sengaja berlalu-lalang di Lobby melihat kearahnya yang sekarang sudah duduk seorang diri.
Deandra terdiam. Dia merasa sangat canggung menerima tatapan dari sekumpulan karyawan wanita yang sekarang sedang melihatnya berbinar. Dean melihat penamilannya, sejurus dia ingin mengumpati dirinya sendiri yang berpakaian terlalu santai.
"Apa dia Seleb?"
"Gak tau, kalau seleb? Tapi kok gak pernah liat dia muncul di Sosmed,"
"Tapi dia kayak seleb seleb gitu lho! Liat aja mukanya ganteng mulus gitu,"
"Iyayaa... Gilaa! Kantor kita kedatangan Seleb!"
Itulah diskusi para Karyawan yang baru menyelesaikan makan siang nya. Sehingga membuat mereka melihat Deandra yang sekarang sedang menunggu di Lobby lantai satu.
"Aku mau nyamperin dia sekalian mau nanyain langsung, atas dasar apa dia datang ke kantor kita." Ucap salah seorang karyawan berparas cantik, terlihat punya kepercaya diri yang begitu tinggi.
Sekumpulan karyawan yang berjumlah Lima orang itu, mendekat kearah dimana Dean duduk sekarang. Deandra mendongkak dan baru menyadari jika para karyawan yang sedari tadi menatapnya sekarang sudah ada didepan nya. Dia tersenyum kikuk menerima senyuman manis dari karyawan-karyawan itu.
"Ekhem! Apa anda mencari seseorang?"
"Akh, iyaa..." Dean memejamkan matanya. Tidak percaya mengatakan itu sampai bergetar. Tak mau dikira terlalu grogi, Jendra mencoba menetralkan kegugupan nya. "Saya mencari Janessa Sempani."
Setelah mengatakan itu. Deandra kembali merutuki dirinya. Bagaimana tidak, lima orang karyawan didepan nya sekarang sedang menatap tak percaya dengan dirinya yang menyebut Jane tanpa embel-embel.
"Anda siapanya Ibu Presdir, Adik? Tunggu dulu tapi beliau kan gak punya adik,"
Deandra menyeringai. "Nanti kalian juga akan tau sendiri," Ucapnya sesantai mungkin, membuatnya tampak Cool. "Apa kalian bisa mengantar saya ke ruangannya?"
Karyawan berparas cantik tadi mulai mempertimbangkan keinginan Dean. Dia tersenyum tipis setelahnya. "Ibu Presdir lagi Meeting,"
"Kebetulan saya bisa menunggu di ruangannya,"
"Anda ikut kami saja!" Kini giliran Dean yang mulai mempertimbangkan ajakkan dari wanita yang berparas cantik itu.