MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
MASALALU DEANDRA



Mario Malik. Ayah dari Deandra Malik, seorang pengusaha dan pebisnis. Memiliki dua perusahaan besar dan sekarang sedang mengikuti pemilihan umum untuk menjabat sebagai Wali Kota.


FLASHBACK, Sumatera Utara 2006.


*Seorang wanita sedang terbaring lemah diruang Operasi karena baru menyelesaikan persalinan, melahirkan seorang anak. Wanita itu ialah Istri dari Mario Malik*.


Adinda Putri adalah wanita yang di nikahi Mario empat tahun sebelumnya. Di tahun pertama pernikahan mereka lantas di karuniai seorang anak laki-laki dan sekarang Ananda sedang menjalani persalinan kali kedua.


"Dokter, gimana keadaan istri saya?" Tanya Mario setelah Dokter yang membantu persalinan Istrinya keluar dari ruang Operasi.


"Istri anda baik-baik saja. Tapi—" Dokter itu sengaja mengantungkan ucapan nya karena tidak jika enak jika harus mernyampaikan apa yang terjadi.


Mario mengerutkan kening. "Tapi apa Dokter? Katakanlah!"


Sang Dokter menghela nafas berat. "Istri anda melahirkan sorang anak laki-laki,"


Mario ternganga. Ia terdiam seketika bagaimana tidak, Mario benar-benar tidak percaya jika istrinya melahirkan anak laki-laki sedangkan mereka sudah menetapkan anak itu lahir berjenis kelamin wanita karena mereka sudah melakukan USG sering kali. Dokter pun sudah menyatakan anak itu seorang perempuan pada saat itu. "Dokter sendiri yang bilang, kalau dia lahir sebagai perempuan,"


Doter itu tersenyum kecut lantas menghela nafas panjang. "Memang benar adanya, tapi sekali lagi Dokter juga gak bisa memutuskan takdir. Periksalah istri anda, mungkin sekarang dia sudah sadar!" Setelah mengatakan itu sang Dokter pergi meninggalkan Mario yang sekarang nampak stress.


Mario mengacak rambutnya frustasi. Ia bingung dan juga sedikit tidak terima. Apa yang harus ia lakukan saat ini? Karena dia tahu istrinya dan orang tua dari istri nya juga akan tidak menerima kenyataan itu. Sampai akhirnya Mario beranjak menemui istrinya yang diketahui sudah berada diruang perawatan sambil berat hati ia memasuki ruangan itu.


"Sayang! Gimana keadaan putri kita?" Tanya Adinda setelah melihat Mario duduk dikursi dekat ranjangnya.


Mario mencoba tersenyum. Walaupun sangat terlihat paksaan. "Hum.. Dia baik-baik aja," Ujarnya dengan wajah tegang.


Ananda memincingkan mata. "Kenapa ekspresi kamu kayak gitu? Pasti ada apa-apa kan? Bilang! Apa yang terjadi sama putri kita?!"


Sungguh bagi Mario ia sangat berat akan menyampaikan fakta yang sebenarnya. Tetapi dia juga tidak bisa berbohong kepada Istrinya.


"Kayaknya kita salah penilaian sama anak itu," Lirih Mario.


"Maksud nya? Tolong jelasin apa yang terjadi!?"


Mario menatap intens istrinya. Mencoba mengira-ngira apa yang akan terjadi jika dia memberitahu sang istri.


"Dia, laki-laki," Ucap Mario yang hampir tidak terdengar. Sungguh dia berat akan menyampaikan hal itu.


Adinda menggeleng tidak percaya. "GAK! Gak, kamu bohong kan? Gak mungkin, dia tetap perempuan!Tidak! Kenapa bisa dia berubah jadi laki-laki? Kita udah nyiapin nama cewek buat dia, Pa! Se Kota juga udah tau soal itu," Cerocosnya, membrontak. Air matanya sudah keluar membasahi pipi.


Mario bingung apa yang harus dia lakukan sekarang untuk mendiamkan Istrinya. "Sayang! Tenangin diri kamu dulu yaa.." Percuma, Ananda tidak menanggapi perintahnya.


Mario semakin tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang untuk menenangkan istrinya itu. "Iyaa.. Aku tau sayang, tapi-"


"Tapi apa, huh?"


"Kita juga gak bisa nyalain keadaan dan takdir, sayang!"


"Aku gak mau tau soal itu, MARIO! Aku mau dia sebagai cewek, hiks!" Lirih Adinda, ia menarik tali infus yang berada di tangan nya.


"Jangan!" Sergah Mario sambil menahan pergelangan tangan istrinya itu. "Sayang, udah yaa.. Nanti kita pikirin lagi soal itu,"


Mendengar itu, Adinda semakin memberontak. Sampai akhirnya Dokter memberikan suntikkan penenang. Adinda terbaring lemah dengan mata sayu karena sedari tadi memangis. Bagaimana tidak, dia yang dari dulu menginginkan anak perempuan malah diberi harapan palsu oleh Semesta. Sampai membuatnya Murka, dan marah dengan keadaan. Apa lagi orang tuanya juga tidak anak menerima akan hal itu.


"Sepertinya istri anda akan sangat sulit menerima kenyataan ini," Ucap dokter itu setelah berhasil memberi Ananda obat penenang dan sekarang tertidur pulas.


"Apa yang harus saya lakukan, Dok?"


"Upayakan yang terbaik buat dia dan anak anda, kalau bisa pisahkan dulu untuk beberapa minggu. Kalau Ibu Adinda mengalami stress berkepanjangan, bawa saja ke psikiater!"


"Baik Dok, terimakasih atas semuanya." Kata Mario, meskipun dia juga nampak stress tetapi setidaknya dia lebih bisa mengontrol dirinya dan masih bisa bersikap setenang mungkin.


Tahun 2011.


Setelah satu minggu selesai persalinan, Adinda memutuskan untuk mengadopsi anak perempuan yang berusia satu tahun. Karena ia kecewa dan untuk Alibi Deandra. Sampai-sampai Ananda berniat untuk mengantikan kehadiran Dean, mengantikan nya dengan anak yang ia adopsi.


Sebelumnya Adinda sudah sangat berusaha menerima kehadiran Deandra. Dengan menganggapnya seorang perempuan. Tetapi yang namanya takdir tidaklah bisa kita ubah, Dean tetap laki-laki dan tidak bisa menjadi seperti yang Adinda begitu juga dengan kedua orang tuanya mau.


Tapi dengan berjalannya seiring waktu. Adinda pun sadar bahwa Deandra bukanlah seorang Perempuan. Semakin ia mengetahui kenyataan itu, semakin dalam dia membenci anak itu. Karena baginya Dean telah mematahkan harapannya yang sedari dulu Adinda dan kedua orangtuanya inginkan, yaitu mempunyai satu anak laki-laki dan satunya lagi perempuan.


Sepuluh tahun berlalu Dean yang kini sudah beranjak dari anak-anak ke remaja. Ia juga sekarang sudah menginjak Sekolah Menengah Pertama.


Tetapi dia tidak tinggal bersama orang tuanya. Dean tinggal bersama sorang wanita paruh baya yang sejak usia Dean lima tahun sudah mengasuhnya. Karena ibunya belum bisa menerima kehadiraan nya. Sampai sekarang Dean tidak tahu apa yang selama ini terjadi pada dirinya. Ia juga tidak bisa menemui orangtuanya.


Hal itu membuat Deandra membrontak disekolah. Sampai suatu hari ia harus ditahan dikantor Polisi selama satu minggu. Karena mendorong temannya dari Rooftop sekolah. Kejadian itulah yang membuat Deandra semakin diasingkan sekaligus dipantau oleh Ayahnya. Bagaimana tidak, Dean telah mengotori nama baiknya sehingga membuatnya malu bercampur emosi.


Hingga suatu hari Mario mengambil keputusan untuk mengasingkan anaknya sendiri, Deandra. Karena semakin hari Dean semakin menjadi-jadi. Membuat onar sana sini, bolak-balik masuk kantor Polisi. Tapi Mario masih bisa merahasiakan Anak itu. Dengan adanya anak angkat perempuan menjadi Alibinya. Tetapi sekali lagi Dean belum tahu kenyataan itu.


Keluarga Malik benar-benar bisa menyembunyikan kenyataan itu. Karena mereka sangat tergila-gila dengan harta. Kemungkinan besar, jika Deandra diketahui publik maka bisnis mereka akan diambang kesulitan atau merosot. Saham mereka juga akan drastis menurun. Karena publik sudah mengetahui, Deandra yang beberapa kali disorot Media akibat melakukan kekerasan.


FLASHBACK END.