MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
TERTANGKAP BASAH



Aryna dan kedua putrinya yaitu Jihan dan Irene sedang mengobrol bersama di ruang keluarga.


"Mami minggu depan mau ke Jogja, nyamperin Nenek kalian,"


Jihan dan Irene saling bertatapan dengan ekspresi yang sama, yaitu kaget.


"Artinya kita gak bisa ikut dong, Mi!" Irene memoutkan bibirnya. Aryna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putri sulungnya itu.


"Heem.. kerjaan juga masih numpuk banget," sambung Jihan ikut berkomentar.


Tiba-tiba, Irene teringat kejadian satu minggu yang lalu, di mana ia mencurigai seorang pria yang tidak lain adalah Deandra. Rasa penasaran Irene meningkat, kenapa Jane bisa tiba-tiba turun padahal sebelumnya Jane tidaklah bersikap seperti itu. Irene berfikir, mungkin orang itu ada sangkut pautnya atau ada hubungannya dengan Janessa.


"Btw, Mami sama Jihan curiga gak sih sama kelakuan Jane akhir-akhir ini?" Tanya Irene yang membuat Jihan dan Aryna mengerutkan kening. Irene menghela nafas, menyadari kedua wanita itu tidak mengerti. "Gini, kalau kalian mau ke apartemen Jane. Pasti kalian di ingetin buat nelepon atau gak chat dia dulu kan, sebelum kesana?"


Akhir-akhir ini memang Jane selalu menyuruh kedua Kakak dan Maminya jika berkunjung harus telepon terlebih dahulu. Padahal sebelumnya ia tidak pernah bersikap seperti itu, tapi sekarang ia selalu memaksa untuk harus menelepon terlebih dahulu.


Jihan mengangguk beberapa kali. Ia ikut penasaran akan hal itu. "Kakak bener sih! Kemarin dia ngomel ngomel gara gara aku dateng tanpa permisi,"


Aryna yang masih belum merespon, ia masih bingung dengan ucapan kedua anaknya karena jujur saja ia belum sempat berkunjung lagi. "Emangnya ada apa sama Jane?"


Irene mencoba mencari cara untuk menyampaikan pendapatnya. "Gini Mi! Satu minggu yang lalukan, aku ngeliat ada cowok mencurigakan gitu di area apartemen Jane," Irene menatap Jihan dan Ibunya bergantian. "Nah! Aku rasa cowok itu ada something sama Jane, soalnya si Jane tiba tiba aja dateng nyamperin kek effort buat lolosin cowok itu dari aku," Lanjutnya.


Aryna ternganga, tapi setelah itu ia tersenyum. Sedangkan Jihan masih tidak mengerti, dan berusaha mencerna setiap kalimat yang disampaikan Irene.


"Wait! Apa kamu sempat liat muka cowok itu?" Tanya Aryna penasaran.


Irene cuma menggeleng menjawab pertanyaan Ibunya. Lalu Aryna tersenyum jahil. "Mami punya ide,"


Irene dan Jihan menatap datar Aryna, lantas mereka berdekatan membisikkan ide yang ada di kepala sang Ibu. Tak perlu waktu lama ide itu sudah bisa dipahami kedua anaknya, lalu mereka terkekeh setelah itu.


Di tempat lain. Deandra dan Gara sedang menikmati kopi di Cafe. Sudah lama mereka tidak saling berbicara empat mata, karena disekolah mereka tidak bisa saling curhat.


"Lo ntar mau lanjut kemana, Ndra?" Tanya Gara memulai obrolan.


Deandra kebingungan dengan pertanyaan Gara, karena sejujurnya mereka jarang membicarakan masalah pendidikan.


Deandra menghela nafas. "Hump.. Gak tau juga deh, kayaknya disini aja udah cukup!"


Gara menganggukkan kepala yang artinya mengerti. Deandra kebingungan melihat tingkah sahabatnya itu.


"Lo sendiri mau kemana?"


Gara menatap Dean, lalu menghela nafas panjang. "Sama, gue juga belum tau sih! Tapi keknya bakal keluar negeri deh," Jawabnya, Dean tersenyum kikuk mendengar pernyataan sahabatnya itu.


"Wihh keren itu, bagus! Itu artinya lo mulai mikirin masa depan lo," Komentar Dean tulus.


"Ndra!" Gara tersendu, lalu menundukkan kepalanya. "Gue lagi deket sama Kak Irene," Ucapnya yang hampir tak terdengar.


Deandra mencoba mencerna pernyataan sahabatnya itu. Lalu matanya melotot dan menatap Sagara penuh pertanyaan. "Kak Irene?" Gara refleks mengangkat kepalanya. "Kak Irene? Kakaknya Jane, Kepsek kita?" Lanjutnya.


Gara mengangguk perlahan seperti anak kecil. Dean mengulum senyum melihat tingkahnya.


"Njir, gila sih! Menurut gue lo hebat! Tapi inget jangan terlalu lama, ntar di ambil orang tau rasa lo nangis kejer!"


Gara menghela nafas lagi. "Justru itu bro, gue milih lanjut di luar negeri. Rencananya mau ngikutin dia," Ucapnya malu-malu. Deandra semakin terkekeh, sedangkan Gara membuang muka kesal.


Beberapa Saat Berlalu. Deandra, Jane dan Grace sedang di dalam Lift menuju unit Apartment mereka.


Ting! Lantai empat belas, Grace segera keluar dari Lift. Deandra melambaikan tangannya kepada Winnie lalu segera menekan tombol lima belas, tempat unit Jane berada.


Ting! Tak perlu waktu lama mereka sudah sampai, dan langsung segera keluar dari Lift.


Deandra mengenggam tangan Jane dengan erat. Setelah sampai di depan pintu, Jane segera membuka password unitnya, hanya memerlukan satu detik pintu itu langsung terbuka. Mereka langsung masuk, dan melepas sepatu masing-masing lalu mengantinya dengan sendal.


Jane yang sudah terlebih dahulu langsung masuk, Deandra yang melihat itu buru-buru memakai sendalnya. Lalu mengejar Jane dan langsung memeluknya dari belakang. Apartment Jane begitu gelap, segera ia menghidupkan lampunya, dengan keadaan Dean masih memeluknya dari belakang dengan erat. Menuju ruang tamu, dan segera menghidupkan saklar lampunya. Sepersekian detik ruangan menjadi terang.


Jane speechless melihat Aryna, Jihan dan Irene duduk di ruang tamu. Mereka tidak kalah speechless. Sedangkan Deandra masih memeluk Jane belum melihat orang-orang yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu Jane.


Jane mencubit lengan Dean. "Kita ketahuan!" Bisiknya.


Refleks Deandra membuka matanya dan langsung melotot, lalu melepas pelukannya dengan cepat, darn memutar badannya membelakangi Jane.


"Njir! Bodoh banget, gue harus kabur!" Batin Dean yang hendak mencari celah untuk kabur.


Segera ia melangkahkan kakinya berharap dapat peluang untuk kabur. Aryna berdehem menghentikan langkah Deandra. Pasrah sudah bagi Deandra, ia siap untuk segera menerima kemurkaan Ibu dan juga kedua kakak Jane.


"Kalian berdua duduk sini dulu!" pinta Aryna sedikit dramatis. Sorot mata nya menatap tajam pada Jane dan Deandra bergantian.


Ia berniat mengerjai Jane dan kekasihnya, pura-pura mengomel. Itulah rencana mereka, memergoki dan berdrama.


Jane tampak santai, karena memang ia berniat memberitahu segera keluarganya, Jane duduk disofa Lain halnya dengan Deandra yang sudah gemetaran dengan keringat yang mulai terlihat di pelipisnya.


Deandra menghela nafas, lalu memutar badan nya. Betapa terkejutnya Irene dan Jihan mengetahui jika Rajendra lah kekasih Jane yang selama ini di sembunyikan. Dengan langkah pelan ia mendekat kearah Jane, lalu duduk di samping wanita itu. Wajahnya menunduk.


Jihan dan Irene di larang berbicara oleh Ibunya. Sebelum Aryna memberi kode mereka berpendapat. Sepersekian detik Aryna menyipitkan mata ketika melihat dengan intens laki-laki di hadapannya itu. Seperti tidak asing baginya, tetapi ia sedikit lupa pernah melihatnya di mana.


"Tunggu! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Aryna kepada Dean, ia bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.