MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
KABAR PERNIKAHAN JANE



Empat Bulan Kemudian.


Deandra sedang berbaring terlentang di tempat tidurnya, kedua tangannya di gunakan untuk menambah bantal. Wajahnya memancarkan kelelahan, ia harus tidur sekarang juga karena besok adalah hari senin, ada kuliah pagi. Tapi matanya tak juga kunjung mengantuk, melamun menatap langit-langit kamarnya.


"Selama aku masih bisa nafas, masih sanggup berjalan, aku bakal selalu cinta sama kamu! Yaa, biarpun aku gak tau lagi gimana kabar kamu. Tapi yang jelas, asal kamu tau kalau aku kangen banget sama kamu Jane!" batin Dean.


Segera ia memiringkan badan nya, lalu bibir nya mengukir senyuman. "Good night Jane!" Gumamnya lantas dia pun memejamkan matanya.


Keesokan paginya. Dean sudah siap berangkat ke kampus, ia ada kelas jam sembilan hari ini dan sekarang sudah jam delapan lewat. Kampusnya tidak jauh dari kontrakan cukup sepuluh menit berjalan kaki.


Deg! Dengan cepat Dean membalik badan nya, segera memasang topi hoodie miliknya yang berwarna merah maroon.


"Itu kan Jane? Apa gue gak salah liat? Dia sama cowoknya bukan sih?" Monolog Dean, ia berusaha menyembunyikan dirinya, jangan sampai Jane mengenalinya.


Memang benar itu Jane dan tunangannya yang di lihat Deandra. Sekarang mereka mendekat kearah Dean, menaiki setiap anak tangga.


Jane memperhatikan Deandra penuh curiga, tak henti-hentinya ia melirik Dean yang membelakangi mereka, mematung.


"Kok perasaanku aneh gini ya? Apa aku kenal sama orang itu?" batin Jane, tak sadar dia menghentikan langkahnya membuat Andry kebingungan.


Andry menoleh kebelakang. "Sayang ngapain berhenti? Ayo!"


Jane melangkahkan kaki nya kembali, menaiki anak tangga. Wajahnya masih kebingungan.


"Hadeh! Untung aja mereka gak ngenalin gue!" Batin Dean.


Segera ia berlari menuruni anak tangga. Refleks Jane menoleh kebelakang lagi, ia melihat Deandra yang terlihat tinggal punggung.


Disini lah Jane sekarang, di rumahnya neneknya.


"Tumben kamu kesini?" Tanya sang nenek. "Ini siapa?" Tunjuknya pada Andry.


Lantas Andry mengulurkan tangan nya. "Andry Pangestu, Nek! Calon suami Jane,"


Merasa tidak puas dengan perkataan Andry, ia menoleh ke arah Jane.


"Iya Nek! Bulan depan kami akan nikah," Tutur Jane malu-malu.


Neneknya tersenyum. "Cucu Nenek udah mau menikah aja, Kakak kamu Irene sama Jihan kamu langkahi yaa.." Neneknya terkekeh.


"Ishh, Nenek! Jane udah dua puluh lima tahun, udah cukupkan buat nikah?" Celetuk Jane sambil memoutkan bibirnya.


"Heem, itu semua terserah sama kamu kok sayang! Nenek hanya akan slalu doain kebahagiaan kamu dan ngedukung apa yang kamu pilih kalau itu terbaik buat kamu juga tentunya," Lirih sang nenek.


Jane sumringah mendengar ucapan nenek nya itu. "Jadi nenek bisakan datang bulan depan?"


Neneknya menghela nafas. "Nenek gak bisa janji kalau itu! Kamu tau kan nenek malas jalan jauh,"


Jane mendengus, neneknya itu begitu bahagia tinggal di Jogja, bahkan tidak mau meninggalkan Jogja meskipun sehari.


Deandra POV.


Tempat ini menjadi favoritku. Aku tidak menyangka bisa melihat Jane lagi, meskipun sekilas. Aku lega ternyata dia masih bersama orang yang aku percaya. Dia nampak bahagia, itu sudah cukup membuang rasa penasaranku terhadapnya.


"Tapi kenapa dia kesini ya?"


Tak sadar aku senyum-senyum setelah mengingat wajah Jane tadi pagi.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" Tanya sang nenek.


Aku makin melebarkan senyumanku. "Cantik! Dia masih cantik," Dengan sadar aku memejamkan mataku, ingin kembali mengingat wajahnya


"Cucu Nenek tadi pagi datang," Ucap nenek ini lagi, dengan cepat aku menoleh kearahnya.


Bodoh kenapa aku tidak menyadari jika nenek ini neneknya Jane. Wajahnya juga mirip-mirip Kak Jihan. Bodohnya aku tidak menyadari. Aku masuk ke kandang serigala, harus pergi kemana lagi?


"Kamu tau, kalau dia datang basa calon suaminya," Mataku melotot mendengar ucapannya. "Bulan depan mereka mau menikah,"


Bagai disambar petir, ucapan nenek ini berhasil mendatarkan wajah ku. Secepat itukah menikah? Pikiranku melayang entah kemana. Sakit, Itulah yang aku rasakan. Ibaratnya jantung hati, tersayat pedang tajam, betapa sakitnya kurasakan itu ketika mendengar mereka akan menikah.


"Kamu kenapa?" Tanya nenek memberhentikan lamunanku.


Segera aku menggeleng. "Nenek, aku pulang dulu ya. Banyak tugas soalnya," Bohongku.


Mencoba memberikan senyuman pada nenek karena dia juga tersenyum manis. Segera aku berjalan menuju kontrakan ku, di dalam ada Brayen. Ku lihat Brayen sedang mengerjakan tugas kampusnya, dia menoleh kepadaku. Dengan segera aku ke kamar mandi, tidak ingin ada yang mengangguku.


Sakit! Tangan kananku berusaha memukul-mukul dadaku yang terasa sesak.


Hiks! Sungguh aku sangat cengeng, segera aku menutup mulut ku dengan tangan kiri, agar Brayen tidak mendengarkan ku menangis.


Kenapa begitu sakit. Haruskah begini? Tuhan ku mohon kuatkan aku, kuatkan hati ini menerimanya.


"Jane, apa kamu bisa liat aku sekarang? Kenapa kamu tega, setelah kamu berhasil mencuri hatiku. Terus dengan sadarnya kamu mencampakkan ku gitu aja. Apa kamu masih marah perkara kejadiaan dulu? kenapa kamu gak mau dengerin penjelasan aku sih?"


Pecah sudah tangisanku, tidak peduli lagi Brayen mendengarnya.


"Maafin aku! Aku sadar kalau aku egois. Lantas menikahlah, aku akan slalu doain kebahagiaan kamu,"


Bruk! Brayen menendang pintu kamar mandi. Wajahnya tersendu melihat ku menangis tersedu-sedu. Segera dia mendekat, dan langsung memelukku.


"Udah gapapa! Nangis aja dulu gapapa! Besok angkat wajah lo! Masa lo belum slesai!" Ucapnya sambil mengusap-ngusap punggung ku. Tangisan ku semakin pecah dibuat sahabat kecil ku ini.


"Sakit, Yen. Hiks!" Brayen tidak tahu masalahku, karena jujur aku belum menceritakan semuanya. "Yen! Dia bahagia sama pilihannya, gue harus nge-ikhlasin dia!"


"Maafin aku, Jane! Hiks, maafin aku!"


Kering sudah air mataku. Begitu banyak air mata yang aku keluarkan untuk dia, yang mungkin tidak akan pernah tahu. Biarkan aku menangis sepuasnya malam ini, walaupun aku tahu ada hari esok dan seterusnya yang mungkin akan lebih menyakitkan.


Mungkin harusku tekankan kali ini jika aku sudah mengiklaskan mu. Aku akan menguburkan semua rasa cintaku, meskipun aku tidak yakin jika aku bisa mengubur semuanya.


Sebab aku tahu, titik mencintai tertinggi adalah mengiklaskan dan aku sudah menemukan alasan yang tepat untuk mengiklaskan nya. Meskipun hatiku sangat merindukan masa dimana kita sama-sama takut kehilangan satu sama lain. Tapi aku tahu dia sudah berubah dan tidak akan memaksakan dia seperti dulu lagi.


Aku cemburu, aku sakit hati, aku harus memaksakan untuk menerima kenyataan. Karena seseorang selalu membuat dia bahagia lebih dari aku.


Kelak, kamu akan tahu. Bahwa aku mencintaimu dengan sabar. Aku melamun ditengah isakkan, entah mana yang sakit. Kehilangannya atau melihatnya bersama yang lain?


"Kalau emang bahagia kamu adalah kehilangan aku. Kamu boleh pergi! Aku janji, mulai sekarang aku bakal nge-ikhlasin kamu."