
Ario yang segera akan berpergian, ditemani oleh istri dan kedua putrinya. Sedangkan supirnya berusaha memasukan koper besar milik si majikan ke dalam bagasi mobil.
"Papi berapa hari ke Medan?" Tanya Jihan yang sekarang sedang memeluk lengan Irene.
"Hum.. Mungkin satu minggu, selesai Meeting sama Direksi di sana terus ngerjain proyek besar-besaran sama Pak Mario baru Papi pulang,"
"Wow, keren.. Papi jangan lupa bawain oleh-oleh dari Medan yaa.." Heboh Irene, sampai-sampai ia menarik tangannya yang sedari dari di peluk Jihan. Membuat adiknya itu tersentak.
Ario tertawa. Karena baru kali ini putri-putri nya menginginkan Oleh-oleh. la mengangguk mantap mengiakan anak sulungnya itu. Setelah dirasanya sudah siap berangkat. Ario langsung berpamitan kepada istri dan kedua putrinya, dengan mencium dan memeluk kedua putrinya bergantian lalu yang terakhir istrinya. Ia pun langsung masuk kemobil sambil melambaikan tangan nya kepada istri dan kedua anaknya.
"Gimana kalau kita ke Apartemen Jane?" Aryna menawari kedua anaknya.
"SETUJU!" Jihan dan Irene serempak menjawab Mereka masuk ke dalam rumah sambil saling merangkul begitu akrab, tertawa bagaikan keluarga yang harmonis pada umumnya. Bersiap-siap ingin menemui Janessa.
Deandra POV.
Weekend kali ini, aku memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Aku sampai tidak sadar jika dapur dan isi kulkas ku sudah kosong. Padahal aku yang tidak bisa sama sekali membiarkan isi kulkas kosong. Kebetulan juga aku bisa masak sendiri. Pengasuh ku sering mengajari bagaimana cara memasak dengan baik, katanya biar jika hidup sendiri dan malas untuk keluar rumah cari makan, hidup ku bisa terselamatkan.
Aku merogoh kantong celanaku, untuk menarik keluar handphone. Sepertinya aku perlu salah satu sahabatku untuk menemaniku berbelanja.
Tut! Tut!
"Kenapa Ndra?" Sahut Gara di seberang sana.
"Lo dimana sekarang?"
"Gue di rumah, kenapa?"
Aku tersenyum penuh harap. "Temenin gue dong, dapur sama isi kulkas gue udah kosong tuh. Gue juga pengen cerita something sama lo,"
"Apa tuh?" Tanya Gara antusias.
"Ntar aja bro! Gue jemput lo sekarang,"
"Elahh.. Yaudah buru!"
Setelah mengakhiri panggilan. Aku langsung memutuskan berangkat untuk menjemput Gara, dia adalah sahabatku yang paling pengertian. Aku merasa nyaman dengannya. Dialah orang yang tahu seluk beluk ku. Maka dari itu aku tidak segan untuk menceritakan sesuatu kepadanya, apa saja bahkan rahasia sekalipun.
Aku ingin cerita kejadianku dengan Jane. Maksud ku Ibu Kepada Sekolah! Jujur, aku belum terbiasa dengan wanita itu. Bingung, harus anggap dia apa? Secara dia adalah Kepala Sekolah. Aku juga sadar diri masih terlalu remaja untuk berdampingan dengan nya, yang aku tahu usianya sudah sangat dewasa.
Aku memang sudah mulai menyukainya. Tapi sekali lagi, apakah ini cinta sesaat seperti kebanyakan anak remaja pada umumnya? Aku harap dia bisa menyeimbangi, agar nantinya tidak mengecewakan dirinya sendiri. Karena aku termasuk orang yang tidak suka, jika orang lain mengurusi kehidupan pribadiku yang sangat menyedihkan ini.
Kebanyakan cerita, sampai tidak terasa aku sudah didepan gerbang rumah Gara. Anak itu kebiasaan. Sudah berapa kali aku mengirim pesan kepadanya. Tetapi batang hidung nya belum muncul juga.
"Elah, kalem bro! Masih pagi ini buru-buru banget," Aku memutar bola mata.
"Lo tau sendiri gimana ramenya supermarket itu kalau udah mau siang, apa lagi ini weekend!" Sagara beroh-ria, tidak mau menanggapi makian ku.
Aku menyodorkan helm kepadarnya. Setelah memasang nya, ia langsung naik di jok belakang. Berharap supermarket itu masih tidak terlalu ramai.
"Btw lo mau cerita apa?!"
"Ntar aja napa! Lo gak liat ini masih di jalan?!" Teriak ku tidak kalah nyaring. Mungkin pengendara lain bisa mendengarkan teriakan kami berdua.
Setelah melewati beberapa lampu merah dan persimpangan. Kami pun sampai tepat jam delapan pagi. Benar apa yang aku katakan, baru di parkiran saja sudah terlihat jika didalam pasti sudah ramai.
Aku tidak menanggapi ucapannya. Lebih memilih untuk segera masuk. Langsung mengambil troli belanja yang sudah tersedia. Mencoba mencari-cari barang yang ingin aku beli.
Buah-buahan, sayuran, daging, makanan cepat saji, Snack dan lain-lain. Sepuluh menit, troli kami sudah hampir penuh. Bukan! Bukan belanja ku yang memenuhinya! Tetapi Gara yang mengisinya dengan banyak Snack.
"Hadeh! Lo kalau mau belanja ambil troli sendiri deh!" Pekikku.
Malah dia yang terlihat kesal. "Elah! Guekan cuma bantuin lo," Ujarnya sambil memoutkan bibir.
Aku hanya menghela nafas dalam-dalam. Ini bukan membantu, malah semakin menyusahkan. Tetapi mau bagaimana lagi, manusia beruang ini sangat berperan dalam hidupku. Siapapun tidak akan tahu, bagaimana rasanya hidup hanya memiliki beberapa sahabat saja.
Kami memutuskan untuk menyudahi acara belanja. Segera menuju kasir. Setelah kasir itu memberitahu nominalnya tujuh ratus ribu rupiah, aku tidak membawa uang sebanyak itu. Jadi aku memberika kartu kredit. Setelah semua nya selesai, kami lantas keluar menuju parkiran.
"Bukannya lo mau cerita?" Kata Gara setelah beberapa saat.
Sekarang kami sedang bersantai di cafe, aku melirik sekeliling. Mengawasi, semoga tidak ada yang mendengar pembicaraan kami.
"Janji dulu! Lo jangan sampe kaget," Hardik ku kepadanya, dia mengangguk cepat. "Terus tolong banget, lo rahasiain dulu sama yang lain!" Pintaku membuat Gara memelas karena tidak juga langsung ke intinya.
"Gue udah pacaran sama Jane, Kepsek kita!" Bisikku tepat di telinganya.
"Anjir! Lo serius?!" Refleks manusia beruang ini berteriak. Membuat seluruh pengunjung Cafe menatap kearah kami.
"Serius lo? Jangan boong! Gimana ceritanya? Kapan kalian mulai pacaran? Bukannya kalian kalau ketemu selalu berantem?" Cicitnya melemparkan ku banyak bertanya. Dasar manusia Kepo.
"Dih, kalau nanya tuh satu-satu bego!" Aku kembali melirik sekeliling, untung tidak ada orang yang mungkin mengenali kami. "Sebenernya gue bingung juga sih, kenapa bisa jadiin dia pacar. Kayak yang lo bilang, kalau kami selalu berantem pas ketemu,"
"Wait!" Gara memberikan respon yang lebih serius dari biasanya. la sengaja mengantungkan kalimatnya, membuatku menimba-nimba apa yang sedang ia pikirkan. "Kok bisa kalian tiba-tiba pacaran? Maksudnya kok bisa Madam nerima lo gitu aja?"
Dan perkiraan ku tentang nya benar. Dalam sekejap manusia beruang ini bisa menyudutkan ku. Mau tidak mau aku harus cerita yang sebenarnya. Aku kembali melirik sekeliling, berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. Atau lebih tepatnya tidak ada orang yang kami kenal tiba-tiba berada disini.
"Stt! Tapi inget, lo jangan teriak kayak tadi!" Sagara mengangguk mantap. "Semalem aku nyium dia terus ketauan sama Managernya," Baru sampai disitu, Gara sudah Speechless.
"Managernya marah, jadi mau gak mau kami mutusin buat pacaran tanpa gue tembak dulu,"
Gara menggeleng dengan keadaan mulut menganga. "Gilaaa! Tapi lo cinta gak sama dia?"
Aku terdiam, jujur aku belum yakin akan hatiku. Gara menghela nafas, mungkin dia tahu isi hatiku. "Jangan sampe lo mainin perasaan si Madam deh! Lo bisa bahaya. Gue tau banget sifat lo yang gak pernah serius sama orang,"
Dan memang benar apa yang dibilang manusia beruang ini. Keseriusan dalam hubungan tidaklah penting bagiku jika akhirnya akan berpisah juga. Maka dari itu aku belum ingin memiliki hubungan dengan siapapun.
Tapi perlu di garis bawahi! Jika aku Deandra Malik, tidak pernah bermaksud memainkan perasaan seseorang. Itu bukan lah ciri khas ku.
"Yaa.. Jujur aja sih kalau gue udah mulai suka sama dia. Biarpun belum sampe ke cinta juga. Tapi bukan artinya gue suka mainin perasaan orang yaa! Lo tau sendiri kalau gue belum pernah yang namanya pacaran di tambah lagi kerjaan gue yang lo tau sendiri apa,"
Kulihat raut wajah Gara mengerti dengan penjelasan ku. "Intinya, lo jangan sampe bikin si Madam marah, itu aja sih!"
Ini yang aku suka darinya. la tidak pernah mencemoohku. Selalu mengingatkan akan hal buruk yang mungkin akan terjadi kepadaku. Aku semakin berpikir, apa yang akan terjadi jika aku membuat kesalahan pada wanita itu?
Aku menggeleng, malah memikirkan hal-hal manis tentang dirinya. Ini gara-gara kebanyakan menceritakan wanita itu. Teringat akan hal jika kami belum bertukar nomor WhatsApp. Memang pasangan yang bodoh, bukan?
Deandra POV END.