
"Kamu mau langsung pulang?"
"Iyaa... Besok aku harus masuk pagi."
Jane memoutkan bibirnya. Ia kesal sekarang kepada Deandra. Setelah pengakuannya akan memperjuangkan kembali hubungan mereka, Dean selalu berusaha mengabaikan nya. Bahkan untuk bertemu satu jam saja tidak ada waktu untuknya.
"Aku pulang dulu." pamit Dean, lagi.
"Hp kamu siniin dulu! Aku pengen liat." Dean yang sudah duduk diatas motornya, menatap Jane bingung, kenapa tiba-tiba wanita itu meminta handphone nya. "Aku pinjam bentar aja."
Sambil mengendus kesal, Deandra menarik keluar handphone di kantong celana dan langsung menyodorkan nya kepada Jane, yang sekarang tersenyum penuh kemenangan.
Ekspresi Jane berubah setelah mengecek nama-nama orang yang tertera di pesan masuk WhatsApp Dean. "Kamu besok mau kemana?" tanya Jane setelah membaca isi pesan dari seorang wanita.
"Mau nganterin temen."
"Jangan pergi!" hardik Jane dengan cepat.
"Huft! Jane-"
"Jangan! Kamu punya pacar, aku gak akan kasih izin!" Deandra memutar bola matanya, setelah mendengar Jane memotong ucapannya ditambah lagi melarangnya ini itu.
"Kamu bukan pacar aku, kamu lupa?" Jane kalah telak saat ini, dia terdiam sesaat. Lagian juga terserah Deandra benarkan? Ia juga mau menemani teman kelasnya untuk ketoko buku. Bukan mau berkencan.
"Intinya kamu punya pacar, Ndra! Aku gak akan kasih izin kamu pergi sama cewek, apalagi cuma berdua."
"Dia temen kelas aku, Jane!" Jane mengalihkan wajahnya, tidak mau menatap Dean. Sungguh ia sangat mengebu saat ini menyadari Dean sudah tidak mau menuruti perintahnya. "Aku cuma ke toko buku. Dia juga udah punya pacar dan kami cuma temenan."
"Ish! Kamu ini yaa..." Ucap Jane sampai bergetar, membuatnya tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. "Jalan sama aku aja banyak alesan nya giliran jalan sama yang lain punya banyak waktu. Sebenarnya kamu serius gak sih kasih aku kesempatan?"
Dean mengerang frustasi. Sungguh dia tidak ingin melihat Jane menangis di depannya. Deandra mendongkak sambil berdehem, nafasnya mengebu. "Besok malem aku jemput kamu yaa... Sekarang aku harus pulang dulu, kamu masuk gih!"
Tanpa mengambil handphonenya, Dean meninggalkan Jane yang masih terdiam mematung. Matanya berkaca-kaca, ia memdongkak untuk menengelamkan air matanya.
"Ish! Nyebelin banget..." Kesal Jane, menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
Keesokan harinya setelah mengantar teman nya ke toko buku, Dean langsung menemui Alvin di sebuah Cafe dekat dengan kantor Viktor. Mereka ada janji hari ini untuk mengobrol banyak hal, karena sejak kedatangan Deandra ke Jakarta. Mereka tidak pernah punya waktu untuk bertemu.
"Hp lo sama Madam?"
Dean berdecak mendengar perkataan pertama yang keluar dari mulut Alvin. Yang benar saja bukannya ditanya apa kabar dulu malah membicarakan masalah handphone. "Jangan ngomongin cewek dulu deh!" hardik Dean.
Alvin sangat paham dengan sahabatnya itu. Memang dari dulu Dean sangat jarang membicarakan wanita jika sedang bersama dengan sahabat-sahabatnya. "Gara udah tunangan, noh!"
"Njir! Serius lo? Sama siapa? kak Irene?" Tanya Dean bertubi-tubi.
Deandra menghela nafasnya lalu mengulum bibir bawahnya. Ia merebahkan punggungnya dikursi dengan nyaman. Matanya memperhatikan penampilan Alvin yang sekarang sedang mengunakan setelan jas, sangat formal. Apa lagi dengan rambut yang disisir rapi. Dean tersenyum seketika. "Gilaa sii... Lo keren banget!"
"Udah deh, jangan ngeledekin gue lo!" Alvy bukannya merasa tersipu malu mendengar perkataan Dean, ia malah membuang muka. "By the way, lo balikan sama Madam?"
"Lo pikir gue segampang itu bisa di ajak balikan? Denger yaa... Biarpun gue kecintaan banget nih sama dia, tapi gue masih punya harga diri. Gue harus nguji dia dulu soal itu, biar tau cintanya sebesar apa? Gue gak mau bego kedua kalinya jadi harus pinter banget soal ini." jelas Deandra panjang lebar.
Alvin menatap kagum sahabatnya itu, ia bertepuk tangan mendengar perkataan Dean yang menurutnya sangat dewasa. Benar adanya, sekarangkan memang mereka sudah dewasa dan Alvin hampir lupa. "Terus, kenapa hp lo bisa sama dia? Jangan bilang kalian tukeran hp? Alay banget kayak bocah."
"Dia minta paksa hp gue, mau ngambil nya lagi gue males debat." ucap Dean sambil memainkan sedotan minuman nya. "Hp lo siniin dulu!"
Tanpa mendapat persetujuan dari pemiliknya, Deandra langsung meraih handphone Alvin yang sengaja disimpan diatas meja.
"Ini aku yang punya hp. Nanti langsung ketemu di Mall aja jam 7!" Setelah menyampaikan pesan itu melalui sambungan telepon, Deandra langsung mengakhiri panggilannya.
Sedangkan ditempat lain, Jane sang penerima telepon sedang berusaha menetralkan emosinya. Sumpah ia tidak ingin terlihat marah sekarang didepan Klien nya karena sedang mengadakan Meeting proyek besar-besaran. Jane menyimpan handphone milik Dean kembali, dan langsung melemparkan senyuman semanis mungkin kepada klien nya yang tadi sempat menatapnya bingung.
"Meetingnya kita akhiri sampai disini dulu dan minggu depan, bagi team yang bertugas, saya harap semua berkasnya sudah harus selesai. Baik selamat sore!" Jane langsung meninggalkan ruang Meeting.
Dengan Anggun ia berjalan menuju ruangannya. Sambil sesekali tersenyum kepada para Karyawan yang menyapanya. Jane itu judes tetapi ia tidak pernah mengabaikan Karyawan nya yang mencoba menyapa. Meskipun hanya sekedar sebuah senyuman.
"Kak Jihan kesini mau apa?" Kalimat pertama yang Jane ucapkan setelah membuka pintu ruangannya.
Jihan yang kini sedang duduk dikursi kebanggaan Jane. "Gimana meetingnya? Jangan lupa kak Irene minggu depan pulang,"
"Aku tau itu, Kak Jihan bisa minggir? Aku banyak kerjaan!" Bukan nya menuruti ucapan Jane, ia malah tetap semakin merebahkan punggungnya dengan Jane yang sekarang sudah berkacak pinggang.
"Oke, oke..." Bukan Jihan mengalah. Tetapi ia tidak mau menganggu pekerjaan Jane.
Kadang Jane heran. Atas dasar apa Kakaknya itu menemuinya? Jarak kantor mereka juga lumayan jauh. Sedangkan Jihan hampir seminggu tiga kali menemuinya, dan itu bukan masalah penting melainkan malah sering berdebat. Untungnya para Karyawan tidak pernah mendengar perdebatan mereka, yang tahu hanyalah Sekretaris sekaligus sahabat mereka yaitu Gia.
"Kakak keliatannya free banget yaa..." Sindir Jane.
Jihan tertawa, lantas dengan sengaja mendudukkan pantatnya di atas meja kerja Jane. "Kan kamu tau sendiri dari dulu Kakak kamu yang cantiknya bukan main ini kadang makan gaji buta,"
Jane mencibir, dia menggeleng beberapa kali karena mendengar pengakuan dari Jihan. "I know! Mau aku kasih kerjaan?"
Jihan mengernyit heran. "Apa?" tanyanya penasaran.
"Pijitin aku,"
"Dih! Ogah banget aku tu... Aku keluyuran gak jelas aja di gaji,"
"Yaudah jangan gangguin aku, sana pergi!" Usir Jane. "Aku buru-buru ntar malem mau ngedate sama Dean." Tambahnya lantas menyombongkan diri.