
Deg! Jantung Jane mulai menggila mendengar ucapan Dean. Wajahnya mulai merona tetapi ia masih terdiam. Seolah-olah pandangannya sedang dihipnotis oleh cowok itu. Deandra yang melihat Jane tidak merespon ucapannya, mulai kebingungan sampai akhirnya ia kembali meniup wajah Jane kali ini cukup kuat sehingga membuat Jane tersentak kaget. Jane tersadar dan langsung terkesiap.
"Aa-apa yang anda lakukan?" Pekik Jane, sampai membuat ucapannya bergetar karena gugup.
Dean lagi-lagi terkekeh dibuatnya. Bagaimana tidak wanita yang ia kenal dingin dan pemarah seperti nenek sihir itu bisa gugup juga.
"Ahh.. Mendingan saya pulang aja deh, dari pada ntar saya di terkam sama anda gara-gara mulai suka, kan gak lucu!" ejek Dean, ia masih terkekeh.
Lantas tangannya dengan sigap mengemasi buku dan langsung memasukannya kedalam ransel miliknya. Jane yang masih mematung sambil mengoreksi setiap kalimat yang terlontar dari mulut cowok itu. Karena jujur saja ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang di maksud Dean.
"Maksud dia apaan coba?" Batin Jane, tetapi setelahnya ia membelalak karena mulai mengerti dengan apa yang Dean maksud.
"Jangan salah sangka ya! Maksudnya saya suka anda apa, hah?! Lupa siapa saya? Bocah umur 17 tahun aja udah belagu bilang gitu, cih!"
Dean yang sekarang sudah berada di depan pintu berniat untuk pulang itupun langsung menghentikan langkahnya karena mendengar ucapan Jane. Ia menghela nafas malas, lalu berbalik lagi untuk menghampiri wanita itu yang masih duduk dilantai. Sengaja ia mendekatkan wajahnya kearah telinga Jane.
"Ibu Kepsek yang terhormat, biarpun umur saya masih 17 tahun tapi saya udah bisa ngasih anak untuk anda," Bisik Dean dengan sangat lembut. Bahkan ia sengaja sedikit mengoda Jane.
"Apa sih?! Jangan kurang ajar ya anda!"
Jane yang merasakan hembusan nafas Dean yang mengenai telinganya langsung membulatkan mata. Sekujur tubuhnya bergetar. Jantung bagaikan ingin lepas dan wajah yang memerah. Bagaimana tidak karena ia yang diketahui tidak pernah menjalin asmara sejak lahir dan baru kali ini ada orang yang benar-benar membuat jantungnya mengebu-gebu apa lagi seorang siswa Sekolah Menengah Atas.
"Saya aduin kamu ya!!" Pekik Jane, lagi. Tetapi reaksi wanita itu malah semakin menahan gejolak dan juga malu dengan dirinya sendiri.
Dean kembali terkekeh melihat reaksi wanita itu yang menurutnya sangat manis dan lucu.
"Ututu.. Anda lucu banget tau.." Intonasi bicara Dean yang sengaja dia lembutkan. Kepalanya menggeleng refleks.
"Yaudah deh saya pulang dulu." Pamit Dean Melihat tidak ada respon lagi dari Jane. Ia pun langsung beranjak meninggalkan tempat itu dan langung berjalan menuju Lift. Ditekannya nomor empat belas.
Setelah keluar dari Lift. la langsung mencari unit milik Grace. Tidak mau membuang waktu, ia langsung menekan Bel. Sang empunya unit yang memang masih belum tidur, langsung membukakan pintu untuk orang yang menekan Bel.
"Kamu! Ada perlu apa?" Grace bingung kenapa Deandra malah menemuinya.
"Kak, Samperin Ibu Kepsek! Mungkin beliau lagi panas dingin sekarang," Perintah Dean, ia malah terkekeh lagi, mengingat apa yang terjadi kepada Jane.
Siapa yang tidak bingung jika menjadi Grace? Dirinya harus mengunakan kekuatan insting untuk mengetahui apa yang Deandra maksud.
"Apa yang kamu lakukan dengannya? Jangan-jangan kamu—"
Deandra yang menyadari apa yang ada di pikiran Grace, sengaja langsung memotong pembicaraan wanita itu. "Tenang kak! Aku bahkan gak nyentuh dia sama sekali kok, samperin aja dia!"
"Iyaa.. Dia kenapa Deandra?" Gemes Grace.
"Lihat dulu kak! Aku juga kurang tau, jadi lihat sendiri aja!"
"Udah di bilang lihat dulu, cewek suka banget ribet. Kepo kan? yaudah liat kakak..." Deandra gemes sendiri, ingin rasanya dia mencubit kedua pipi wanita di depannya itu.
"Yaudah tungguin aku," Pinta Grace.
"Gak! Aku mau pulang aja,"
"NO! Kamu harus tanggung jawab kalau dia kenapa-napa, enak aja main kabur aja!" Sergah Grace, dia sampai menahan ujung jaket Dean.
"Udah aku bilang dia gapapa! Cuma sedikit kaget aja-"
"Nah! Nah! Kamu apain dia sampai kaget, hah?" Makin tambah penasaran Grace, cowok di depannya sungguh tidak meyakinkan baginya.
Deandra menarik lengan bajunya yang di genggam Grace, pelan. "Ribet banget dah cewek! Aku mau pulang kak, udah malem. Kalau aku kenapa-napa di jalan kakak tanggung jawab ya!"
Grace terdiam, ada benarnya juga. Setelah mengatakan itu. Deandra langsung pergi meninggalkan nya yang masih dalam keadaan bingung.
"Apaan coba nuduh gue yang nggak-nggak?! Masih mending gue kasih tau, dari pada nggak, tau rasa tuh si Madam sendirian." Gerutu Deandra. Niat baiknya malah di ragukan.
Cowok itu memang sengaja langsung pergi menemui Managar dari Kepala Sekolah nya itu karena ia sejujurnya merasa khawatir meninggalkan Jane dalam keadaan yang menurutnya lucu tapi sangat mengenaskan.
Grace yang mendengar itu langsung berlari menuju Lift untuk menemui sepupunya.
Jane masih merasakan debaran jantungnya. Ia mengakui jika Deandra dalam sekejab bisa membuatnya lemah tidak berdaya. la masih belum bisa menetralkan dirinya. Nafasnya dari tadi masih tidak beraturan dan badannya masih terasa bergetar.
"Ish! Bodoh banget kamu Jane..." Batin Jane.
Jane memekik dirinya dalam hati. Merasa sangat bodoh karena Dean telah melihat tampang memalukannya. Hatinya bertekat, jangan sampai cowok itu membuatnya terlihat bodoh lagi, lain kali.
"Jane, kamu gapapakan?" Tanya Grace setelah melihat Jane yang diam mematung.
Jane masih tibak bisa mengeluarkan suaranya saat ini. Rasanya begitu berat baginya karena sengatan yang Dean berikan. Ia sudah mengeluarkan keringat dingin sambil masih tetap memantung. Pandangannya kosong.
Grace yang melihat keadaan buruk sepupunya untuk pertama kali, mulai memeriksa suhu tubuh cewek itu. Jane hanya bisa menatapnya sayu, ia benar-benar tidak bisa berfikir jernih sekarang. Sampai akhirnya Grace membantunya bangun untuk segera duduk di sofa.
Jane sudah berkaca-kaca. "Kak, gimana ini? Hiks!" Lirihnya, ia tidak mengerti kenapa sampai membuatnya tersendu. Tidak tahu apa itu perasaan suka atau bukan.
Grace yang mendengar itu langsung membawa Jane kedalam pelukannya. Memastikan wanita itu dalam keadaan tenang dan juga baik-baik saja. la mengusap-usap punggung Jane sehingga membuat empunya menitikan air matanya, lagi.
"Kamu kenapa hm? Cerita sama kakak!"
"Lagi gak pengen cerita kak! Biarin kayak gini dulu, hum?"
Malam ini setelah apa yang Deandra lakukan kepada Janessa, ia benar-benar tidak percaya jika cowok itu bisa menerbangkan jiwanya. Merasakan ribuan kupu-kupu didalam perutnya, yang jelas ini baru pertama kali ia rasakan. Ia berfikir, mungkin dirinya harus segera menemui Dokter. Itu harus! Pekiknya dalam hati.