MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
ULANG TAHUN JANESSA



Dua minggu setelah perkara Deandra dan Janessa, mereka sempat jalan bersama beberapa hari lalu. Tetapi lagi-lagi berujung dengan emosi bagi Jane.


Janessa juga bingung dengan dirinya, mana yang harus dia pilih apa lagi Andry semakin lengket dengannya dan bisa membuatnya nyaman, bertolak belakang dengan Dean.


Sedangkan Deandra akhir-akhir ini sibuk dengan urusan nya. Entah apa yang dia kerjakan, sampai-sampai membuatnya drop dan jatuh sakit, apalagi malam ini ulang tahun Jane yang ke dua puluh lima tahun. Dia belum sempat membelikan kado untuk wanita yang dia cintai itu.


Alvin datang menemuinya karena tidak masuk kuliah hari ini. "Ayo kerumah sakit," Ajaknya.


Dean menggeleng tidak mau. "Ntar juga sembuh sendiri kok, lagian juga cuma demam biasa elah!" Tolaknya.


Alvin mulai jengkel. "Ndra!"


"Stt! Btw ntar malem jemput gue ya, kita ke ulang tahun Jane barengan," Ajak Dean. Pasrah sudah bagi Alvin, sahabatnya ini memang keras kepala.


Pesta ulang tahun Jane diadakan di mansion keluarga Sempani, yaitu rumahnya. Dekorasi yang begitu mewah, bak pesta ala-ala kerajaan. Ribuan tamu yang datang dikalangan orang penting, pembisnis tinggi. Deandra yang masih sakit, memaksakan dirinya untuk hadir. Wajahnya tidak bisa berbohong karena pucat.


Setelah peniupan lilin, Dean yang sedari tadi gelisah ingin cepat-cepat pulang karena panas di badan nya, dia terus saja mencari keberadaan Jane karena ingin mengucapkan selamat.


"Cari siapa Ndra?" Tanya Jihan.


"Jane!" Matanya mengintari setiap sudut. "Dia kemana kak?"


Jihan penasaran kenapa Deandra begitu pucat, punggung tangannya refleks menyentuh kening Deandra. Matanya melotot setelah merasakan suhu tubuh Dean panas.


"Astaga Ndra! Kamu sakit? Kok malah di biarin sih," Pekik Jihan dia tidak percaya kenapa Jendra bisa seceroboh itu.


"Gapapa kok kak, ini cuma demam biasa. Jane nya mana?" Tanya Dean lagi.


Jihan mendengus kesal melihat Deandra yang lebih mementingkan Jane dari pada sakitnya. Sebenarnya dia tahu Jane tadi sedang bersama Sean dan kebetulan ada Ibu mereka juga disana, karena Sean ingin menyapa Ibunya.


"Yaudah ayo ikut kakak!"


Dengan semangat Dean mengikutinya. Tempat yang mereka tuju tidak terlalu jauh. jihan memberhentikan langkahnya setelah melihat orang didepan sana, Andry sedang memasangkan kalung kepada Jane di depan Ibunya.


Deandra mengepalkan tangan nya melihat itu, lagi-lagi dia kalah jika harus bersaing dengan pria itu pikir Dean. Dilihatnya Jane yang tersenyum bahagia menerima kalung dari Andry.


"Kak! Kita pergi aja," Ajak Dean, dia sudah dulu melangkahkan kakinya.


Mereka balik kemeja dimana tempat mereka sebelumnya. Tidak lama itu Jane datang dan langsung menghampiri mereka. Jane kaget melihat wajah pucat Dean, punggung tangan nya menempel di kening Deandra, responnya sama dengan Jihan.


"Kamu sakit?" Tanya Janessa.


Deandra hanya menjawab dengan senyuman manis. "Selamat ulang tahun ya, sayang! Maaf, aku belum sempat nyiapin kado buat kamu,"


Jane nampak tersendu melihat Deandra, ada rasa sakit di lubuk hatinya mengetahui Dean lebih mementingkan ulang tahunnya dari pada sakit. Bibirnya tanpa sengaja mengurai sebuah senyuman, bagai disambar petir bagi Dean. Itu senyuman pertama kali yang Jane berikan sejak satu tahun yang lalu.


"Hai! Boleh gabung?" Ucap seseorang yang Jane kenali siapa pemilik suara itu, refleks Jane menjauhi Dean.


Jane tersenyum kepada orang itu yang diketahui adalah Andry. Pria itu memalingkan wajahnya, Jihan bingung apa yang harus dia lakukan, Alvin hanya bisa menyimak karena tidak tau apa-apa.


"Tuh kan! Udah Mas bilang kalau kalungnya cocok di pake kamu, iyakan Jihan?"Tanya Andry.


Jihan hanya bisa mengangguk pelan. Sedangkan Jane sudah tersipu malu sambil memegangi kalungnya. Deandra sudah tidak tahan, ingin menangis rasanya. Dia bangkit dari duduknya.


"Dean ke toilet dulu," Bohongnya.


Jihan terlihat gelisah dengan kepergian Deandra, sedangkan Jane sudah sibuk dengan dunianya bersama Andry.


Ternyata Deandra keluar dari mansion, dia pergi menuju mobil Alvin.


"Aku harus jadi sesabar apa lagi buat terus sama kamu, Jane?" Batin Dean, tanpa sadar air matanya menetes.


Keesokan harinya. Setelah pesta ulang tahun Jane semalam dan hari ini setelah urusan nya di kampus selesai, Deandra berniat akan menemui Jane berniat mengajaknya nya jalan. Deandra sudah mempersiapkan kado *taddy bear* ukuran sedang untuk diberikan ke Jane.


Ini hari minggu, tetapi entah yang Deandra lakukan di kampus.


"Kamu yakin?" Tanya Direktorat Akademik.


"Iya Pak saya yakin! Apa Bapak bisa mengurusnya lebih cepat?" Tanya Dean hati-hati.


Orang itu mencoba berfikir sejenak, lalu menatap Deandra intens.


"Tiga hari dari sekarang!" Ucapnya. Deandra mengangguk lalu tersenyum. Lantas ia pergi, dan langsung menuju motornya.


Kini Deandra sudah berada di depan unit apartment Janessa, menekan-nekan bel. Tak lama Janessa muncul dalam keadaan berantakkan, mungkin baru bangun tidur karena masih jam delapan pagi.


"Kamu ngapain pagi-pagi kesini?" Tanya Jane. "Yaudah masuk! Aku mau mandi dulu,"


Deandra tidak menjawab. la hanya mengikuti perintah Jane dan langsung duduk disofa, menunggu Jane selesai mandi.


Tiga puluh menit, dan sekarang Jane nampak rapi, segera ia turun menemui Deandra diruang tamu.


"Kamu perlu apa sampe pagi-pagi begini?" Tanya Jane lagi karena belum sempat di jawab Deandra sebelumnya. Dia mengambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Dean.


Deandra tersenyum. "Hum, boleh gak aku minta waktu kamu selama tiga hari?" Jane mengerutkan keningnya. "Aku gak maksa kamu kok, itu kalau kamu bisa," Tambahnya.


Jane menghela nafas. "Tapi besok lusakan aku harus kerja, Ndra!"


"Kamu bisa tetap kerja kok. Aku cuma minta satu atau dua jam dari waktu kamu pas pulang kerja gitu," Tawar Dean.


Jane semakin bingung, kenapa Deandra meminta waktu untuk bersamanya. Tapi demi tidak menyakiti Dean ia mengangguk menyetujui. Deandra tersenyum bahagia.


"Aku gak bakal nyia-nyiain tiga hari bersama kamu Jane!" Batin Deandra.


Beberapa waktu berlalu. Sekarang mereka sedang dikebun binatang, menjalankan hari pertama yang Deandra tawarkan.


"Kamu tunggu disini!" Ucap Dean, lalu pergi meninggalkan Jane yang duduk dikursi.


Tak lama itu Deandra datang membawa Es krim, tetapi Jane tidak menyadari kedatangannya. Karena sedang sibuk berbalas pesan sambil senyum-senyum.


Deandra terdiam, memikirkan nama Andry yang baru saja dia lihat di layar handphone Jane. Deandra melamun, berfikir pacarnya telah bahagia bersama orang lain membuat Dean mengerti. Dirinya telah tergantikan oleh sosok Andry.


Jane mendengus kesal, melihat Deandra selalu membelikan dirinya es krim. Padahal dirinya tidak begitu suka.


"Kamu kenapa sih, slalu aja beliin aku es krim!?" Kesal Jane.


Deandra tersadar dari lamunan nya, lalu menyodorkan es krim itu kepada Jane. "Biar nanti kalau kamu makan es krim kamu bisa inget aku," Ucap nya.


Jane membuang muka. "Aku gak bakal makan es krim kalau gak kamu yang beliin,"


"Yaudah lain kali kamu harus coba makan es krim sendiri kalau aku gak ada," Kata Dean.


"Terserah kamu!" Kesal Jane membuat Dean gemes.


"Akh, iyaa!" Deandra ingat sesuatu lalu membuka tas nya. "Nih, buat kamu! Maaf yaa, kadonya cuma ini," Ucapnya sambil memberikan boneka taddy bear kepada Jane.


"Lucu! Tapi aku gak suka boneka," Imbuh Jane sambil tangannya memainkan boneka pemberian Dean.


Deandra tersenyum melihat tingkah Jane yang katanya tidak suka, tetapi masih dimainkan nya. "Itu boneka yang akan jagain kamu kalau nanti aku udah gak sama samu lagi," Refleks Jane menatap Dean. "Jaga dia, ya! Jangan di buang, nanti dia nya sedih," Lanjutnya lalu tersenyum.