MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
NGE-DATE BERSAMA TIGA KAKAK BERADIK SEKALIGUS?



Deandra dan Jane cukup lama bertatapan dengan jarak yang lumayan jauh entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Jihan menghentikan lamunan Dean.


"Yuk, samperin mereka!" Ajak Jihan dan langsung mengandeng tangan Dean.


Dean hanya bisa menganggukkan kepalanya menandakan ia. Lalu menghampiri Jane dan Irene.


"Kalian ngapain disini?" Tanya Irene, ia sedikit bingung. "Jangan-jangan?"


"Ish! Yaa mau nonton lah Kak, ngapain lagi coba?" Gemes Jihan.


Irene menggeleng, menyadari Jihan tidak mengerti dengan ucapan nya. "Maksud aku, bukannya kalian pergi dinner?"


"Udah, tapi ini masih awal kalau pulang duluan. Jadi lanjut nonton deh."


Dean dan Jane hanya bisa menyimak pembicaraan yang lainnya. Tak kala Jane kadang mencuri pandang kepada Dean dengan ekor matanya. Dean sendiri hanya bisa mematung dan sedikit gugup karena menyadari dirinya akan dimarahi lagi di sekolah.


"Hadeh! Ngapain juga si Madam ini disini?" Batin Dean.


Irene menoleh kearah Dean. "Bocah! Kamu udah tau kan kalau aku sama Jihan Kakak Adik?" Dean mengangguk seperti anak kecil. "Nah dia ini Adik kami yang paling bungsu. Emang cuek orangnya jadi kamu maklumin aja yaa.." Tambahnya, Irene menunjuk Jane yang sekarang sedang berlipatkan lengan.


"Anjir! Mereka sodaraan. Tapi yang bungsu ini emang agak nyebelin, gak! Sangat nyebelin. Mana tukang ngomel-ngomel lagi." Batin Deandra, dia hampir tidak percaya jika ketiga wanita dihadapan nya kakak beradik.


Dilain sisi. Gara, Iyan dan Jose yang sedang menikmati musik di sebuah club malam. Mereka juga menikmati minuman yang mereka pegang masing-masing. Ada alasan tersendiri kenapa mereka bisa sampai kesana, karena Jose lah pemilik Club itu jadi meskipun mereka belum cukup umur tidak ada larangan bagi mereka untuk tidak bisa masuk.


"Woi! ini udah jam 10, Dean mana belum dateng juga?" Teriak Iyan karena musik di Club itu sangat mengema nyaring.


"Biar gue telepon dulu kalian tunggu disini, gue keluar dulu." Ucap Gara yang lantas berjalan keluar.


Betapa kesalnya Gara karena sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Dean tetapi sampai sekarang telepon nya masih juga tidak diangkat.


"Angkat bego.." Gerutu Gara.


Sedangkan Deandra tahu jika handphonenya sedari tadi bergetar tetapi ia tetap mengabaikannya karena masih berada didalam bioskop.


Dean melirik kearah layar handphone. "Mau ngapain nih anak?" Gumamnya.


Mereka duduk dengan posisi Dean di sebelah kiri, lalu Jihan di sampingnya lalu Jane dan Irene di sebelah kanan. Jane yang merasa terganggu dengan sikap Dean karena berusaha melihat kelayar handphonenya secara sembunyi-sembunyi mulai angkat bicara.


"Kenapa gak di angkat dulu?! Ck!" Ucap Jane yang lebih terdengar menyuruh itu. Membuat Dean menoleh cepat kearahnya.


"Kenapa?" Bisik Jihan, ia mulai sadar.


"Kayaknya aku harus angkat telepon dulu,"


Jihan mengangguk. "Angkatlah! Mana tau penting."


Dengan itu Dean bergegas keluar untuk segera menjawab telepon dari Gara.


"Kenapa? Gue lagi nonton, ganggu banget lo!" Omel Dean pada Gara.


"Anjirlah! Lo udah janji mau nyusul, ini udah jam 10 lo belum dateng juga," Omel balik Gara yang tidak kalah nyaring, sampai-sampai membuat Dean menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"Sorry bro, gak bisa gue. Lagian kemarin juga gue gak janji,"


Tit! Tit! Tit! Dean mengakhiri telepon secara sepihak. Sebelum Gara menyelesaikan ucapannya.


"Si bego! Gue belum selesai ngomong." Kesal Gara memaki Dean melalui handphonenya, alih-alih Dean.


Tepat pukul dua puluh tiga, Dean dan ketiga kakak beradik itu sudah menyelesaikan filmnya. Sekarang mereka sedang berjalan menuju Basement hendak pulang. Di Basement Jane yang kebingungan melihat Dean akan memasuki mobil Jihan pun mulai bertanya-tanya.


"Kak, kamu mau anterin dia?" Tanya Jane, bicara dengan intonasi dinginnya.


"Iya Jane! Dia gak bawa kendaraan,"


Jane menatap Dean dengan ekspresi mengejek. "Serius? Masa cowok malah nyusahin cewek buat nganterin pulang,"


Dean sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan Jane. "Ehem! Kak, aku pulang sendri aja," Ucapnya yang lantas beranjak dari tempat itu.


"Jangan! Ini udah larut, biar aku anterin aja." Teriak Jihan.


Dean tidak menghiraukan teriakan itu. la masih tetap fokus berjalan menjauh dari mereka tanpa menoleh kebelakang.


"Ish! Jane, kamu keterlaluan!" Celetuk Jihan, wajahnya memancarkan kekesalan.


Irene yang melihat itu mulai panik. "Sstt! Udah, jangan pada berantem!" Diliriknya kanan kiri, dan ia baru sadar ternyata di tempat itu ada beberapa orang yang memperhatikan mereka. "Malu diliatin orang-orang! Lagian Jane juga bener, ini udah larut kalau kamu di apa-apain gimana, hm?"


Jihan menghentakkan kakinya. "KAK RIN! Jangan berpikiran negatif sama orang yang baru di kenal," Gerutunya, Jihan benar-benar tidak habis pikir kenapa adik dan kakaknya berfikiran akan Dean bertidak yang tidak sesuai terhadapnya. "Aku yakin dia orang baik. Buktinya dia gak menuntut waktu aku jelas-jelas nyerempet dia."


Mendengar perkataan itu membuat Jane sedikit bingung bercampur penasaran. Sampai-sampai membuatnya menghela nafas panjang.


"Jadi itu alasannya kenapa mereka bisa saling kenal." Batin Jane.


Di lain sisi. Deandra yang mutuskan untuk berjalan kaki, karena ingin menikmati suasana larut malam. Tidak jarang Dean melihat beberapa orang, ada yang dengan pasangannya, ada yang dengan keluarganya, bahkan ada yang masih keluar bersama anaknya. Dean memperhatikan wajah mereka inci demi inci. Raut wajah mereka memancarkan kebahagiaan. Ada yang tersenyum bahkan tertawa karena candaan. Dean tersenyurm kecut melihat wajah bahagia yang terpancar dari mereka. Mungkinkah Deandra iri dengan mereka?


Disaat seperti inilah yang membuat Dean berfikir kembali, kenapa ia tidak seberuntung mereka yang hidup hangat bisa berkumpul bersama keluarga? Bahkan orang asing saja menganggap dirinya Benalu. Mereka hanya bisa menilai Deandra dari sisi buruk dan penampilan saja. Tetapi tidak pernah benar-benar ingin melihat Rajendra lebih dalam lagi. Melihat bahwa ada hati yang keluh kesah membutuhkan seseorang yang mau memberikan kehangatan. Semakin Deandra terlelap dari pikirannya, membuat cowok itu menitikkan air matanya. Deandra menghela nafas dalam-dalam, ia mengongkak untuk menenggelamkan air matanya yang ingin menetes lagi, lalu setelahnya Deandra mencoba tersenyum.


"Gapapa Dean! Masih ada Tuhan yang selalu ngeliatin, disana!" Ia menunjuk kearah langit. "Meskipun lo banyak dosa. Tapi percayalah, Dia gak akan biarin lo sendirian."


Pagi Harinya, Deandra memutuskan untuk memulai aktivitasnya yaitu lari pagi. Dean yang cuma berlari disekitaran *Gang* rumahnya, meskipun kebanyakan rumah kosong. Banyak bangunan yang terbengkalai juga jadi tak heran jika sepi.


"Huft! Gilaa cape banget, udah lama gue gak Joging," Monolognya. Ia melirik Arloji dan mendapati sudah menjelang jam 9 pagi. "Balik aja deh laper gue." Deandra lantas berbalik arah ingin segera pulang.


"Tolong! Ku mohon.." Teriakkan seorang wanita yang terdengar lantang ditelinga Dean.


Deandra berhenti sejenak, mencoba menimba apakah dia harus menolong orang itu atau tidak. "Dean, lupain aja niat lo itu! Fokuslah berlari," Monolog cowok itu lagi, dengan begitu ia lanjut berlari tidak mau memperdulikan apa yang ia dengar.


"Ganggu banget anjir! Maaf, gue gak mau lagi ikut campur urusan orang lain." Tapi, lagi ia berhenti.


"Sialan!" Umpatnya, dia berbalik arah. Berlari sekencang-kencangnya kearah dimana suara minta tolong itu berada.


Dean sudah tidak heran jika mendengar suara-suara yang meminta tolong diarea itu, karena memang disitulah tempat komplotan perampokan yang berkedok penunjuk arah. Awalnya Deandra tidak ingin mencampuri urusan mereka. Karena sudah sangat sering berurusan dengan perampok-perampok itu dan Dean juga sekarang memutuskan tidak mau berhubungan dengan orang lain. Tapi dilain sisi hati nurani cowok itu benar-benar diluar dugaan.


"Woi! Apa kalian gak punya malu?!" Teriaknya kepada komplotan perampok itu. Dean berkacak pinggang sambil menyaksikan apa yang ia lihat.