MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
SEMALAM JADI GURU LES PRIVATE DEANDRA



Deandra sedang mengendarai sepeda motornya untuk menuju *Apartment* Jane. Karena ia sudah tahu betul *Apartment* itu yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.


Dean memasuki bagian Basement. Lantas mencari tempat yang pas untuk memarkirkan motor kesayangannya. Ia melihat seorang Security yang memang ditugaskan untuk menjaga pintu masuk.


"Om!" Panggil Dean yang lantas membuat Security itu menoleh kearahnya. Memastikan apakah dirinya yang dipanggil. "Saya bisa minta tolong gak?"tanyanya setelah mendekat.


"Iya boleh, ada perlu apa ya?"


"Gini Om, saya lagi nyariin unit apartment temen saya disini. Mana tau Om bisa bantu?"


Security itu memperhatikan Deandra dari atas sampai bawah. Ia hampir mengira jika orang di hadapannya adalah seorang Selebriti. "Telepon aja temenmu dek!" Perintahnya.


Dean menghela nafas. Jika dirinya punya nomor telepon Jane, dia tidak mungkin berhadapan dengan Secutiy ini. "Kebetulan saya gak punya nomor hp nya Om, tapi mungkin Om kenal orangnya?"


"Hum gitu, yaudah namanya siapa? Emang kebetulan Om kenal sebagian pemilik unit apartment disini," Senyum Dean mengembang setelah mendengar pengakuan dari Security itu.


"Namanya Jane, Om! Janessa Sempani, Om kenal orangnya?"


"Akh, itu! Dia orang yang baru pindah bulan lalu kalau gak salah. Tunggu aja disini, dia emang sering pulang malem,"


Dean yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti, ia mengikuti saran dari Security untuk menunggunya saja.


"Lama banget, njir!"


Hampir setengah jam Dean menunggu belum juga melihat tanda-tanda Wanita itu akan datang. Deandra hanya bisa mondar-mandir sesekali kesal. Baginya baru sekarang ia menunggu seorang wanita selama hidupnya.


"Itu si Madam emang bener-bener deh, apa dia sengaja begoin gue?" Gerutunya.


Tiba-tiba datang sebuah mobil mewah yang sudah di ketahui Jane dan Grace lah yang berada di dalamnya. Mobil itu langsung terparkir sempurna. Jane keluar dari mobil dan langsung mendapati Dean yang menunggunya di pintu masuk. Ia hampir tersenyum melihat wajah kesal cowok itu.


"Anda datang?" Tanya Jane yang seperti tidak terjadi apa-apa itu. Padahal Dean sudah memberikan tatapan ingin menerkamnya sekarang juga. "Ckck! Jangan menatap saya seperti gitu!"


"Apa anda mau coba main-main dengan saya, iya?" Pekik Dean sambil menyodorkan Arlojinya ke wajah Jane. "Lihat, jam berapa sekarang?!"


"Cih! Lagian siapa yang nyuruh anda nungguin. Malam ini anda pulang aja!"


Setelah menyampaikan itu. Jane langsung melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkan Dean dan diekori oleh Grace. Melihat itu Dean pun langsung bergegas mengikuti kedua wanita itu. Ia kesal bercampur emosi dibuat wanita itu yang menurutnya bertingkah seenaknya. Dean menahan pintu Lift dengan kaki kirinya setelah Jane dan Grace berada di dalamnya.


Kedua wanita itu sontak kaget melihat apa yang dilakukan Dean. Apa lagi bagi Jane, anak murid nya yang satu ini sungguh tidak mau mematuhi perintah.


"Apa yang anda lakukan?!" Bentak Jane, membuat Dean dengan tidak perduli masuk kedalam Lift.


"Apa anda gak liat saya masuk lift mau ngikutin anda?"


"Saya sudah bilang kalau malam ini anda pulang saja, gak ngerti juga?!"


"Mau anda apa sih?! Manager saya belum nyiapin guru les, jangan keras kepala! Gak ada yang bisa ngajarin, untuk malam ini!" Lagi Jane membentak, ia sampai mengebu menghadapi sikap Dean.


"Yaudah kalau gitu kenapa gak Ibu saja yang ngajarin saya buat malam ini?!" Kata Dean seenaknya. "Lagian salah sendiri kenapa nyuruh saya datangnya malam ini? Buang-buang waktu saya tau gak,"


Grace mengulum senyum. Pikirnya, ada juga yang bisa tidak mematuhi seorang Janessa. Grace membulatkan mata. Perkataan Dean ada benarnya juga. "OMG, Jane! Dia ada benernya, kamu kan pintar. Kenapa gak kamu aja yang ngajarin dia?" Jane langsung menatap tajam Grace.


"Gak mau! Mendingan kakak aja deh yang ngajarin. Saya gak yakin kalau Ibu ini bisa ngajarin saya, liat aja dia bawaannya ngomel-ngomel," Komentar Dean yang membuat Jane sekali lagi emosi dibuatnya.


"HEI! Anda pikir saya mau ngajarin anda, hah?!"


Grace yang menyadari sebentar lagi akan terjadi bencana didalam Lift mulai memberikan pendapat. "Sorry Deandra! Kakak gak bisa ngajarin kamu soalnya otak kakak ini isinya pas-pasan. Gapapa kamu belajar sama Jane aja dulu!" Lalu ia melirik Jane yang sekarang sudah ikut berlipatkan lengan. "Jane, kamu juga! Kenapa harus pake emosi hm? Gak biasanya lho, kamu emosian kayak gini. Kalian jangan kebanyakan berantem nanti malah saling suka," Deandra terkekeh pelan mendengar Grace memarahi Jane.


Pintu Lift pun terbuka. Jane keluar dengan cepat. Membuat Dean langsung mengejarnya. Grace masilh berada didalam Lift karena ia berbeda lantai dengan Jane. Karena perdebatan antara Jane dan Deandra dirinya harus turun satu lantai.


Sebelum menekan Password, Jane memutar badannya untuk segera berhadapan langsung dengan cowok yang mengikutinya. "Kenapa malah ngikutin saya? Kenapa gak ngikutin orang yang anda panggil Kakak?!"


"Lah! Kalian gak tinggal bareng?"


Jane memutar bola mata jenggah mendengar pertanyaan dari Dean.


"Yaudah deh mau gimana lagi, anda aja yang ngajarin. Salah sendiri buang-buang waktu saya," kata Dean akhirnya memutuskan.


"Huft! yaudah.." Jane menyodorkan telunjuk ke depan wajah Dean. "Tapi inget, jangan berani macam-macam!"


"CKCK! Siapa juga yang tertarik mau macam-macam?" Gumam Deandra yang masih terdengar di telinga Jane.


Mereka berdua pun masuk dan langsung sibuk dengan buku-buku pelajaran. Jane yang kelihatan nya begitu lelah tapi tetap mengajari Deandra karena ia cukup merasa bersalah juga pada anak itu.


"Belajar sendiri dulu! Saya mau mandi sebentar." Jane langsung meninggalkan Dean untuk segera mandi.


Sedangkan Dean sekarang belajar sendiri, ia sesekali menguap karena kelelahan sehingga membuatnya mengantuk. Sampai akhirnya ia membaringkan wajah kirinya diatas meja dengan kedua tangannya menjadi bantal. Lantas memejamkan matanya dengan nyaman.


Dua puluh menit kemudian. Jane keluar dari kamar dengan menggunakan piyama panjang. la terdiam setelah melihat Deandra tertidur, Lalu mendekat. la memperhatikan setiap inci wajah cowok itu yang sedang tertidur. Entah apa yang ia pikirkan sampai senyuman terpancar diwajahnya.


"Bocah nakal, kamu lucu dan imut banget kalau lagi ketiduran kayak gini," Ucap Jane refleks. Dia ikut membaringkan sebelah wajahnya menatap untuk lebih mudah menatap Dean.


Cukup lama ia memperhatikan Deandra. Tanpa sadar jika Dean membuka kedua matanya perlahan. Membuat mereka beradu tatapan tanpa ada yang berkedip satupun dari mereka.


Deg! Jane mulai berdebar tanpa ia sadari tapi masih enggan mengakhiri adu tatapnya dengan cowok itu.


"Apa anda mulai menyukai saya?" Deandra sengaja meniup wajah Jane pelan dan membuat wanita itu berkedip karena ulahnya. Lalu perlahan Dean mengembangkan senyuman manisnya.