MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
MADAM BISA CEMBURU?



Grace yang baru masuk di unit *apartment* Jane kaget ketika tidak melihat adanya keberadaan sepupunya itu. la mencari kesana kemari dan yang terakhir di dalam kamar. Benar saja Jane yang masih terbungkus selimut dengan nyaman.


Grace menggeleng, lantas mendekati ranjang Janessa. "Bangun Jane! Ini udah siang, Ckck! Apa kamu jadi cewek pemalas sekarang, hm?" Sambil menggoyangkan tubuh Jane, berharap wanita itu segera sadar dari alam mimpinya.


Janessa mengeliat, dia mengucek kedua matanya. "Mmph! Kak, sekarang jam berapa?"


"Udah jam sembilan, bangunlah! Pergi mandi sana!"


Jane langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dengan rambut yang acak-acakan, matanya masih enggan di buka. Ia masuk ke kamar mandi.


Dua puluh menit berlalu, Jane keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di badannya. Langsung berjalan menuju ruang pakaian. Janessa itu memiliki ruang tempat pakaian sendiri yang hampir seluas kamarnya. Grace yang sekarang sedang menyiapkan roti bakar untuknya. Tersenyum melihat Jane yang sudah nampak segar.


"Kak, tolong rahasiain kejadian semalam yaa.." Pinta Jane sambil tangan nya meraih roti bakar yang memang sudah Grace simpan di piring.


"Hum.. Apa kamu yakin sama bocah itu?" Penasaran Grace.


"Apa cinta harus memilih sama siapa orang nya?" kata Jane membalik pertanyaan.


Grace menghentikan aktifitasnya, ia menatap intens Jane yang sedang asyik mengunyah roti bakar. Jane benar-benar nampak terlihat santai dan masa bodoh.


"Aku gak ngelarang kamu sama dia, yang jelas kamu harus siap kalau suatu saat dia bisa aja nyakitin kamu. Tau sendiri kan, pas kita ngeliat dia di Mall lagi jalan sama cewek lain layaknya kayak orang pacaran,"


Jane malah terlihat dengan hal itu. la sampai terdiam dengan keadaan roti bakar memenuhi mulutnya. Bagaimana pun, ucapan Grace benar adanya. Meskipun ia tahu jika Deandra mengatakan itu sebagai salah satu pekerjaannya yang harus menemani banyak wanita. Baginya, sekarang apa yang harus ia lakukan? la sendiri sudah terlanjur menempatkan hati kepada anak itu. Saat ini ia benar-benar tidak ingin melepaskannya.


"Kakak punya nomor WhatsApp bocah itu gak?"


Grace menaikan satu alisnya. Harus Jane akui jika dirinya salah menanyakan hal itu. Betapa bodohnya ia sekarang. "Astaga Jane... Kenapa malah nanya nya sama Kakak? Kamu yang pacaran sama dia, kok bisa gak punya nomor WhatsApp nya, hm?!"


"Kakak gak perlu teriak-teriak gitu, ish!" Pekik Jane, ia sampai menutup telinga nya karena ulah Grace. "Lagian kami belum sempat tukeran nomor WhatsApp,"


Ting! Tong! Suara Bel mengakhiri perdebatan mereka. Grace yang langsung beranjak dari meja makan menuju pintu. Ingin segera membukakan tamu mereka.


"Hi Grace" Sapa Aryna sambil mengangkat kantong kresek di tangannya.


"Tante! Sama siapa kesini?


"Sama kita dong..." Jihan dan Irene yang tiba-tiba muncul dari sisi kanan dan kiri.


Grace hampir saja tersentak karena ulah mereka. "Astaga.. Masuklah! Jane ada di dalam tuh,"


Aryna dan kedua putrinya masuk. Grace menutup kembali pintu itu. Jane yang sekarang sudah disofa ruang tamu melirik kearah siapa yang datang.


"Mami! Kak Irene, Kak Jihan! Tumben banget kesini, ada apa?"


Irene memeluk hangat adik bungsunya itu. "Kami kangen banget sama kamu,"


Aryna tersenyum hangat. "Nih, Mami bawain makanan buat kalian berdua," Sambil meletakan kantong yang tadi ia bawa diatas meja.


Mereka berpelukan satu sama lain melepas kerinduan yang sudah satu minggu tidak bertatap muka. Saling mengobrol tak jarang senyum dan tawa terlihat dari wajah mereka. Dimana, yang sudah hampir setengah jam mereka bercanda dan mengobrol.


"Ohiyaa.. Jane, kami ketemu bocah itu pas kemarin pergi ke sekolah. Baru tau kalau dia sekolah disana," Adu Irene. la berpikir, kemungkinan besar Jane akan mengenalnya. Benar saja, Jane membulatkan matanya sampai tidak sadar jika ia sudah mengigit bibir bawahnya. Grace yang melihat itu, berusaha ingin membantu Jane.


"Iya Kak Rin! Bocah itu emang sekolah disana," Kali ini Aryna yang menatap curiga karena mendengar apa yang Grace katakan, tetapi keponakan nya itu tidak menyadarinya sama sekali.


"Pantesan Jane gak suka sama bocah itu, pasti dia nakal banget kan?" Sindir Jihan, sambil menanyakan satu hal yang mungkin kebenaran.


"Duh.. Kalian lagi bahas apa, hm? Kenapa gak pernah cerita sama Mami? Mami kan pengen tau juga," Goda Aryna kepada ke empat wanita yang sedang membicarakan seseorang yang tidak ia kenali.


Jane makin kewalahan karena yang benar saja kini mereka membicarakan anak yang sudah berstatus pacaran dengan nya. Terlihat ia mencoba menetralkan dirinya.


"Itu lho Mi, si bocah ini... Kayak gimana yaa?" Gumam Grace ia menatap langit-langit mencoba mengingat bentuk fisik Deandra. "Nah iyaa! Dia itu ganteng, keren, kayak seleb-seleb gitu dan lagi dia deket sama Jihan,"


Lagi-lagi Jane dibuat tidak terima dengan ucapan Irene. Apalagi setelah ia lihat Irene mengambarkan penampilan Deandra sampai tersenyum manis. Seolah-olah ia sedang membayangkan orang yang ia suka.


"Serius? Benar gitu, Jihan? Tapi kenapa malah kamu yang senyam-senyum kayak gitu, hm? Apa kamu suka sama dia juga?" Goda Aryna kepada Airin.


"Iyaa Mami ku sayang! Dia orangnya baik juga biarpun nakal dikit, dan aku udah pernah jalan sama dia," Jujur Jihan. Ia terpikirkan kembali kepada Deandra. "Hum.. Kayaknya aku pengen ajak dia jalan lagi deh," Jihan mengambil handphone di dalam tas genggam miliknya.


"Teleponlah! Jangan lupa Speaker!" Perintah Aryna. la juga penasaran, siapa kiranya pemuda yang berhasil menggaet hati putri keduanya.


Cukup lama Jihan menunggu jawaban dari Dean. Ia sampai mencoba beberapa kali.


"Jangan di angkat, please!" Jane memohon dalam hati.


"Hallo Kak Jihan! Ada perlu apa?" Suara Dean dari seberang sana.


Jane pasrah, doanya tidak di kabulkan kali ini. Mau tidak mau ia harus menyimpan rasa emosi dan cemburu.


Jihan tersenyum, Aryna dan Irene ikut tersenyum. "Nggak kok! Kamu dimana?"


"Ada di rumah Kak, maaf yaa lama ngangkat telepon soalnya aku baru habis mandi,"


"Iyaa gapapa kok! Kamu lagi sibuk gak?"


"Nggak Kak, kanapa?"


Aryna mengisyaratkan agar Jihan harus mencoba sedikit agresif.


"Apa kamu mau nemenin Kakak jalan?" Aryna memberikan dua jempol kepada Jihan. Membuat wanita itu merasa puas.


Deandra terdengar berdehem. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu sekarang. "Apa Kakak lagi kangen sama ku? Haruskah aku nolak?"


Memang benar-benar pemuda penggoda pikir Jane. Mungkin jika Jihan, Aryna dan Irene melihatnya, mereka akan sadar Jika Jane sedang dalam mode emosi sekarang.


"Apa kamu lagi godain kakak, hm? Terserah kamu aja, Dean!" Terdengar kekehan dari Dean, dia benar-benar tertawa saat ini.


"Astaga Kak Jihan lucu banget yaa! Kalau hari ini aku ada latihan basket kak, soalnya bakal ada sparing sama anak-anak di kompleks Alvin jadi lain waktu aja,"


Bukan Jihan yang kecewa melainkan Aryna. Sedangkan Jane tertawa dalam hati.


"Iyaa gapapa kok Dean! Lain waktu aja, nanti kakak kabarin yaa.. Latihan yang bener, semangat!"


Setelah memutuskan panggilannya Jihan langsung di goda habis-habisan oleh Aryna dan Irene. Tapi tidak dengan Jane dan Grace.


"Awas aja dia kalau berani jalan sama Kak Jihan!" Gertak Jane dalam hati.


Jane baru mengetahu jika Jihan pemilik kontak Jendra. "Kak Jihan! Aku pinjam handphonenya bentar dong,"


Tanpa curiga apa-apa Jihan langsung memberikan ponselnya kepada Jane.


Janessa yang menerima itu langsung mencari kontak Deandra dan dikirimkan ke nomornya. Cukup sepuluh detik kini ia selesai mencuri kontak Dean dan langsung memberikan ponselnya kembali.


"Aku ke kamar bentar," Jane langsung pergi meninggalkan keempat wanita yang sedang asyik mengobrol itu.


Di kamar ia langsung mengunci pintu supaya tidak ada yang masuk dan langsung mengambil ponselnya yang ia simpan diatas nakas. Sambil duduk di pinggir tempat tidur mencoba menghubungi Deandra dengan kekesalan dan emosi. Cukup lama ia menunggu Deandra menjawab telepon darinya. Jene kesal sejadi-jadinya. Ia sudah mencoba beberapa kali.


"Hallo!"


Akhirnya telepon dari Jane diangkat setelah sepuluh kali percobaan. Jane menghirup banyak-banyak udara dari rongga hidungnya. Siap akan memarahi anak itu.


"Apa kamu gak bisa usaha buat ngabarin aku? Apa kamu udah lupain kejadian semalam gitu aja, iyaa?!"


Bisa di pastikan jika sekarang Deandra sedang kebingungan. Siapa kiranya orang yang menelepon nya dan lantas memakinya. Cukup lama ia enggan merespon ucapan Jane.


"Akh iyaa! Apa ini Bu Kepsek? Eh, maksudnya,  kamu? Maaf yaa aku gak tau mau nyari nomor kamu kemana," Terdengar kegugupan dari Dean.


"Kamu cari alasan gara-gara gak usaha buat itu kan?! Kamu tunggulah di rumah! Aku akan kesana sekarang juga,"


Tut! Tut! Tut! Jane lantas memutuskan teleponnya secara sepihak.