MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
MEMANTAPKAN HATI DEANDRA



Sudah hampir setengah jam Jane mencari keberadaan Deandra. Ia merutuki dirinya kenapa tidak mengembalikan handphone Dean semalam. Menurutnya itu tidaklah murni kesalahan nya juga, kenapa Dean tidak mengambil handphonenya dulu sebelum pulang? Jika sudah begini, kan yang repot Jane juga.


"Ish! Kalau gini, gimana aku bisa ketemu dia coba? Lama banget lagi, awas aja dia kalau bohongin aku!" gerutu Jane, matanya mengintari sekeliling Mall berharap bisa melihat sosok Rajendra.


"Udah lama?"


Refleks Jane membalik badan nya setelah mendengar suara yang tidak asing baginya. Dia menghela nafas lega setelah menemukan orang yang dia cari sedari tadi akhirnya datang juga. "Kamu kemana aja?"


"Aku baru nyampe, Maaf!" Ucap Dean seenaknya.


Jane terbelalak mendengar pengakuan Deandra. Bagaimana mungkin anak itu berjanji jam tujuh malam tetapi dia dengan seenaknya mengatakan baru sampai, sedangkan ini sudah lewat dari jam delapan malam.


"Tadi ada urusan dulu," Dean yang kini menyadari wanita itu akan segera meledak langsung mencoba mencari alasan. "Ayo kita cari makan dulu, baru nonton!"


Tanpa menunggu persetujuan Jane. Deandra dengan santainya sudah berjalan terlebih dulu, sedangkan Jane yang sekarang dibelakangnya mengumpat habis-habisan, tidak peduli lagi dengan kewibawaannya harus menghilang atau tidak. Yang jelas baginya Dean, bocah itu telah mempermainkan nya akhir-akhir ini.


"Kamu mau pesan apa?"


"Aku udah makan!" Jawab Jane cepat.


Tak perlu menunggu waktu lama, pesanan Deandra sudah datang. Dia menyantap makanan itu seperti orang yang sudah kelaparan berhari-hari. Jane yang melihatnya, hanya bisa memainkan sedotan minuman karena dia hanya memesan Jus. Setelah menyelesaikan makanan nya, Jendra langsung membawa Jane ke bioskop. Cowok itu mengantri untuk membeli tiket. Dua tiket bergenre horor sudah dia dapatkan, dan langsung menghampiri Jane yang sekarang sedang menunggu dengan popcron dan dua minuman ditangan nya.


"Lain kali kalau bikin janji tuh di tepatin! Kamu pikir waktu luang ku banyak, hm?" Kata Jane yang masih kesal dengan apa yang sudah terjadi.


"Aku kan udah minta maaf juga, lagian aku mau ngabarin kamu tapi hp nya di kamu juga kan?"


Jane sungguh kesal, layaknya seperti pada wanita umumnya dia terus saja memasang wajah cemberut di depan Deandra. Sebenarnya bagi Jendra itu sangat lah lucu karena sedari dulu dia suka melihat wajah cemberut Jane yang selalu bikin gemas.


"Aku bilang lain kali, LA-IN KA-LI!" Pekik Jane yang sampai mengeja kata terakhir nya. "Gak mau kalah banget jadi cowok, heran!" Gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Dean.


"Ckck!" Dean berdecak, dia langsung berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan nya di depan Jane. "Ayo masuk! Atau mau nungguin disini aja?"


Jane mendengus sambil menangkap uluran tangan Deandra, meskipun dia masih mode kesal tetapi mau tidak mau dia harus ikut cowok itu dari pada menunggu seorang diri.


Hampir dua jam penayangan. Bagi Jane, ini bukan acara kencan yang sesungguhnya. Dia merasa hanya sebatas menemani Deandra menikmati kesenangan nya, tetapi tidak dengan nya. Mungkin orang-orang yang melihat mereka akan menganggap bahwa mereka kakak adik, bersaudara. Bayangkan saja, Jane masih berpakaian formal dengan setelan Blazer, ia dari kantor langsung pergi ke Mall tanpa berganti pakaian. Sedangkan Dean hanya menggunakan pakaian kaos berwarna putih, celana jeans biru muda dan sneakers, jangan lupa tas ranselnya. Memang benar-benar ciri khas seorang Deandra.


"Pulang, emangnya mau nginap disini?" Jawab Dean seenaknya.


Mendengar itu Jane berjalan mendahului Deandra kearah Basement tempat mobilnya berada. Dean sangat tahu jika sekarang wanita itu benar-benar masih kesal kepadanya. Tapi itu malah membuatnya tersenyum penuh kemenangan. Baginya, seorang Jane tidak akan mampu menghadapinya sikapnya yang terkesan masa bodoh, dia sangat yakin wanita itu akan menyerah sebentar lagi.


"Biar aku yang bawa!"


"Emang kamu yang bawa! Kamu pikir aku bakal nyupirin kamu gitu!?" Setelah mengatakan itu Jane langsung masuk ke mobil dengan membanting Pintu cukup kuat.


Dean hanya bisa menghela nafas tidak percaya. "Ngapain duduk di belakang? Sini depan!"


"NO! Disini nyaman,"


"Jane-"


"Emangnya kenapa? Apa salahnya duduk dibelakang, sama aja kan?!" Bentak Jane, ia memotong ucapan Deandra. Benar-benar dia sudah tidak peduli lagi. "Sebenarnya kamu ikhlas gak sih kasih aku kesempatan?!" Tanya Jane, lagi. Dia menatap nanar Deandra, yang sekarang kebetulan menghadapnya.


Seketika mereka terdiam. Dengan Dean yang mencoba mencari cara agar tidak menimbulkan perdebatan dan Jane yang sekarang menghadap keluar jendela. Tak mau ambil pusing, Deandra mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan langsung menjalankan nya.


Di perjalanan, Deandra sesekali melirik Jane lewat kaca mobil bahkan mereka sempat saling curi pandang lewat kaca itu dan berakhir saling membuang muka, lebih tepatnya Jane lah yang melakukan itu karena dia masih dengan kekesalannya.


Hampir satu jam perjalanan, sekarang mereka sudah sampai di pekarangan rumah keluarga Ario. Deandra sengaja membawa Jane langsung kerumahnya, tidak mengantarnya pulang terlebih dahulu dulu.


"Kenapa langsung kesini? Kamu mau pulang pake apa? Aku gak bakal kasih pinjam mobil, besok mau kerja!" Jane sangat keheranan kenapa Dean langsung membawanya pulang.


Deandra tidak menjawab pertanyaan wanita itu, dia lebih memilih turun dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk Jane.


"Ada banyak hal yang perlu kamu ketahui tentang aku dan kalau kamu pengen nyerah, itu gak masalah. Aku gak akan maksa kamu buat tetap bertahan. Tapi asal kamu tau, aku cuma mau nguatin hati kamu aja. Sifat ku sama kamu, tergantung gimana kamu memperlakukan aku. Kita jalanin aja dulu kayak biasanya, sama sama belajar buat gak saling menuntut ini itu-" Deandra menjeda pembicaraan nya, dia menatap Jane dengan penuh kasih sayang.


"Kamu cuma perlu menjaga dan memantapkan hati kamu, agar nantinya apa yang kita mau dimasa depan bisa tercapai, satu hal lagi agar yang di masalalu gak terulang. Kamu gak perlu mikirin aku kok, kenapa? Karna aku masih tetap sama kayak yang dulu, cinta sama kamu. Jadi tuntun aku buat ngeyakinin rasa itu kembali."


Sambil melontarkan kata-kata itu, Deandra menatap langsung ke manik mata Jane. Ada tatapan sendu dari Jane. Wanita itu mengerti sekarang, apa yang coba Deandra lakukan. Cowok itu sangat tahu itu jika Jane sudah cukup puas dengan semua jawaban atas pertanyaan pertanyaan darinya yang selama ini mungkin membelenggu di benak wanita itu.


"Semoga kamu bisa ngerti sama apa yang udah aku bilang yaa, jangan salah paham juga. Aku cuma mau yang terbaik buat kita berdua." Tambah Deandra sambil tersenyum semanis mungkin.