MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
SAKIT JANTUNG?



Pagi hari di kediaman keluarga Ario. Aryna dan kedua putrinya yaitu Jihan dan Irene sedang sarapan bersama.


"Mi, Kak Rin! Nanti sehabis pulang dari kantor aku mau nyamperin Jane rencananya," Beritahu Jihan dengan keadaan masih mengunyah makanannya.


"Emang kamu yakin Jane ada di Apartmentnya sehabis kamu pulang kerja? Kamu kan tau sendiri dia pulangnya malam, sedangkan kamu sore,"


Jihan berpikir sejenak, lantas menyetujui apa yang dikatakan Irene ada benarnya. "Astaga, iya.. Aku baru inget! Tapi gimana coba? Aku udah kangen banget sama dia,"


"Iya, sama.. Kakak juga kangen banget sama dia. Tau sendiri deh, dia kan orangnya sibuk ngalahin kita," Lirih Irene. Setelahnya ia meneguk satu gelas air yang sedari tadi ia pegang, tandas.


"Kayaknya Mami punya ide," Aryna yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. "Kenapa gak kalian berdua samperin aja dia di sekolah? Sekalian liat-liat keadaan disana juga kan.."


Mendengar ucapan Ibunya, Jihan dan Irene sontak memberhentikan acara makannya. Mereka menoleh cepat kearah Aryna secara bersamaan. Senyuman mengembang di bibir mereka berdua masing-masing. Lantas mereka berdua saling menatap.


"Setuju!" Ujar mereka bersamaan. Ibunya hanya bisa terkekeh melihat mereka berdua.


"Mana tau ada brondong kece kan.." Kata Jihan.


"Bilang aja kamu mau sekalian liat bocah kemarin kan?" Tanya Irene yang lebih ke pernyataan itu.


"Kakak juga gitu ya, kalau kakak lupa!" Aryna hanya bisa menghela nafas mendengar perdebatan kedua anak gadisnya itu. "Mami tau gak? Kak Irene tuh godain brondong,"


"Dih enak aja!" Ucap Irene menyela. "Kamu lebih lagi ya Jihan.."


"Udah! Masih pagi lho ini malah pada ribut aja. Habisin makanannya tuh! Katanya mau nyamperin Jane di sekolah kan?" Dengan kelemah lembutannya Aryna berbicara pada kedua anaknya. Tetapi berkat itu juga kedua wanita itu diam dan mereka lantas melanjutkan ritual sarapan mereka.


Di Sekolah.


Begitu Bel istirahat dibunyikan seluruh Siswa-siswi berhamburan keluar kelas dan menuju kantin untuk mengisi daya masing-masing. Begitu juga dengan Dean dan keempat Sahabatnya. Mereka sekarang sudah duduk ditempat biasa mereka.


Dengan Jose yang pergi pesan makanan, karena memang gilirannya. Tak jarang Siswi di kantin itu mencari perhatian kepada mereka. Karena faktanya mereka adalah pangeran disekolah yang selalu dipuja oleh kaum hawa.


"Guys! Ayo kita ladenin anak-anak di kompleks perumahan gue. Bosen banget gue kalau ketemu mereka selalu nanyain kapan kita bisa sparing," Keluh Alvin. Dirinya yang setiap hari merasa terganggu karena Anak-anak di daerah perumahaannya.


"Elah, tenang aja lo! Kita cari waktu yang pas dulu," Gara yang mulai terlihat geram. Tidak habis pikir, kenapa anak-anak itu selalu ingin menantang mereka.


"Sip.. Gara bener! Tangan gue juga udah lumayan gatel ini, pengen cepet-cepet habisin mereka," Iyan menyombongkan dirinya.


"Dih, sombong banget lo! Awas aja kalau kena bola basket malah nangesss.." Ledek Jose, ia baru saja datang setelah berusaha mengantri makanan.


"Mulaii.. Jangan pada berisik deh!" Sergah Gara yang merasa akan adanya perdebatan di antara kedua sahabatnya itu. "Ndra! Lo ikut gak jumat ini?"


Dean menghela nafas. la menoleh kearah Gara yang memberikan pertanyaan itu. "Heum.. Gue gak bisa janji sih, tapi ntar gue usahain deh!" Serempak Gara, Iyan, Alvin dan Jose memukul pelan Dean.


"Luangin waktu kek!" Pekik Iyan, ia mendengus setelahnya.


"Lo pada tau sendiri kalau gue les privat,"


"Elah bentar doang kali bro, izin sama si Madam!" Kata Gara.


"IYAA! Ntar gue usahain dah, bacot banget kalian!" Kesal Dean, dia lantas mencomot snack yang di pegang Alvin.


Di Apartemen Jane.


Jane tidak pergi kesekolah hari ini. Dirinya sedang berada di Apartment. Keadaannya sudah tidak seperti semalam. la sekarang sudah sadar dari apa yang ia pikir kebodohan baginya. Jane meratapi dirinya, kepalanya yang terasa sakit sehingga membuatnya memijit pelipisnya. Pandangannya penuh dengan dendam.


"ISHH!!" Kesal Jane jika mengingat kejadian semalam.


Grace pun datang menghampirinya sambil membawa kantong berisi makanan. Lantas ia menyimpan kantong makanan itu diatas meja. la menoleh kearah Jane yang sekarang seperti orang ingin membunuh.


"Jane! Sekarang waktunya kamu ceritain sama Kakak soal kejadian semalam,"


Jane memoutkan bibirnya. "Kak, cariin aku dokter spesialis jantung di negara ini yang paling terkenal dan profesional!" Titah Jane. Dirinya masih dalam keadaan kesal.


"Apa? Apa kamu sakit jantung? Terakhir kita periksa bulan kemarin jantung kamu baik-baik aja tuh!" Grace merespon dengan cepat.


"Kakak tau, bocah itu yang bikin jantung ku sakit sampai gak tertolong lagi,"


Mendengar ucapan Jane, membuat Grace sedikit berpikir. Namun tiba-tiba ia tertawa terpingkal, sampai-sampai ia memegangi perutnya.


"Ish! Malah ngetawain! Cariin aku dokter itu kak, cepetan!" Ucap Jane yang semakin tidak terdengar. Jane menyembunyikan wajah malunya. Ia juga merasa gugup sekarang.


Grace mengusap matanya yang sempat mengeluarkan air karena terlalu tertawa. "Astaga Jene! Kamu mau di ketawain dokter, hm? Kalau kamu cerita kayak gitu,"


"Yaa.. Emangnya kenapa coba? Kak Grace pliss.. Jangan bikin aku tambah pusing deh,"


Grace masih tertawa, kali ini tawanya makin menjadi melihat reaksi Jane dan ekspresi wajah Jane yang sudah menahan malunya. Karena bagi Grace ini pertama kalinya Jane bersikap seperti itu.


"HAHA.. Duh! Jadi ini yang bikin kamu sampai cuti pemotretan hari ini, sama gak pergi ke sekolah?" Seketika Grace menghetikan tawanya. "Itu bukan gara-gara kamu sakit jantung, Jane! Tapi-" Grace sengaja menjeda ucapannya untuk mengoda Jane.


Dengan itu, Jane langsung duduk mantap. la fokus menatap Grace, untuk menyimak lebih Jelas. "Tapi apa kak? Bilang!"


Grace terkekeh lagi. Sekali lagi ia merasa gemas dengan Jane. "Artinya kamu suka sama bocah itu,"


"Dih! Gak mau!" Hardik Jane dengan cepat. "Kak Grace jangan asal ngomong dong! Lagian gak mungkin aku suka sama bocah itu, GAK!" tolaknya lantang.


"Hem.. Gimana? Jantung kamu berdebar kencang gak?" Jane dengan cepat mengangguk seperti anak kecil. "Astagaa Jane! Itu artinya kamu lagi jatuh cinta!" gemes Grace. Ia menggeleng setelahnya.


"Aish! Dasar.. Susah banget punya adik yang baru ngerasain jatuh cinta di usia dewasa. Liat aja deh nanti, kalau keterusan itu artinya kamu suka sama dia." Celetuk Grace, ia mulai menertawakan Jane lagi.


Melihat Grace yang makin menjadi-jadi menertawakannya. Jane hanya bisa mendengus kesal, ia berfikir sejenak.


"Apa? Jatuh cinta, apa itu? Awas aja bocah itu." Batin Jane.


Tangannya sudah terkepal. Mungkin jika Deandra ada dihadapannya sekarang, tidak tahu apakah Dean akan baik-baik saja?