
Ario Sempani yang sedang berada di Medan menghadiri acara syukuran teman bisnisnya, yang diadakan di hotel yang sangat mewah. Di datangi oleh orang-orang penting, yang dipastikan *Konglomerat*.
Sudah tiga puluh menit ia berada dalam acara tersebu, dan ia masih asyik mengobrol dengan teman-teman serekan bisnis yang lain. Tak jarang orang-orang mendapat partner bisnis baru jika sedang berkumpul seperti itu.
"Pak Ario! Apa anda sudah menyiapkan berkas-berkas untuk proyek baru kita?"
"Semuanya sudah saya siapkan Pak Mario! Dua minggu lagi akan saya kerjakan pembangunan proyeknya," Jawab Ario mantap Sedangkan orang yang dipanggil Pak Mario itu hanya bisa mengangguk mengerti.
Mario mengambil gelas berisi wine. "Jangan lupa untuk mengabari saya, karena saya rencananya akan pergi melihat-lihat,"
Ario hanya menjawab dengan anggukan mantap tidak lupa senyuman di bibirnya.
Sedangkan di tempat lain. Deandra dan keempat sahabatnya sedang menyusuri koridor sekolah. Koridor yang nampak penuh dengan siswa-siswi yang sedang berjalan kearah parkir menuju kendaraannya masing-masing untuk pulang.
"Biarin mereka duluan! Mereka gak sesak apa, tiap pulang sekolah desak-desakan gitu!" Keluh Jose merasa malas melihat keadaan koridor sekolah yang selalu dipenuhi dan perebutkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Btw makasih, Ndra! Berkat lo, gue bisa jalan sama tante tante cantik," Iyan berbinar sambil membayangkan malam itu.
Deandra menatap malas Iyan. "Elah, gak perlu sampe di bayangin gitu!"
Tiga menit berlalu dan akhirnya koridor itu mulai kosong, tinggal beberapa siswa lagi yang berjalan.
"Tunggu wei! Biarin si Madam duluan! Gak sopan kalau kita jalan di depannya," Cecar Alvin mencoba memberhentikan keempat sahabatnya yang hendak melangkah. Karena ia sempat menoleh kebelakang dan mendapati Janessa dan Managernya yang beberapa langkah lagi kearah mereka.
Deandra refleks menoleh kebelakang, mendapati Janessa yang tinggal beberapa langkah lagi. la menegang, sekujur tubuhnya terlihat gugup, lantas membuatnya menundukkan kepala. Janessa yang tak kalah gugup hanya bisa menatap lurus, tapi ia masih bisa menetralkan dirinya. Dilihatnya Dean sekilas yang telah menunduk.
"Siang Bu!" Sapa keempat sahabat Dean bersamaan.
Sedangkan yang disapa hanya menoleh sekilas lalu fokus berjalan. Beberapa saat ia sudah berjalan didepan kelima siswa itu.
Jose mengelus dadanya beberapa kali, merasa kelegaan yang ia rasa. "Akhirnya kita terselamatkan!"
"Sombong banget dia jadi cewek!" Iyan menatap sinis Janessa yang tinggal terlihat punggung.
"Iyakan? Sama gue aja jutek gitu padahal kan gue alim gini," Alvin ikut mengomentari. Sejurus mereka bertiga malah menggosipkan Janessa dari belakang.
"Gue yakin pake banget kalau yang jadi pacar dia pasti bakal menderita. Siapa yang mau jadi pacarnya yaa? Gue aja mikir-mikir tuh, bahkan mungkin gak mau!" Celetuk Jose.
Dean hanya bisa diam mendengar ucapan para sahabatnya itu mengomentari. Bukannya ia tidak emosi tapi ia juga mikir akan bagaimana jika para sahabatnya mengetahui kalau dialah pacar dari seorang Janessa.
Sedangkan Gara hanya bisa pasrah, dan merangkul Jendra mencoba membantu menenangkannya. Lewat energi yang ia beri.
"Madam juga mikir milyaran kali kalau pacaran sama lo!" Pekik Gara.
"Lagian si Jose sok banget gak mau! Gue mah mau aja, secara cantik gitu. Body goals. Aish! Pasti empuk kalau di peluk," Iyan lagi-lagi membayangkan jika dirinya akan memeluk Jane leluasa.
Bruk! Secara bersamaan keempat sahabatnya memukul Bian. Sahabat mereka yang dikenal mesum itu lengkap dengan khayalannya.
Beberapa bulan berlalu.
Tanpa sepengetahuan Jane, Dean yang kadang masih menjalankan pekerjaannya itu tapi ia hanya memilih orang-orang tertentu. Karena ia juga kesulitan jika harus berhenti. Ia perlu biaya hidup apalagi setelah orangtuanya berhenti mengirim uang untuknya. Mungkin jika perbuatan nya itu diketahui oleh Janessa bisa saja ia berfikir hidupnya akan berakhir ditangan wanita itu.
Apalagi Jane yang ia sadari keposesifannya selama menjalin hubungan, yang selalu melarangnya ini itu. Kini juga mereka semakin harmonis tidak ada lagi rasa malu-malu diantara mereka berdua untuk mengungkapkan jika mereka saling mencintai dan menyayangi, Meskipun Jane lah yang lebih sering mengungkapkan itu.
Jane sedang berada dalam mobil di depan rumah kekasihnya. Menunggu Dean keluar karena malam ini mereka memutuskan untuk berkencan. Tak lama Dean pun keluar dan langsung menuju mobil Jane.
"Biar aku yang nyetir!" Ucapnya setelah membuka pintu pengemudi.
Jane hanya tersenyum dan mengangguk. Deandra langsung membukakan pintu untuknya dan langsung kembali lagi kebagian pengemudi.
"Mau kemana?" Tanya Dean sambil fokus memperhatikan jalan.
"Cari tempat yang aman deh! Jangan sampe kayak minggu lalu, hampir ketauan Kak Jihan," Jawab Jane merasa jengkel jika mengingat kejadian itu.
Karena benar saja, waktu mereka jalan-jalan dimall sambil gandengan tangan hampir saja dipergoki Jihan yang waktu itu sedang shopping sendiri, yang lebih parahnya lagi Deandra yang meninggalkan Janessa dan memilih jalan dengan Jihan.
Deandra takut Jihan mencurigai mereka dan Jane waktu itu sembunyi. Sebenarnya Jane ingin memberitahu semua orang jika mereka menjalin hubungan tapi sekali lagi Deandra selalu menolak dengan alasan ia harus lulus sekolah dulu karena tidak enak jika sekolah mengetahuinya.
Dean menghela nafas dalam-dalam, ia merasakan aura yang tidak enak akan terjadi. "Mulai! Mau bahas itu lagi, hm?" la menyadari Jane yang menatapnya sinis.
"Emang iyakan? Siapa yang gak tertarik sama Kak Jihan? Dia cantik, apa lagi kamu yang suka godain cewek,"
Entah kenapa Jane selalu cemburu kepada Jihan. Apa lagi setelah Deandra tertangkap basah Dinner bersama Jihan yang pada saat itu Jane sedang makan malam dengan sahabat-sahabatnya.
Jane yang emosi tinggi mendiamkan Dean berminggu-minggu. Tetapi dirinya yang tidak bisa memutuskan hubungan dengan Dean. Sampai membuatnya heran dengan dirinya sendiri, mau saja luluh waktu saat Dean berlutut didepan Unitnya sampai satu malam. Dramatis memang.
"Terserah deh kamu mau bilang apa! Aku juga udah jelasin berkali-kali kalau, AKU SAMA KAK JIHAN ITU CUMA HANYA SEBATAS T.E.M.A.N!" Gemas Dean, sampai ia menekan kalimat terakhirnya.
Deandra benar-benar mencoba tidak emosi pada saat ini. "Kamu udah makan? Kita cari makan dulu!" Tambahnya sambil memberhentikan mobilnya di depan restoran.
Deandra langsung turun dari mobil dan membuka kan pintu mobil untuk Jane. Sedangkan Jane yang masih kesal dengan Dean atas perdebatan didalam mobil langsung berjalan mendahului Dean.
Deandra hanya menghembus kan nafas pasrah melihat tingkah Jane. la juga heran kenapa disetiap pertemuan mereka selalu ada perdebatan terlebih dahulu meskipun setelah itu kembali harmonis.
Setelah pesanan mereka datang, Deandra yang memang pada saat ini lapar karena belum makan sepulang sekolah langsung melahap makanan tanpa mempedulikan Jane yang masih terdiam menatapnya.
"Ihh! Pasti dia laper banget gara gara belum makan. Huft! Ini yang selalu bikin aku gak bisa lama lama marah dan mendiamkan nya," Batin Jane.
Emosi Jane mereda, berubah jadi semakin sayang karena melihat Dean yang fokus dan lahap menyantap makanan nya. la juga berfikir mungkin Dean selalu memaksa dirinya untuk tidak makan. Mereka yang hanya bertemu jika Janessa ada waktu saja, kadang satu minggu mereka tidak bertatap muka.
Jane yakin jika dirinya benar-benar tidak akan bisa melepas Deandra yang dulu ia anggap masih anak-anak. Sayang dan cinta yang semakin dalam ia rasalkan, apa lagi Dean sangat bisa menyeimbanginya. Dean yang selalu bersikap dewasa dengan tidak memperlihatkan emosinya. Dean yang kadang menjengkelkan selalu mengodanya disaat ia kesal dan cemburu terhadap Dean. Jane merasa sudah sangat nyaman bersama Deandra, meskipun ia belum mengetahui lebih jelas keluarga cowok itu , yang hanya ia ketahui jika Dean adalah orang yang bisa merubah Moodnya dalam waktu singkat. Itu membuat Jane berbunga-bunga sekaligus kadang jengkel dan emosi.
Tapi itulah Deandra. Orang yang bisa merebut hatinya hingga sekarang, yang tidak pernah bisa dipulihkan oleh siapapun. Sebut saja Deandra itu orang yang pertama baginya. Meski ia pernah berpacaran waktu sekolah menengah pertama tapi hanya sebatas status tanpa rasa yang hanya ia rasakan kepada Dean.
"Wei, Dean! Lo disini?"
Uhuk! Uhuk! Deandra tersedak mendengar namanya disebut oleh orang yang tidak asing di telinganya.