
"Satu... Dua... Tiga... "
"HAHAHAHA..."
"WOI! GAK GINI JUGA BECANDANYA!" Alvin memekik dengan lantang.
Iyan dan Jose melempar Alvin ke dalam air. Karena mengerjai sahabat mereka yang tidak ingin mandi. Bukan cuma tidak ingin, hanya saja Alvin memiliki sedikit phobia pada air garam laut itu.
Alvin berteriak frustasi. Dia mengigil setelah bersentuhan langsung dengan air. Sedangkan Iyan dan Jose sudah tertawa lepas, Gara yang hanya melihat saja sampai memegangi perutnya karena melihat Alvin yang kini bagaikan anak usia lima tahun yang takut akan air laut.
Mereka akhirnya bisa liburan bersama dengan ajakkan Jane dan Ireniyang memang sudah mereka rencanakan liburan akhir tahun di pulau Bali.
"Mama.. Papa.." Teriak Alvin sekaligus merengek yang membuat Iyan sampai tertawa terbengkal-bengkal dibuatnya.
"Hadeh.." Iyan Cekikikan. "Kak Jihan gak bakal mau sama lo kalau lo teriak kayak gini, Tor! Gimana kalau Kak Jihan kasih gue aja apa?" Godanya lagi kepada Alvin. Sedangkan sang empunya nama hanya masa bodoh mendengarnya, ia lebih menikmati berjemur ala-ala turis bersama Irene dan Gia yang memang memiliki wajah kebule-bulean itu.
"Enak aja lo! Ambil aja si kalau bisa." Tantang Alvin.
"Wahh.. Nantangin nih anak," Pekik Iya , dia menoleh kearah Jihan dan Gia yang sedang berjemur meskipun lebih nampak berteduh di bawah pohon kelapa. "KAK JIHAN SAMA IYA AJA YA! SOALNYA VIKTOR UDAH NYERAH NIH KATANYA!" Teriaknya.
Jihan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka, apalagi Alvin malah menarik Iyan dan berakhir basah.
"Gimana Kak? Iyan apa Alvin nih?" Goda Gia yang sedari tadi tersenyum.
"Gak dulu deh ya kalau sekarang. Gak tau kalau besok, tunggu aja!" Respon Jihan yang lebih menghindari pertanyaan itu.
Deandra datang bersama Jane. Jihan hampir melotot melihat penampilan nya dari atas sampai bawah yang masih mengenakan Piyama dengan dilapisi Cardigan, jangan lupa rambut yang dicepol. Setau Jihan, Jane lebih suka berpakaian seksi jika bertemu dengan pantai. Ia bahkan mengira adiknya itu akan memakai bikini.
"Kamu gak mau berjemur Jane? Tumben gak ikut, biasanya kamu paling gercep," Jihan beringsut, ia mengubah posisinya menjadi duduk bersila dan melepas kacamata hitam nya.
Jihan mendongkak memperhatiakan penampilan Deandra dari atas sampai bawah, yang hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih polos dengan lengan panjang yang sengaja Deandra gulung, serta kacamata yang membuatnya semakin keren. Jihan sampai tidak berkedip dibuatnya, ia benar-benar mengakui jika Deandra sangat tampan dan mempunyai karisma.
"Aku lagi kedatangan tamu bulanan kak, jadi gak dulu deh! Gak bisa ikut juga," Ucap Jane, ia sengaja agar Jihan berpaling dan ucapannya itu berhasil membuat Jihan mengalihkan tatapannya.
"Kalau kamu Ndra, kenapa gak ikut sama temen temen mu?" Deandra yang tadinya sedang menatap lurus tepat dimana para sahabatnya sedang bercanda-ria, mengalihkan tatapannya kearah Jihan.
"Eumm... " Dean menimba-nimba, ia melirik Jane yang sekarang sedang memasang wajah datarnya."Okay deh! Aku kesana dulu yaa.." Deandra memutuskan, ia melarmbai ke arah Jane dan Jihan sambil berlari kecil kearah dimana sahabat-sahabatnya berada.
"Kak Jihan!" Panggil Gia. "Kenapa Kakak gak suka sama Alvin?" Gia yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara. la juga tidak mengerti kenapa harus menanyakan hal itu.
Jihan menghela nafas, ia memperhatikan setiap gerak-gerik Alvin yang sekarang sedang main kejar-kejaran dengan Iyan.
"Gak tau deh! Tunggu dia ngubah sifat nya jadi dewasa aja kali ya," Lirih Jihan. Memang sebenarnya itu salah satu alasan ia tidak langsung menerima Alvin yang menyatakan perasaannya tepat satu tahun yang lalu. Dengan suasana tahun baru juga, Alvin mengajaknya untuk ketaman bermain dan mengungkapkan perasaannya. Caranya sangat kekanak-kanakkan menurut Jihan.
"Kan itu wajar aja Kak. Lagian juga umurnya emang jauh di bawah kita," Jane itu berkomentar.
"Jane!" Gemas Jihan, dia sampai terpejam menahan dirinya agar tidak mencemooh Jane sekarang juga. "Kamu liat sendiri deh, Jendra aja bisa dewasa gitu. Jadi tunggu sampai Alvin dewasa dengan sendirinya," Jawab Jihan dengan intonasi cepat, ia sengaja membandingkan dengan Deandra yang memang sudah nampak lebih dewasa.
"Iya juga sih," Gia mengubah posisi duduknya yang tadi menghadap ke pantai memperhatikan sekumpulan kawanan yang sedang asik bercanda gurau itu, sekarang menghadap kepada Jihan dan Jane. "Kak Jihan ada benarnya juga kalau menurut aku, liat tuh disana siapa coba yang lebih keliatan dewasa nya?" Gia menunjuk kearah tempat sekawanan itu. Terlihat Jihan dan Jane menyetujui apa yang Gia katakan. Bagaimana tidak Alvin, Iyan, Jose dan Brayen malah bermain lempar-lemparan pasir tidak jarang juga saling berkejaran.
Sedangkan Deandra hanya memperhatikan sambil melipat kedua lengan nya didada. Jangan tanyakan Irene dan Gara, karena dua sejoli itu sejak kedatangan Deandra dan Jane lebih memilih menjauhkan diri untuk berkencan, berjalan-jalan ditepi pantai.
"Kalian pernah mikir gak sih, kenapa kita bisa dekat dan akrab sama mereka yang umurnya jauh di bawah kita?" Gia kembali berucap. Jujur sudah sejak lama ia penasaran akan hal itu, apalagi dirinya yang notabene nya adalah guru mereka.
"Yaa.. Aku gak dekat sama mereka! Aku hanya pacaran sama sahabat mereka aja," Ucap Jane seenaknya.
Jihan hampir menoyor kepala adik nya itu. Bagaimana tidak, jelas Jane yang paling parah jika dibandingkan dengan mereka.
"Heh! Kamu gak sadar Jane? Kami hanya temenan sama mereka sedang kan kamu jelas jelas pacarin salah satunya. Ishh, kesel banget deh!"
Gia yang tadinya sempat berbaring dengan cepat ikut mengubah posisinya menjadi duduk setelah merasakan aura menerkam yang akan terjadi kembali antara Jihan dan Jane. "Aku gak ikut ikutan yaa.."
"Hey Girls..." Sapa Irene sambil membawa satu buah kelapa yang sudah dikasih sedotan. "Eh! Kalian gak ikut main sama mereka?"
Irene menatap ketiga wanita yang sedang saling membisu itu bergantian. Dirinya ternyata tidak direspon sama sekali, bahkan Gia hanya mengangkat kedua bahunya untuk memberikan jawaban.
Gara yang sejak tadi mengekori Irene mulai menatap heran. Kenapa para wanita itu saling mendiami. Irene mengisyaratkan Gara agar segera pergi menemui para sahabatnya. Gara hanya mengangguk mengerti lalu berlari kecil kearah sahabatnya yang kini sedang berteduh dibawah pepohonan kelapa.
"Jihan, Jane-"
"Kakak! Kami emang kayak gini tapi bukan berarti kami bertengkar!" Jihan dan Jane secara bersamaan memotong pembicaraan Irene.
Mereka memang saling berdebat, tetapi bukan artinya harus bermusuhan. Mereka beda argumen, sifat dan tingkah laku tetapi mereka tetaplah kakak adik yang saling menyayangi dengan cara mereka masing-masing yang tidak banyak mereka tunjukkan.