
Hari ketiga Jane meluangkan waktunya untuk Deandra. Tapi Jane lagi-lagi harus di buat kesal, karena setelah dia pulang bekerja dia harus langsung jalan dengan Dea. Apa lagi sebenarnya dia malam ini ada janji dengan Andry.
Jane juga bingung, kenapa tingkah Dean aneh, kadang Jane tidak sengaja menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Deandra.
"Kamu makan yang banyak, ya!" ucap Dean.
Jane mendengus. "Kamu tau, dalam satu hari hampir ratusan kali kamu bilang kayak gitu. Kamu mau bikin aku gendut, iya?!"
Deandra terkekeh. "Gapapa dong.. Biarpun kamu gendut juga aku masih suka kok," Jujurnya.
"Tapi aku nya yang gak suka, Ndra! Aish! Mending cepet habisin makanan nya buruan! Aku mau pulang mau istirahat udah cape," celetuk Jane, ia menyandarkan punggungnya sambil berlipatkan lengan.
Beberapa waktu berlalu. Kini mereka sudah di basement apartment Jane.
Jane membuka pintu mobil. "Jane! " Panggil Dean, membuat wanita itu refleks menutup kembali pintu mobil. Menatap Deandra yang terlihat sendu.
"Makasih ya buat tiga harinya yang udah kamu lunagin buat aku," kata Dean dengan tulus, dia mengembangkan senyumnya untuk Jane.
Dilihatnya tangan Jane. "Bahkan, buat genggam tangan kamu aja aku udah gak sanggup Jane!" Dean membatin.
"Sebenarnya kamu kenapa sih?" lirih Jane yang hampir mati penasaran dengan sikap Dean beberapa hari ini.
Cowok itu menggeleng. "Kamu mau berjanji sama aku gak?" Jane semakin kebingungan, keningnya sudah mengerut.
"Jaga kesehatan kamu, makan teratur juga, tidur yang cukup jangan tidur larut malam, jangan banyak kerja skali skali pergi liburan, yang utama bahagia slalu karna kebahagiaan kamu kebahagiaan aku juga," tandas Dean panjang lebar yang tak henti-hentinya ia memberikan senyuman manis kepada Jane.
Jane menghela nafas. "Kamu juga udah ribuan kali bilang kayak gitu Deandra!" gemes Jane lagi-lagi yang langsung keluar dari mobil.
Deandra yang melihat itu, terburu-buru keluar dari mobil. "Jane!" Jane menghentikan langkahnya lalu menatap Dean gemes. "Aku boleh peluk kamu gak?" Pinta Dean.
Dengan langkah pelan Deandra mendekati Jane, lalu memeluknya erat. Mata Dean sudah berkaca-kaca.
"Kamu tau kan kalau aku sayang dan cinta banget sama kamu?" lirih Dean sambil mengusap punggung Jane.
Cukup lama mereka berpelukan, lalu dengan pelan Dean melepasnya dan memegang bahu Jane.
"I love you!" kata Dean setelahnya dia mengecup kening Jane, mencoba menyalurkan seluruh perasaannya.
Tak lama ia menyudahi kecupan nya di kening Jane, menatap intens wanita yang begitu dia cintai itu sambil tersenyum semanis mungkin. Lagi-lagi Jane kebingungan tak sadar matanya juga ikut berkaca-kaca.
"Sana gih masuk!" Perintah Deandra, Jane menurutinya.
Tak sadar Jane menoleh kebelakang, melihat Dean yang melambaikan tangannya sambil terus tersenyum.
"Dia kenapa sih? Ngapain juga aku slalu aja ngeluarin air mata setiap dengerin ucapannya?" Batin Jane.
"Maafin aku kalau lagi lagi cuma bisa bikin kamu nangis Jane!" Deandra ikut membatin.
Keesokan harinyanya. Jane kaget bukan main. Bagai disambar petir bagi Jane ketika Deandra membawa Andry kehadapannya. Dia bingung harus bagaimana.
"Ka-kamu ngapain?" cicit Jane merasa gugup.
Deandra hanya tersenyum kecut. "Jane! Aku udah pernah janji sama kamu kan, kalau aku bakal pergi setelah kamu nemuin orang yang tepat?"
Jane melotot tidak percaya ucapan Deandra. Memang dia pernah mendengar perkataan Dean itu satu tahun lalu.
"Dan sekarang, orang yang di samping aku ini bakal gantiin posisi ku! Aku harap kamu bisa terus bahagia yaa. Untuk Bang Andry!" Dean menoleh kearah Andry. "-Tolong jagain Jane ya.. Bikin dia bahagia juga! Aku yakin Bang Andry bisa slalu buat dia tersenyum, jangan biarin dia nangis!"
Deandra kembali menatap Jane, setelah puas menatap wanita itu, dia lalu berbalik melangkahkan kakinya.
"Ndra!" Refleks Jane memanggil cowok itu, matanya sudah berkaca-kaca.
Deandra mengentikan langkahnya, dia bebalik dan langsung berlari memeluk Jane.
Deandra memberikan senyuman lagi kepada Jane dan setelah itu meninggalkan Jane bersama Andry. la mendengar Jane menangis tersedu-sedu di belakang sana dalam pelukkan Andry, mendengar tangisan Jane membuat air mata Deandra mengalir mambasahi pipinya.
"Maafin aku Jane! Semoga setelah ini kamu bisa bahagia yaa!" Gumam Dean sambil mengusap air matanya kasar.
Deandra pergi ke rumah keluarga Aryo. Sambil membawa sebuah kotak kecil ditangannya.
"Dean! Tumben kamu kesini Nak, Jane nya mana?" Aryna sumringah menyambut kedatangan Dean.
"Hehe.. Iya Tante! Tapi sebelumnya Dean mau minta maaf," imbuh Dean membuat Aryna kebingungan. "Aku kesini cuma mau pamitan sama Tante, biar nanti gak nyariin Dean!"
Aryna makin kebingungan di buat Deandra tapi dia masih enggan menyela pembicaraan cowok itu.
"Sebelumnya maaf juga," Sungguh Deandra berat ingin mengatakan nya."-Maaf kalau Dean pernah nyakitin Jane. Tapi sekarang kami udah mutusin buat pisah secara baik baik kok Tante," Mata Deandra sudah memerah menahan air matanya.
Aryna menghela nafas. "Tante tau kok semuanya bakal terjadi. Tante salut banget sama kamu, mampu bertahan selama ini sama sikap Jane dan Tante malahan mau bilang makasih karna kamu mau pamit kayak gini. Jujur Tante sedih banget,"
Deandra menyodorkan kotak kecil itu kepada Loveria Aryna. "Aku nitip ini buat Jane ya tante, nanti suatu saat dia nyebut nama Dean, tante kasih ini ke dia!"
Aryna tersenyum kecut menerima kotak itu. "Kamu juga harus janji sama tante, biarpun kalian udah gak ada hubungan lagi, kamu harus tetep main ke rumah tante ya!"
Deandra tersenyum lalu mengangguk. "Tante harus janji juga jangan bahas nama Dean di depan Jane dan jangan sering sering ngomelin dia!"
Aryna terkekeh mendengar ucapan Dean lalu mengangguk mantap.
Kini mereka sudah di depan, karena Deandra yang segera pergi.
"Tante, Dean pamit yaa!" Izin cowok itu, lalu segera menuju motornya.
"Dean!" Deandra menoleh kepada Aryna. "Tante boleh peluk kamu?"
Deandra terenyum, kakinya melangkah mendekati Aryna dan kini ia sudah berada dipelukan Ibu dari mantan kekasihnya itu.
Aryna mengelus punggung Deandra. "Nangis aja Ndra! Air mata itu gak baik di tahan, nanti kamu makin ngerasa sakit,"
Mendengar itu, air mata yang sedari tadi ditahan Deandra, meleleh sudah. Sungguh bagi Dean, ia merasakan sesosok ibu dipelukan Aryna.
Beberapa saat berlalu. Rumah Deandra nampak bersih, dua koper diruang tamu. Dean masuk ke kamar mandi, membasahi seluruh badannya dengan air, ia melamun sejenak. Satu menit kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Mengingat semua kenangan bersama Jane.
"Hiks! Kenapa harus kayak gini.." Monolognya.
Cowok itu menangis di bawah Shower, hidupnya bagaikan Rollercoaster. Keluarga, Ekonomi, Cinta. Pahitnya kehidupan sudah ia rasakan. Tetapi ia tetap bisa berdiri di kakinya sendiri bahkan ia sedari kecil sudah menjalani hidup dari sisi pahitnya.
Tapi sekali lagi, yang satu ini benar-benar membuat seorang Deandra bisa menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, orang yang sudah ia anggap rumah dalam dua tahun lebih ini, yang benar-benar bisa membuat hidupnya jadi lebih baik. Kini harus ia iklaskan juga. Percayalah, patah hati terbesar itu ada di cinta pertama apalagi dengan jangka hubungan yang panjang. Selebihnya mungkin kita hanya dapat patah atau jatuhnya saja.
"Maafin aku, hiks! Setelah ini kamu harus bahagia Jane!" Deandra terus saja menyerocos sambil menahan sesak di dada nya.
Disini lah Deandra sekarang, Bandara. Tertera ditiketnya Jakarta-Jogja. Lima menit lagi pesawat dia tumpangi akan segera boarding. Deandra menoleh ke belakang sebelum masuk. Lantas ia pun masuk karena sebentar lagi pesawat itu akan segera lepas landas.
Mata Dean masih memerah dan bengkak karena nangis semalaman. Deandra melamun, kepergian nya tidak ada seorang pun yang tahu bahkan sahabatnya sendiri.
Itu bukan ia mau menjauh dari Jane, tapi hatinya terlalu sakit jika melihat Jane bersama orang lain, dia tidak munafik tapi ia ingin melihat Jane bahagia. Air matanya menetes lagi mengingat Jane, tapi bibirnya membentuk senyuman kecil.
"Aku juga bisa ngerasain capek ngadepin kamu Jane! Harus nya seiring berjalan nya waktu, kamu bisa ngertiin semua ini tapi kamu dengan sadarnya masih gak peduli sama aku. Asal kamu tau kalau aku ngiklasin kamu karna aku cinta banget sama kamu. Semoga kamu bahagia sama orang pilihan kamu ya!"
Deandra menyandarkan punggungnya. Air matanya menitik seraya ia memejamkan matanya. "Goodbye!" gumamnya.
Sudah satu minggu lebih sejak kepindahan Deandra di Jogja. Tidak ada yang mengetahui kepergiannya, karena ia benar-benar menghapus jejak. Bahkan Dean memutuskan untuk tidak memegang handphone lagi. Kepindahan Deandra di Jogja, membuat ia bertemu dengan sahabat masa kecilnya yaitu Brayen.
Dİ Jogja, ia juga tinggal di kontrakan yang dimiliki oleh seorang Nenek. Brayen lah yang berperan membantu Deandra selama di tempat itu, dan untungnya ia menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan nya ke universitas.
Disini lah kehidupan baru bagi Deandra di mulai. Tempat ia akan memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya. Akankan ia bisa bertahan dengan semua tekanan yang sebelumnya pernah ia rasakan? JOGJAKARTA!