
Ini sudah satu minggu tepat sesudah Deandra meninggalkan sekolah. Tidak ada yang tahu keberadaannya dimana. mungkin yang lain mengira jika dia pulang ke kampung halamannya karena para sahabatnya sudah mencoba mencari kesana kemari bahkan dirumahnya pagar sudah dikunci dengan sangat rapat sehingga membuat mereka tidak bisa untuk masuk.
Sekarang Dean sedang berada di taman. Dimana ia sering mencari ketenangan. Ini masih siang, banyak orang berlalu lalang.
"Huft! Sebenernya gue pengen balik ke Medan. Tapi kenyataan gak memungkinkan." Batin cowok itu merenungi nasibnya.
Dean menghirup udara dari rongga hidungnya. Sambil mendongkak dengan mata yang sengaja ia pejamkan.
"Kamu lagi nungguin pacar ya?" Tanya seorang Nenek. Dean menoleh cepat, dan menyadari disampingnya sedang duduk seorang Nenek.
"Akh! Nggak kok Nek. Aku gak punya pacar,"
"Iyakah? Gak mungkin, kamu ganteng gini bisa dapetin 10 cewek. Eh! 100 juga mungkin dapet," Dean terkekeh. Pikirnya itu sangat tidak masuk akal.
"Astaga Nek, yang bener bisa dapet?" Tanya Dean sedikit mengoda.
Nenek itu menjawab dengan anggukan mantap, lantas mereka tertawa bersama. Tapi beberapa saat, seketika mereka saling terdiam. Memilih menikmati hembusan angin yang menyapu wajah mereka.
"Kamu tau gak? Kadang dunia gak memihak sama kita, tapi kita harus tetap bersyukur soalnya masih diberi kesempatan untuk tetap menikmati keindahannya." Ucapan Nenek itu mendramatis. Tatapannya tertuju kearah langit. Membuat Deandra mengikuti arah tatapan sang Nenek.
"Mungkin Nenek ini tau apa yang lagi gue rasain sekarang." Batin Dean.
Deandra yang sedang asyik menikmati hembusan angin sambil menutup matanya. Tidak sadar jika Nenek itu sudah pergi sedari tadi tanpa sepengetahuannya.
Jane POV
Ini benar-benar sangat mengangguku. Seharusnya aku lega dengan kepergiannya disekolah ini. Tapi entah kenapa ia selalu menghantui pikiranku. Seolah-olah, aku punya salah besar kepadanya.
"****! Berengsek!" Emosiku tidak bisa dibendung akhir-akhir ini.
"Kenapa kamu? Gak biasanya mengumpat," Tanya Grace dia menatapku heran.
"Kak! Apa dia benar-benar udah gak mau sekolah? Kenapa dia gak pergi ke sekolah lagi? Harusnya kan dia mohon-mohon kalau pengen lanjutin sekolahnya,"
Kulihat Grace malah menyeringai. "Hum.. Kamu rindu sama dia? Lagian kan, itu juga gara gara kamu yang ngusir dia."
Aku malas jika Grace sudah berfikiran yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin aku merindukan anak itu? Sedangkan dia sering membuatku kesal.
Ini sudah waktunya pulang Sekolah. Sekarang aku sedang menuju parkiran mobilku, untuk segera menuju lokasi Pemotretanku.
Di parkiran aku melihat beberapa anak yang sudahku ketahui jika mereka adalah sahabatnya Deandra. Aku tidak tahu, kenapa aku sampai memanggil salah satu diantara mereka. Mungkin karena hal itu selalu menganggu pikiranku.
"Apa kau tau rumah Deandra dimana?" Anak itu kebinggungan dengan apa yang telahku tanyakan. Aku berdehem untuk menyadarkannya.
Kulihat Namtag nya tertera Alvin Mandalika disana. Ia terkesiap seketika. "Akh, iyaa.. Tau Bu!"
Lantas ia mengambil Kertas dan Pulpen. Benar-benar anak yang paham dengan apa yang dimaksud.
Ia menyodorkan secarik kertas beralamatkan rumah Jendra kearah ku. "Tapi dia udah gak ada di rumah itu,"
Aku bingung apa yang ia maksud. Jika memang sudah tidak ada, lantas kenapa dia memberikan alamat itu.
"Saya juga kurang tau Bu. Setelah kemarin, kami udah gak pernah liat dia lagi."
Tidak mau berlalu lama. Aku lantas pergi menuju mobilku. Di perjalanan, pikiranku masih juga tertuju pada Dean. Aku yakin jika Grace yang sedang mengemudi pasti sangat keheranan melihat perubahanku saat ini.
Sesampainya dilokasi pemotretan, aku bersiap-siap untuk ambil giliranku. Pemotretan kali ini cukup lama, mungkin akan selesai jam delapan malam. Apa lagi aku banyak mengulang karena banyak melakukan kesalahan. Tidak biasanya aku seperti ini. Karena aku orang yang sangat Profesional dalam melakukan pekerjaan.
Setelah beberapa kali mengambil gambar yang sempurna. Akhirnya pemotretan ku selesai. Setelah mengemasi barang. Kami memutuskan untuk pulang. Cukup lima belas menit untuk sampai di Apartment ku.
Begitu sampai di unitku. Aku langsung merebahkan badanku di Sofa sambil mengotak atik ponsel. Tetapi pikiranku lagi-lagi tertuju kepada anak itu. Aku teringat akan secarik kertas alamat yang diberikan temannya. Ku ambil kertas itu dari dalam tas. Alamat yang tertera kertas ini membuatku berfikir keras. Ku lirik jam ditanganku menunjukkan pukul dua puluh satu.
Entah kenapa aku begitu ingin menemui Deandra. Kali ini aku sudah tidak bisa berfikir jernih sampai akhirnya aku keluar dari Apartment tanpa sepengetahuan Grace. Karena jika ia tahu, mungkin akan marah besar.
Aku menuju Basement. Tidak mau membuang waktu lagi. Aku bersyukur ternyata rumahnya tidak jauh dari Apartment ku. Cukup sepuluh menit jarak yang ditempuh.
Sesampainya didepan rumah Deandra. Aku tidak langsung turun dari mobil. Mencoba menimba-nimba, apakah aku harus benar-benar menemuinya kali ini? Setelah aku sadari ternyata daerah kediaman nya begitu sepi. Tidak ada satu orangpun yang lewat.
Mataku memincing setelah melihat kearah tembok rumah itu. Rumah yang tidak begitu besar. Mungkin karena dia tinggal sendiri pikirku. Aku sengaja memarkir mobilku agak berjauhan dengan rumahnya.
Setelah beberapa menit. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil. Ku lirik kanan kiri memastikan apakah aman. Karena aku lumayan takut ditempat ini. Sekali lagi aku memincingkan mata, melihat orang diseberang sana yang sedang bersandar ditembok. Bukankah itu Deandra?
Benar saja jika dia si bocah nakal. Terlihat dari postur tubuhnya yang menjulang tinggi. Dengan jarak sejauh ini aku sudah bisa mengenalinya. Aku berniat ingin segera menghampirinya tapi aku malah melihat sosok pria dari jauh yang diam-diam memperhatikan Dean.
Kebetulan aku tidak jauh dengan pria itu. la berada dibelakang pohon. Setelah aku perhatikan, sepertinya ia bukan orang jahat karena penampilan nya yang sangat rapi, dengan setelan jas yang ia kenakan. Sampai membuatku berani mengampiri pria itu.
"Apa yang anda lakukan disini? Kenapa ngeliatin cowok itu dari jauh?" Aku menunjuk kearah Deandra. Dia tersentak kaget dengan ucapanku karena sudah tertangkap basah.
Dengan cepat ia menarikku dan langsung menutup mulutku dengan tangannya. "Stt! Pelan-pelan kalau bicara!"
"Emph!"
Aku terus melawan aksinya tapi tidak juga bisaku hindari karena ia sangat kuat. Sampai akhirnya ia membawaku agak menjauh dari tempat itu dengan berjalan mundur. Aku mencoba berteriak dengan mulut tertutup sekuat tenanga. Merasa tidak ada cara lain, akhirnya aku mengigit tangan nya kuat. la menjerit kesakitan, lalu melepasku dengan terpaksa.
Tidak mau membuang kesempatan aku pun berlari mengikuti jalan. Tapi orang itu tetap mengejarku, aku tidak bisa berlari dengan keadaan memakai Dress dan High Heels. Sampai akhirnya aku tersandung dan terjatuh, lututku terluka tapi aku masih tetap mencoba bangun lagi.
"Aduh! Sialan!" Refleks aku memaki, setelah terjatuh.
Ku lihat ada tiga persimpangan disini dan aku memilih jalan menyamping yang semakin aku berlari jalanan nya semakin sempit. Tetapi lagi-lagi ia masih berlari mengejarku. Kali ini aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit dikaki ku. Tiba-tiba ada yang menarik tanganku dari sela-sela gedung yang cukup gelap dan ia mendorong ku pelan kearah dinding.
"Ssstttt, jangan bersuara!" Perintahnya yang membuatku refleks bertemu tatapan dengannya.
Deg! Tidak tahu kenapa jatungku tiba-tiba berdetak dengan jarak yang sedekat ini dengan nya. Aku masih menatapnya tanpa berkedip. Sedangkan ia masih sibuk memperhatikan kearah jalan yang sempit itu.
Tempat ini kecil dan sempit. Sehingga membuat kami begitu dekat. Tangannya masih memegangi kedua pundak ku, mencoba menahanku ditembok.
Kulihat ia menghela nafas lalu menoleh kearahku. "Orangnya udah pergi."
Tanpa sadar, kami pun beradu tatap satu sama lain. Membuat jantungku tidak berhenti berdetak.
Jane POV END.