
Ternyata memang benar, jika kantor sebuah perusahaan itu bisa jadi tempat bergosip-ria para pekerja. Deandra sudah merasakan nya sekarang, bagaimana ia menjadi bulan-bulanan para karyawan Dean. Telingganya tak sengaja menangkap beberapa celetukkan sejumlah karyawan yang merundingkan dirinya saat ia sedang membuat kopi di Pantry.
"Jadi dia orangnya, yang sering di omongin karyawan karyawan lain?"
"Aku gak yakin sih, kalau dia punya hubungan yang spesial sama Ibu Jane. Liat aja dia masih muda, imut imut gimana gitu,"
"Sstt! Hati hati kalau bicara, jangan sampai Ibu Jane denger kalau kamu naksir cowoknya!"
"Kan belum tentu kalau dia pacarnya, bisa jadi itu cowok sepupunya?"
Deandra tersenyum tipis mendengar beberapa celetukkan karyawan yang sedang bersantai di Pantry, Dua gelas kopi susu yang ia buat sudah selesai, tak mau berlama-lama ia keluar meninggalkan pantry dan tidak lupa menebar senyuman semanis mungkin kepada karyawan yang tak sengaja berpas-pasan dengannya.
"Aishh! Senyumnya, manis bangettt..."
Deandra terkekeh, pikirnya jika Jane mengetahui tingkah laku karyawan kepada dirinya. Wanita itu mungkin tidak akan memberikan nya izin lagi untuk berkunjun kantornya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
Deandra tersentak menyadari dirinya tertangkap basah. menoleh ke sumber suara, setelah mengetahui siapa pemilik suara, ia mengelus dada nya sambil menghela nafas lega. "Kak Gia ngagetin aku aja."
Gia mengulum senyuman menyadari kecemasan Dean. "Aku tau, kamu pasti mikirnya kalau aku Jane kan barusan?"
Deandra hanya menjawab dengan deheman, sambil mengangguk malu.
"Kenapa Ndra? Apa orang orang di kantor godain kamu ya?"
"Nggak kok!" Jawab Dean dengan cepat, sambil menyadu kata itu.
Gia terkekeh geli. Dia semakin yakin jika Deandra pasti jadi. bahan godaan para wanita dikantor ini.
"Aku masuk dulu Kak." Ujar Dean tidak mau berlama-lama. Pikirnya ia harus segera menghindar dari Gia yang memiliki tingkat penasaran tinggi. Ia tidak mau jika akhirnya Jane mendengar gosip itu.
Deandra melihat intens Jane yang sangat serius dengan pekerjaan nya. Dia berfikir wanita itu sangat menawan jika dalam keadaan seperti ini. Janessa merasa dirinya sedang diperhatikan, demi membuang rasa penasarannya, ia mendongkak dan mendapati Rajendra masih terdiam didekat pintu sambil membawa dua gelas minuman.
"Cantik!" Dean membatin.
"Kenapa kamu cuma berdiri disitu? Duduk aja di sofa! Gak enak di liat."
Dean menurut, sebelum ia berjalan kearah sofa. la memberikan segelas minuman kepada Janessa.
"Kamu jam berapa selesai kerja?" Tanya Dean setelah beberapa saat.
"Semua karyawan disini keluar kantor jam lima sore, kecuali yang ada tugas lembur." Ujar Janessa yang tidak berpaling sama sekali dengan kegiatan nya. Benar-benar seorang wanita karier.
Deandra berdehem. Ia mengerti dengan ucapan Janessa. Sekilas ia memperhatikan arlojinya dan melihat sudah setengah lima sore. Entah apa yang membuat Dean tegang sekarang, wajahnya nampak orang ketakutan.
"Kalau pulang nya sama Jane, artinya semua karyawan di kantor ini bakal ngeliat gue sama Jane? Terus Jane juga bakal denger gosip gosip mereka?" Batin Dean, ia mencoba menimba-nimba apa yang akan terjadi setelahnya. "Gak bisa di biarin!"
"Ekhem! Jane, gimana kalau aku pulang dulu aja?"
Janessa menoleh cepat. "Gak boleh!" Dean berbidik ngeri mendengar ucapan dingin bercampur bentakkan dari Janessa.
"Tapi-"
Sedangkan Deandra sudah mendengus kesal. la selalu kalah jika harus berdebat dengan wanita itu. "Ckck! Nyesel gue udah muji dia tadi," Gumam Dean, ia sangat merutuki dirinya pernah terkagum dengan wanita yang duduk di kursi meja bertulisan Direktur itu.
"Kenapa?" Jane menyipitkan mata, telingga mendengar Deandra bergumam tetapi tidak terdengar begitu jelas apa yang anak itu bicarakan.
Dean tidak menyahuti. Dia lebih memilih mengotak atik handphone nya. Terserah Jane mau mengomel, asal tidak terlihat olehnya.
Sejurus, hanya suara ketikkan Janessa pada keyboard laptop nya yang terdengar. Wanita itu benar-benar menekuni pekerjaan nya. Dean yakin seratus persen jika ada yang melihat Janessa bekerja, orang itu akan langsung terpesona melihat keseriusan dan kecakapan Janessa dalam bekerja.
Deandra menoleh cepat pada suara ketukkan pintu. Disana sudah berdiri Gia yang tanpa menunggu persetujuan langsung membuka pintu dengan lantang.
"Jane, ini udah waktunya pulang!" Jane tidak bergeming, ia masih melanjutkan pekerjaan nya. Gia sudah sangat paham itu.
Deandra melirik arloji dan baru menyadari sekarang sudah hampir setengah enam. Kenapa ia tidak menyadari sama sekali jika matahari sudah tenggelam, Apa karena ia sibuk memandangi Jane.
Jane melirik kearah Deandra. Lalu ia merebahkan punggung nya dengan nyaman."Ayo pulang!" Jane mengemasi barang-barang nya terlebih dahulu. Setelah selesai, ia berdiri dan langsung meraih blazer yang sengaja ia gantungkan.
Tak mau terlihat terlalu dekat. Deandra berjalan keluar duluan dari ruangan nya. Dia sudah berdiri berdekatan dengan Gia yang sekarang keheranan melihat tingkahnya. Sedangkan Jane memincingkan mata mencari keberadaan Dean. Ia menghela nafas setelah menyadari Deandra diluar sana sudah menunggunya.
Jane meraih tangan Deandra ingin segera mengandengnya. Tetapi Dean dengan sigap menepis nya, membuat empunya tersentak.
"Ini masih dikantor!" Bisik Dean.
Gia yang sedari tadi melihat tingkah mereka hanya bisa mengulum senyum.
Jane dan Dean berjalan berdampingan, sedangkan Gia memutuskan mengekori mereka. Sepanjang perjalanan para karyawan yang melihat mereka mencoba menyapa sambil membungkukkan badan, memberi hormat kepada bos besar mereka. Tak jarang juga, ada yang menatap Dean dengan tatapan berbinar membuat Jane kesal tertahan. Apa lagi dengan sadar nya ia melihat Dean malah menebarkan senyumannya.
Di dalam lift, banyak karyawan wanita yang sengaja ingin satu lift bersama bos mereka itu. Sebenarnya bukan itu alasannya, tetapi karena mereka ingin lebih dekat dengan Deandra dan sekaligus mencoba mencari informasi, siapa sebenarnya orang yang menghebohkan seluruh kantor mereka dan ada hubungan apa sebenarnya Jane dan pemuda itu.
Alhasil, lift yang tadinya hanya disi tiga orang, sekarang hampir penuh. Sebenarnya mereka takut kalau-kalau Janessa memarahi mereka. Tetapi rasa penasaran mereka begitu besar. Deandra beringsut, ia menyadari jika tangannya sudah hampir digandeng oleh seorang wanita. Janessa yang berada didepan mencoba melihat dengan ekor mata nya tetapi ia tidak bisa melihat apa yang para karyawan wanita itu lakukan dibelakangnya.
"Hai! Nama kamu siapa?" Bisik seorang karyawan yang mencoba mengandeng tangan Deandra.
Dean tidak menjawab. Jujur ia merasa ilfeel jika ada wanita yang terlalu berani mendekatinya. Jangan kira Jane tidak mendengar, telingga nya sangat tajam. Tetapi ia lebih memilih menahan, ia tidak mau apa yang tidak ia inginkan akan terjadi.
"Aku duluan yaa, bye! " Ujar Gia setelah lift terbuka. Dia berjalan meninggalkan Janessa dan Deandra. Lebih tepat nya meninggalkan Janessa yang sekarang menunggu Dean karena kesusahan keluar akibat dikerumuni karyawan yang berada dalam lift.
Jane berdehem nyaring membuat para karyawan yang sedari tadi tidak menyadari keberadaan nya tersentak kaget. Dean tahu betul jika Janessa akan segera menunjukkan emosinya. Pikirnya ia harus segera bertidak sebelum seluruh karyawan dikantor ini tahu.
Dean keluar cepat, bahkan ia sekarang sudah mendahului Jane. Ternyata semua karyawan masih berada di loby. Membuat Jane kebingungan kenapa mereka belum ada yang pulang. Bahkan loby itu sudah seperti konser pikir Janessa. Dia memperhatikan setiap raut wajah karyawan yang sama sekali tidak berkedip menatap Dean, bahkan ada yang sampai menganga membuat Janessa geram.
Dia berjalan cepat mencoba mencoba menyamai langkah kakinya dengan Dean, lalu dengan santai mengandeng tangan Dean. Tak peduli lagi baginya sekarang yang ia inginkan adalah semua karyawan itu tahu jika Deandra adalah miliknya. Dean mencoba menjauhkan tangannya, tetapi percuma karena Janessa sudah mengandengnya erat.
"Wow! Ini luar biasa sih!"
"KAN! Aku bilang juga apa, liat tuh Ibu Jane gandeng tangan si cowok tadi!"
"Akh! Gemes banget..."
"Aku udah gak bisa berkata kata lagi, aku yakin kalau mereka emang punya hubungan kayak pacaran gitu."