
JANE POV FLASHBACK.
Kulihat Mami sedang mengupas Apel. "Mami!" Mami menoleh kearahku. "Aku mau Apelnya," pintaku sambil mengambil duduk di depannya.
"Kamu ini belum makan. Makanlah dulu!"
Aku mendengus kesal, rasanya aku seperti anak kecil yang lagi di paksa makan. "Mami gak jauh beda sama De-" Mami refleks menatapku iba ketika hampir menyebut nama Dean.
Aku tertegun, seketika aku sadar jika hampir menyebut nama itu. Ya! Dia dulu sering memarahi ku jika tidak makan teratur, dia selalu mengingatkan ku akan hal itu.
"Apa kamu merindukan nya?"
Kalau boleh jujur, aku sangat merindukan anak itu. "Hum! Aku sangat bodoh ya Mam?" Mami kebingungan dengan pertanyaanku. "Gak wajar kalau aku merindukan nya sekarang."
Kulihat Mami menghela nafasnya, ia tersenyum miris kepadaku. Tak lama dari itu, ia bangun dari duduknya dan pergi begitu saja. Mungkin dia tidak ingin mendengarkan keresahan ku.
Pikiranku kembali pada Deandra. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering terpikirkan akan anak itu. Kemana dia sekarang? Rasanya aku ingin sekali, meminta maaf kepadanya agar tidak selalu merasa bersalah.
Mami datang dengan membawa sebuah kotak kecil. "Ini!" Dia menyodorkan kotak kecil itu, aku meraihnya dengan penuh tanda tanya. "Itu dari Dean. Dia nitipin nya ke Mami sebelum dia pergi."
Kebingungan ku semakin bertambah, kapan Deandra memberikan kotak ini kepada Mami? Aku menatap Mami intens berharap dapat jawaban dari semua pertanyaanku. Tetapi nihil, dia hanya kembali fokus kepada Apelnya. Ku buka kotak kecil ini, di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Mataku menyipit, kembali aku menoleh Mami.
"Kamu gak penasaran? Sana baca di kamar!"
Aku kesal, apa dia sudah membacanya lebih dulu? Setelah itu aku lantas pergi ke kamar, ingin secepatnya mengetahui apa isi dibalik beberapa lembar kertas di dalam kotak ini. Setelah ku rasa lebih tenang, aku mulai mengambil kertas pertama, isinya lumayan panjang.
Apa kamu sedang mengingatku sekarang? Jika sudah itu artinya kamu sedang membaca semua isi dari kotak ini. Lewat surat ini, aku ingin menjelaskan semua yang belum sempat aku jelaskan. Aku harap kamu mengerti dan percaya.
Perlu kamu ketahui, jika kesalahanku beberapa tahun yang lalu itu memang di sengaja, tapi yang kamu lihat tidak sesuai dengan kenyataan. Aku memang menemani wanita itu, tapi dia bukanlah siapa-siapa bagiku. Dia hanya orang yang menyewaku, tapi kami tidak melakukan kontak fisik, hanya sebatas aku menemaninya saja.
Hati nuraniku menangis. Kenapa aku tidak tahu jika ia sangat kesusahan pada saat itu, sehingga membuatnya harus melakukan pekerjaan itu lagi. Kekasih macam apa aku, pacar sendiri kesusahan tidak tahu. Dia sangat hebat dalam menyembunyikan kesulitannya itu, selama bersamaku dia selalu bersikap sesantai mungkin. Bodohnya aku yang tidak mau mendengar penjelasan nya dulu. Aku jadi semakin merasa bersalah, waktu juga tidak akan bisa kembali diulang. Ku ambil kertas selanjutnya.
Terimakasih atas tiga hari terakhir. Aku sangat menikmati hari-hari itu, dan kuharap kamu juga. Berkat semua itu, aku tau dan sangat sadar jika kamu sudah tidak ingin bersamaku, atau bahkan mencintaiku. Karena itu aku melepasmu, dan menjadikan perpisahan kita semanis mungkin. Sekarang kamu bahagia bukan? Ku harap iya, semoga kamu bahagia selalu Love you! D.M
Ini bukan apa yang aku pikirkan. Teringat akan hari-hari itu, dimana aku kesal kepadanya karena telah menganggu waktuku. Dean maafkan aku, jika aku tahu itu adalah kali terakhir aku bersama mu, pasti akan ku buat semenyernangkan mungkin. Rasanya aku tidak sanggup membaca seluruh isi surat ini, tersisa tiga kertas lagi.
Jane! jangan terlalu posesif terhadap kekasih baru mu, hm? Semoga kita dipertemukan di kehidupan lain nantinya. Aku menyayangimu jangan anggap aku musuh karena pernah menyakitimu, kita berteman sekarang, bukan? D.M
Bodoh! Asal kau tahu hanya kepadamu lah aku bersikap posesif. Aku sangat merindukan kamu Dean. Jujur selama aku menjalin hubungan dengan pria bajingan itu, aku tidak pernah mengekangnya. Dia lebih tua dariku, rasanya sifat posesif ku tidak mau muncul, malah aku tidak begitu cemburu melihatnya dekat dengan pegawai wanita di kantornya.
Jika kamu membaca bagian ini, aku harap kamu selalu mengingatnya. Jaga kesehatanmu, tidurlah yang cukup, makan yang teratur, jangan lupa senyum karena cantikmu nambah kalau lagi tersenyum. Satu hal lagi, pergi berliburlah sesekali. Percuma uangmu itu jika tidak digunakan. D.M
Sesabar itukah kamu? Dalam kesakitan tapi kamu masih mempedulikan ku yang jelas-jelas penyebab rasa sakitmu. Aku sangat merindukan perhatian kecil darimu, Dean. Perhatian yang bisa dikatakan selalu membuatku kesal, sehingga membuatku masih jelas mengingat perkataannya, bagaimana dia mengucapkan nya dan gaya bicaranya, aku masih mengingat itu.
Dikertas terakhir ini, tidak ada kata-kata lagi yang dapat ku rangkai. Aku tidak tahu, harus bagaimana lagi aku menyampaikan nya, jika aku benar-benar mencintaimu. Kamu boleh menganggap ku bodoh karena bertahan sampai saat ini. Aku mencintaimu, kamu hanya perlu tau itu, biar aku yang merasakan nya. Karena aku tau bagimu aku tiada. Maaf jika aku membuatmu menangis lagi. Jangan mencariku, aku tidak kemana-mana kamu masih tetap dihatiku. Love you! D.M
Kenapa kamu tidak tahu jika jauh dilubuk hatiku, aku masih sangat mencintaimu. Sungguh aku menangis membaca tulisan dikertas terakhir darinya. Andai kau tahu saat itu, Argh! Bodohnya aku, jika dia tidak akan pernah tahu, aku masih menyayanginya. Aku hanya terjebak didalam dua hati, yang aku tidak tahu yang mana harus ku pilih. Pada saat itu aku tidak mau meninggalkan Dean, tetapi aku juga ingin memiliki Andry.
Bukankah itu wajar dalam hubungan, jika siapapun pasti bisa atau ada yang memiliki rasa terhadap orang lain, apalagi orang lain itu bersikap manis dan mendekati beratas namakan cinta. Siapa yang tidak akan tergoda? Dan bodohnya orang yang tergoda itu sudah memiliki kekasih. Tapi aku tidak mau menyalahkan cinta, karena aku lah yang salah disini. Kesalahan besarku terhadap Deandra, orang yang jelas-jelas berjuang pada saat itu.
Sampai aku tidak menyadari jika Mami sudah tiba-tiba berada disampingku. Kapan dia masuk? Aku mendongkak, ia menatapku sayu. Tangan nya terulur mengelus rambutku. Sungguh air mataku jadi semakin deras dibuatnya.
"Ada kalanya, apa yang telah kita tinggalkan pasti akan kita cari lagi." Ucapnya di sela-sela dia mengelus rambutku.
Mami mendudukkan pantat nya didekat ku dan langsung membawa ku didekapan nya. "Mam, Dean... Hiks! Aku ingin mencarinya, aku kangen dia Mam!"
Mami tidak menyahut lagi, ia lebih memilih menenangkan ku. Cukup lama aku menangis dipeluk kan nya, dan ini pertama kali bagiku menangis di hadapannya. Biarlah, kali ini saja aku menangis karena masalah percintaan di depannya, aku tidak peduli asal aku bisa merasa puas jika sudah menumpahkan semuanya.