MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
LES PRIVATE



Irene dan Jihan yang sedang makan siang bersama sambil mengistirahatkan badan mereka yang terasa penat. Memang kakak beradik ini tidak bisa saling berjauhan. Mereka akan saling membutuhkan dalam keadaan apapun.


"Han, kamu kenal gak sama temennya Deandra yang jemput dia di cafe waktu itu?" Tanya Irene tiba-tiba.


Jihan menyuap makanannya perlahaan, ia sedikit berfikir dengan apa yang ditanyakan kakaknya itu.


"Hum.. Siapa ya? Aku cuma inget mukanya, kalau namanya aku gak tau. Kenapa emang?"


"Akh, Nggak! Kakak semalem ketemu dia, terus dia nanyain Deandra sama kakak," Adu Irene membuat Jihan refleks memberhentikan aktivitas makannya.


"Kok? Kenapa nanyainnya sama kakak? Emangnya mereka gak ketemu di sekolah gitu?"


Irene mengedikkan bahu, tidak tahu. "Kakak juga gak ngerti tuh, sama bocah-bocah itu,"


"Kayak ada yang gak beres gitu deh kak,"


"Gak beres? Maksud kamu gimana?"


Jihan menyibakkan rambutnya. "Gak mungkin dia nanyain Deandra sama kakak kalau mereka ketemu di sekolah,"


Irene mengangguk mengerti. "Iya sih.. Dah ah terserah deh, kenapa jadi kita yang pusing mikirin."


Di kepala Jihan terus bertanya-tanya, apa yang sebernarnya terjadi kepada Deandra? Sampai sahabatnya menanyakan keberadaannya dengan orang lain yang jelas-jelas tidak mungkin mengetahui keberadaan Dean. Sudah satu minggu Jihan tidak bertemu dengan cowok itu.


Karena terlalu penasaran, Jihan memutuskan untuk menghubungi Deandra. Beberapa kali percobaan tetapi nomor cowok itu tidak juga bisa di hubungi. Lalu Jihan memutuskan untuk mengirimi Gia pesan, ia baru ingat jika Gia mengajar di sekolah itu. Jadi apa salahnya jika ia menanyakan keadaan anak itu kepada Gia kan?


Di Sekolah.


Bel masuk jam terakhir sudah dibunyikan. Dean dan keempat sahabatnya sedang berjalan bersampingan menuju kelas mereka. Karena mereka baru selesai bermain Basket.


"Huft! Udah lama kita gak main basket," Kata Iyan, sambil mengelap keringat di pelipisnya menggunakan tissue.


Jose merangkul Iyan. "Iyakan? Gara-gara Kepsek baru itu tuh! Pelajaran olahraga malah di batasi," Keluhnya.


Refleks Gara melirik kanan kiri. Takut kalau-kalau ada yang mendengar ucapan Jose. "Sstt! Minimal liat-liat kalau ngomong! Nanti orang nya denger, tau rasa lo senasib kayak Dean yang ada,"


Sedangkan Deandra namanya disebut, hanya bisa diam seribu bahasa. Ia tidak mau menanggapi celotehan para sahabatnya itu.


"Ohh iyaa! Gue sampe lupa, kemaren anak-anak di kompleks gue nanyain kalian lagi. Mereka bilang mau nantangin kita basket, jumat sore," Alvin yang baru ingat dengan pesan beberapa anak di sekitaran kompleks perumahan nya yang menantang untuk bermain Basket.


"Ckck! Sok banget nantangin, kayak masih punya nyali aja. Ayo aja kita ladenin mereka," Kata Jose.


"Sorry guys! Kayaknya gue akhir-akhir ini bakal sibuk banget," Keluh Dean, akhirnya cowok itu bersuara.


Iyan Menarik-narik ujung baju Dean seperti anak kecil yang ingin minta sesuatu kepada orangtuanya. "Ayolah Ndra.. Gue mohon, hum?" Iyan memoutkan bibirnya, berharap Dean luluh dengan rayuannya.


Sedangkan Dean yang melihat kelakuannya langsung mendorong wajah Iyan.


"Anjir lo, sakit begoo!"


Sahabat-sahabatnya yang melihat itu tertawa melihat Deandra yang mencoba mengindari Iyan karena dengan sengaja nya Iyan malah semakin merengek seperti anak kecil. Tak terasa mereka pun tiba di kelas dan mulai menghampiri bangku masing-masing, mereka duduk di barisan terakhir dengan Iyan dipojok kiri, Gara di sebelah bangku Iyan, Deandra di sebelah bangku Gara dan Jose berada jauh di pojok kanan karena di sebelah Dean masih ada dua orang murid lainnya. Sedangkan Alvin duduk di depan Deandra.


"Anak-anak, keluarkan buku Matematika kalian?" Perintah Gia, dia masih dalam keadaan berjalan menuju meja Guru.


Semua murid di kelas itu pun langsung mengeluarkan buku mereka tapi tidak dengan Dean, ia malah membaringkan kepalanya di meja. Gia yang mulai melihat-lihat kearah siswa-siswi langsung membulatkan matanya setelah dilihatnya Deandra ada di kelas itu. Karena sebagian Guru belum ada yang tahu jika Dean mulai masuk sekolah lagi.


Gia kebingungan, ia lantas mendekati bangku Dean untuk memastikan apakah itu benar-benar murid yang satu minggu ini mogok sekolah. Setelah dirasanya benar jika itu Deandra, Gia malah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak itu yang selalu tidak pernah serius dalam pelajarannya.


"Deandra Malik! Apa kamu mau kayak gini terus?" Ucap Gia sambil mengetuk-ngetuk meja Dean menggunakan Spidolnya.


"Hmph.. Lagian kenapa pelajaran ibu selalu jam trakhir? Apa lagi matematika. Otak kecil Dean selalu mengeluh kalau udah mulai mikir." Keluh cowok itu, dia masih membaringkan sisi kanan wajahnya di meja.


Gia yang mendengar perkataan Dean hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dan kembali kedepan untuk menjelaskan pelajaran.


Beberapa Waktu berlalu, Di tempat Pemotretan Jane.


Diruang pemotretan Jane yang nampak sibuk sesekali melakukan pergantian kostum karena ia sedang mendapat kontrak menjadi brand ambassador terkenal.


"Istirahat dulu, Jane!" Perintah sang Photografer.


Jane langsung pergi ke ruang istirahat, ia menghela nafas setelah teringat akan satu hal jika Deandra malam ini sudah mulai menjalankan Lesnya.


"Apa Kakak udah nyiapin guru les buat anak itu?" Tanya Jane kepada Grace.


Grace tidak mengerti, diamengerutkan keningnya. "Guru Les? Maksud kamu gimana?"


Sekali lagi Jane menghela nafas. Ia merutuki dirinya, bahkan ia lupa jika tidak memberitahu Grace bahwa Deandra mulai Les malam ini, dan bahkan Grace belum mengetahui jika cowok itu sudah kembali ke sekolah.


"Anak nakal itu! Dia udah sekolah lagi,"


"Kamu serius? Duh gimana? Aku aja belum tau dia sekolah lagi, gimana mau nyiapin guru les buat dia coba? Bilang aja ke dia kalau malam ini di tunda dulu!" Grace malah balik memerintah.


"KAK GRACE! Aku gak punya nomor hp dia," Gemas Jane, bahkan memikirkan untuk bertukar nomor telepon saja tidak ada di benak Jane. "Biarin aja deh kalau dia datang tinggal suruh pulang aja,"


Grace menatap intens Jane. la menyadari akan satu hal. "Wait! Kalau kamu gak punya nomor hp dia, gimana caranya dia bisa tau apartemen kita? Kan gak mungkin kalau gak kamu hubungi dulu,"


Jane  terkesiap, ia bingung harus menjawab apa. Sekali lagi ia merutuki dirinya. Bisa saja ia ketahuan jika dirinya diantar Deandra kemarin malam.


"Akh, itu! Yaa.. A-aku udah kasih alamat ke dia. Iya, aku udah kasih ke dia tadi pagi," Bohong Jane, ia sampai terbata-bata karena sedikit gugup.


"Hem, yang bener?" Grace yang masih tidak percaya karena melihat kegugupan Jane.


Jane mencoba menetralkan gaya bicaranya lagi. "Udah deh jangan banyak tanya, aku capek banget."


Jane melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua puluh. Terlintas dipikirannya. Apakah Deandra sekarang sudah menunggunya atau belum?