MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
BERTAHAN ATAU TIDAK?



Jane melempar asal tas tangan miliknya di sofa ruang kerja. Wajahnya memancarkan kekesalan. Gua masuk dilihatnya Jane yang nampak seperti seekor macan betina ingin segera menerkam.


"Kenapa?" Tanya Gia hati-hati.


Jane menatap Gia sekilas, lalu mendengus kesal. "Gak tau akh, kesel! Dia itu maunya apa sih? Di baikin salah, di marahin apa lagi!" Celoteh cewek itu.


Gia meringis, lalu mencoba mendekati Jane. "Mungkin dia gak mau kalau sampai bikin kesalahan sama kamu,"


Jane menoleh kepada Gia yang tiba-tiba ada di sampingnya. "Sejak kejadian satu tahun yang lalu kan kamu slalu aja bersikap acuh sama dia, malahan kamu slalu aja ngomelin dia tuh. Tapi Jane! Ngomong ngomong, kamu masih gak peduli sama dia?"


Jane terdiam seketika. "Kalau dia beneran sayang sama aku, harusnya dia marah pas liat aku jalan sama cowok lain,"


Gia menghela nafas. "Yaa.. Kalau dia gak sayang sama kamu, dia gak mungkin dong sampai sekarang masih memperhatikan kamu gitu aja. Kamu udah gak peduliin dia aja, dia nya masih bertahan tuh!" Jane menatap Gia, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Gia. "Sekarang kamu jujur! Kamu masih cinta sama dia atau nggak?"


Jane mengangguk ragu. "Tapi aku gak yakin! Jujur, ada orang selain dia di hati ku, tapi aku juga gak bisa ninggalin dia gitu aja," Jujur Jane.


"Mas Andry?" Jane mengangguk lagi, menyebut nama Andry membuat Gia teringat pesan cowok itu. "Ngomong-ngomong tadi dia datang kesini nyariin kamu terus dia nitip pesan, katanya ntar malem dia mau ngajakin kamu ke acara birthday party sahabatnya,"


Jane sumringah mendengar ucapan Gia, lalu langsung mengambil handphone miliknya di dalam tas. Sedangkan Gia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah atasan sekaligus sahabatnya itu.


Beberapa waktu berlalu. Kini Jane sudah berada disebuah club, bersama Andry. Mendatangi pesta ulang tahun sahabat Andry. Pesta yang modern dengan musik DJ, banyak anak muda yang berdatangan, terlihat dengan hampir penuhnya tempat itu.


Sedangkan di sisi lain. Deandra yang sudah berada di dalam lift, ingin menemui Jane. Sudah hampir lima bulan dia tidak memasuki unit apartment Jane karena kejadian satu tahun yang lalu membuat mereka jarang bertemu.


Ting! Segera Rajendra, menuju unit Jane dan langsung menekan bel.


Ceklek! Pintu terbuka menampakkan Jihan yang membukakan pintu untuk Dean.


"Kamu!" Dean tersenyum. "Akh! Jane nya lagi gak di rumah, Ndra!" Ucap Jihan sedikit tidak enak untuk memberitahu cowok itu.


Dean mengerutkan keningnya. "Kemana dia Kak?"


Jihan tampak berpikir, harus memberi tahu atau tidak. Deandra semakin kebingungan melihat tingkah wanita di depannya.


"Hum.. Itu, Ndra-"


"Kak Jihan bisa anterin aku gak?" Potong Dean yang seperti mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Jihan mencoba menimbang-nimbang, dia menatap Deandra yang terlihat sendu. Lalu menghela nafas.


Disinilah mereka sekarang, di club acara ulang tahun sahabatnya Andry, mereka bisa masuk karena Jihan memiliki koneksi. Cuaca yang sedang turun hujan, membuat club terasa dingin.


Deandra mencari-cari sosok Jane, banyaknya orang membuat Jendra harus berusaha lebih keras lagi. Apa lagi suara musik DJ yang menusuk di telinga.


Jihan menyipitkan matanya, melihat orang di depan mereka, lalu tanpa sadar ia menyenggol tangan Jendra, refleks Dean menoleh kearah tatapan Jihan. Terpampang lah disana, Jane dan Andry sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya.


Deandra melangkahkan kakinya. "Ndra!" Jihan menahan tangan cowok itu.


Jane membulatkan matanya, melihat kedatangan Deandra. Cowok yang masih berstatus pacarnya itu langsung menangkap pergelangan tangan Janessa, mencoba menariknya, tetapi Jane menahan tangannya. Deandra menghela nafas, dan melepas tangan Jane dengan terpaksa. Di bukanya jaket tebal miliknya dan langsung memakaikan nya kepada Janessa. Andry yang melihat itu tampak bingung.


"Diluar turun hujan," Kata Dean sambil memakaikan jaket itu. "Jangan pulang malem malem kalau bisa! Terus hati hati nanti pulang nya yaa.."


Dia menatap Jane dengan mata sayunya, lalu kepada Andry dan mencoba tersenyum. Lantas dia berbalik dan melangkahkan kakinya untuk menjauh.


"Ayo kak kita pulang!" Ajak Deandra pada Jihan.


Di dalam mobil, tidak ada yang mau berbicara. Deandra yang sedang menenangkan hatinya, dan Jihan yang tidak mau mengganggu Deandra menyetir.


Tapi Jihan berusaha mencuri pandang, Deandra sadar sedari tadi wanita yang bersamanya pasti kebingungan dengan tingkahnya.


"Kak—" Deandra memberhentikan mobil itu lalu menoleh kepada Jihan. "Nanti, kalau Jane udah gak sama aku lagi. Kakak janji ya, buat slalu jaga dia!" Mohon Dean sambil mencoba mengukir sebuah senyum.


Jihan menatap Deandra intens. Menurut Jihan, Dean sedang memaksakan senyuman nya, dia bisa melihat mata Deandra yang nampak sendu.


"Kenapa kamu tadi gak bawa dia pulang?" Tanya Jihan penasaran.


Deandra menggeleng. "Gapapa kak, biarin aja! Dia bahagia di tempat itu sama orang itu," Ucapnya sambil menyandarkan punggungnya. Karena dia sempat menarik tangan Jane tetapi Jane menahannya, itu artinya Janessa masih tetap ingin disana.


Jihan nampak kasihan melihat Deandra yang memaksakan hatinya yang sedang rapuh. Tangan nya refleks menyentuh bahu Dean.


Dean menatapnya. "Gapapa kok kak! Dean baik-baik aja! Ayo kita pulang, udah dingin banget!" Katanya lalu menjalankan mobilnya.


Keesokan harinya. Kejadian semalam membuat Jihan marah besar kepada Jane. Bagaimana pun juga Jane sudah memiliki kekasih, tetapi dia dengan santainya jalan bersama lelaki lain di depan pacarnya sendiri.


"Kamu bodoh, Jane!" Maki Jihan kepada adiknya itu.


Jane tidak terima Jihan mengatakan nya bodoh. "Kakak apa apaan sih! Jangan ikut campur urusan ku!" Pekik Jane tidak kalah emosi.


Soya tersenyum sinis. "Oh, ya! kalau kamu suka sama cowok lain, putusin Deandra!" Bentak wanita itu.


"Kenapa emang nya? Kakak mau ambil Dean, iya?!" Prustasi Jane.


Jihan tertawa garing. "HAHA! Kamu masih cemburu sama kakak mu sendiri, hah?! Asal kamu tau, semalem Dean rapuh banget! Tapi dia masih maksain dirinya buat tetap sama kamu dan nerima semua kelakuan jijik kamu itu! Kakak gak mau tau kamu harus putusin dia!"


Amarah Jane sudah mencapai puncak. "Kalau aku gak mau mutusin dia kakak mau apa, hah?! Lagian itu balasan dendam ku sama dia atas apa yang udah dia perbuat setahun yang lalu!" Jane pergi meninggalkan ruang tamu.


Bruk! Dia membanting pintu kamarnya kuat. Jane begitu kesal, kenapa Deandra begitu santai membiarkan nya bersama orang lain. Tetapi ada satu hal yang tidak Jane ketahui kenapa Dean bersikap seperti itu Dean mulai menyerah dengan tingkah Jane yang selalu mengabaikannya.


Air mata sudah membasahi pipi Jane, ada rasa bersalah dilubuk hatinya. Tetapi ego selalu menguasainya.


"Sekarang terserah kamu, Ndra! Aku juga gak tau harus gimana, apa aku harus pertahanin kamu atau nggak? Yang jelas aku masih cinta dan sayang sama kamu, meskipun udah ada orang lain juga di hatiku." Gumam Jane.