
JANE POV FLASHBACK.
Sudah hampir satu setengah tahun aku mencari Deandra. Tetapi anak itu tidak bisa ditemukan juga dimana keberadaannya, sampai kebelahan dunia sekalipun. benar-benar pesembunyi yang hebat. Entah kenapa setelah membaca semua isi suratnya, aku jadi semakin kepikiran akan dia. Mungkin aku benar-benar akan menyesal seumur hidup.
"Jane, waktunya makan siang." Aku tidak menanggapi ucapan Gia, sudah kesekian kalinya aku mengabaikan nya jika sedang memikirkan perihal tentang anak itu.
Gia berjalan mendekati meja kerjaku. "Mau sampai kapan kamu kayak gini?" Aku hanya bisa menghela nafas berat mendengar kalimat yang sudah sangat sering kali aku dengar. "Kalau emang jodoh, kalian pasti di pertemukan lagi kok." Dan ini juga kalimat yang sudah sering aku dengar.
Aku tidak mau mengandalkan takdir atau kata jodoh sekalipun, yang aku inginkan sekarang adalah bertemu dengan Deandra. Aku sangat merindukan nya. Apa kalian pikir aku akan menyerah untuk mencarinya? Jawabannya adalah tidak! Aku tidak akan menyerah untuk hal itu. Jika aku tidak bisa lagi bersamanya, melihat dan meminta maaf saja sudah cukup bagiku. Aku bukan dibutakan karena cinta, atau apalah itu. Aku cuma menyadari jika aku mencintainya, dia yang pertama dan mungkin yang terakhir bagiku. Sekarang, anggap saja aku wanita tidak tahu malu yang ingin mengambil lagi apa yang sudah aku lepaskan.
Untuk mencintai pria lain, bagiku itu sangat kecil kemungkinan. Banyak yang mendekatiku, tetapi tidak ada yang seperti Deandra yang bisa membuatku kesal, menangis, bahagia tertawa secara bersamaan. Aku tidak suka pria yang terlalu romantis yang selalu berucap tetapi tidak pernah ada bukti nyata, aku lebih suka pria dengan tindakan.
Deandra itu meskipun usianya jauh dibawahku, tetapi dia bisa membuatku melayang terbang dengan semua perlakuan manis sekecil apapun itu. Deandra tidak pernah berjanji ini itu, romantis nya beda, dia lebih suka melakukan tindakkan manis dari pada dengan ucapan. Seperti halnya, membawa makanan secara tiba-tiba, datang ke lokasi pemotretan waktu dulu aku didunia Modelling untuk menyupirkan aku jika pulang pemotretan.
Argh! Intinya dia sangat beda, membicarakan nya jadi semakin merindukan akan hal itu. Deandra aku merindukan mu!
JANE POV FLASHBACK END.
Dean tertegun, ia menatap Jane dengan penuh pertanyaan yang ada di kepalanya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa tersendu. Matanya berkaca-kaca, air mata yang hampir menetes tidak lagi bisa dibendung. Seketika mereka saling diam, hanya hembusan angin yang terdengar. Dean beringsut mengikis jarak mencoba mendekati wanita yang kini sudah meneteskan air matanya, Jane menyeka air mata yang jatuh dipipinya dengan kasar.
Tanpa babibu Dean membawa Jane ke dalam pelukannya, ia mendekap menaruh kepala wanita itu didadanya. Setelah merasa Jane sudah cukup tenang, Deandra yang sedari tadi banyak pertanyaan dikepalanya mengakhiri pelukannya. Dia menyeka air mata Jane yang masih tersisa.
"Jadi anak waktu itu?" Deandra sadar, dia tidak harus bertanya akan hal itu. Tetapi rasa penasarannya begitu besar.
Jane terkekeh geli mendengar pertanyaan Dean, ia sangat yakin jika Jendra waktu itu mengira gadis kecil yang bersamanya adalah anaknya. "Dia keponakan ku," refleks Dean menatap Jane, rasanya dia tidak percaya. "Dia anak kakak sepupuku yang berkunjung minggu lalu, dan waktu itu kebetulan kakak sepupuku pergi ke undangan sama Mami. Jadi dia nitipin anaknya sama aku soalnya cuman aku yang ada dirumah."
Deandra terdiam, mencoba mencerna semua isi cerita Jane, dan jujur ia masih tidak begitu percaya. Tetapi jauh dilubuk hatinya ada rasa bahagia mengetahui jika Jane belun jadi milik seseorang. Deandra berdehem menetralkan rasa hatinya yang sekarang ingin melompat-lompat. Dia harus bersikap biasa saja, itu yang harus Dean lakukan.
"Jadi, apa kamu udah punya pacar sekarang?" Jane merasa harus bertanya to the point, agar tahu jika orang yang selama ini ia tunggu sudah berpindah kelain hati atau belum.
Deandra menimba-nimba harus dijawab atau tidak. Tiba-tiba ide muncul dipikirannya. "Hum.. Apa harus ku jawab?" Bukan ini yang sebenarnya ingin ia katakan. "Maksudnya, apa kamu percaya kalau aku udah punya pacar?" Sungguh ini bukan jawaban yang ingin Jane dengar, karena bukan jawaban malah Dean balik bertanya.
"Aku udah punya seseorang di Jogja," Jane hanya bisa mengulum bibir mendengar jawaban yang tidak dinginkan nya. Sungguh ia tidak tahu jika itu sebuah kebohongan dari Dean.
"Apa aku udah gak punya kesempatan lagi, hm?" Jane tersendu, dipikiran nya ia ingin bersama Jendra kembali, tetapi dia juga tidak ingin mengambil milik orang lain. "Tapi kamu udah sama orang lain, aku gak mau jadi pelakor," Lanjutnya.
Deandra menolehkan wajahnya kearah lain, dia ingin terkekeh melihat sikap Jane. Tapi dia harus melakukan itu, Jane juga harus merasakan bagaimana rasanya berjuang demi seseorang.
"Hum... Aku kasih kamu kesempatan, soalnya dulu kamu juga pernah ngasih aku kesempatan," Jane terbelalak, ada senyuman kecil dibibir nya tetapi Deandra malah bersikap biasa saja. Dipikiran nya jika orang yang selama ini dia tunggu telah benar-benar melupakannya.
"Tapi aku gak mau di cap pelakor." celoteh Jane.
Deandra menyadari, apakah dia harus terus meneruskan kebohongan nya. "Berjuanglah kalau kamu mau," Jane menatap tak percaya, rasanya dia merasa dipermainkan oleh Dean. Tapi apa lah daya bagi nya yang menginginkan Deandra kembali dan dia harus sedikit berjuang.
"Terus pacar kamu gimana?" Ini pertanyaan yang sangat penting bagi Jane, karena Dean harus memikirkan nasib sang kekasih.
Sumpah Deandra merasa sangat gugup, apa yang harus dia jawab? Ia tidak memikirkan akan hal itu sebelumnya. "Ekhem! Ya-yaa.. Kamu coba berjuang dulu lah! Nanti kalau aku udah ngeyakinin hati ku, dan kalau aku milih kamu. Yaudah, kamu boleh minta izin sama orang itu dan kita pergi ke Jogja sama-sama. Tapi kalau aku milih dia, kamu harus ikhlasin!" Ide ini sangat cemerlang bagi Deandra, ia tersenyum dalam hati menyadari kejeniusannya.
Jane mengangguk-angguk mengerti. "Tapi, gimana kalau dia gak mau ngelepasin kamu?"
"Dia orangnya sabar banget kok, dia pasti nge-ikhlasin demi kebahagiaan aku nantinya. Lagian aku belum tentu juga milih kamu kan?"
Jane mendengus kesal, dia benar-benar dipermainkan oleh bocah yang usianya jauh dibawahnya, saat ini. "Kalau aku bisa ngambil hati mu lagi. Kamu mau apa, huh?"
Deandra menghela nafas. "Yah.. Itu artinya kita balikan, dan kita on the way ke Jogja. Berjuanglah!" Sungguh Deandra tertawa dalam hati, mulai sekarang dia harus acting untuk bersikap biasa saja dan tidak mempedulikan Jane, dia ingin melihat sebesar apa perjuangan Jane akan hal itu.
"Oke.. Fine! Aku terima tawaran kamu, kita liat aja nanti." Jane begitu ingin memakan bocah di sampingnya ini sekarang juga. Ia berjanji pada dirinya akan membuat bocah ini bertekuk lutut kembali lagi dihadapannya.