
"Hai Dean!" Sapa Jihan.
Dengan cepat cowok yang dipanggil Dean itu menoleh kearah suara yang menyebut namanya.
"Lah, Kak Jihan! Kalian ngapain kesini?"
Jihan tersenyum manis. "Kami mau nyamperin Jane nih,"
"Oalahh.." Kata Dean beroh-ria.
Ketiga sahabatnya Speechless, melihat Dean dan wanita itu saling mengenal. Tetapi tidak dengan Sagara, karena ia sudah tahu lebih dulu.
"Ndra! Mereka siapa?" Bisik Jose.
Dean tersadar, ia sampai lupa jika ketiga sahabatnya belum mengenal Jihan dan Irene. "Akh, ini! Mereka Kak Jihan sama Kak Irene. Nah! Mereka ini Kakaknya Bu Kepsek,"
"Hai adek-adek!" Sapa Irene dengan sambil tersenyum manis.
Merekapun berkenalan satu sama lain dan saling berjabat tangan.
"Ohiyaa! Ruangannya Kepsek dimana?" Tanya Irene setelah beberapa saat.
"Di lantai 3 Kak!" Dengan cepat Gara menjawab, ia tidak mau sampai keduluan para sahabatnya. "Nantikan udah di lantai 3 terus belok kanan habis tu lurus aja, nah kalau ada pertigaan belok kanan lagi, sampai deh!"
"Makasih yaa.. Jihan, ayo!" Ajak Irene kemudian.
"Yuk! Sampai jumpa lagi adek-adek.."
Jihan dan Irene langsung melanjutkan langkahnya untuk menemui Jane. Tanpa mereka tahu jika Adik bungsunya itu tidak datang hari ini.
Jane POV
Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi rumah karena aku malas di Apartment, Grace selalu mengodaku. Mengatakan hal yang tidak-tidak. Anak itu selalu memenuhi otakku. Tapi semalam itu sungguh perasaan yang tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata. Kenapa bisa dia membuat jantungku berpacu dengan cepat? Seolah-olah dia menerbangkanku ke angkasa. Senyumnya, matanya, dan bibirnya itu. Apa yang kamu pikirkan Jane? Sampai membuatmu senyum-senyum sendiri.
Janessa! Sadarlah! Kenapa juga kau harus memikirkan anak itu? Tapi apa benar yang dikatakan Grace? Jika aku mulai menyukainya? Jika benar apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sedangkan aku saja belum mengerti Definisi Cinta yang sesungguhnya.
Begitu sampai. Aku langsung masuk dan kulihat sekeliling yang nampak kosong tanpa penghuni. Wajar saja karena ini masih jam kerja. Papi dan kedua Kakakku pasti masih dikantor. Aku menyusuri setiap ruangan untuk mencari keberadaan Mami. Pikirku mungkin Mami lagi di Taman, dan benar saja, disana Mami sedang menyiram tanaman nya.
Aku langsung memeluknya dari belakang. "Miss you Mi.."
Kulihat ia tersentak kaget atas perlakuan ku. "Astaga Jane! Kamu kenapa pagi-pagi gini kesini, hm? Kamu gak ke sekolah?" Tanya nya bertubi-tubi.
"Kenapa? Emang nya Jane gak boleh kesini?"
Mami melepaskan tangan ku yang melingkar dipinggangnya untuk berhadapan langsung dengan ku. "Tuh! Liat dirimu, yang katanya wanita tangguh tapi masih aja manja,"
Ucapannya membuatku memoutkan bibir. "Gapapa ihh! Kan Jane kangen banget sama Mami, tauu.."
Setelahnya, kami berpelukan cukup lama. Memang saat ini aku benar-benar merindukan Mami ku ini. Rasanya ingin ku ceritakan kejadian semalam. Tetapi setelah aku pikir-pikir lagi, itu hanya akan membuatku malu.
Cukup lama kami bersantai, lebih tepatnya aku menemani Mami menonton Televisi. Ku lihat sesekali dia yang tertawa karena acara di Televisi itu, mungkin menurutnya sangat lucu. Tapi tidak dengan ku, aku selalu teringat kejadian semalam. Ini benar-benar semakin menggila. Apakah harus ku ceritakan saja kepada Mami? Tapi.
"Mam!" Lirihku, yang membuat Mami menoleh cepat. "Jane boleh nanyain something gak?"
"Boleh dong sayang.. Kamu mau nanyain apa, hm? Bilang aja!" Perintahnya sambil mengambil cangkir Teh miliknya.
"Dulu, waktu Mami suka sama Papi gimana? Apa yang Mami rasain?"
Uhuk! Uhuk! Pertanyaanku lantas membuat Mami tersedak, dia menyimpan cangkir teh miliknya di atas meja.
"Jane! Kamu gak lagi sakitkan?" Mami malah memeriksa suhu tubuhku, menaruh telapak tangannya di dahiku.
Aku hanya bisa diam menerima perlakuannya. Jujur saja aku sangat malu menanyakan hal itu. Setelah dirasanya keadaan ku baik-baik saja, kini Mami hanya memantapku penuh selidik. Kulihat sekilas ia mengerutkan kening. Lantas tersenyum setelahnya. Aku pun membungkukkan kepalaku. Tidak mau menatapnya karena malu yang ku rasa.
Mami mengangkat wajahku. "Siapa orangnya?"
"Aa-apa maksud Mami? Kenapa nanyain itu, lagian aku kan cuma bertanya gak maksud apa-apa tauu.." Ucapku berusaha menetralkan diriku agar tidak terlihat gugup.
"Hum, emang iya gitu? Yaudah usaha aja jangan sia-siain. Deketin terus jadiin milik kamu!" Ujar Mami yang aku tidak tahu entah apa maksudnya. Wajahnya ia dekatkan ditelinggaku. " Sstt! Jangan kelamaan, nanti di ambil orang lho!" Bisiknya.
"Ish! Mami pliss deh jangan ngeledek! Lagian apaan coba maksudnya? Jadiin milik ku?" Jujur aku malah salah tingkah. "Udah deh!" Tambahku sambil sengaja memoutkan bibir. Berharap Mami tidak mengodaku lagi.
Lagi-lagi hanya tertawaan yang aku dengar. Setiap aku menceritakan nya kepada orang lain pasti akan ditertawakan. Apa coba yang lucu? Hanya membuatku kesal saja.
Jane POV END
Deandra kini sudah berada dirumahnya, ia membaringkan badannya disofa dengan kedua tangan menjadi bantalan. Pandangannya tertuju kelangit-langit atap rumah miliknya. Dean tinggal sendiri dirumah itu, yang tidak terlalu besar, minimalis. Mempunyai 1 kamar, dapur, ruang tengah, kamar mandi dan di isi dengan barang-barang yang modern. Entah apa yang ia pikirkan sampai membuatnya mematung tidak juga memejamkan matanya.
"Apa si Madam beneran sakit gara-gara semalem yaa?" Batinnya.
"Lagian dia kenapa malah jadi aneh gitu? Gue juga kan gak ngapa-ngapain. Nyentuh dia sedikit aja nggak, kan! Secara gak langsung dia juga yang salah coba, ngapain bangunin gue?" Monolog cowok itu.
Getaran ponsel menghentikan lamunan Dean, ia melihat ada pesan masuk dari Alvin. Pikirnya, tidak masuk akal jika seorang Alvin mengiriminya pesan. Pasti ada hal penting, dann benar saja, salah satu sahabatnya itu menanyakan perihal tentang Jihan sekaligus meminta nomor teleponnya.
Tidak mau membuang waktu Deandra langsung memberikannya tanpa fikir panjang. Lagian kan Alvin pemuda yang baik jadi tidak mungkin ia berbuat macam-macam, menurut Dean.
Setelah berbalas pesan dengan sahabatnya itu, Deandra kembali meletakan handphonenya diatas meja. Tapi tidak lama ia meletakan benda pipih itu, kini harus ia ambil lagi karena ada pesan masuk yang setelah ia lirik dari Iyan nama pengirimnya.
Tenyata Iyan juga melakukan hal yang sama seperti Alvin. Dean menggeleng acuh, secara hampir bersamaan kedua sahabatnya itu menyanyakan Jihan. Apa yang kedua sahabatnya pikirkan, kenapa bisa menanyakan satu wanita yang sama.
"Anjir! Mereka tau gak ya kalau bakal ngedeketin cewek yang sama?" Monolog Dean cukup terpikirkan akan hal itu.
"Kalau mereka sampai ribut gimana? Atau bisa jadi mereka sengaja taruhan? Tapi masa iya sih? Elah! Bodo amat dah."
Waktu menunjukkan pukul sembilan Belas tiga puluh. Sekarang Deandra sudah bersiap-siap untuk pergi ke Apartment Jane, melanjutkan Les privatnya. la masih mengamati dirinya di cermin dengan ransel yang sudah di punggung, jaket berwarna biru dongker dengan dalaman putih polos, celana Jeans yang ia kenakan.
Deandra menjentikkan jarinya. "Perfact!"