
Deandra POV.
Aku terus mengikuti mereka dengan jarak yang lumayan jauh di belakang mereka. Aku yakin Jane mulai menyadari ada yang membuntuti mereka, terlihat dengan tingkahnya yang selalu menoleh kebelakang. Lagi-lagi harus ku akui jika posisi ku telah tergantikan. Terlihat bagaimana cara mereka tertawa dan tersenyum bahagia, membuat nyali ku seketika ciut.
"Gue lah yang hatinya tersakiti, disini!" Hati kecilku terus menjerit.
Aku pikir cukup untuk hari ini, ada hari-hari esok yang lebih manyakitkan. Segera aku berbalik, aku harus mencari kopi untuk menenangkan otak ku. Di sebelah sana ada cafe, segera aku melangkahkan kakiku.
Lagi-lagi aku melamun sambil menikmati jus manis yang terasa pahit. Menyadarkan punggungku lalu mendongkak menatap langit-langit cafe. Menghela nafas lagi.
"Huft! Cengeng banget gue, gimana coba mau ngiklasin dia kalau gini aja udah hampir nangis," Monologku.
"Inget, Ndra! Dia gak ngerasain bahagia sama lo!" Lagi-lagi batin ku prustasi terus memaksa hati untuk tetap bersabar lalu iklaskan.
Tak sadar mataku menyusuri seisi cafe ini. Ramai, itulah yang aku lihat. Anak muda dengan pasangan nya masing-masing, dan hanya akulah yang seorang diri.
Deg! Dua orang yang baru saja masuk. Ya! itu Jane dan pria baru nya, tanpa sengaja mataku bertemu dengan mata Jane. Dia menatapku dengan ekpresi yang tidak ku mengerti, lalu mata ku turun melihat tangan mereka yang saling mengenggam. Melihat arah tatapanku, Jane langsung melepas genggamannya. Lalu aku menatapnya lagi, sambil memberikan nya senyuman termanisku. Lihatlah dia begitu lucu dengan ekspresi datarnya itu.
Segera aku bangkit dari duduk ku, lalu menuju kasir untuk membayar minuman ku. Lantas melewati keduanya begitu saja.
"Aku gak mau ganggu kebahagiaan kamu, sayang!" Batinku.
Deandra POV END.
Sudah seminggu setelah kejadian di cafe, hubungan Deandra dan Jane semakin rumit. Jane yang dengan ego nya tidak mau menemui Rajendra duluan, dan Deandra dengan pikirannya tidak mau mengganggu kebahagiaan Jane.
Tapi jangan salah, Dean selalu mengawasi Jane dari jauh. la selalu melihat Jane tersenyum bahagia dengan orang lain, yang Deandra pastikan orang itu pantas bersamanya. Jane tampak gelisah, ada pikiran yang menganggunya. Ia menghela nafas lagi sambil menyandarkan punggungnya di sofa ruangan kerjanya.
"Aish! Apa dia mau nya kayak gini terus?!" Gumam Jane sambil menggerutu.
Jane mengambil handphone di atas meja, melihat waktu sekarang sudah pukul sebelas lewat tiga puluh menit waktu Indonesia bagian barat. Lantas dia bangkit dari duduknya, dan langsung mengambil tas dimeja kerjanya, berjalan meninggalkan ruangan itu.
Dilain sisi, Deandra yang sekarang menikmati waktu istirahatnya di taman kampus lagi. Deandra memang hobby ke taman sejak dari pertama dia merantau ke Jakarta. Menikmati angin berhembus melewati wajahnya. Senyuman tipis tak pernah luntur di wajahnya.
"Aku kangen kamu, lagi!" Batin Deandra.
"Ekhem!" Deheman seseorang menyadarkan bayangan Deandra.
Cowok itu mendongkak melihat siapa yang datang, bagai mimpi bagi Deandra melihat siapa seseorang tersebut yaitu Jane, wanita yang begitu ia cintai.
Jane langsung duduk disebelah Dean. "Apa kamu udah selesai marahnya?" Tanya Jane tiba-tiba.
Jane nampak kesal dibuatnya, karena tidak menjawab pertanyaan cewek itu.
"Kamu kenapa sih, selalu aja ngalihin pembicaraan aku?!" Kesal Jane. "Kamu bisa kan bersikap dewasa sedikit? Kalau kamu emang beneran cinta sama aku, harusnya kamu marahin aku bukan malah bikin aku jadi bosen kayak gini sama kamu!" Omel Jane, sebenarnya ia tidak bermaksud mengatakan kata 'bosan itu'.
"Asal kamu tau, Itu lah yang mau aku perbuat sama kamu sebenernya! Tapi sekali lagi kalau aku gak bisa, malahan aku yang kamu omelin. Aku gak mau pisah kalau lagi keadaan kita gak baik baik aja. Aku janji bakal bikin perpisahan kita semanis mungkin!" Batin Deandra.
Lagi-lagi Jane membahas soal kedewasaan, sejak kejadian Deandra kepergok satu tahun lalu. Jane selalu mengatakan Dean lah yang tidak dewasa.
"Bangun, buruan! Kita cari makan!" Pekik Jane, lalu beranjak mendahului kekasihnya.
Deandra hanya bisa ciut di buatnya. Percayalah jika Dean salah bicara pasti perang dunia ketiga akan dimulai bagi Dean, jadi dia memutuskan untuk 'sabar' dan menerima perlakuan Jane.
Beberapa waktu berlalu. Mereka sekarang di Restoran dekat kampus Dean. Jane yang sedari tadi sudah menikmati makanannya, sedangkan Dean belum menyentuh makanan tersebut. Ia lebih asik memperhatikan Jane menyantap makanan nya.
Jane menyadari jika Deandra sedari tadi memperhatikan nya. Lalu dengan sengaja ia menatap Dean.
"Kenapa gak makan? Gak suka makanannya?" Penasaran Jane mulai jengkel dengan tingkah Dean.
Deandra menggeleng pelan. "Udah lama aku gak liat kamu makannya lahap gini," Ucapnya yang sambil tersenyum.
Jane mendengus. "Udah deh jangan lebay gitu! Gak liat di liat orang, Cepet makan, Ndra!" Perintahnya.
Deandra mengangguk lalu dengan cepat ia memakan makanan di depannya. Jane menggeleng melihat tingkahnya.
Setelah menyelesaikan makanan sekitar lima belas menit, kini mereka berdua berjalan santai menuju taman tempat yang tadi mereka duduk. Cangung, itulah yang mereka rasakan. Tanpa mengobrol dari tadi. Jane mulai kesal melihat tingkah Jendra yang selalu pendiam tidak mau memulai obrolan duluan jika Jendra sedang marah. Marahnya Deandra diam.
"Mau sampe kapan kamu diem aja kayak gini?" Tanya Jane gemes.
"Aku heran banget sama kamu, setiap kali ketemu pasti ada aja yang bikin aku emosi. Kemarin aku mau jelasin soal apa yang kamu liat itu tapi kamu malah gak mau dengerinnya!" Emosi Jane sudah sampai keubun-ubun.
Deandra menghela nafas, lalu memberhentikarn langkahnya. "Aku bukannya gak mau ngajak kamu ngobrol kok, cuman bagi aku cukup kamu di sini itu udah cukup banget-" Jane memberhentikan langkahnya, dan langsung menoleh kepada Dean. "Dan soal itu, aku gak masalah. Kamu bukan milik aku seutuhnya, Jane! Aku gak mau egois, bagi aku ngeliat kamu tersenyum bahagia kayak kemarin itu udah lebih dari cukup," Jujur Dean. Sebenarnya hatinya menjerit ketika ia mengatakan hal itu.
"Yaudah terserah kamu deh! Itu artinya selama ini kamu gak pernah serius. Aku tau kok kalau kamu masih muda, masih mau main main juga!" Celoteh Jane.
Deandra tesenyum kecut. "Kalau aku main main sama kamu, pasti aku udah biarin kamu ninggalin aku dari dulu, Jane!"
Jane kehabisan kata-kata, lalu dengan sengaja dia meninggalkan Deandra tanpa pamit.
"Harus nya kamu bisa sadar sendiri, kalau ada hati yang nyesek sakit hati gara-gara ulah kamu." Batin Deandra lagi. Cowok itu mencoba memaksakan senyuman.