MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
JADIAN?



Deandra yang kini sudah berada di dalam taksi. Karena malam ini ia ada janji dengan seorang wanita.


"Pak, turun disini aja!" Ujarnya setelah ia menemukan lokasi yang diberikan wanita itu.


Dean menatap kagum setelah mendongkak. Cafe yang terlihat sangat mewah. Siapapun pasti tahu jika itu adalah Cafe kelas atas.


"Gilaa! Apa ada acara party disini?" Monolognya, setelah ia melihat ada sejumlah karangan bunga. Banyak lelaki kekar berseragam hitam yang Rajendra pastikan adalah Bodyguard.


"Apa anda punya undangan untuk masuk?" Tanya seorang Bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga pintu masuk.


"Atas nama Ms.Audy!"


Karna wanita itu sudah memberitahu terlebih dulu jika ingin masuk harus menyebutkan nama wanita itu. Betul saja bodyguard itu langsung mempersilahkan Dean masuk.


Untuk yang kedua kalinya Dean terkagum, setelah melihat susana di dalam. la juga merasa gugup karena banyak orang-orang terkenal di dalam itu. Tidak! Bukan banyak lagi, tetapi memang sudah isinya orang-orang terkenal. Matanya terus menyusuri setiap inci, mencoba mencari sesosok wanita yang akan ia temani malam ini.


"Excuse me!" Dean menoleh cepat kepada wanita yang menyapanya. Wanita itu tersenyum, ada kelegaan diraut wajahnya. "Aku udah nungguin kamu dari tadi,"


Deandra bingung, apakah itu wanita yang akan ia temani atau bukan. "Aku orang yang order kamu buat kesini," Mungkin wanita itu bisa membaca isi pikiran Dean.


"Akh! Iyaa.. Maaf yaa." Ucap Dean salah tingkah. Lalu ia mendekati wanita itu. Kebetulan banyak bangku kosong yang tersedia. Tetapi ia harus duduk di samping sang wanita.


Wanita itu adalah senior Jane yang baru datang dari Prancis karena mendapatkan kontrak disana. Banyak model yang berdatangan di acara itu, yang membuat Dean hanya bisa menelan salivanya karena melihat banyak wanita cantik dan pria tampan.


Tiga puluh menit berlalu Dean dan wanita itu sesekali mengobrol dengan tawa di wajah mereka masing-masing entah apa yang mereka bicarakan.


"Kau!"


Deandra menoleh cepat kearah orang yang sekarang duduk didepan mereka dan ternyata orang itu adalah Jane. Hironisnya, meja yang masih terlihat kosong adalah meja yang ditempati oleh Lisa dan sang wanita. Karena mereka hanya duduk berdua disana.


Dean hanya bisa mematung, antara takut bercampur gugup yang la rasa.


"Hi Jane! how are you?"


Jane menoleh kepada wanita yang sedang bersama Deandra. la sampai tidak sadar jika wanita itu adalah Seniornya. "Fine! And you?"


Wanita itu tersenyum cerah. "I'm Fine!" Jane membalas senyumannya.


"Kok bocah ini bisa sama Kak Audy? Pake acara gandengan lagi. Apa jangan-jangan? Aish! Kok hati ku jadi gak terima gini sih liat mereka berduaan?!" Batin Jane.


"Hi Jane!" Seorang pria tiba-tiba datang dan langsung merangkul Jane.


Jane hanya memutar matanya malas, mencoba menjauhi pria itu tapi percuma saja karena pria itu semakin mendekapnya.


"Jane please! Jadilah pacarku," Pria itu memohon sambil mengelus pipi Jane.


Jane hanya menyingkirkan tangan pria blasteran itu tanpa menyahutinya.


"Ayolah Darling, aku udah lama suka sama sama kamu," Pria itu semakin mendekat. Melihat itu Jane berusaha semakin menjauh. Alhasil ia tidak bisa bergerak lagi karena sudah mentok di sofa panjang dengan dua kursi itu.


Deandra sudah mengepalkan tangannya. Matanya sudahlah menatap tajam kepada pria nakal itu. Jane semakin risih dengan pria yang disampingnya. la juga tidak bisa apa-apa, dengan sedikit membrontak tapi tetap saja pria itu mendekatinya. Sampai pada akhirnya pria itu mendekatkan wajahnya kepada Jane.


Janessa sudah tidak bisa berbuat apa-apa, lari pun percuma karena kedua tangan nya sudah dipegang. Rajendra yang melihat itu tidak terima, ekspresi wajahnya memancarkan emosi yang mendalam, melihat pemandangan di depannya.


"WEI!!" Pekik Dean sesantai mungkin. Tetapi sudah berhasil membuat pria itu menggagalkan aksinya. "Apa anda gak liat kalau dia gak suka?" Jane dan Audy refleks menoleh kepada Dean.


"Urusanmu?" Dean yang sengaja mengantungkan ucapannya. Lalu ia menoleh kepada Jane yang sekarang menatapnya sayu. Mungkin Jane tidak nyaman dengan keberadaan pria itu.


"Apa hah?!"


Deandra yang masih menatap Jane tidak menoleh sama sekali kepada pria yang sudah mengeretaknya. "Dia pacar saya," Lirihnya dengan tulus.


Ia berdiri menghampiri Jane. Ia meraih tangan wanita itu dan langsung ditariknya pelan. Dean membawa Jane keluar dari Cafe yang penuh dengan Wine itu.


Wanita yang bersama Deandra sebelumnya, hanya bisa memandang heran. Sedangkan pria blasteran itu sudah memukul meja karena kesal. Janessa terlihat menerima perlakuan Dean tanpa membrontak, dalam hatinya terasa nyaman jika cowok itu memperlakukan nya seperti ini.


Ia mengikuti kemana Deandra membawanya. Malam ini, biarlah Dean yang mendominasi. la tidak mau mempermasalahkan, atas dasar apa Dean menyebutkan dirinya sebagai kekasih.


"Dimana mobil anda?" Tanya Dean.


Tanpa bicara Jane hanya menunjuk kearah mobilnya yang tidak jauh dari mereka. Lalu Rajendra membukakan pintu bagian penumpang belakang untuk Kepada Sekolahnya itu. Bagi Dean, ia harus memastikan wanita itu selamat sampai Apartment.


Diperjelanan tidak ada yang berbicara. Jane yang nyawanya belum terkumpul karena ucapan Deandra menyebut dirinya sebagai kekasih. Sedangkan Dean yang masih kesal dengan pelakuan pria itu.


Sesampainya di Basement. Dean langsung membukakan pintu untuk Jane. Tangannya meraih tangan sang wanita untuk segera ia gandeng. Membawanya berjalan menuju Lift. Di dalam Lift, mereka masih saling membisu. Tetapi tangan Dean yang masih memegang tangan Jane, malahan semakin erat.


Ting! Dean membawa Jane keluar di dalam Lift. la menatap Jane, merasa bersalah.


"Saya minta maaf atas ucapan saya tadi kalau anda tidak suka dan kalau itu membuat anda gak bisa dengan pria itu. Saya hanya kesal kalau anda bersama pria lain di depan saya," Jane hanya bisa diam, ia masih tidak yakin dengan perasaan nya.


"Sekarang masuklah! Saya akan pergi,"


Tak ada satu patah katapun keluar dari mulut Janessa. Setelah Dean meninggalkan nya di pintu masuk Unitnya. Ia hanya mematung mendengar ucapan Dean. Jane masuk dengan keadaan bingung bercampur sedih, dan gelisah. Tatapannya kosong, seakan nyawanya masih pergi entah kemana. Dalam sekejap ia membuka pintu, berlari keluar mengejar Deandra.


Sesampainya didepan Lift, ia menekan-nekan tombol Lift itu. Berharap pintunya akan segera terbuka. Benar saja ternyata pintu Lift itu langsung terbuka. Menampilkan Dean yang masih berada didalamnya. Cukup lama mereka saling menatap, setelah Lift akan tertutup lagi, Jane langsung menekannya kembali.


"Apa saya harus tetap disini?" Jane berdehem menjawab pertanyaan cowok itu.


Dengan langkah pasti Deandra keluar dari Lift. Tanpa berfikir panjang ia langsung menangkap wajah Jane, wajahnya mendekat untuk segera mengecup bibir Jane. Sang empunya refleks menutup mata. Bibir mereka hanya menempel untuk beberapa saat. Menyalurkan perasaan masing-masing.


Dean melepaskan kecupan itu setelah dirasanya puas. Ia tersenyum kecil, sekejap mereka hanya menatap ke manik mata masing-masing. Mencari jawaban atas apa yang mereka rasakan.


"Aku gak tau kenapa bisa kayak gini, aku juga gak tau apakah aku hanya taman bermain untuk kamu. Tapi aku pengen bersenang-senang sama kamu, karena kamu udah bikin aku gila," Akhirnya Jane membuka suara. la sudah tidak tahan lagi untuk menyampaikan isi hatinya. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku juga pengen peluk kamu, nyentuh kamu, suka sama kamu. Jadi bersenang-senanglah denganku dalam keseharian di setiap hari ku," Lanjutnya Setelah mengatakan itu. la langsung mendekatkan wajahnya kepada Deandra, tetapi dengan cepat Dean memalingkan wajahnya.


"Apa kamu menginginkan ku?" Tanya Dean dengan intonasi datar.


"Menurut kamu gimana?"


Deandra langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Jane. Mereka saling memangut, menghisap. Merasa tidak puas, Deandra mendorong pelan Jane. Menyudutkan wanita itu sampai Kedinding. Dengan keadaan mereka yang masih bercumbu.


Deandra yang belum puas. la melumut bibir atas dan bawah Jane sambil sesekali digigitnya. Janessa yang menerima itu hanya bisa membiarkan dan menikmati. Kedua tangannya semakin erat memeluk pinggang Dean. Merasa tidak mau kalah, ia mengubah posisi tangannya, melingkar di leher Dean sambil berjinjit. la juga melumut bibir cowok itu. Ciuman itu jadi semakin agresif.


Ting!


"OMG!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?"