MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
LAMPION



"Jagungnya udah pada selesai dibakar?" Tanya Jihan kepada para Lelaki yang memang ditugaskan untuk membakar Jagung.


Malam ini mereka memutuskan untuk pesta Jangung bakar dihalaman Vila kepunyaan Aryna yang sengaja dia beli kalau-kalau berlibur kepulau itu, Bali.


"Sebentar lagi Kak," Jawab Jose yang keberadaannya tidak jauh dari Jihan.


Deandra mengecek Jagung bakarnya, ingin mengetahui apakah sudah siap makan atau belum. Sedangkan Jane yang duduk dikursi dekat Deandra, yang kini sudah menyelimuti dirinya sambil memegang secangkir teh panas hanya bisa menonton kegiatan Deandra dan para sahabatnya. Mau membantu juga dirinya tidak mengerti, bisa-bisa Jagung itu hangus terbakar.


"Sayang..." itu bukan Jane yang merengek, tetapi Irene.


Jihan sudah menunjukkan ekspresi ingin memuntah mendengar kedua sejoli itu mengumbar keromantisan, lebih terlihat menjijikan bagi yang melihatnya.


"Kak Irene!" Pekik Jihan. "Aku mohon, hargain kami disini! Jangan sok-sok bermesraan di depan kami!" Tambah Jihan, yang membuat mereka malah tertawa.


"Kak Jihan sama aku aja mendingan." Tawar Iyan, ia mengedipkan sebelah matanya mengoda Jihan.


Alvin yang melihatnya. Menatap dengan tatapan membunuh kepada Iyan, tetapi tidak dihiraukan sama sekali.


Jihan hanya mengipasi dirinya dengan tangan mendengar ucapan Iyan, ia merasa hawanya jadi semakin panas.


"Ehh! Apa kalian gak sadar, kalau orang yang sama sama saling diem itu punya keterikatan yang sama?" Deandra berucap sambil menyeringai menatap Gia dan Brayen saling bergantian dengan ujung matanya.


Seketika suasana yang tadinya gaduh jadi sunyi. Semua tatapan tertuju kepada Deandra, mereka tidak mengerti apa yang coba disampaikan nya. Jane mengeluarkan smirk, sepertinya ia mulai menyadari apa yang dimaksud kekasihnya itu. Mungkin karena mereka mempunyai ikatan batin yang kuat.


"Ekhem! Eya.." Panggil Jane kepada Gia yang lebih akrab dipanggil Eya itu. Tetapi tatapan Jane mengarah kepada Brayen, membuat yang ditatap salah tingkah.


Gia tersentak, setelah mereka dengan penasaran menatapnya. Jujur ia yang kadang memang telat dalam hal berfikir yang bukan mengenai pelajaran, membuatnya bingung menerima tatapan itu.


"Heh! Kak Gia lebih cocok sama aku tau!" Jose mendengus kesal, dan Gia baru tahu maksud dari perkataan Deandra setelah mendengar ucapan Jose.


"Apa? Nggak!" Tolak Gia kepada Jose mentah-mentah.


Jose mepoutkan bibirnya setelah mendengar penolakkan dari sang mantan Guru.


"Karna Kak Gia lebih milih Brayen kan?"


" What? Kamu bercanda dengan ku?" Gia menjawab cepat pertanyaan frontal dari Jane. "Kami aja baru bertemu sekali, jadi gimana aku harus menyukainya?" Dia meyakinkan lagi berusaha sesantai mungkin.


Raut wajah Brayen berubah sedih setelah mendengar pengakuan dari Gia. Pikirnya, mungkin tidak ada celah dihati Gia yang bisa ia miliki.


"HEH!" Gertakan dari Alvin membuat teman-teman nya tersentak kaget. "Dari tadi kalian sibuk bahas percintaan. Coba liat sini, jagung nya udah hampir gosong nih, Liat!" Celetuk Alvin, ia sudah sibuk mengangkat beberapa Jagung yang hampir menghitam karena gosong.


Sejurus mereka kewalahan karena Jagung yang jumlahnya sangat banyak itu harus mereka angkat secepatnya.


Sedangkan para wanita menyiapkan piring bersih untuk menampung beberapa Jagung, dan sebagian menyeduh teh panas, yang memang cocok untuk menemani mereka menyantap Jagung bakar.


Setelah semuanya selesai. Mereka dengan hikmat menikmati Jagung dan sekangir teh panas. Kadang bercanda, mengobrol tidak jelas tak jarang juga mereka tertawa bersama. Ada kalanya satu diantara mereka harus menjadi bahan tawaan dan berakhir kesal.


Tetapi tidak sampai harus berkelahi, meskipun kadang Jihan dan Jane saling berdebat. Bagi mereka yang memang mengetahui sifat diantara kedua kakak beradik itu, sudah tidak heran lagi. Tetapi bagi yang baru mengetahuinya sempat bergidik ngeri, terutama Alvin yang memang tidak bisa melihat orang berdebat. Alvin sudah siap ditengah-tengah kedua wanita itu, untuk lebih waspada kalau-kalau akan memulai perdebatan lagi.


Beberapa waktu berlalu. Deandra menarik tangan Jane yang segera memasuki kamarnya.


"Kenapa?"Jane yang kini kebingungan dibuatnya.


Deandra melirilk arloji nya yang sudah menampakkan pukul setengah dua puluh dua. "Gara bilang, di ujung sana ada pesta Lampion,"


Jane mengangkat satu alisnya. "Kamu pengen kesana?"


Deandra mengangguk mantap. Lalu dengan hati-hati melirik kesana kesini berharap tidak ada yang mendengar kabar itu. "Tapi hanya kita berdua, jangan sampai yang lain nya tau!" Bisiknya.


Jane terkekeh, ia baru menyadari jika Deandra sedari tadi sibuk menelepon orang tua nya dan tidak mengetahui jika yang lain sudah lebih dulu kesana. "Mereka udah duluan kesana Ndra! Lagian aku memang pengen ngajakin kamu kesana kok. Tapi bentar aku ambil dompet dulu di kamar," Ujarnya, ia meninggalkan Deandra yang kini sedang kesal karerna mengetahui sahabatnya mngkin akan menganggu kencannya.


"Ayo!" Setelah ia menutup pintu kamarnya, Jane langsung meraih lengan Deandra dan langsung memeluknya dengan mesra.


"Kita cari tempat yang jauh jauh dari mereka," Jane tahu jika Deandra tidak ingin ada yang menganggu kencan mereka.


Jadi ia memilih memberi usulan terlebih dahulu. Deandra tersenyum seketika. Kekaguman nya kepada Jane meningkat, karena kadang wanita itu tahu apa yang ia inginkan. Merasa bahagia, Deandra langsung merangkul Jane sambil menyamai langkah kakinya. Jane terkekeh mengetahui langkahnya hanya setengah dari langkah Deandra.


"Cari Lampion dulu yuk, disana! Pesta Lampionnya sepuluh menit lagi," Deandra menarik pergelangan tangan Jane, membawanya ke tempat penyediaan Lampion.


"Misi Om! Lampion nya satu!"


Pria paruh baya itu dengan telaten menyiapkan Lampion. Tidak lupa ia juga memberikan selembar kertas dan pulpen kalau-kalau mereka ingin menuliskan sesuatu.


"Ohiya, Om! Boleh saya minta satu kertas lagi," Pria paruh baya itu menoleh cepat kearah Dean, ia baru sadar ternyata ada dua orang. Mungkin pasangan pikirnya, ia mengangguk lalu memberikan selembar kertas lagi untuk Dean.


Setelah berterimakasih, Deandra dan Jane pergi ketempat yang lumayan sepi, hanya ada beberapa pasangan yang bisa diketahui sedang sibuk menuliskan sesuatu di selembar kertas.


"Kamu kesana!" Jane menunjuk tempat, agar Dean menjauhi dirinya. "Jangan liatin aku! Tulis aja punya kamu sendiri!"


Setelah melihat Dean menjauhinya, Jane denganbcepat mulai menulis dilembar kertas kepunyaan nya. Senyumnya yang sedari tadi belum juga pudar mewakili perasaan nya.


I Love you more D.M!


Tetaplah bersamaku selamanya!


#J.S


Jane mengulung kertas yang sudah berisikan tulisan nya. la menoleh kearah Deandra yang tidak begitu jauh.


"Kamu udah selesai?" Dengan cepat Dean menyembunyikan ketasnya, tidak mau jika Jane melihat apa yang coba ia tulis.


"Aku belum selesai! Kamu jangan liat dulu!" Ujar Deandra mendramatis. Mau tak mau Jane menjauhkan dirinya. Tetapi ia masih mencoba mengintip meskipun tidak membuahkan hasil.


I want to be with you forever!


Janessa Sempani! I Love You!


#D.M


"Satu menit lagi Lampion akan segera diterbangkan!"


Seseorang memberi pengumuman membuat semua orang menyiapkan Lampion mereka masing-masing. Ada yang sudah siap menerbangkan Lampionnya, ada yang masih mencari karena baru datang dan ada yang masih sibuk menuliskan permohonannya diselembar kertas.


Dean mulai mencari tempat, ia membawa Jane menerobos orang-orang yang kini memegang Lampion masing-masing. Dia memilih tempat yang ramai tetapi saling berpasangan. Satu tangannya memegang tangan Jane dan satunya lagi memegang Lampion. Semua orang riuh ikut menghitung detik-detik penerbangan Lampion. Jane dan Dean yang saling memegang satu sisi Lampion ikut menghitung.


"Satu... Dua... Tiga..."


Semua orang melepaskan Lampion begitu juga dengan Jane dan Dean. Tepat pukul dua puluh dua. Langit pun begitu cerah dibuatnya, warna-warni Lampion membuatnya semakin tampak indah. Semua orang mulai meneriaki akan keinginan mereka.


"Sampaikan pada Tuhan permohonan kami!" Teriak mereka kepada Lampion yang sudah terbang tinggi.


Ribuan Lampion mewarnai langit malam pulau Bali. Benar-benar pesta Lampion yang sangat menghebohkan. Angin malam membuat Lampion-Lampion itu mulai berterbangan jauh.


Deandra masih mendongkak, menyaksikan susana indah diatas sana. Tangan nya terulur memeluk pinggang Jane dari belakang dengan mesra. Lalu wajahnya ia simpan di ceruk leher Jane. Betapa bahagia yang ia rasakan, tak henti-hentinya ia tersenyum.


Jane yang menerimanya, ikut tersenyum. Sambil semakin mengeratkan pergelangan tangan Dean yang memeluk pinggang nya. la mengecup pipi Dean sekilas.


"I love you!" Bisik Jane, membuat Dean terkekeh. Lalu kepalanya mengangguk-angguk.


Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu membuat semua orang yang melihat kemesraan mereka akan memandang iri. Tapi bagi mereka berdua, biarlah sesekali mereka mengumbarnya di depan umum. Biar dunia menyaksikan kebahagiaan mereka yang tidak ingin ada orang menganggunya. Dan semoga yang diatas juga merestui apa yang mereka pilih.


Ternyata bukan hanya Lampion yang menjadi saksi cinta Deandra dan Jane. Panitia juga sudah menyiapkan beberapa kembang api yang dengan bersamaan mereka nyalakan. Seluruh orang yang disana kembali riuh melihat aksi kembang api. Sedangkan Deandra dan Jane sudah sibuk dengan dunia mereka berdua. Mereka hanya menyaksikan tanpa ikut berteriak seperti kebanyakkan orang yang disana.