MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
SPARING BASKET



Kompleks perumahan Alvin, tepatnya jum'at sore ini pukul lima belas tepat. Lima orang pemuda sedang menunggu di lapangan basket, mereka tampak sedikit kesal terlihat diraut wajah mereka masing-masing.


"Hadeh.. Apa mereka takut mau lawan kita? Ini udah kesorean lagi," Pekik salah seorang dari mereka yang bisa dipastikan musuh bebuyutan Deandra dan keempat sahabatnya.


"Tuh! yang di omongin muncul juga," Tunjuk salah seorang, ia memincingkan mata tidak melihat keberadaan Deandra. "Lah! Dean nya kok gak ada?"


Salah satu dari mereka yang berbadan jakung menyeringai. "Wei! Dean kalian mana, hah?! Kalian yakin mau empat lawan lima? Atau jangan-jangan itu bocah takut lagi, HAHA!"


Lima orang pemuda itu tertawa. Menertawakan Deandra yang dikira takut. Sedangkan Gara, Iyan, Jose, dan Alvin hanya bisa pasrah. Meskipun tidak terima.


"Kalem bro! Orangnya masih di jalan kali, kalian santai aja! Siapin mental kalian aja deh buat nerima kekalahan," Iyan berteriak tidak kalah nyaring.


Alvin beringsut, ia menoel pinggang Gara. "Dia jadi dateng atau nggak?" Bisiknya.


"Orangnya bilang lagi di jalan, Vin! Jadi tunggu aja,"


"Elah! Lama kali pun itu anak Medan,"


Sepeda Motor CBR datang, yang sudah bisa dipastikan itu adalah Deandra. Sang empunya langsung memarkirkan motor itu.


Jose sumringah. "Noh! Lo liat orangnya dateng," Deandra langsung turun dari motornya menghampiri sahabat-sahabatnya itu.


Deandra cukup kaget melihat keadaan mimik wajah para sahabatnya. Kecuali Jose yang sudah sumringah. "Kenapa muka kalian di tekuk kayak gitu?"


Iyan mendengus, ia menunjuk sekumpulan pemuda yang masih mengulum tawa mengejek mereka. "Lo gak liat mereka dari tadi ngetawain kita-kita?!"


"Woi anak Medan! Jangan sampe lo pulkam nangis gara-gara kalah yaa.."


"HAHAHA.." Mereka kembali tertawa, bahkan lebih parah dari yang sebelumnya.


Dean menatap tajam kepada orang yang mengatai nya akan menangis. "Heh Julkidin!"


"JUL!" Alvin menyela, dia membenarkan nama dari salah satu musuh bebuyutan mereka itu.


"Elah sama aja!"


"Gimana? Jadi apa nggak nih?!" Memang pemuda ini dari tadi yang lebih banyak bicara. Membuat Dean dan keempat sahabatnya ingin segera mempermalukan anak itu.


Lapangan basket itu menjadi semakin terasa panas. Mereka berhadapan dengan Dean berjijir dengan keempat sahabatnya, dan team musuh berjijir dengan anggotanya. Mereka saling memberikan tatapan tajam kepada orang di depannya masing-masing. Tangan yang sudah di kepal, nafas mereka yang menggebu-gebu. Cukup lama mereka dalam keadaaan seperti itu.


Gara terlihat berpikir sejenak. "Tunggu! Ini wasitnya dimana? Kok gue baru ngeh,"


Benar saja, mereka tidak ada pemandu untuk pertandingan mereka. Alhasil tatapan tajam seketika tidak terlihat lagi.


"Hadehh gimana sih, kenapa kalian gak bawa wasit?"


"Lah! Kan kalian yang nantangin, harusnya kalian dong yang sediain wasitnya!" Respon Jose cepat.


Deandra menghela nafas dalam-dalam. "Harusnya kalian udah siapin lebih dulu, soalnya kalian yang nantangin nya dadakan. Kan gak mungkin salah satu dari kita jadi wasitnya," Dean mencoba memperbaiki keadaan.


Emosi mereka seketika mereda. Benar-benar sangat labil.


"Gimana?" Iyan mencari kepastian.


"Dahlah, kepaksa kita pending minggu depan aja," Akhirnya sang penantang memberi keputusan. Meskipun di raut wajahnya tidak ingin menunda pertandingan itu.


Dean berjalan meninggalkan lapangan basket. "Elah, buang-buang waktu gue aja! Ayo guys pulang,"


Tanpa pamit Iyan, Gara, Alvin, dan Jose ikut mengekori Deandra yang sudah berjalan duluan. Dean langsung menaiki motor miliknya sedangkan para sahabatnya menggunakan mobil yang dikendarai Jose, cowok itu baru saja mendapatkan SIM A bulan lalu karena tepat berusia 17 tahun.


Jose menurunkan kaca mobilnya. "Ndra, jangan lupa cari cafe dulu!"


"Yaudah Cafe depan aja!" kata Dean sambil menjalankan Motornya.


Dean mulai melajukan motornya dikuti mobil Jose. Tidak perlu waktu lama menempuh perjalanan karena Cafe yang mereka tuju tidak jauh dari lapangan basket itu. Kini mereka sudah di depan cafe, Dean yang sudah memarkirkan motor miliknya hendak turun sedangkan para sahabatnya sudah keluar dari mobil. Tanpa babibu mereka memasuki Cafe itu memilih bangku dipojokan dengan posisi kursi duduk melingkar.


"Ehh Ndra! Gue titip salam dong sama Kak Jihan," Kata Iyan yang sedang menyedot jus nya.


Deg! Alvin langsung diam mematung dengan wajah datarnya. Mungkin ada hati yang sakit mendengar ucapan Iyan.


"Kok Iyan bisa kenal sama Kak Jihan? Huft! Gak beres.." Dalam hati Alvin terus memberontak.


Dean yang menyadari perubahan Alvin setelah medengar pengakuan Iyan hanya bisa berdecak.


Jose mengerutkan keningnya, ia tidak tahu menahu soal Jihan siapa yang dimaksud Iyan dan Dean. "Kak Jihan? Yang mana sih orangnya?"


"Udahh... Jangan bahas cewek dulu!" Hardik Gara, ia lumayan malas jika membicarakan para hawa jika sedang berkumpul.


"Huft! Jangan sampe Jose nanyain soal Kak Irene, jangan!" Batin Gara, ia melirik Jose sambil asyik menyedot minuman Jusnya.


Deandra teralihkan oleh getaran ponselnya yang sengaja ia simpan diatas meja. la meletakan minuman nya untuk segera melihat siapa yang mengirim pesan.


"Anak manis, apa kamu ada waktu malam ini?" Isi pesan itu.


Deandra tahu betul jika itu pasti pesan dari salah satu pelanggannya. Seketika ia berpikir, Gara yang melihat perubahan nya seletah menerima pesan. Terbawa penasaran.


"Dari siapa?" Tanya Gara penasaran.


"Tau sendiri, ATM berjalan!" Deandra yang masih memperhatikan kearah ponselnya.


"Lo yakin harus ambil orderannya?"


Ucapan Gara yang sekaligus pertanyaan itu, membuat Dean mengangkat satu alisnya. Sedangkan ketiga sahabatnya hanya bisa menyimak. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud kedua sahabat mereka. Dean kini memijit pelipisnya, pekerjaan nya lumayan akan merepotkan jika dirinya sudah berstatus milik orang.


DEANDRA POV FLASHBACK.


Mau apa Madam kesini malam-malam? Jujur aku sangat bingung dengan kedatangan nya yang hanya menunggu di dalam mobil tanpa mau masuk ke rumahku. Otomatis aku langsung menghampirinya, ikut masuk ke dalam mobil. Tapi yang aku herankan, setelah masuk ia tidak juga berbicara. Kami hanya saling membisu cukup lama.


Kulihat ia sedikit kesal dengan mimik wajahnya yang berusaha ia datarkan. Sampai akhirnya aku benar-benar malas dan penasaran dengan sikapnya.


Aku berdehem sejenak sebelum memulai pembicaraan. "Kamu punya masalah?"


Memang benar-benar wanita yang aneh. Dia tetap saja dengan pendiriannya yaitu diam. Seakan aku tidak ada, dia tetap fokus menatap lurus ke depan. Aku ikut merebahkan punggung ku, mencari tempat ternyaman.


Kami mulai tidak bersuara lagi. Setelah beberapa menit berlalu, kulihat ia menghela nafas lalu sekilas mengigit bibir bawahnya.


la menoleh ke arahku dengan tatapan sayu. "Apa kamu bisa dipercaya?"


Tunggu ini apa maksudnya?


"Maksud kamu?" Aku harus menanyakan maksud itu. Meskipun malah terlihat bodoh.


Tapi dia tetap dengan pendiriannya yaitu diam dengan muka datar menoleh kedepan seakan ge tidak terlihat.


la kembali menghela nafas. Setelahnya bibirnya terangkat mengukir sebuah senyuman manis. Aku seperti bermimpi jika seperti ini. Harus ku catat dalam sejarah, ini kali pertama aku melihat senyum manisnya.


"Lupain aja! Aku harap kamu bisa di percaya dan sekarang masuklah ke rumah!"


Deg! Sepertinya jantung ku mulai berulah lagi. Aku menunggu senyuman itu sedari pertama melihatnya. Tutur lembutnya kali ini benar-benar enak didengar.


"Hem.. Iya deh! Kamu gak takutkan pulang sendirian malem-malem gini, hm? Apa perlu aku anterin?" Percayalah ini adalah kalimat termanis ku. Jujur berbicara sok lembut itu bukan bagian dariku.


"Gak perlu kok, lagian dekat. Kamu masuk aja, terus langsung tidur! Inget, besok sekolah," Perintahnya, lagi-lagi dia berbicara dengan lembutnya. Apa ini sisi dewasa dari dirinya?


Aku mengangguk, lantas membuka pintu mobil untuk segera beranjak keluar. Aku tidak langsung masuk, melainkan berjalan menuju pintu mobil bagian pengemudi. Mengetuk pelan kaca mobil itu, dia yang melihat langsung menurunkan kacanya.


"Yaudah kamu hati-hati di jalan yaa.. Kabarin kalau udah sampe rumah!" Ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.


Dia mengangguk sambil membalas senyuman ku. Setelah itu langsung menjalankan mobilnya. Sejujurnya aku masih bingung dengan semua ini. Apa yang coba dia maksud? Tapi melihatnya seperti ini membuat jantungku berdetak dua kali lipat. Apa lagi setelah aku sadar, kini menjadi aku kamu yang artinya memang kami sudah menjalin hubungan.


DEANDRA POV FLASHBACK END.


"Yan! Lo mau gantiin gue gak, ntar malem? Bayarannya ambil aja buat lo," tanya Dean selelah ia mengingat kejadian sewaktu malam di mana Jane menghampirinya di rumah.


Jose dan Alvin memekik, Deandra yang diketahui selalu menomor satukan pekerjaannya itu. Sedangkan Iya sumringah, percayalah itu yang ia inginkan. Gara tersenyum lega, ia bangga dengan Dean kali ini. Itu artinya sahabatnya itu menghargai wanitanya, apa lagi wanita yang berstatus sebagai kekasihnya adalah si Madam Kepala Sekolah mereka.


"Kok gak gue aja sih, Ndra?!" Jose kesal Dean lebih memilih Iyan dari pada dirinya.


"Lah lo mau juga? Yaudah ntaran aja gantian, lo juga pasti dapet giliran kok!"


"Elah! Kapan-kapan lo mah lama.." Jose mengotot, Entah kapan lagi Dean akan memberikan pekerjaan itu kepada dirinya.


"Sabar.. Next time lo deh!" Lagi Dean meyakinkan.


Jose malah semakin kesal, meskipun Deandra sudah meyakinkan dirinya. la kesal karena para sahabatnya malah terkekeh menertawakannya.