
Note: diharapkan baca dengan saksama. Baca yang fokus biar kalian paham dengan isinya. Karena penjelasannya yang saya percepat!
Satu tahun kemudian.
Kini Deandra sudah menginjak semester dua di jurusan Teknik Arsitek, di universitas ternama kota Jakarta. Ia satu kampus bersama Alvin, tetapi Alvin mengambil jurusan ekonomi. Sedangkan Iyan di Jepang, Jose memilih di Australia, dan Gara mengikuti Irene di New York.
Hubungannya dengan Jane tidak berjalan dengan baik. Jane yang sejak satu tahun yang lalu sakit hati atas perbuatan Dean, membuat Jane sampai sekarang belum bisa memaafkan sepenuhnya. Tetapi bagi Dean itu semua sudah cukup, asal Jane masih mau membiarkan nya berada disamping cewek itu. Perbedaan usia juga membuat Dean selalu disalahkan, padahal Dean lah yang bersikap dewasa dibanding Jane.
Janes yang sekarang meninggalkan dunia modeling nya dan lebih fokus mengantikan posisi Irene. Sedangkan Grace managernya, diberi tugas mengikuti Irene sekaligus menjabat sekretaris. Sehingga membuat Jane menjadikan Gia sebagai sekretarisnya, karena tugas magang Gia yang sudah selesai.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Perintah Jane sambil tetap fokus dengan berkas-berkas di tangannya.
Tak lama Gia pun membuka pintu. "Meetingnya sebentar lagi akan di mulai," Ucapnya.
Jane menghentikan aktivitasnya, lalu mengambil ponsel dan tas miliknya.
"Ayo!" Ajak Jane pada Gia, Lalu mereka meninggalkan ruangan Janessa, menuju tempat Meeting.
Sedangkan di tempat lain. Deandra sedang berada di taman kampus. Entah apa yang dia pikirkan sehingga membuatnya memejamkan matanya seraya duduk menyendar dan menyilangkan kakinya.
"Huft! Harus apa lagi, agar dia gak mengabaikan gue?" Batin Dean.
Ada senyuman kecil terukir dibibirnya, ketika angin berhembus diwajahnya. Alvin yang sedari tadi mencarinya, ketika melihat Deandra di bangku taman, dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu yang sekarang menjadi pendiam dan suka menyendiri.
Alvin menepuk bahu Dean "Udahlah! Jangan terlalu di pikirin kek gitu," Alvin duduk disamping Dean. "Gue yakin, dia masih sayang dan cinta sama lo kok," Dean tersenyum seketika mendengar perkataan sahabatnya itu, yang selalu berusaha menyemangatinya.
Deandra menghela nafas. "Lo sama Kak Jihan, gimana tuh?" Tanya Deandra mengalihkan pembicaraan.
Alvin tersipu malu mendengar pertanyaan Dean, karena selama satu tahun ini dia berusaha mendekati Jihan tetapi tidak juga berani menyatakannya. Deandra yang melihat sahabatnya tersipu jatuh cinta itu hanya bisa tersenyum kecut.
"Vin! Andai lo tau, kemarin ketiga kalinya gue liat Jane jalan sama orang yang sama," Batin Dean.
Deandra mendongkak untuk menghilangkan kesedihannya. Sejujurnya ada rasa penasaran di diri Deandra, siapa orang yang sedang mendekati Jane? Tetapi ia berusaha tidak mau ikut campur, dan tetap membiarkan, karena ia ingat janjinya satu tahun lalu.
"Gue bakal biarin kamu cari kebahagiaan sendiri. Kalau sama gue, kamu gak ngerasainnya, Jane!" Deandra terus membatin, ia memejamkan matanya lagi. "Yah! Meskipun itu sakit."
Dilain sisi, Jane yang sudah menyelesaikan Meeting nya kini sedang mengobrol dengan pria yang di maksud Dean. Andry, senior Jane waktu sekolah menengah atas. Kebetulan sekarang menjadi rekan kerja Jane sekitar dua bulan yang lalu.
Jujur saja Jane nyaman dengan kedatangannya. Apa lagi Andry dewasa, dan selalu bisa membuat Jane tersipu malu. Mungkin bisa dibilang Jane mulai jatuh cinta dengannya, tapi disisi lain juga ia masih sayang dan cinta sama Dean meskipun setiap bersama Dean ia selalu emosian, itulah yang membuat Janessa malas untuk bertemu dengannya.
"Jane! Apa kamu punya waktu malam ini?" Tanya Andry.
Jane tampak malu-malu ingin menjawab, pipinya merona. Hatinya berdebar lagi. "Eum.. Nanti aku kabarin Mas Andry!" Jawab Jane.
Melihat tingkah Jane dengan pipi meronanya, Dean mengacak-acak rambut wanita itu, gemes.
"Yaudah, kabari Mas yaa! Mas pulang dulu, bye Jane!" Pamit Andry lalu tersenyum manis.
Kepergian Andry, Jane langsung kembali keruangan. Jane terdiam seketika, lalu meraba pipinya yang sedari tadi terasa panas. Lalu senyuman manis terukir di bibirnya.
"Mas, Andry! Kamu bikin aku deg-degan lagi!" Batin Jane.
"Jujur, aku gak bisa mutusin Dean, tapi rasa ingin milikin Mas Andry juga sangat besar!" Gumam Jane.
Pikirannya melayang ke Deandra, yang sudah satu minggu tidak pernah melihat anak itu. Ia heran kenapa Dean tumben tidak mengirim pesan atau menelponnya.
Jane menghela nafas. "Terserah deh! Lagian dia selalu bikin aku pusing!" Kesal Jane lalu fokus dengan kerjaannya.
Malam ini, Deandra berniat untuk mengajak Jane jalan dan sekarang ia sudah dijalan menuju apartment Jane yang sekarang di tempati oleh Jane dan Jihan sejak kepergian Irene dan Grace. Motornya memasuki area basement, memarkirkan motornya, tapi ia tidak langsung naik ke unit Jane. Dean mengambil ponsel lalu mengotak-atik benda persegi itu.
Jane yang sekarang sedang fokus dengan makeup nya, dia sudah terlihat cantik dengan mini dress. Handphonenya bergetar menandakan notifikasi pesan masuk, ia melihat sekilas siapa pengirim pesan. Deandra lah yang tertera di handphonenya Keningnya mengerut, lalu ia menghentikan aktifitasnya.
"Bisa ketemu bentar gak?" Isi pesan Deandra.
Notifikasi pesan masuk lagi, dan itu orang yang berbeda. Jane belum membalas pesan Dean lalu melihat pesan yang satunya.
"Gimana, Jane? Kamu udah siapkan jalan sama Mas?"
Jane semakin bingung, yang mana yang harus ia pilih. Dilain sisi ia memang sedikit rindu dengan Dean tapi disisi lain dia juga ingin jalan dengan Andry. Ia mengigit bibir bawahnya, lalu membalas pesan Dean.
"Aku lagi sibuk banget malam ini!" Setelah mengirim pesan itu Jane menghela nafas. Ada rasa sedih telah membohongi Dean.
Deandra yang masih duduk diatas motornya, tersenyum kecut menerima pesan Janessa. Lima menit ia terdiam, lalu kembali memasang helm berniat meninggalkan basement. Tapi ketika ia menghidupkan mesinnya, sebuah mobil mewah masuk. Deandra menyipitkan matanya ketika melihat pria didalam mobil itu keluar. Seketika jauh di lubuk hatinya terasa sakit ketika mengenali wajah pria yang dia tidak tau namanya itu.
Deandra turun dari motornya, lalu sembunyi di balik mobil disamping motornya. Tak lama dari itu, Jane muncul, dan langsung tersenyum kepada pria itu. Deandra yang melihat itu, mengepalkan tangan nya, tapi sekali lagi dia tekankan ia tidak boleh egois.
Lalu bibirnya membentuk senyuman kecil. "Cantik!" Gumam Dean, melihat Jane disebrang sana yang sedang tersenyum manis.
Jane masuk kedalam mobil pria itu dan sepersekian detik mobilnya berjalan keluar basement.
Entah apa yang membuat Deandra ingin mengikuti mereka. Setengah jam mobil itu berhenti di restoran mewah, Deandra juga memberhentikan motornya, tetapi dia tidak turun.
"Mereka pergi Dinner," kata Dean.
Betapa hancur hati cowok itu, ketika orang yang ia cintai berpegangan tangan dengan orang lain. Tapi ketika melihat Jane tersenyum manis kepada pria itu, Dean mencoba menyadari karena ia sudah tidak bisa lagi membuat Jane tersenyum semanis itu.
"Dia bahagia, Ndra! Jangan sampe lo ganggu dia!" Batin Dean.
Deandra berniat akan melindungi Janessa dari jauh, jadi memutuskan untuk terus mengikuti mereka. Meskipun dia hanya menunggu di luar restoran itu.
Di dalam, Jane dan Andry sudah menyantap makanan mereka. Nuansa yang begitu romantis. Entah berapa kali Jane dibuat merona dan tersenyum hari ini, yang jelas orang itu adalah Andry hanya itu yang Janessa tahu.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya Andry tiba-tiba.
Membuat Jane gemetaran harus menjawab apa. Jujur atau berbohong, jika dia jujur ia harus rela kehilangan Andry, tapi jika ia berbohong ada orang yang akan tersakiti.
Andry yang melihat perubahan Jane lalu mengalihkan pertanyaan nya, sejujurnya ia tahu jika Jane punya kekasih tapi entah kenapa ia menginginkan Jane, apa lagi Jane yang memberikan lampu hijau kepadanya.
"Habis ini jalan ke mall yuk! Kamu mau?" Jane hanya menganguk menyetujui.
Hampir satu jam Deandra menunggu mereka tetapi tidak juga menyerah. Dean harus mengetahui apakah lelaki itu baik untuk Jane. Tak lama dari itu disebrang sana, Jane keluar dengan mengandeng tangan Andry. Deandra harus sakit hati lagi.
Kini mereka sudah berada di mall. Dean membeli topi untuk berusaha menutupi dirinya, ia mengikuti Jane dan Andry bagai penguntit.