
Deandra memutar-mutar handphone nya di atas meja sambil sesekali melihat apakah ada notifikasi WhatsApp masuk dari Gara. Karena mereka sudah ada janji akan bertemu dan sekarang Dean sedang berada di Cafe dengan ditemani minuman Starbucks yang sudah hampir setengah ia minum.
"Sorry banget nih bro jalan nya macet," Gara datang sambil mengeluh akan kepadatan kota Jakarta yang menurutnya semakin padat.
Deandra hanya bisa mendengarkan keluh kesah dari sahabatnya itu. Padahal dirinya lah yang ingin menyampaikan keluh kesah, tetapi malah Gara yang bercerita menurutnya hal yang sangat tidak penting itu.
"Kenapa nih? Mau ceritain kisah percintaan lo kan?" Tanya Gara sambil menyeruput Coffee Latte miliknya.
Deandra menaik turunkan alisnya sambil memperhatikan Gara yang menikmati minuman nya dengan hikmat.
"Ohyaa! Irene bilang semalem bokap lo kerumah mereka ya?"
"Heem!" Dean menjawab seadanya Gara memperhatikan Dean sambil menopang dagunya.
"Lo gak mau cerita?"
Deandra menatap Gara. Dia bisa mengetahui jika sahabatnya itu sangat penasaran dan sekarang sudah menunggu apa yang akan ia ceritakan. Dean mengehela nafas panjang sebelum memulai akan ceritanya.
FLASHBACK ON.
Deandra menitikkan air matanya, menerima pelukkan hangat dari Mario. Mereka melepas rindu masing-masing dengan disaksikan keluarga Sempani. Mario juga sangat bersyukur kepada sahabat bisnis nya itu karena bisa mempertemukan nya dengan anak bungsu nya secara tidak sengaja.
Wajah haru dari mereka yang menyaksikan pertemuan Anak dan Ayahnya tak henti-hentinya. Mata Ario sampai berkaca-kaca. Sedangkan yang lain nya sudah ikut menitikkan air mata. Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu, sampai akhirnya mereka puas. Mario menyeka air matanya kasar lalu tersenyum kepada Dean yang sekarang ekspresinya masih begitu sedih, dengan keadaan mata yang sudah memerah karena menangis.
Suasana haru berubah menjadi tawa, kini mereka sedang berbincang diruang tamu.
"Om udah ngira kalau kamu anak nya Mario lho, Ndra!" Tutur Ario membuat Dean hanya bisa tersenyum kikuk karena merasa bersalah tidak jujur sebelumnya.
Sedangkan mereka yang melihat perubahan Deandra, malah tertawa. Bagaimana tidak karena Dean tanpa sadarnya malah mengeluarkan ekspresi yang mengemaskan menurut orang yang melihatnya.
"Ohyaa! Pak Mario tau gak kalau kita akan jadi besan?" Mario melihat cepat kearah Ario yang kini sumringah. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa Ario mengatakan mereka akan menjadi besan.
"Tunggu, maksudnya gimana?" Mario melirik Dean berharap dapat jawaban. Tetapi anak itu malah menundukkan wajahnya. Dia memperhatikan ketiga putri Ario Damian bergantian. Dia sampai bingung membedakan mana yang cantik dan mana yang menawan karena menurutnya ketiganya sangatlah cantik seperti bidadari.
Mario terkesiap seketika mengingat Ario pernah menceritakan jika ketiga putrinya sudah masing-masing bekerja dengan gelar S2 yang mereka pegang. Dia menganga menyadari jika anaknya Dean sudah berani mengencani wanita yang diatasnya.
"Anak mu ini, udah pacarin putri bungsu saya sejak lama,"
"Serius Pak Ario?" Ario mengangguk mantap sambil tersenyum. Lantas Mario menoleh satu persatu ketiga putri dari Ario secara bergantian. "Apa kamu yang akan menjadi menantu saya?"
Tunjuknya kepada Jihan. Dia mengira orang yang ditengah adalah putri bungsu karena melihat Jihan yang terlihat kecil.
Jihan hampir mengiakan karena ingin mengoda Jane tetapi Ibunya lebih dulu menunjuk Jane. "Ini orang nya, Pak Mario!" ucap Aryna meralat.
Mario memindahkan tatapannya kearah Jane yang sekarang dengan santai tersenyum manis kepadanya.
Mario sudah bisa menilai sikap seorang Jane, ia yakin jika wanita itu tegas. Benar-benar wanita yang penuh dengan kewibawaan menurut Mario. Dia mengangguk-angguk setelah itu.
"Kamu hebat, percis kayak Papa dulu!" Bisik Mario ditelingga Dean. Refleks ia melirik Jane yang masih terlihat dengan gaya Elegan nya.
"Saya tergantung kepada anak saya saja, Pak Ario!" Titah Mario, dia memukul pelan bahu Dean. Sebenarnya ia berharap jika Jane akan menjadi menantunya. Tetapi sifat Mario yang tidak jauh dengan Deandra membuatnya harus sedikit bersikap jual mahal.
"Bagaimana Dean?" Ario menunggu persetujuan dari Deandra yang kini berusaha tidak ingin menjawab terlebih dahulu.
FLASHBACK END
"Oke, jadi artinya lo sama Jane balikan lagi?"
Deandra menghela nafas, ada kekesalan di raut wajahnya setelah menyadari Gara tidak mengerti dengan apa yang ia ceritakan.
"Oke, gue ngerti sekarang," Gara menyadari jika ia tidak harus menyanyakan itu. Dia kembali menyeruput Coffee Latte nya.
"Begini-" Deandra mengantungkan ucapan nya. la melirik ke kiri dan ke kanan seperti orang yang ingin menyampaikan rahasia. "Menurut lo apa ini waktu yang tepat?" Bisik Dean.
Gara menyeringai. Dia mengangkat kedua jempolnya mengiakan. Baginya, sudah waktunya Deandra memulai kebahagiaan baru bersama Janessa karena biar bagaimana pun mereka akan tetap bersama pada akhirnya.
"Gue bakal bawa dia ke Jogja besok." Ujar Dean.
Keesokan harinya. Betapa bahagia bagi Janessa setelah mengetahui Dean akan membawanya ke Jogja hari ini. Dia tidak berhenti bersenandung sambil memperhatikan penampilan nya di cermin full body miliknya. la juga sengaja berdandan secantik mungkin karena fikirnya akan bertemu dengan kekasih Dean disana. Dress Casual yang ia kenakan nampak pas dibadan nya.
"Cantik!" Monolog Jane setelah puas melihat dirinya di cermin. la sampai tidak sadar jika Mami nya sedari tadi masuk kekamarnya dan memperhatikan tingkah lakunya.
"Kalian ke Jogja mau naik apa?"
"Astaga!" Refleks Jane kaget. Dia mengelus-ngelus dadanya baru menyadari jika dirinya tidak sendirian. "Aish! Mami kapan masuk kesini?"
"Makanya jangan sibuk sama dunia sendiri sampai gak sadar kalau Mami udah ada disini," Celetuk Aryna, tangan nya sibuk membenarkan rambut Janessa yang tadi sempat berantakan karena kaget.
"Non Jane! Ada yang nyariin Non diluar," Teriak wanita paruh baya didepan pintu kamar Janessa.
Jane sumringah, ia menatap Mami nya berbinar. "Iyaa Bik! Tunggu bentar."
Sebelum keluar, Jane kembali memperhatikan penampilan nya dicermin. Mami nya hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya. "Ayo! Kasihan Dean udah nungguin tuh di luar."
Deandra yang kini sedang duduk disofa ditemani Airin yang memang setelah kepulangan nya belum diberi pekerjaan oleh Papinya. "Itu orangnya!"
Jane menuruni anak tangga bersama Aryna. Dean langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Tante, Kak Irene! Dean pamit ngajak Jane ke Jogja dulu yaa..." Kata Dean mendayu.
Aryna dan Irene lantas tersenyum. "Jangan di culik lho Ndra, adiknya Kakak..." Ucap Irene yang sengaja mengoda.
"Emang Kak Irene pikir, aku masih bocah yang bisa di culik gitu aja?" Pekik Jane.
"Ckck! Udah sana berangkat aja!"
"Iya ih, Mami kebiasaan ngusir mulu." Cemberut Jane, tetapi dia malah mencium pipi kiri kanan Aryna dan Airin sebagai bentuk berpamitan.
JOGJAKARTA.
"Tunggu!" Ucap Jane, dia tidak percaya jika Dean membawanya ke tempat perumahan nenek nya. la mengucek-ucek matanya, ia berfikiran mungkin salah melihat tempat karena belum sadar sepenuhnya efek baru bangun dari tidur.
Sungguh Dean gemas melihat tingkah dibalik ketegasan dan judes dan kadang seperti anak kecil yang dimiliki seorang Janessa Sempani. "Ayo! Bukan nya tadi pengen cepet-cepet ya?"
Jane menatap Dean penuh selidik, matanya sampai menyipit karena banyak hal yang membuatnya penasaran dan banyak sekali pertanyaan di benaknya sekarang.