
Jane sedang mengendarai mobilnya tanpa Grace, karena Managernya itu sudah pulang terlebih dulu sebelum pemotretannya selesai. Terdengar nada sambung Jane yang sedang menghubungi seseorang.
"Hallo! Aku baru mau pergi," Suara Deandra dari seberang sana.
"Yaudah, have fun! Aku udah di jalan pulang, habis itu mau istirahat," Lalu panggilan telepon langsung dimatikan sepihak oleh Dean.
"Ckck! Dia ngotot banget mau ikut reunian sama temen-temennya itu!" Jane berdecak kesal.
Mobilnya terhenti tepat di lampu merah, terlihat ada sesuatu yang menganggu pikirannya.
"Ish! Gara-gara bocah itu aku sama Dean jadi gak bisa bebas bagi waktu."
Janessa POV Flashback
"Wei, Dean! Lo disini?" Teriak seseorang di belakangku, membuat Deandra harus tersedak makanannya.
Aku belum tahu siapa kiranya orang di belakangku, karena kegugupan mulai menyelimutiku. Ku lihat Dean mulai mendongkak setelah berusaha minum, ia tersenyum kikuk setelah mengetahui orang itu. Aku menunduk, berharap orang tersebut tidak mengenaliku.
"Akh! Lo Jos! Lo ngapain di sini?" kata Dean sedikit bergetar.
"Yaa nyari makanlah, di sini tempat langganan gue! Tumben lo bawa pelanggan ngedate di sini?" sahutnya, ku yakin ia berusaha ingin melihat wajahku.
Tunggu, maksudnya pelanggan? Aku tidak mengerti dengan ucapan orang ini. Kulihat Deandra langsung berdiri dan menyeret orang itu keluar. Entahlah apa yang mereka obrolkan diluar sana sehingga membuatku penasaran.
Beberapa menit berlalu Deandra kembali sambil membawa orang itu yang setelah aku lihat ternyata salah satu sahabatnya. Aku rasa dia sudah menjelaskan kepada sahabatnya jika aku kekasihnya. Jose duduk dikursi sebelah Dean sambil tersenyum kikuk.
"Hai, Bu!" Sapanya sambil berusaha ramah, aku hanya berdehem, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apalagi melihat Dean begitu santai.
"Saya sudah tau barusan, kalau Ibu sama Dean pacaran," Dan tebakanku benar, Deandra pasti sudah memberitahunya.
"Inget! Cuma lo yang tau!" Dean memberi peringatan, Jose hanya mengangguk mantap.
"kapan kalian jadiannya?" Bisik Jose yang masih bisa ku dengar. Dean mulai menoleh ke arahku. Aku hanya menatap datar, kali ini aku benar-benar menyerahkan semua tanggung jawab kepadanya.
"Hampir dua bulan kayaknya,"
"Wah gila.." Kaget Jose sampai ia meninggikan suaranya. "Hebat lo bisa nyembunyiin nya. Pantesan udah gak pernah cekcok sama Ibu lagi," Cecarnya.
Jose geleng-geleng. Mungkin dia masih tidak percaya. Anak itu benar-benar menyebalkan, ingin rasanya aku kasih pelajaran nanti jika di sekolah.
Janessa POV Flashback end.
Deandra yang sedang berjalan tergesa-gesa jam instirahat, kali ini bukan kantin yang ia tuju melainkan toilet. Beberapa saat ia keluar dari toilet, sambil menghela nafas lega.
Bruk! Dipersimpangan ia menabrak seseorang, dan untungnya ia dan orang yang ditabrak tidak jatuh karena kejadian itu tidak begitu kuat.
"Maaf, Kakak gak kenapa-napa kan?" Kaget Dean setelah melihat orang yang ia tabrak adalah Grace.
Grace memperbaiki penampilannya. "Gapapa kok! Yaudah bye, Ndra!" Sambil hendak melangkah Mereka berdua berjalan berlainan arah.
"Ehh, iya! Aku denger kalau kamu sama temen-temen kelas kamu itu-" Grace berbalik, Dean juga ikut membalik badan. "Hum.. Gak tau juga sih, apakah kamu tau kalau dia benci kamu pergi sama temen-temen mu itu. Dia benci banget!" Tambah Grace. Kepalanya mengeleng beberapa kali, terlihat ia sedikit mengejek Deandra.
Grace melangkahkan kakinya, meninggalkan Deandra yang masih kebingungan. Dua detik kemudian cowok itu membulatkan matanya baru menyadari ucapan Grace. Sambil berjalan meninggalkan tempat itu ia mengambil ponselnya dari kantong celana.
"Kamu bisa nyamperin aku di rooftop bentar aja!" Setelah mengirim pesan itu Deandra langsung menuju Rooftop.
Sedangkan Jane baru berjalan keluar dari ruangannya.
"Ish! Ngapain coba dia pengen ketemu aku? Udah tau aku sibuk banget, dia pasti mikirnya waktu luang ku banyak?!" Celoteh Jane sambil berjalan terburu-buru.
Setelah ia melihat keberadaan Deandra dari jauh sedang memperhatikannya, ia langsung memberikan smirk kepada Dean. Lalu mendekatinya.
"Kenapa kamu pengen ketemu? Kamu tau kan apa konsekuensinya kalau orang lain liat kita berduaan disini?!" Kesal Jane.
"Bukannya ada yang pengen kamu bilang?" Tanya Dean dengan intonasi datar.
Jane memutar bola matanya jenggah. "Kan kamu yang pengen ketemu!"
"Aku denger kamu gak suka kalau aku pergi sama temen-temen kelas ku?" Adu Dean masih dengan nada datarnya.
Jane salah tingkah. "Si-siapa yang bilang sama kamu?" Ucapnya terbata-bata yang terdengar semakin pelan.
Deandra melipat lengannya di dada. Matanya terus menyelidik. "Menurut kamu siapa? Aku dengernya dari orang yang liat kamu cemburu tuh,"
Jane berpikir sejenak. "Ish! Kak Grace,"
Deandra yang melihat tingkahnya hanya bisa menyipitkan mata penuh selidik. "Kenapa kamu gak cemburu di depan ku? Lagian udah lama aku gak liat kamu cemburu," kata Dean sedikit menggoda Jane.
"Nggak! Aku marah sama kamu," ujar Dean yang terdengar manja, ia sengaja menggoda Jane.
Jane membuang muka melihat Deandra yang selalu mengodanya. Sedangkan Dean diam-diam mengulum senyum melihat Jane yang selalu kesal. Karena Dean yang menyukai wajah kesal Jane baginya itu sangat lucu.
"Kenapa?" Tanya Jane sambil mengerutkan keningnya.
"Menurut kamu kenapa, hm? Kamu pacarannya sama aku, tapi kamu cemburunya di depan orang lain dan gak ada aku disana. Hanya aku yang boleh liat kamu cemburu!" Cecar Dean, berbicara cepat.
Jane membulatkan mata. "Apa sih!?"
Sunyi seketika dengan Dean yang menatap Jane menyelidik dan Jane menatap Dean kesal.
"Tunjukin!"
"Tunjukin apa sih?" Jawab Jane ia merespon cepat.
"Aku pengen liat kamu cemburu di depanku! Udah lama aku gak liat itu," suruh Dean lagi.
"Astagaa.. Kamu tau gak kalau kadang-kadang kamu itu aneh banget, Ndra!" Jane mendengus kesal.
"Kamu yang lebih aneh, Jane! Kan aneh kamu cemburunya di depan Manager kamu sendiri, bukan aku?" Dean balik bertanya, ia sampai mengerutkan kening.
Ucapan Dean membuat Jane kehabisan kata-kata dan sedikit ternganga.
"Kamu mau tunjukin atau nggak?" gertak Dean menagih kembali. la mulai melipat lengannya lagi.
"Cemburu! Disini? Apa kamu memintaku mengulangi moment itu?" Jane sedikit tidak percaya. Bagaimana pun ia tidak bisa mengulang moment itu. "Lupain omong kosong kamu itu! Buat apa kamu minta aku untuk cemburu," Tambahnya sambil memanyunkan bibir.
Deandra memasang wajah sedih. "Huft! Lupain aja! Permintaan ku bahkan gak banyak. Kamu bikin aku sedih,"
Kini Deandra bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Janessa yang melihat itu hanya bisa melototkan matanya.
"Aku pergi dulu!" pamit Dean sambil melangkahkan kakinya.
"Kamu benar-benar pergi?" Jane kaget melihat Deandra pergi meninggalkannya begitu saja.
"Apa? Dia malah pergi gitu aja? ihh!" Monolog Jane.
Janessa POV.
"Ihh! Kenapa jadi dia yang kesel sih?! Harusnya aku yang lebih kesel kan? Gara-gara dia lebih milih temen-temennya itu dari pada ngedate sama aku?! Kak Grac juga kenapa malah ngasih tau bocah itu sih?! Argh! Aku harus buru-buru nyanyain ini sama Kak Grace," Celotehku kesal.
Aku berjalan terburu-buru menuju ruanganku. Ingin segera menyidang Kak Grace. Kulihat ia sedang duduk disofa.
"Kak! Kamu ngasih tau dia kan?" Tanya ku kesal.
Grace kaget dengan kedatanganku yang langsung bertanya. "Maksud kamu apa?"
"Kakak ngasih tau Dean kalau aku kesel dia jalan sama temen-temen nya itu?" Tanyaku menyelidik.
Grace berfikir sejenak. "Akh! Dia sulit dipercaya, malah ngadu," Ucapnya sambil membuang nafas kasar. "Aku gak percaya dia malah ngasih tau kamu,"
"Untuk apa coba malah dia yang kesel soal itu? Kan dia yang buat kesalahan," Seolah-olah aku bertanya pada diri ku sendiri.
Grace hanya menatapku bingung. Haruskah aku bertanya bagaimana aku marah-marah waktu itu?
"Aku mau nanya, apa yang aku bilang pas aku marah gara-gara dia pergi sama temen-temen nya itu?" Tanyaku yang langsung membuat Grace tercengang.
Winnie menghela nafas dalam-dalam. la berdiri dari duduk nya lalu mendekatiku yang sedari tadi memang berdiri.
"Hum gimana ya? Kamu bilang, kenapa dia gak nanya dulu? Apa dia boleh pergi atau nggak dan seharusnya dia gak pergi,"
Aku mulai berfikir. Mengingat-ingat kejadian waktu itu.
"BUAT APA DIA NANYA, APAKAH DIA BOLEH PERGI ATAU NGGAK SAMA TEMEN TEMEN NYA? HARUSNYA KAN DIA TAU KALAU GAK BOLEH PERGI!" Aku mencoba mengulangi perkataan ku waktu itu dan memperaktekan nya kembali.
"Kayak gitu aku bilangnya?"
Wendy Kembali berfikir, sambil memperhatikanku intens. "Nggak! Nggak gitu! Kemarin kamu keliatan manis, terus mata sedikit melotot!"
"Ish! Beneran?!"
Grace terkekeh geli melihatku mencoba beberapa kali mengulang kejadian itu.
Jane POV end.