MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
KAU MUNDUR, BIAR AKU YANG MAJU



"Kamu dimana?" Jane berbicara lewat telepon.


"Jangan ganggu dulu! Lagi banyak tugas deadline." Respon Dean dari sebrang sana.


Tut! Tut! Tut! Deandra memutuskan telepon secara sepihak. Sungguh rasanyanya Jane ingin membanting ponselnya sekarang juga. Kesal? Jelas ia rasakan, sudah beberapa hari ini dia mencoba meluluhkan kembali hati cinta pertamanya tetapi orang itu malah dengan seenaknya selalu bersikap dingin.


"Jane! Kak Jihan nyariin kamu tuh."


"Jangan ganggu dulu!" Bentak Jane dengan cepat, sebenarnya dia refleks akan bentakkan itu, sebut saja Jane sedang melampiaskan kekesalannya.


Gia speechless, ia mulai mengira bosnya itu sedang dalam kedatangan tamu bulanan. Jihan yang mendengar dari arah luar, langsung masuk begitu saja.


"Ada apa ini? Berisik banget," Kehadiran Jihan rupanya tidak dianggap, Jane yang tidak merespon karena tangan nya sibuk di papan keyboard komputer. Sedangkan Gia yang memilih diam.


Jihan geram bukan main. "JANE!!" Sungguh Jihan gemas, sedangkan yang dipanggil malah mengalihkan wajahnya tidak ingin berdebat.


"Kak please banget! Aku lagi kesel sekarang jadi jangan bangunkan harimau." Pinta Jane mencoba berbicara setenang mungkin.


Gia yang sedari tadi berdiri didepan pintu, mulai melangkahkan kakinya menuju sofa dan langsung mendudukkan pantatnya. Pikirnya ini akan mengalahkan debat Presiden jadi dia memutuskan untuk menonton saja, mungkin lebih enak jika ditemani Popcron dan minuman.


"Pasti gara-gara Dean lagi kan? Udah deh, mending kamu mundur aja jadi biar aku yang maju," Jihan sengaja memancing harimau betina di depannya yang kapan saja siap menerkam.


"Bisa diem gak?" Pinta Jane lagi.


Jane mulai menyorot Jihan dengan tatapan tajamnya, bahkan lebih ke tatapan permusuhan. Sedangkan yang ditatap dengan santainya memamerkan sederet gigi putihnya. Ide cemerlang muncul di otak Jihan, pikirnya sangat menyenangkan jika ia pura-pura mendekati dan mengejar Deandra.


Sedangkan di tempat lain. Dean memang sedang mengerjakan tugas kuliahnya saat ini, dia tidak berbohong kepada Jane. Tapi dibalik tugas itu, menjadi alasan tersendiri untuk mencoba mengabaikan Jane.


"Woi! Lo yakin sama keputusan lo itu?" Brayen mulai merasa sedikit cemas dengan ide Deandra yang menurutnya sangat buruk. Dean enggan menyahuti, dia lebih memilih fokus dengan tugasnya.


"Udah deh berhenti aja! Selagi masih belum jauh,  sebelum dia tau semuanya," Kali ini Brayen mulai menasehatinya.


"Lo tenang aja, itu semua gak sepenuhnya bohong kok," ucap Dean, matanya menyipit melihat


kearah layar komputer memperhatikan tugas makalah yang sedang dia ketik. "KAN! Salah lagi, lo sih akh!" Kesalnya menyadari ia harus mengulang beberapa paragraf makalahnya.


Brayen sungguh gemas akan tingkah sahabatnya itu yang lebih mementingkan tugasnya dari pada nasib yang mungkin akan berakibat fatal. Dia baru teringat akan perkataan Deandra barusan. "Jadi lo selama ini emang punya pacar di Jogja?"


Dean menyeringai. "Lo gak perlu tau."


Ini semua merupakan teka-teki menurut Brayen, karena dirinya sangat jelas tidak pernah melihat Deandra berkencan dengan seorang wanita waktu di Jogja. Tetapi bagi Deandra, memang nantinya ia akan membawa Jane ke Jogja untuk izin kepada seseorang disana. Deandra terkekeh menyadari yang akan terjadi nantinya.


"Akh! Gue baru inget. Temen Jane yang waktu itu boleh juga..."


Deandra menatap horor Brayen. Ia baru tahu sahabat nya yang dicap sebagai playboy gadungan itu sekarang sedang menaksir salah satu wanita yang dia kenal. "Kalau lo mau main-main, jangan!" sergah Dean.


Brayen sadar, Dean tidak akan membantunya selama pendekatan. "Dih! Gue cuma pengen temenan doang juga. Tapi kalau ada peluang boleh juga sih." gumam Brayen.


"Yang mana? Jangan bilang Kak Jihan?"


Deandra mengehela nafas berat mengetahui sahabatnya itu menaksir gurunya. "Mendingan jangan deh! Dia guru gue pas SMA,"


Bukannya kecewa tetapi wajah Brayen malah berbinar ketika mendengar pengakuan dari Deandra. Betapa menantang nya bagi Brayen ketika mendekati seorang guru, pasti sangat menyenangkan. "Itu yang gue mau, BRO!!"


"Elah! Jangan macem-macem lo, dia guru gue!" pekik Dean.


"HEH! Lo sadar gak? Lo juga lebih parah pacarin Kepsek lo sendiri. Mendingan gue kali yang baru naksir, ckck!" cibir Brayen bagi Dean, dia kalah telak jika berdebat masalah itu dan memang benar saja masih wajar Brayen yang baru menaksir.


Di kediaman keluarga Ario yang sedang melakukan makan malam bersama.


Aryna menatap heran kepada Dean, lalu setelahnya bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Astaga... Kapan kamu datang? Kenapa baru main kerumah?"


Dean tersenyum ramah, ia memang tidak sungkan kepada lbu dari mantan kekasihnya itu. "Kami baru aja mau makan, sini gabung!" Ajak Aryna, ia menuntun Dean untuk pergi ke meja makan. Disana sudah ada Ario, Jihan dan juga Jane.


Betapa bahagianya bagi Jane mendapati kehadiran Deandra yang sekarang sudah berada dirumahnya. "Kamu kesini? Kenapa gak ngabarin dulu?"


"Emangnya dia mau nyamperin kamu?" Jane berdecak sebal mendengar cibiran dari Jihan. Tak mau terlihat kesal ia memilih menatap Dean dan langsung tersenyum manis.


"Aku kesini mau nyamperin Om Ario sama Tante Aryna," Jihan terkekeh mendengar pengakuan Dean. Sedangkan Ayah dan Ibunya tertawa geli melihat reaksi Jane yang sekarang sedang menahan malu.


"Udah! Makan dulu ayoo..." Ajak Aryna.


Setelah mendengar emoat kata dari Aryna mereka semua memilih fokus dengan makanannya.


Sedangkan Deandra merasa canggung berada ditengah-tengah keluarga Ario, ia baru menyadiri jika dirinya adalah orang yang dulunya pernah hadir dan sekarang kembali lagi.


Telepon masuk di handphone Ario, ia menghentikan aktivitas makan malamnya lalu dengan penuh kewibawaannya Ario mengangkat telepon itu.


"Hallo!"


"Baik Pak Mario! Minggu depan saya akan menyusun konsep untuk peresmian proyek baru kita," Beritahu Ario kepada orang di seberang sana.


Deandra mengantungkan sendok makannya yang sudah siap dia suapkan ketika mendengar nama Ayah nya disebut. Dean berfilkir positif, mungkin bukan ayahnya. Nama Mario bukan cuma ayahnya sajakan? Ario mengakhiri teleponnya dengan senyuman bahagia, mengingat sebentar lagi proyeknya yang sudah dibangun hampir tiga tahun lebih itu akan diresmikan.


"Apa Pak Mario Malik mau ke Jakarta?" Ario mengangguk mantap mendengar pertanyaan istrinya, senyuman diwajahnya masih belum juga pudar.


Deandra mengambil gelas air minum dan langsung meneguknya tandas. Sungguh dia benar-benar merasa gugup bercampur tidak percaya jika ayahnya berteman baik dengan seorang pengusaha terkenal ini.


"Ohh iyaa... Ngomong-ngomong kamu asal Medan, kan?" Dean mengangguk pelan. "Pasti kamu kenal sama pak Mario Malik?" Sumpah demi apapun bagi Dean ini bukan sebuah pertanyaan, melainkan penyataan. Ia tidak menjawab, Deandra hanya memberikan senyuman canggung kepada Ario.


Jane sangat paham jika sekarang Deandra sedang gugup. Matanya menyipit menyadari jika sahabat Ayahnya punya marga yang sama dengan Dean, yaitu Malik. Jane mencari cara agar mengatasi kegugupan Deandra.


"Papi! Gak semua orang Medan kenal sama sahabat Papi itu. Lagian Dean juga udah dari SMA tinggal di Jakarta." celetuk Jane dengan gaya bicara intonasi dinginnya.


Sedangkan Ario malah hanya bisa terkekeh geli. "Kamu apa kabar Deandra? Gimana sama kuliah kamu?"


"Baik-baik aja kok Om! Kebetulan sekarang aku lagi ngelanjutin S2 ku." ucap Deandra sesopan mungkin. Percis seperti orang sedang berusaha mengambil hati calon mertuanya.