
Tiga Tahun Kemudian. Jogjakarta.
Deandra dan Brayen sedang mengemasi barang-barangnya. Hari ini mereka akan meninggalkan Jogja, untuk melanjutkan Sarjana tingkat kedua (S2) mereka di Jakarta.
"Udah beres," Ucap Dean sambil melihat kopernya. "Gue pamit sama Nenek Puspa dulu, lo mau ikut?"
Brayen menggeleng. "Lo aja deh, gue belum beres packing."
Lantas Deandra keluar kontrakannya, untuk segera kerumah nenek Puspa ingin berpamitan kepada wanita lanjut usia itu. Dean menekan bell rumah Nenek Puspa beberapa kali. Tak lama dari itu keluar wanita paruh baya, pengurus rumah Nenek Puspa.
"Kamu!" Ucapnya setelah mengetahui kedatangan Deandra. "Masuk dulu!" Dean hanya menanggapi dengan senyuman.
Dean langsung masuk, dan segera duduk di sofa ruang tamu. Rumah kelasik, penuh dengan barang-barang antik.
"Mau minum apa?" Tanya wanita paruh baya.
"Teh aja, Bik. Nenek Puspa nya ada?"
"Ada, Bibi panggilin dulu yaa." Lantas wanita paruh baya itu pergi ke dalam.
Beberapa menit Nenek Puspa muncul, bersamaan dengan Teh yang dibawa wanita paruh baya itu. Nenek Puspa langsung duduk, ia menatap Dean bibirnya mengukir senyuman.
"Dean! Kamu udah mau pergi?" Tanyanya setelah beberapa saat.
Dean mengangguk mantap. "Iya Nek! Ini Dean mau pamit,"
Cowok itu menghela nafas, ada rasa berat untuk meninggalkan Jogja. Jujur ia sudah nyaman selama Jogja, apa lagi kehadiran sosok Nenek yang selalu bisa menyemangatinya secara tidak langsung. Meskipun sampai sekarang Dean belum mau membagikan ceritanya pada sang Nenek.
"Kamu baik-baik disana yaa! Jangan lupa nanti main-main lagi kesini ketempat Nenek. Huh?" Lirih Nenek Puspa.
Mata Dean hampir berkaca-kaca, sudah habis kata-kata baginya. "Huum! Boleh Dean peluk Nenek?" Nenek Puspa mengangguk menyetujui.
Deandra langsung berdiri dari duduknya, dengan langkah pelan dia mendekati Nenek dan langsung memeluknya.
Nenek Puspa mengelus punggung Dean. "Hum.. Nenek emang gak tau masalah kamu apa, tapi nenek tau kamu pasti mampu mengatasinya,"
Menetes sudah air mata Dean. "Akh! Makasih ya Nek, buat semuanya," Ia menghela nafas. "Berkat Nenek, Dean bisa ngerasain sosok seorang Nenek yang gak pernah Dean rasain sebelumnya,"
"Iya Dean! Jangan sungkan buat kesini lagi ya, kamu udah nenek anggap seperti cucu nenek sendiri,"
Deandra tersenyum mendengar tutur Nenek Puspa. "Nenek, Dean pamit dulu yaa.." Ucapnya sambil melepas pelukan. "Nenek harus selalu sehat! Dean janji nanti main kesini lagi nyamperin nenek,"
Nenek Puspa mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyuman manis. "Kamu memang anak yang baik, yaudah sana pergi lah!"
"Nenek ngusir Dean nih?" Ucap Dean sambil memoutkan bibirnya. Entah apa yang lucu, sehingga membuat mereka tertawa bersama.
Sekarang Deandra bersama Brayen sudah di dalam Pesawat menuju Jakarta. Perubahan Dean semakin terlihat, kini ia sudah sedikit seperti pria dewasa di usia dua puluh dua tahun.
Satu tahun lalu orang tuanya sempat menghubungi Deandra. Sungguh keajaiban bagi Dean menerima permintaan maaf dari sang Ibu. Ayahnya menyuruh dia kembali ke Medan, tetapi Deandra kukeuh untuk tetap melanjutkan hidupnya di Jakarta. Ayahnya pun tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menyetujui keinginan putra bungsu nya itu. Deandra juga punya hobby selama tinggal di Jogja yaitu Photografer. Entah kenapa dia sangat suka memotret, ia juga ingin suatu hari membuka Galery untuk hasil potretnya.
Berbicara tentang Jane. Sejak mendengar Jane akan menikah, Dean sudah memaksakan hatinya untuk mengiklaskan. Ia sudah benar-benar mengiklaskan Janessa, tetapi rasa cinta tidaklah bisa hilang, Meskipun ia tahu rasa cintanya itu tidak lah berarti apa-apa, karena Jane sudahlah menjadi milik orang lain sepenuhnya. Sejak saat itu juga dia menyibukkan dirinya dengan belajar dan belajar. Sehingga dia mendapatkan beasiswa lagi untuk melanjutkan Sarjana tingkat dua (S2).
Deandra menghela nafas. "Gue udah siap buat ngejalanin kehidupan baru gue mulai sekarang." Gumamnya seraya tersenyum semanis mungkin.
Sudah satu minggu sejak kembalinya Deandra ke Jakarta. Ia selalu pergi ketaman tempatnya dulu menenangkan pikirannya. Tapi kepergiannya ke taman bukanlah lagi merenungkan nasibnya, melainkan bersantai mengerjakan tugas kuliahnya. Kadang juga tak jarang dia membawa kamera untuk memotret. Seperti hari ini, ia datang hanya membawa kamera. Matanya melotot melihat wanita yang dia kenal sedang bersama anak kecil usia dua tahunan.
"Jane!" Monolog Dean. "Sama anak kecil, secepet itu?"
Tiba-tiba sebuah ide muncul di pikirannya, ia pergi ke toko bunga disekitaran taman. Membeli buket bunga mawar merah dan memberi sebuah secarik kertas di dalamnya.
Deandra mengikuti Jane dan anak gadis itu secara diam-diam. Beberapa menit kemudian Jane meninggalkan anak gadis itu di kursi taman sambil memainkan alat gelembung sabun ditangan nya. Deandra yang bersembunyi dibalik pohon tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendekati anak gadis itu cepat-cepat, sambil melihat keadaan takut akan Janessa melihatnya.
"Apa Om bisa minta tolong?" Tangan Deandra mengusap kepala anak gadis itu dengan sayang.
"Ini!" Dean menyodorkan buket bunga itu."-Kasih ke orang yang bersama kamu!" Dean tersenyum, dia membungkuk untuk mencium kening anak gadis itu.
Ketika Jane kembali dia keheranan melihat gadis kecil itu sedang memeluk buket bunga mawar yang lumayan besar.
"Dek! Ini dari siapa?" Jane mengambil bunga itu, menukarkan dengan lce Cream yang ia bawa.
"Tadi, ada Om ganteng,"
"Siapa? Kamu kenal?" Anak gadis itu menggeleng, ia sekarang asyik menikmati lce Cream nya. Jane menatap buket itu, matanya menyipit saat menemukan secarik kertas.
RM, disitu tertulis inisial DM. Jane berfikir keras siapa kiranya orang yang ia kenal memiliki inisial DM. "Deandra Malik!" Monolog Jane.
Jane terkesiap, Deandra ada disini pikirnya. "Dek, yang tadi ngasih kamu bunga pergi kemana?"
"Ke sana!" Gadis kecil itu menunjuk arah Deandra pergi. Jane bergegas mencari Dean, ia yakin Dean masih disekitar sini.
Jane terus saja berusaha mencari Deandra, matanya tak henti-hentinya menyusuri kesana-kemari. "Aish! Kemana dia?" Frustasi Jane.
Besoknya Deandra pergi ketaman lagi, kali ini dia berniat mengerjakan tugas Deadline nya di taman. Dia duduk selesehan dirumput-rumput taman, punggung nya menyendar pada pohon rindang, laptop miliknya dipangku. Jari-jarinya sibuk pada papan keyboard, matanya fokus pada layar laptop.
"Hey!" Sapa seseorang dari belakang, Deandra kenal siapa pemilik suara itu, tapi dia enggan berbalik menatap pemilik suara.
Bibir Deandra tersenyum kecut. "Ehem!" Seseorang itu berdehem, membuat Dean harus menghentikan aktivitasnya. Deandra mendongkak pada orang yang sudah berada disampingnya, ia tersenyum seraya menatapnya.
Deandra mengemasi laptopnya, menyimpan diransel miliknya. Lalu mengendong ranselnya ketika sudah berdiri dari duduknya, kini ia sudah berhadapan dengan Jane dengan jarak tiga langkah. Jane menatapnya intens, membuat Deandra menundukkan wajahnya. Kaki kanannya dia mainkan, kedua tangannya simpan di belakang pinggang.
Merasa canggung, Deandra berusaha menatap Jane dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu ia tersenyum manis. "Anda keliatan kurusan," Ucap Dean.
Kini balik Jane yang menatap nya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kamu juga banyak berubah, udah lebih keliatan dewasa sekarang," Deandra terkekeh mendengar ucapan Jane.
"Harus dong! Saya udah dewasa pastinya," Ucap Dean sambil terkekeh. "Kan udah 22 tahun,"
Jane tersenyum kecut. "Hum! Kamu tinggal di Jakarta?" Dean mengangguk mantap. "Udah lama?" Penasaran Jane.
Dean menghela nafas, lalu mendongkak. "Hem, udah satu minggu lebih,"
Lama mereka saling diam, merasakan kecanggungan pada dirinya masing-masing.
"Kalau gitu saya pergi dulu ya, banyak tugas kuliah yang deadline," Imbuh Dean sambil membalik badan nya, kakinya melangkah.
"Deandra!" Lirih Jane, Dean menghentikan langkahnya tanpa menoleh kepada wanita itu. "Apa kita bisa ketemu lagi nanti, disini?"
Deandra tersenyum kecut, lalu dia mengigit bibir bawahnya. "Hmm! Suatu saat kita bakal ketemu lagi kok," Ia melangkahkan kakinya lagi.
"Ndra!" Panggil Jane lagi, dengan terpaksa Dean menghentikan langkahnya. "Maaf," Mata Jane sudah berkaca-kaca dan akan segera menetes.
Deandra mengulum bibirnya, matanya juga sudah berkaca-kaca. Tak ingin Jane melihat keadaannya sekarang, ia bergegas meninggalkan Jane.
"Maaf Jane! Jangan cari aku lagi. Aku gak mau ganggu kebahagiaan kamu! Kamu udah milik orang lain sepenuhnya. Kalau kamu nekad kayak gini nyamperin aku, itu bakal semakin nyakitin aku! Karena ngeliat kamu buat aku gak yakin bisa memulai hidup baru." Batin Deandra.
Jane duduk lemah di kursi taman, ia sudah menangis tersedu-sedu.
Deandra memasuki mobilnya, ia menyandarkan punggung nya, air mata yang sedari tadi ia tahan menetes sudah.
"Asal kamu tau kalau aku pengen banget meluk kamu buat sekali ini aja, tapi hati ku benar-benar gak sanggup lagi." Gumam Deandra.