MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
DEAN BACK TO SCHOOL



Hari ini, hari diamana Deandra kembali lagi ke sekolah. Sesampainya dipintu gerbang, ia berhenti sejenak. Ia merentangkan kedua tangannya lantas menghirup udara segar dari rongga hidungnya. Dean tersenyum seketika, mungkin karena rasa lega yang ia rasakan.


"Hah! Seger banget udaranya." Kata Dean. Setelahnya ia lantas melanjutkan langkah kakinya. Mulai menyusuri setiap koridor sekolah. Sambil melambai-lambaikan tangannya kesetiap murid cewek yang kebetulan berpas-pasan dan meneriaki namanya dengan penuh semangat.


"Kak Dean balik lagi! Semangat yaa.."


"Kak Dean, i love you!"


"Kak Dean, kami selalu sayang sama kakak! Tetap semangat yaa.."


"Aaa.. Kak Dean ganteng pake banget!"


Itulah beberapa teriakan dari cewek-cewek yang berhasil Deandra dengar. Senyum manis yang mereka berikan selalu bisa membuat cowok itu semakin percaya diri. Dean masih berjalan menyusuri setiap koridor sekolah itu sambil menyapa para siswi yang menyambut kedatangannya kembali. Bagaimana tidak kembali Dean sontak membuat satu sekolah geger. Tapi para sahabatnya masih belum mengetahui bahwa Deandra telah kembali kesekolah itu, mereka masih sibuk di kantin.


"Woi! Kalian liat itu deh! Mereka pada ngapain coba ngumpul disana?" Alvin yang menyadari jika ada sesuatu yang mungkin heboh sedang terjadi.


Iyan menatap kearah dimana Viktor menoleh. "Apa jangan-jangan murid baru tuh?"


"Iyakan? Mana cewek-cewek kita malah pindah ke sono lagi. Belagu banget tuh orang!" Sinis Jose, ia kembali menyedot minumannya.


Gara sedikit curiga akan satu hal, cowok membulatkan matanya setelah menyadari satu hal. "Bentar deh, apa jangan-jangan?" Karena sedikit heboh, Gara sampai memukul-mukul bahu Iyan dan kebetulan jika Iyan lah yang duduk di sebelahnya.


Tidak mau membuang waktu dengan semua pemikirannya, Gara lantas berlari lebih dulu. Ketempat dimana kerumunan itu berada.


"Lho! Si Gara malah pengen ikut-ikutan?" Tanya Jose.


"Gue juga kepo nih, ayo deh!" Ajak Iyan, cowok itu sudah berdiri dari duduknya.


"Ayo buruu!" Alvin malah sudah menarik pergelangan Jose. Sahabatnya yang satu itu memang terkenal lelet.


"Anjir! Pelan-pelan napaa?! Sakit bego.."


Sedangkan ketiga sahabatnya yang lain menyusul secara bergantian. Sejujurnya mereka belum mengerti dengan apa yang Gara coba katakan.


Beda dengan Gara, ia lebih tahu jika Deandra itu selalu jadi pusat perhatian para cewek-cewek di sekolah ini makanya Gara yakin seratus persen jika Dean lah yang berada disana.


Sambil berusaha memasuki wilayah yang dimana banyak lapisan cewek berkumpul, Gara sesekali merentangkan tangannya agar bisa lebih leluasa membuka jalan.


"Njir! DEAN!!" Teriak Gara setelah melihat keberadaan sahabatnya itu. Lalu menghambur memeluknya.


Deandra yang menerima pelukan itu hanya bisa diam tanpa memberontak. Karena ia tahu sahabatnya itu pasti sudah sangat merindukannya. Setelah satu minggu tidak menerima kabar darinya. Datanglah Alvin, Iyan dan Jose. Mereka kaget tidak percaya dengan keberadaan Dean saat ini di depan mata mereka dan langsung ikut memeluk.


Kini mereka berpelukan seperti Teletubbies layaknya sahabat pada umumnya menepis rasa rindu di benak mereka masing-masing. Dengan mata yang berkaca-kaca terlihat di wajah mereka masing-masing bahkan Alvin sudah meneteskan air matanya. Sampai akhirnya seseorang menyelesaikan drama persahabatan di antara mereka dan membuat para siswi berlari ketalkutan secara bersamaan.


"Lo kemana aja bego?" Pekik Iyan.


"Hiks! Minimal kabarin gue kek," Bahkan Alvin yang kesan nya tidak pernah marah saja, tidak mau kalah mengomel.


"Apa yang terjadi disini?" Tiba-tiba Jane datang, ia belum melihat keberadaan Deandra karena cowok itu berada di tengah pelukkan para sahabatnya. Perkataan Jane sontak membuat mereka melepaskan pelukan.


Jane memandangi Dean setelah lima serangkai itu sedikit menjaga jarak. Jane baru tahu apa yang membuat satu sekolah heboh. "Anda kembali? Bagus, ikut saya sekarang!" Perintahnya. Lantas wanita itu melanjutkan langkahnya.


Tanpa berpikir panjang lagi Deandra langsung mengekori Jane. Sambil sesekali menatap kebelakang untuk melihat para Sahabatnya.


"SEMANGAT!" Keempat sahabatnya memberikan isyarat.


Deandra sekali lagi hanya bisa mengembangkan senyuman nya agar tidak ada yang perlu khawatir dengan dirinya sekarang dan juga agar keempat Sahabatnya tahu jika dirinya akan baik-baik saja. Sekarang mereka berdua sudah sampai diruangan Jane sedangkan Grace yang diketahui sedang sibuk rapat dengan sponsor tidak ikut Jane kesekolahan hari ini.


"Ada perlu apa Ibu memanggil saya?" Den memutuskan membuka suara terlebih dahulu.


"Mulai malam ini, anda harus datang ke tempat saya! karena saya sudah menyiapkan guru les disana,"


Dean menyipitkan mata, tidak mengerti dengan jalan pikiran Jane. "Maksud anda?"


Jane menghela nafas setelah itu lantas melepas kaca mata hitam nya. "Itulah tawaran yang awalnya akan saya kasih, tapi anda dengan bodohnya pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari saya,"


Dean masih tidak mengerti apa maksud dari Guru Les. "Tunggu-" Dan sejurus ia baru sadar. "Wah! Apa tidak ada cara lain?"


Jane mengeluarkan Laptopnya lalu menghidupkan nya. "Itu adalah kesempatan yang saya berikan. Kenapa? apa anda takut gak bisa punya waktu sama cewek-cewek anda itu?"


Dean malah terkekeh geli mendengar kata terakhir dari Kepala Sekolah itu. Membuat Jane langsung menatap tajam kearahnya.


"Apa anda bisa sopan sedikit?! Siapa yang suruh anda tertawa, hah?"


"Pftt! Gak sih.. Tapi kayaknya anda bener, saya bakal kesulitan buat nyamperin cewek-cewek saya di luar sana. Tapi bukannya itu malah bisa bikin anda semakin suka dengan saya, hm?" Dean sedikit mengoda Jane. Tapi cowok itu masih mengulum senyumnya.


Jane merona kali ini di buat Dean. Wanita itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedikit blushing.


"Astagaa.. Dia bener-bener bisa bikin cewek tergila-gila sama dia. No Jane! Apa yang kamu pikirin? Tetaplah pada pendirian kamu, oke?" Batin Jene.


"Jangan berani-beraninya ya anda! Ini sudah di luar batasan!" Pekik Jane setelah berhasil membuat dirinya sadar sebelum semakin jauh terbuai oleh Dean.


"Hum.. Oke deh saya pastikan nanti malem ke tempat anda," Setelah mengatakan itu Deandra langsung beranjak meninggalkan ruangan Jane. Karena ia tidak mau jika berdebat lagi dengan Kepala Sekolahnya itu, bukannya Dean takut hanya saja ia tetap akan kalah nantinya.


"Huft! Akhirnya dia keluar juga.. Ish! Dia bisa banget bikin aku ngerasa gak berkutik sama sekali," Jane merasa lega setelah kepergiaan cowok itu.


Jujur saja jika dirinya kehabisan kata-kata untuk merespon Dean. "Lagian apaan coba? Dia pikir bisa bikin aku suka sama dia? Dih, itu gak akan terjadi! Bahkan orang yang udah mapan keren dan terkenal jauh di atas dia aja gak bisa bikin aku jatuh cinta, apa lagi dia yang masih bocah SMA, cih!" Gerutu Jane, ia malah kesal sendiri.