MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
PERTEMUAN KEDUA DEAN DAN ARYNA



"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kayaknya kamu gak asing," Tanya Aryna.


Deandra mengusap keringat dipelipisnya, lalu mengangkat kepala untuk melihat orang di depannya, bagi Dean ia juga seperti mengenali wanita di depannya itu. Cukup lama ia dan Aryna saling menatap dengan ekspresi yang sama. Membuat Jane, Jihan dan Irene kebingungan.


"Ekhem!" Jane Berdehem membuat Dean refleks mengalihkan pandangannya.


"Kayaknya tebakan Tante benar, kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana ya?" Dean menatap kembali orang yang berbicara dengan nya. "Soalnya Tante gak pernah ngelupain muka orang-orang yang membantu saya," Lanjut Aryna, berbicara apa adanya.


"Maksud-" Deandra membulatkan matanya, kejadian yang hampir meretngut nyawanya terlintas di kepalanya.


"Benar! Saya gak salah lagi. Kamu orangnya! Soalnya saya sempat liat muka kamu, meskipun pas itu dalam keadaan lemah," Aryna tersenyum kecil Sedangkan ketiga putrinya semakin kebingungan, apa yang di maksud Ibu mereka itu.


"Maksud Mami apa? Bisa di jelasin!" Jane yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Aryna menoleh Jane lalu tersenyum kecil, ia menghela nafas. "Dia orangnya, yang udah nyelamatin Mami atas kejadian pembegalan waktu itu," Aryna menandaskan. Mereka semua menatap kepada Dean. "Kamu ingat kan?" Tanya Aryna lagi kepada cowok itu.


Deandra sedikit kebingungan, jujur ia belum bisa mengingat jelas. Lalu dengan kegugupan dia mencoba memperhatikan wajah Aryna cukup intens. Sepersekian detik, wajahnya kaget seperti tidak percaya.


"Akh! Iyaa.." kata Dean mendayu, wajahnya sumringah. "Aku gak nyangka Tante bisa ngingat muka ku dengan jelas. Padahal aku aja berusaha ngingat muka Tante,"


Aryna memberikan senyuman termanisnya. Sedangkan ketiga putrinya masih memberikan waktu untuk dua orang yang sedang reuni kejadian naas itu, mereka menjadi pendengar dan berusaha memahami percakapan dua orang tersebut.


"Tante soalnya sempet liat kamu kok. Ohiya, bukannya pas itu kamu juga sempet di tusuk para perampok itu ya?" Karena benar saja Aryna melihat dengan jelas kejadian itu. "Terus kenapa kamu ngilang gitu aja? Padahalkan Tante belum sempet bilang makasih lho sama kamu. Harusnya kan juga kamu di rawat!"


Refleks Deandra mengaruk tengkuknya yang tak gatal. "Akh, itu! Aku sempet nungguin Tante kok sekitar setengah jam gitu. Cuman pas susternya bilang kalau wali Tante akan segera datang, yaudah jadi aku pulang gara gara males juga kalau tiba tiba harus di tanya banyak pertanyaan nantinya. Tapi tentang kok Tante, aku di bawa kerumah sakit juga sama temen temen ku," Jelas Dean panjang lebar.


Penjelasannya semakin membuat Aryna bertanya-tanya dan penasaran. Seharusnya Deandra meminta bayaran atas kejadian itu, tapi anak itu malah melarikan dirinya.


"Harusnya kamu di rawat di rumah sakit yang sama dengan tante. Soalnya Tante kan mau tanggung jawab juga atas apa yang udah terjadi, bahkan hampir merenggut nyawa kamu juga kan? Biar Tante gak ngerasa bersalah juga, Tante kan liat sendiri sampe kamu nahan sakit nya berjam jam. Keajaiban lho sampe kamu bisa selamat gitu dan harusnya kamu yang dapetin perawatan pertama bukan Tante!" Omel Aryna pada Dean.


Deandra semakin tidak bisa berkata-kata. Karena memang benar, dan pada saat itu dia benar-benar sedih, mungkin dia benar-banar ingin mengakhiri hidupnya. Sedangkan Jihan, Jane, dan Irene semakin syok mendengar pernyataan Ibu mereka itu. Tapi mereka masih enggan bertanya.


"Soalnya Tan, aku udah sering ngadepin preman preman itu. Terus pas tante yang jadi korban mereka, jujur aja kalau aku hampir biarin gitu aja. Aku denger ada yang teriak tapi aku biarin gitu aja kan, jadinya aku milih lanjutin lari pagi ku gara gara gak mau ikut campur urusan orang lain lagi udah itu aku juga laper banget pas itu. Tapi gak tau kenapa pas udah jauh malah hati kecilku brontak harus bantuin tante buat selamat dari preman-preman itu," Rajendra berhenti sejenak, dia mengambil nafas dalam-dalam untuk melanjutkan cerita kronologi kejadian itu.


Ada rasa bangga kepada Dean yang Aryna rasakan. Dia tersenyum mendengar tutur kata cowok itu, anak ini benar-benar malaikat baginya.


"Ohiyaa.. Bukannya kamu pacaran sama Jane, ya? Harusnya Jane tau dong apa yang udah terjadi sama kamu?" Aryna semakin penasaran.


Jane menghela nafas. "Mi! Jane baru beberapa bulan jadian sama dia, jadi gak mungkin kalau Jane bisa tau. Lagian dia juga gak pernah cerita,"


"Jujur aja nih, Mi! Jihan lah yang lebih dulu kenal sama dia ini," Airin memberitahu, dia menunjuk Dean.


Aryna terperangah mendengar pernyataan Irene, dia menatap Jihan penuh tanda tanya. Ketahuan sudah bagi Jihan, sudah waktunya dia jujur.


"Jihan pernah gak sengaja nabrak dia, Mi! Jadi dia bisa di bilang sedikit manfaatin aku," Jujur Jihan sambil menundukkan kepala.


Kaget Aryna dan Jane mendengar itu. Rahasia yang ditutupi Jihan selama ini.


"Waktu itu dia dengan santainya minta tanggung jawab tapi yang dia minta cuman nemenin dia dinner bukan uang. Kakinya Dean terkilir gara-gara aku, Mi!" Jihan lagi-lagi mencoba menjelaskan.


"Mana pas itu udahnya dia songong banget, aku masih bisa ngebayangin muka datar dia pas bilang 'kalian harus tanggung jawab' dengan angkuhnya!" Irene ikut berkomentar.


Deandra semakin gelisah mendengar pengakuan kakak beradik itu. "Gak gitu kok! Itu juga gara gara kakak yang masih nanyain keadaan aku padahal kan udah jelas jelas kakak liat kaki aku di perban di tambah pas itu juga aku lagi kesel banget," Ucap Deandra tidak mau di salahkan.


Aryna terkekeh geli. Lain halnya dengan Jane, ia tidak tau jika kedekatan Jihan dan Dean akibat sebuah kecelakaan kecil.


"Tapi tunggu dulu," Aryna menatap Jihan dan Jane bergantian. "Kalian gak ngerebutin satu cowok yang sama, kan?" Tanyanya sedikit menggoda.


"Sebenarnya aku pernah jalan bareng sama dia beberapa kali pas bulan bulan kemarin, Mi! Soalnya kan aku gak tau juga kalau Jendra udah jadi milik Jane," Kata Jihan sesantai mungkin, menoleh Jane sambil menggoda adiknya itu.


Jane semakin kesal mendengar pernyataan itu, ia menatap Deandra penuh emosi. Sedangkan Rajendra jangan ditanya lagi, habislah sudah riwayat baginya.


"Kak Jihan kan emang gitu, suka gonta ganti gebetan gak jelas. Pacar orang juga bisa di rebut dia tuh!" Sinis Jane.


Aryna dan Irene hanya bisa terkekeh melihat tingkah cemburu Jane yang baru pertama kali mereka saksikan. Lucu, itu lah bagi mereka. Karena baru sekarang melihat ekspresi wajah cemburu Jane, dan kejadian beberapa waktu lalu, membuat Aryna lupa akan idenya untuk akting memarahi Jane. Gara-gara reunian kejadian naas.