
Janessa yang sekarang sedang berada di ruangannya, duduk di kursi kebangaannya dengan *Laptop* di atas meja kerjanya. Tapi ia tidak melakukan apa-apa, malah terlihat asyik dengan lamunannya, sambil sesekali tersenyum. Grace yang melihat itu menatap tidak percaya, karena baginya baru kali ini ia melihat senyum Jane yang begitu berbunga-bunga.
"Kamu sakit Jane? Kenapa malah senyum-senyum sendiri kayak gitu?"
Terlihat betul perubahan Jane. Ia memang wanita dengan berjuta ekspresi di wajahnya. Buktinya setelah Grace berkata seperti itu, ia langsung bisa mendaftarkan mimiknya dengan mudah. Tanpa harus kelabakan.
"Hem.. Kak, pemotretan kita hari ini jam berapa?" Ujar Jane mengalihkan pembicaraan.
Grace mengambil Note miliknya, yang selalu ia bawa. Karena itu berisi semua jadwal dan kegiatan sepupu nya itu.
"Hari ini kita ada jadwal jam satu siang sampai jam tiga sore," Jane hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Akh iyaa.. Aku harus keluar bentar Jane, ada keperluan dikit," Izin Grace, dia teringat akan satu hal yang harus membuatnya keluar.
"Iya Kak, sekalian beliin aku Coffelate ya!"
Grace hanya berdehem. la meraih tas tangan nya. Setelah melambai kearah Jane, ia pun lantas pergi.
Jane memastikan, apakah Grace benar-benar sudah pergi atau belum. "Ish! Bodo banget! Ngapain juga aku harus senyum-senyum di depan Kak Grace?!" Monolog Jane.
Jane terbayang lagi akan kejadian semalam. bibirnya tidak pernah berhenti membentuk senyuman manis. "Astaga bocah itu kenapa bisa sweet banget sih?!"
Jane menutup wajahnya dengan telapak tangan. Mungkin karena ia merasakan dirinya benar-benar sudah dibuat tergila-gila kepada Deandra.
Di Tempat Lain.
"Kamu tau siapa cowok itu?" Tanya Aryna.
Grace yang tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan tantenya itu sampai menyipitkan mata. "Maksud Tante gimana?"
Winnie keluar karena sudah memiliki janji dengan Grace. Sekarang mereka berdua sedang mengobrol di Cafe sambil menikmati secangkir minuman panas.
Aryna melirik sekeliling. Merasa aman ia mencoba berbicara serius kepada Grace. "Kamu tau, kemarin dia datang kerumah tiba-tiba terus dia bilang lagi suka sama seseorang,"
Grace ternganga. Refleks ia menutup mulutnya. Matanya membulat. "Tante serius?Apa jangan-jangan?" Grace terdiam. la menyadari perubahan Jane akhir-akhir ini. "Dia emang kayak aneh aja dari kemarin, tadi aja aku liat dia senyum-senyum sendiri,"
Aryna mengangkat jari telunjuknya. Layak dirinya seperti orang angkuh. "Nahkan! Siapa cowok itu?"
Grace harus dibuat berfikir lagi dengan pertanyaan wanita di depannya. Ia juga sebenarnya penasaran. "Jangan-jangan?" Gumamnya. la menggeleng untuk menjauhkan pikiran itu.
Aryna memicingkan mata. "Kenapa? Ada yang kamu curigain?"
"Tapi kayaknya gak mungkin deh tante," Grace sengaja mengantungkan kalimatnya. la tidak mau jika Aryna sampai jantungan. Setelah ia rasa Tante nya itu akan baik-baik saja. "Soalnya cowok itu masih sekolah,"
Aryna sampai tidak bisa berkata apa-apa. la mengumpulkan nyawanya yang tadi sempat speechless. "Apa? Jadi maksud kamu dia suka sama cowok yang masih sekolah? Apa jangan-jangan anak itu sekolah—" Grace mengangguk mantap. la sangat tahu kalimat apa yang sekiranya akan dikatakan Aryna jadi ia memutuskan mengangguk sebelum lawan bicaranya menyelesaikan.
"Anak itu udah pernah pergi ke Apartment Jane," Winnie mulai membuka rahasia.
"Astagaa... Kamu serius?" Grace mengangguk sambil menghela nafasnya.
"Anak itu kayak gimana orangnya? Bikin penasaran aja.." Aryna mulai membayangkan seperti apa kiranya lelaki yang di curigai Grace.
Di Tempat Pemotretan Jane.
Janessa sekarang sudah berada di lokasi pemotretan. la menunggu giliran bergantian dengan seniornya untuk mengambil gambar.
"Sekarang giliranmu!" Perintah sang Photografer. Jane pun langsung mengikuti arahan nya.
Pemotretan hari ini tidak begitu lama, mereka hanya mengambil beberapa gambar saja untuk majalah.
"Jane! Produser mengundang kita semua untuk party malam ini, jam tujuh!" Seorang Staf datang membawa undangan.
Jane mengambil undangan itu dengan penuh tanda tanya. "Acara apa?"
"Soalnya ntar malem model-model kita dari semua cabang wilayah sama yang di luar negeri juga akan berkumpul. Produser pengen ngadain party gitu deh buat bentuk berterimakasih atas kerja sama semua yang bersangkutan. Bos udah booking Cafe buat kita party," Jelas Staf itu panjang lebar.
Jane mengangguk mengerti. Tetapi wajahnya menunjukan mimik masa bodoh. "Hum.. Jane gak bisa janji yaa, tapi nanti biar Jane pikirin dulu."
Semua staf hampir paham dengan sifat seorang Janessa Sempani. Jadi mereka tidak akan menuntut wanita itu harus pergi atau tidak. Staf itu lebih memilih mengemasi seluruh alah Foto shoot setelah berpamitan dengan Jane.
Beberapa Saat Berlalu.
"Kamu mau pergi gak Jane?" Tanya Grace. Sekarang dia sedang menyetir kan sepupu nya itu untuk kemabli ke Apartment.
"Menurut Kak Grace gimana? Apa kita harus pergi?"
Grace mencemooh dalam hati. la ingin sekali menoyor kepala Jane, jika wanita itu ditanya tapi malah balik bertanya. "Pergi aja deh! Keliatan dikit ikut berpartisipasi."
Jane hanya berdehem merespon ajak kan Grace. Lantas ia merebahkan punggung nya, mencoba mendapatkan kenyamanan.
Dilain sisi, Irene yang juga sedang mengendarai mobil hendak pulang seorang diri tanpa Jihan. Karena adiknya itu sedang ada rapat dengan klain. Didalam perjalanan tiba-tiba ban mobilnya kempes, entah apa yang terjadi dengan ban mobil sportnya itu bisa kekurangan angin.
Irene yang merasa ada yang tidak nyaman dengan perjalanan nya, ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan langsung keluar mengecek apa yang terjadi dengan mobilnya.
"Astaga! Kok bisa gini sih? Ish! Ngeselin banget deh, gimana coba ini?!" Paniknya seletah melihat langsung apa yang membuat perjalanannya tidak nyaman.
Karena panik, ia memutuskan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Tetapi orang yang dihubunginya tidak juga kunjung mengangkatnya, didaerah itu cukup sepi jarang ada taksi yang lewat terkecuali memesannya. cukup lama ia mendiamkan diri dalam mobil, sampai tidak sadar ada seseorang yang berusaha mengetuk kaca mobilnya.
"Permisi Kak! Apa mobilnya mogok?" Ucap seseorang yang terdengar dan terlihat samar di balik kaca hitam itu.
Irene langsung menoleh kearah ketukan itu, ia tersenyum karena ada juga orang yang mungkin bisa menolongnya. Diturunkan nya kaca mobil itu.
"Lho, si bocah!" Tunjuknya kepada Gara, dia mencoba mengingat siapa kiranya cowok di hadapannya.
"Temannya Deandra bukan?" Gara tersenyum, setidak nya wanita yang mulai ia suka masih mengingat dirinya meskipun tidak dengan namanya.
Beruntung sekali bagi Irene karena Gara lah orang yang mungkin menolongnya. Gara juga tidak tahu, kenapa ia bisa dipertemukan seperti ini denga Irene. Mungkin karena jodoh pikirnya.
"Iya Kak, bener! Aku Gara," Untuk yang kedua kalinya Sagara memperkenalkan diri. "Aku gak tau kalau Kakak yang di dalem mobil,"
"Gara bisa nolongin Kakak gak?"
"Mobilnya kenapa Kak?"
Irene turun dari mobil. la pergi kearah Ban mobilnya yang kurang angin. "Liat ini! Bannya kurang angin deh kayaknya,"
Gara berjongkok, dengan telaten ia memeriksa Ban mobil itu. la sadar jika Ban mobil itu bukan saja kekurangan angin. Lebih tepatnya bocor terkena benda tajam. "Di bagasi ada Ban cadangan gak Kak?"
Irene langsung membuka bagasi mobilnya dan untungnya ada Ban cadangan di dalam sana. Gara langsung menurunkan Ban cadangan itu dan langsung di bawanya kedepan untuk segera di ganti. Irene hanya bisa melihat tanpa membantu karena ia tidak tahu apa-apa. la sesekali memperhatikan Gara yang kini berkeringat karena berusaha menganti Ban mobilnya.
"Ugh! Dia manis banget." Batin Irene, ia tersenyum tipis setelahnya.