
5 TAHUN KEMUDIAN.
Rintikan gerimis sayup-sayup terdengar jatuh membasahi pekarangan rumah. Suasana pagi yang menyenangkan bagi Deandra, dirinya yang sekarang sudah membuka mata sehabis bangun tidur mendapati sesosok wanita cantik yang terbaring disampingnya.
Dean tersenyum seraya tangan nya terulur mengelus rambut Janessa penuh sayang membuat sang empunya mengeliat.
"Engh! Pagi sayang..." Sapa Jane, tangan nya ikut terulur mengelus pipi Dean.
Deandra tidak berkedip memandangi wajah cantik Jane. Rasanya baru kemarin ia menjalin hubungan dengan wanita itu, tetapi kenyataan nya pernikahan nya dengan Jane sudah menginjak 5 tahun.
Setelah pulang dari Pulau Bali satu bulan kemudian mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan. Karena Dean yang tidak mau membuang-buang waktu.
Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Jane. Pertama ia mengecup pipi kiri dan kanan Jane bergantian, lalu kening dan berakhir di bibir. Janessa tidak mau kalah, ia bangun dan langsung melakukan hal yang sama. Senyum Dean mengembang lantas membawa Janessa kepelukan nya. Mereka terpejam lagi, sama-sama memberikan rasa nyaman di diri masing-masing sambil di temani sang gerimis.
"Acara Kak Jihan sama Alvin jam berapa?" Tanya Dean, sambil mengelus punggung Jane dengan sayang.
Hari ini, kedua sejoli itu akhirnya menggelar pernikahan setelah banyaknya drama yang mereka jalani.
Tok! Tok! Tok! Jane dan Deandra refleks menoleh kearah ketukan pintu. Karena tidak dikunci, pintu itu terbuka dengan sekali putaran kenopnya.
"Papi! Udah bangun?" Tanya seorang gadis manis yang sekarang menyembulkan kepalanya dibalik pintu. Membuat Dean dan Jane terkekeh melihat tingkah gadis itu.
Sang gadis mendekat setelah mengetahui empunya kamar sudah duduk diatas King Size. Ia berlari kecil dan langsung di sambut sebuah pelukan oleh Dean.
"Tidurnya nyenyak, hm?" Kata Dean sambil menyelipkan anak-anak rambut gadis itu ke telinganya.
Sang gadis mengangguk mantap, sambil memamerkan deretan gigi putihnya. "Ayo Pi, ke acara Aunty~ " Rengek gadis itu.
Jane bangun. "Kamu mandi dulu gih!" Suruhnya kepada gadis manis itu, tangan nya sibuk merapikan selimut dan seprai.
Sang gadis memelas, ia melipat kedua tangan nya memberikan isyarat jika ia tidak mau melakukan nya.
"Nanti kita beli ice cream, mau!" Bisik Dean membuat gadis itu sumringah lalu mencium pipi Dean dengan cepat.
Sebelum berjalan keluar, ia memperhatikan Jane dengan tatapan permusuhan. Membuat Jane hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Jane yang memiliki sikap pemarah dari lahir membuatnya kadang harus perang dingin dengan anak gadisnya yang memiliki sifat yang sama dengan nya. Tetapi bagi Deandra itu sangat lah lucu, kadang ia harus menjadi penengah di antara kedua perempuan berbeda usia itu. Jane yang tidak mau kalah dan anak gadisnya yang harus menang. Tetapi meskipun demikian kedua perempuan itu saling menyayangi satu sama lain.
Hari ini adalah hari yang berbahagia bagi Alvin dan Jihan. Terutama bagi Viktor, penantiannya selama 10 tahun tidaklah sia-sia. Meskipun begitu banyak drama dan sakit hati yang harus ia tanggung demi menunggu wanita impian nya itu, dan ia membuktikan jika ketulusan hati serta pengorbanan nya akhirnya membuahkan hasil.
Ribuan tamu undangan sudah memenuhi gendung tempat acara resepsi itu di adakan. Keluarga besar mempelai pria dan wanita sudah duduk di kursi khusus bagian depan.
"Selamat sore para hadirin sekalian yang saya hormati. Saya Thor dan juga orang di sebelah saya ini adalah partner saya dalam berbagi inspirasi, panggil saja dia dengan sebutan Lang. Berdirinya kami disini bukan karena tidak di beri kursi tetapi kami mau membawakan acara pernikahan teman kita yaitu Alvin dan Jihan!"
"Ya! Benar sekali. Saya harap hadirin sekalian sehat-sehat semua, jika ada yang sakit silahkan kerumah sakit jangan memaksakan diri karena itu tidak baik buat hati."
Semua orang tertawa lantas bertepuk tangan mendengar percakapan pembawa acara Absurd yang entah dari mana sang panitia menemukan mereka.
"Mungkin disini ada yang mau menambahkan kata sambutan lagi, dari pihak sahabat-sahabat nya ada yang mau di sampaikan?"
Jose dan Iyan serempak mengangkat tangan. Mereka berdua saling menatap, duduk di kursi yang berbeda tetapi tidak terlalu berjauhan.
"Sepertinya ada dua orang disana yang ingin meluapkan keluh kesahnya sebagai teman mereka, Bung Thor!"
"Tidak masalah Bung Lang! Ya, silahkan kalian berdua maju! Anggap saja ini acara Award jadi tolong jangan terlalu lama karena ini bukan sesi curhat dan pastinya hadirin disini tidak sabaran. Karena apa Bung Lang?"
"Karena yang sabar hanya Deandra! jadi harus sabar seperti Deandra."
Seperti acara Award Deandra di sorot kali ini, dirinya harus di Roasting pembawa acara Absurd itu. Ia sampai tertawa karena menyadari dirinya yang memang memiliki sifat penyabar.
Jose dan Iyan sudah berdiri di depan podium. Lagi-lagi mereka saling menatap, saling menunggu siapakah yang akan memulai duluan.
"Selamat sore semuanya," Sapa Iyan begitu dia mengambil alih mic yang di berikan orang MC. "Saya Iyan, sahabat sekaligus mantan pacar dari istri sahabat saya sendiri, Alvin. Ingin menyampaikan selamat atas penantian sahabat saya. Semoga kedepannya kalian menjadi keluarga yang harmonis."
Iyan berucap, matanya sudah berkaca-kaca. Sebenarnya ada ribuan kesedihan di dalam dirinya yang tidak pernah ia ungkapkan. Ia adalah mantan terakhir dari Jihan, mereka menjalin hubungan selama 2 tahun dan harus kandas karena Iyan yang tidak mau persahabatan nya rusak. Ia lebih mengiklaskan Jihan untuk bersama Alvin. Karena ia tahu jika Alvin sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkan hati wanita itu.
Jose menepuk bahu sahabatnya itu samar-samar. Semua orang yang menyaksikan turut terharu mendengar pengakuan pria dengan mental yang kuat itu.
Semua orang lantas bertepuk tangan, setelah mereka berdua memberikan kata sambutan dan akhirnya meninggal podium.
"Wah, sepertinya saya juga sedang di posisi Iyan, Bung Lang!"
"Beliau ini, jangan curhat saudara! Oh iya, saya mau menyampaikan untuk barisan para mantan, tolong pergunakan tissue yang sudah di sediakan dengan baik karena menahan air mata hanya dilakukan oleh orang-orang profesional," Kata pembawa acara yang satunya, yang lebih akrab di panggil dengan nama panggung Bung Lang.
"Ya! Betul sekali. Tapi tidak terasa ya kita disini sudah di penghujung acara setelah sekian banyaknya kita berbicara. Mungkin sekian saja dari kami, saya juga mengucapkan terimakasih kepada tamu undangan yang sudah bersedia meluangkan waktu dan mengisi amplop nya,"
"Jika ada kelebihan itu dari saya dan jika ada kekurangan itu pasti dari teman saya ini," Tambah Bung Lang.
Semua orang yang tadinya sempat tersentuh karena ulah Iyan kini tertawa mendengar perkataan kedua manusia Absurd yang tiada habisnya mengisi acara dengan lelucon.
"Berhubung anak Deandra dan Jane sorang wanita jadi kita tidak meminta maaf, karena perempuan tidak pernah salah. Bukan begitu Bung Lang?"
"Ya! Anda benar. Tapi sepertinya kita harus meminta maaf jika ada kesalahan. Karena kesempurnaan itu datang dari Tuhan, kesalahan itu datang dari setan dan kita hanya korban. Sekian dan terimakasih."
Semua tertawa lantas bertepuk tangan sekencang-kencangnya. Mereka sampai berdiri dari duduknya setelah mendapatkan penutupan dari kedua manusia tidak diundang itu.
"Tunggu dulu, saya ingin menyampaikan lagi. Silahkan bagi yang mau makan dan bagi yang tidak mau kalian boleh membungkus untuk di bawa pulang. Terimakasih!"
Beberapa saat kemudian.
"Lo kapan mau punya anak?" Tanya Jose kepada Gara.
Kini mereka sedang bersantai setelah acara makan. Gedung itu masih dipenuhi manusia yang memang sedari acara dimulai masih betah dan sepertinya belum ingin pulang. Karena memang begitulah jika orang-orang sibuk dan penting apalagi pengusaha di kumpulkan, jika tidak saling menjodohkan anak mereka yang pastinya membicarakan bisnis.
Gara meletakan gelas berisi Wine di atas meja. "Tanya aja deh sama yang mau ngelahirin, udah siapa apa belum?!" Katanya dengan mimik muka yang sedikit memelas setelah mengatakan hal itu.
Tidak tahu kenapa Irene selalu menunda kehamilan nya dengan alasan ingin menyelesaikan proyek kerja nya terlebih dahulu. Agar nanti tidak begitu sibuk dan bisa mengutamakan kehamilannya.
"Tuh punya Dean aja udah 5 tahun, sekali tembak langsung jadi gitu," Iyan berucap, dirinya yang tadi sempat menitikkan air mata karena keikhlasan nya menyaksikan pernikahan mantan kekasih dengan sahabat nya sendiri. Kini ia sudah mulai lega.
"Heem! Nikahnya bareng, punya anaknya main tinggal-tinggal aja si Dean mah," Cerocos Jose, yang membuat Gara terintimidasi karena pertanyaan dari kedua sahabatnya itu.
"Gatau deh kenapa bini gue gilakk banget kalo udah soal kerjaan, kadang gue aja stress liat dia yang tiap hari sampe ke malem liatin laptop mulu. Jadi kalian berdua jangan mojokin gue sama pertanyaan itu deh!" Gerutu Gara panjang lebar.
"Gak gitu bro maksudnya, gue kan cuma nanya doang. Mastiin kalau itu emang sengaja di tunda apa punya lo aja yang gak manjur," Lagi Jose berucap, yang seperti malapetaka bagi Gara.
Amit-amit pikir Gara, dirinya sehat lahir batin tetapi bisa-bisa nya Jose meragukan kesehatan nya itu. "Lo kalo ngomong gak pernah di saring yaa!"
Jose cekikikan merasa tidak enak. "Hehe.. Becanda bro, maafin gue!"
"Tau tuh si Jose kebiasaan," Kata Iyan, karena mereka Jimi keterlaluan jika sedang bercanda.
Gara memutar bola matanya jenggah. "Yaudah gue yang balik nanya deh. Dari tadi kalian ledekin gue mulu. Kalian kapan mau nikah? Inget umur bro..."
Jose dan Iyan terdiam seketika mendengarkan pertanyaan yang mereka juga tidak tahu harus menjawab apa.
"Yaa... Kalau gue sih, sekarang lagi pemulihan yaa, setelah menjaga jodoh sahabat sendiri,"
Gara menghela nafas, ia sangat paham jika Iyan mungkin akan memiliki trauma dalam hidupnya. Bagaimana tidak, Iyan sudah menjalin hubungan dengan Jihan selama dua tahun, bahkan ia sudah berencana akan menikahi wanita itu. Tapi sekali lagi, karena Iyan tidak ingin persahabatan nya rusak jadi ia lebih mengiklaskan Jihan untuk bersama Alvin. Sungguh mulia bukan.
"Lo jangan berlarut-larut dalam kesedihan deh! Buruan cari pengganti nya!" Jose ikut memberi saran, sedangkan dirinya juga sampai sekarang belum memiliki kekasih karena sibuk mengejar dan menunggu Gia.
"Lo gak ngaca bro?! Inget, lo juga stuck sama kak Gia yang bahkan dia sendiri gak ngasih lo lampu ijo, elah!" Jose terdiam seribu bahasa mendengar ucapan nyelekit dari Iyan. Dirinya yang memancing, dirinya juga yang mendapat Skak dari Iyan. "Intinya, gue bukan stuck sama kak Jihan, tapi gue cuma mau ngasih hati gue sama orang yang bener bener sayang sama gue," Tambah Iyan lagi, karena tidak mau jika di kira masih menyimpan rasa kepada wanita yang sudah berstatus istri sahabatnya sendiri.
Dan lagi, sebenarnya dirinya memang sudahlah melupakan Jihan sedikit demi sedikit. Dia bisa saja mengencani wanita lain, tapi dia tidak mau jika itu hanya sekedar main-main. Apalagi dia juga berfikir jika nanti dirinya hanya akan mempermainkan wanita kalau-kalau ia menjalani hubungan tidak serius.
"Ckck! Kalian ini malah pada debat disini. Mending kita ikutan Party aja yuk kesana!" Ajak Gara, ia tidak mau jika kedua sahabatnya itu berakhir dengan pertengkaran.
Inilah akhir dari perjalanan cinta Deandra dan Janessa. Bagaimana mereka di pertemukan dan sempat di pisahkan dalam waktu yang cukup lama. Seperti kata pepatah, berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian biar tidak tenggelam.
TAMAT.