MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
GRACE MURKA



Grace yang sekarang sedang emosi setelah melihat kejadian yang baru ia saksikan di depan matanya. Mondar-mandir dengan wajah penuh amarah, sedangkan Deandra dan Janessa hanya bisa pasrah. Mereka duduk di sofa penuh dengan ketegangan seperti anak SD yang habis dimarahi ibunya. Berharap wanita di depan mereka tidak mengintrogasi.


"Hadeh! Janessa Sempani!" Hentak Grace tertahan. Ia sampai memijit pelipisnya, sepertinya kepalanya akan segera meledak detik itu juga karena memikirkan kelakuan kedua orang di depannya yang tidak tahu tempat.


Grace berusaha memarahi Jane dan Deandra tapi karena emosinya yang memuncak menyebabkan tekanan darahnya naik. "Apa kalian gak bisa cari tempat yang aman buat ciuman gitu?! Kalau tadi orang lain yang datang gimana, hm?!" Grace masih ingat betul kejadian didepan Lift. la menatap kearah Janessa dengan tajam.


"Gak habis pikir aku!" Grace masih dalam mode mengomel, ia menatap tajam kepada Jane.


"Buat kamu Jane! Kenapa malah ninggalin aku gitu aja, kenapa gak chat dulu kalau udah pulang?! Kamu tau kalau aku nyariin kamu kemana-mana?!" Janessa yang menerima murka Managernya hanya bisa terdiam. Grace lantas menoleh kearah Deandra. Membuat yang di tatap menunduk takut.


"Dan buat kamu Deandra! Kamu tau kan kalau Jane ini siapanya kamu, hm?! Huft! Udah ah lupain! Intinya aku gak mau kejadian tadi terulang lagi, kalau kalian pengen ngelakuinnya tolong banget cari tempat aman! Jangan sampai di liat orang lain!"


"Gak gitu kok kak," bantah Dean takut-takut, bahkan untuk menatap Grace saja ia tidak berani.


Sedangkan Janessa hanya bisa pasrah menerima omelan managernya itu. Karena benar saja ia meninggalkan Grace tanpa mengirim pesan untuk memberitahunya. Sedangkan Deandra hanya bisa mengigit bibir bawahnya, telinganya sudah memerah karena mendengar omelan Grace sejak tadi.


"Maaf Kak,"


Grace menghela nafas dalam-dalam mendengar pengakuan maaf dari Janessa. Mereka terdiam sesaat. Mencoba bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Grace memperhatikan Janessa dan Deandra bergantian. "Jadi, apa kalian udah mutusin buat pacaran?"


Beberapa detik berlalu. Grace tidak juga mendapatkan jawaban. Karena Deandra dan Janessa masih menahan malu, terlihat dengan pipi mereka yang sudah memerah. Mereka juga memekik dalam hati, bingung apa yang harus dijawab. Apa lagi tidak ada keputusan dari kedua belah pihak.


"Gue harus jawab apa?! Ndra! Lo harus mikir sekarang juga! Buruan..." Batin Dean.


"Ish! Kak Grace bisa diem gak sih?! Aku udah malu gini masih aja ngomel-ngomel!" Batin Jane.


"Nahkan! Liat diri kalian masing-masing, mau coba rahasiain dari ku, iya?! Percuma! Kalian udah ke tangkap basah! Gak ada lagi yang bisa kalian tutup-titupin dari ku. Sekarang bilang sejujurnya, apa kalian sudah mutusin buat pacaran atau belum?"


Janessa menggeleng cepat. "Nggak! Udah deh, lagian dia juga belum nyatain perasaannya sama aku, apalagi ngajak aku buat pacaran," Ujarnya yang lebih terdengar bergumam. Apa lagi ia mengatakan itu sambil menunduk. Tapi gumaman tersebut masih terdengar oleh Grace dan Deandra.


Grace menunjuk Dean. "Apa? Jadi maksud kamu bocah ini berani cium kamu tanpa ada sebab gitu?! Jane, bilang sama kakak! Maksud kamu gitukan?" Grace menatap Dean dengan tatapan tajamnya.


Deandra menelan salivanya. Menerima tatapan tajam dari Grace. Mungkin jika tatapan itu bisa membunuh, dirinya sudah tidak bernyawa sekarang.


"Nggak gitu Kak! Bener kok kami udah pacaran," sahut Dean, ia sampai bergetar mengatakan hal itu. Jujur ia sangat ketakutan sekarang.


Grace yang sekarang berkacak pinggang. "Jane, apa yang dia bilang benar?"


"Eng- Benar kok Kak! Kami sudah resmi jadian sekarang," sambar Dean menjawab cepat. la tahu jika Janessa pasti tidak bisa mengatakan apa yang salah. la juga tidak mau membiarkan Janessa untuk menjawab itu. Takut akan jawaban mereka berbeda.


Alhasil Grace hanya bisa mengangguk. Mau tidak mau ia harus percaya karena tidak mendapat perlawanan dari Janessa. "Oke kalau gitu, kamu boleh pulang sekarang!"


Deandra sudah siap berdiri. Tetapi dalam hatinya ia ingin berbicara dengan Janessa. "Kak, apa aku boleh ngobrol sama Jane sebenar gak?"


"Gak boleh! Aku gak akan biarin kejadian kayak tadi ke ulang lagi! Aku ingetin buat kamu yaa.. Jangan berani macam-macam sama Jane! Jujur aja dia belum tau apa-apa dalam masalah percintaan apalagi masalah pacaran, jadi dia masih polos banget dalam soal gituan!"


"KAK GRACE! JANGAN MALU MALUIN AKU BISA GAK SIH?!" Sentak Janessa, membuat Dean mengulum senyum.


Dean yang sudah di ambang pintu. Kembali menoleh kebelakang, menatap Jane yang memperhatikan kepergiannya.


"Good luck!" Itulah yang mungkin Dean maksud. la hanya memberikan isyarat dengan bibirnya mengatakan hal itu. Sambil tangannya melambai.


Janessa tersenyum kecil. Grace menutup pintu untuk Deandra. Setelah kepergian cowok itu, Jane langsung masuk ke kamar, membiarkan Grace yang masih mengoceh tidak Jelas. Jujur saja ocehannya itu malah membuat Jane mengantuk.


Rasanya, Jane ingin tertidur nyenyak malam ini jika membayangkan kejadian tadi di depan Lift. Ia merasa tidak percaya telah melakukannya, yang membuat jantungnya berdebar. Deandra sangat bisa membuatnya gila pada saat itu.


"Bentar, apa dia sudah sampai rumah ya?"


Jane meraba-raba ponselnya yang sengaja ia simpan diatas meja. Ia mengotak-atik benda pintar itu. Mencoba mencari kontak Deandra.


Jane terkesiap mnenyadari sesuatu, ia memukul kepalanya pelan. "Ish! Bodoh banget deh, kamu gak punya nomor WhatsApp bocah itu Jane!" Monolognya, ia sungguh gemas dengan dirinya sendiri.


Seketika ia merasa bersalah. Kenapa tidak ia biarkan saja tadi saat Deandra memintanya untuk berbicara sebentar. la memekik dalam hati , dirinya seperti orang bodoh yang membiarkan kekasihnya di kendalikan oleh Manager.


"Sejak kapan dia ngajak aku buat pacaran?"


Jane menyadari sesuatu, apakah benar yang di katakan Deandra. Jika mereka sudah memiliki hubungan? Itu bukan hanya sekedar jika Deandra mengelak sajakan? Karena takut kalau-kalau Winnie akan semakin memarahinya. Seketika wajah yang tadi sumringah, dan merona berubah jadi emosi. Ia sudah akan segera bereaksi jika Deandra berani menjatuhkan dirinya yang sudah terbang.


"Liat aja, bakal aku beri perhitungan bocah itu kalau berani main-main denganku. Dia pikir aku bakal diem aja kalau dia mainin aku gitu? Cih! Jelas nggak dong, dasar bocah nakal!" Jane menyeringai setelah mengatakan itu. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan membiarkan Deandra mempermainkan dirinya.