MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
DEANDRA MENGHILANG?



Jogjakarta.


Deandra sedang menikmati sorenya bersama Brayen. Kebetulan nenek yang punya kontrakan memberikan fasilitas untuk bersantai. Brayen yang sedari tadi asyik dengan gitarnya, dan Deandra  yang sedang melamun '*lagi*'. Brayen bingung melihat tingkah sahabatnya itu, selama kepindahan nya selalu saja jadi pendiam. Bahkan jika pulang kuliah mengurung diri di rumah.


"Lo nyanyi deh! Dari pada diem mulu," Kata Brayen yang sudah siap memetik gitarnya.


Dean menoleh. "Mau lagu apa?"


"Yang sesuai isi hati aja!"


Deandra berfikir sejenak. "Hum.. Itu aja deh, yang lagi viral itu. Apa ya judulnya, lupa gue? Tak segampang itu atau apa ya?"


"Oalah.. Hahaha!" Brayen tertawa. "Iya, tau gue itu! Tapi deep banget yaa.. Galau gitu, haha!"


Dean memutar bola mata. "Gak jadi!"


"Wih, jangan ngambek! Nih gue bawain nih," Brayen sudah memetik gitarnya, memulai instrumen lagu yang dipilih Dean.


Deandra menghela nafas, akan memasuki lirik lagi.


Waktu demi waktu..


Hari demi hari..


Sadar ku t'lah sendiri..


Deandra teringat akan kenang-kenangannya bersama Jane.


Kau t'lah pergi jauh..


Tinggalkan diriku..


Ternyata ku rindu..


Dean mengingat dia sering mengikuti Jane kemanapun wanita itu pergi bersama laki-laki lain.


Senyuman yang s'lalu membungkus hati yang terluka..


Di depan mereka..


Deandra teringat akan Jane yang sudah bahagia bersama pria itu dan Jane sudah tidak mencintainya lagi.


Tuhan masih pantaskah ku ‘tuk bersamanya..


Karna hati ini inginkannya..


Tak segampang itu ku mencari penggantimu..


Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu, cinta...


Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu...


Mengapa kau memilih untuk berpisah..


Hooo...


Deandra tersenyum mengingat perpisahan termanisnya. Bagaimana ia mengiklaskan Jane bersama orang lain, menyatukan Jane bersama pria itu, mengingat tiga hari terakhir bersama Jane.


Terlalu besar ku, taruh harapan pada dirimu..


Deandra ingat bagaimana Jane selalu mengabaikannya.


Itu alasanku lama tanpa dirimu, ohh..


Mereka yang bilang ku akan dapat lebih darimu..


Tak mungkin..


Semua itu tak mudah ooohhh..


Mata Deandra seketika berkaca-kaca, ia menyanyikan lagu itu dengan serius penuh emosi dan menikmati, karena sesuai dengan isi hatinya.


Ku mencari penggantimu..


Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu...


Tanpa terasa jatuh sudah air mata Dean, merasakan betapa sakit hatinya.


Oh cinta..


Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu..


Mengapa kau memilih untuk berpisah..


Dalam hati Deandra, bahwa dia masih sangat mencintai Jane.


Ku mencari penggantimu hooo..


Sosok seperti dirimu cinta..


Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu..


Tapi ia harus sadar jika Jane sudah tidak menginginkan nya lagi, bahkan mungkin mencintainya.


Mengapa kau memilih untuk berpisah..


Kau memilih untuk berpisah..


Deandra memejamkan matanya, untuk menjatuhkan air mata yang sedari tadi bergenang.


"Aku cuma pengen kamu tau, Jane! Gapapa aku yang nanggung sakitnya asal kamu bahasia slalu. Karna mencintai kamu aja udah bikin aku bahagia!" Batin Deandra.


Brayen ikut sedih melihat sahabat kecilnya tersendu. "Lo sadar gak sih selama ini, kalau suara lo bagus?"


"Mau itu gue gak? Nyanyi di cafe, itung itung cari uang jajan," Tawar Brayen.


Dean tersenyum kecut. "Hum.. Boleh deh, cari hiburan."


Jane baru pulang kerja. la melempar tas nya disofa ruang tamu, dan mendudukkan pantatnya kasar. Tak sengaja ia melihat taddy bear yang diberikan Deandra. Sungguh ia hampir lupa dengan Deandra, terbukti ia tidak mencarinya.


Tangannya mengambil boneka itu, ditatapnya intens. "Kamu tau gak? Kalau pemilik kamu udah ninggalin aku?"


Jane mendengar samar-samar Jihan yang sedang menelepon.


"Kamu yakin teman-teman satu kelasnya gak tau dia dimana?" Suara Jihan yang lagi berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. Jane mencoba menguping.


"Rumahnya di jual? Kamu yakin?" Pekik Jihan lagi.


Tak lama dari itu Jihan langsung keluar dari kamarnya, dan berlari kecil.


Jane semakin kebingungan. "Ada apa Kak?" Tanya Jane.


Seketika Jihan menghentikan langkahnya, menatap Jane yang sedang duduk di sofa dengan tatapan datar.


"Bukan urusan kamu! Kakak gak mau ganggu orang yang lagi kasmaran," Ucapnya, lantas melangkahkan kakinya dengan langkah cepat.


Jane mendengus kesal, melihat tingkah Jihan yang masih saja bersikap dingin padanya. Matanya menatap kembali boneka pemberian Deandra, lantas melamun.


"Udah seminggu lebih aku gak liat bocah itu, kemana dia?" Gumam Jane.


la berfikir sejenak, lalu menyambar tasnya dan keluar dari unit apartmentnya.


Disini Jane sekarang, di rumah Deandra. Sudah beberapa kali dia menekan bel tetapi Dean tidak kunjung muncul.


"Maaf, Mbak nyari siapa ya?" Tanya seseorang membuka pintu gerbang.


Jane menatap orang itu, mungkin keluarga Deandra pikirnya.


"Dean nya ada di rumah Om?" Tanya Jane sesopan mungkin, Orang itu terlihat sedang berpikir keras.


"Maaf, maksud Mbak pemilik sebelumnya?"


Jane kebingungan. "Maksud Om gimana ya, pemilik sebelumnya?"


"Maksudnya Mbak pemuda itu?" Jane mengangguk. "Dia udah jual rumah dan motornya sama saya Mbak. Tuh motornya!" Orang itu menunjuk motor Deandra yang ada di halaman rumah.


Jane melihat sekilas motor Dean. "Om seriuskan?" Orang itu mengangguk mantap. "Apa Om tau pemilik sebelumnya pindah kemana?" Penasaran Jane.


Orang itu menghela nafas. "Kalau itu saya gak tau Mbak! Coba di telepon aja, soalnya saya cuma sebatas beli rumah sama motornya aja. Sekitaran lebih seminggu yang lalu deh," Jelasnya kepada Jane.


Janessa terdiam, pikiriannya melayang. "Gitu ya Om? Yaudah saya pamit dulu Om, makasih ya! Maaf udah ganggu waktunya!" Ucapnya sambil tersenyum.


Lantas Jane pergi menuju mobilnya, ia terdiam seketika didalam mobil, lalu refleks mengambil ponsel di tasnya. Mencoba menghubungi Deandra beberapa kali tetapi tidak bisa tersambung. Janessa menghela nafas, menyandarkan punggungnya dikursi mobil.


D.M


"Jaga kesehatan kamu!"


Jane melihat isi pesan terakhir Dean sekitar dua minggu yang lalu, belum sempat ia baca.


Bibirnya mengukir senyuman seketika. "Kamu pergi kemana Ndra?" Monolog Jane.


Dilain sisi. Jihan, Alvin dan Gia sedang mengobrol serius di cafe.


"Aish! Dia kemana sih?!" Frustasi Jihan.


Mata Alvin sudah berkaca-kaca, sedangkan Gia tesendu.


"Kenapa dia bodoh banget, ihh!" Kesal Jihan.


"Kak! Jangan bilang gitu, dia sahabat aku!" Komentar Alvin, air matanya sudah menetes.


Gia nampak berfikir. "Kalian ingat gak, dua minggu yang lalu? Dia sempet minta kita luangin waktu buat sama dia,"


Flashback, dua minggu yang lalu.


Deandra, Alvin, Jihan dan Gia sedang makan disebuah restoran.


"Tumben kamu ngajak nya kesini Ndra?" Tanya Jihan.


Deandra tersenyum. "Pengen aja. Tenang, aku traktir!" Gia dan Alvin sumringah.


"Sering-sering yaa!" Goda Gia.


Deandra terkekeh. "Ini bentuk terimakasih dari aku buat kalian,"


Jihan mendengus kesal mendengar ucapan Dean. "Udah deh, jangan bilang gitu!" Celoteh Jihan.


Deandra hanya mengeleng-geleng kepalanya. "Kak Jihan!" Lirihnya, refleks Jihan menatapnya. "Makasih ya buat semuanya! Slama ini Kakak udah baik banget sama aku-" Dean menghela nafas, lalu mendongkak. "Aku gak tau harus gimana lagi balesnya," Lalu menatap Jihan dan tersenyum manis.


"Ishh! apaan deh! Skali lagi kamu bilang gitu, aku bakal nonjok kamu!" Kesal Jihan, Dean hanya terkekeh.


Kini Dean berpindah menatap Gia. "Kak Gia!" Lirihnya, Gia hanya menatapnya bingung. "Makasih juga ya Kak Gia udah sabar banget ngajarin aku dan bisa buat aku dapetin beasiswa juga-" Gia tersenyum mendengar ucapan Dean. "Kakak bakal slalu jadi guru terbaik ku!"


"Aduh! Kamu bikin aku malu aja," Ucap Gia membuat Dean, Jihan dan Alvin tertawa.


"Dan—" Deandra menepuk bahu Alvin. "Makasih sahabat gue! Lo harus tetep semangat ngejar cinta lo ya! Perjuangin cepet, jangan sampe di ambil orang!" Godanya.


Alvin menunduk malu. "Apaan dah lo! Bikin mali aja tau gak?!" Gumamnya.


Flashback off.


Jihan menghela nafas setelah menyadari dua minggu yang lalu, bagaimana cara Deandra berpamitan secara tidak langsung.


"Huft! Harus kita cari kemana lagi dia?" Lirih Jihan.


"Apa mungkin dia pulang ke Medan?" Tebak Gia.


Alvin menggeleng. "Gak mungkin sih! Asal kalian tau, dia udah gak di anggep lagi sama keluarganya," Jujurnya, dia sedikit menyayangkan kenapa ia malah keceplosan.


Jihan dan Gia ternganga mendengar pengakuan Alvin. "Tapi gak tau juga sih sekarang, soalnya dia cerita pas jaman sekolah dulu. Kali aja sekarang udah baikkan lagi," Tambahnya.


"Kamu bodoh cuma karna cinta malah kayak gini Ndra!" Batin Jihan.