MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
CURHATAN JANE



Deandra menghampiri Jihan. Ternyata disana sudah ada Alvin dan Gia juga yang tadi sengaja dikabari Jihan.


Alvin langsung menghambur memeluk Dean, ia sangat merindukan sosok sahabatnya itu yang pergi tanpa kabar tiga tahun lalu. "Hiks! Keterlaluan banget lo!" gerutu Alvin ditengah isakannya.


Deandra pasrah, ia hanya mengelus kasar punggung Alvin. "Udah! Lo masih aja cengeng," Ia melepas pelukan sahabatnya itu. "Noh liat! Lo gak malu di liatin orang?"


Alvin menyeka kasar air matanya Dean mengambil duduk di samping Gia, Alvin menyusulnya dan langsung duduk di dekat Dean. "Lo kemana aja! Tiga tahun gak ada kabar. Kenapa lo gak bilang kalau mau pindah sih? Seenggaknya lo kasitau gue, biar gue gak sedih banget kayak gini," cecar Alvin melempar banyak pertanyaan pada sahabatnya itu.


Deandra menghela nafas, ia bingung harus menjawab pertanyaan Alvin. "Hem... Sekarangkan gue udah balik, lo tenang aja!" ucap Dean seenaknya. Sedangkan Jihan dan Gia hanya bisa menyimak, dua orang sahabat yang terpisah tiga tahun itu.


"Ckck! Ada banyak hal yang harus lo tau-" Dean melirik Jihan yang menimpali ucapan Alvin. Jihan menggeleng-gelengkan kepalanya mengisyaratkan Alvin untuk jangan dulu mengatakan hal itu.


Deandra mendongkak, ia cukup kaget melihat kedatangan seseorang. "Jane!" gumamnya, Dean mengerutkan keningnya mendengar nama itu disebut.


"Hai!" Brayen muncul tepat disamping Jane, lalu ia mengambil duduk di depan Jihan. "Gue temennya Dean. Brayen!" katanya memperkenalkan diri.


Lalu mereka memperkenalkan diri satu-persatu. Jane masih mematung berdiri tidak jauh dari belakang Deandra.


Sedangkan Dean bingung, ia belum siap untuk melihat Jane di depannya. Takut akan hatinya menyayat lagi.


Jane merasa tidak enak, kehadiran nya tidak dinginkan. "Ekhem! Aku permisi dulu." Pamitnya, lantas berjalan menjauh.


Jihan gelisah, ia tahu betul adiknya itu pasti sedih, tapi ia juga berfikir tentang posisi Deandra. "Ndra!" Dean refleks menoleh pada Jihan. "Kamu mau kan bantuin Kakak?"


Dean tahu apa yang dimaksud wanita itu. Ia mendongkak, lalu menghela nafas kasar. Setelahnya ia menatap satu-satu orang yang sedang memeprhantikan nya dengan tatapan sendu, berharap Dean mau menemui Jane.


Deandra itu tidak egois, ia beranjak dari duduknya langsung berjalan cepat. Ia harus menyisihkan rasa sakitnya. Baginya berbicara sedikit tidak masalah, karena ia berfikir perpisahan mereka secara baik-baik, meskipun harus Deandra yang tersakiti.


Deandra melihat Jane hendak membuka pintu mobilnya. "Ibu Jane!" Teriaknya dengan nafas yang terengah-engah karena sedikit berlari.


Jane menutup kembali pintu mobilnya, lalu berbalik menghadap Dean. Ia tersenyum kecut mendengar Deandra memanggil namanya dengan sebutan 'Ibu' sangat formal baginya.


Mereka memutuskan untuk mengobrol di taman, karena memang di taman mereka bisa sedikit santai tanpa gangguan. Meskipun taman yang mereka datangi terlihat ramai. Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang lumayan jauh. Sedari tadi tidak ada yang berani berbicara, padahal niatnya ingin mengobrol. Karena canggung yang mereka rasakan.


Deandra berbinar melihat penjual lce Cream. Sudah lama ia tidak memakan itu padahal lce Cream salah satu favoritnya. Dean pernah coba beberapa kali waktu di Jogja membelinya tetapi ia selalu teringat akan sosok Janessa yanig selalu menemaninya saat memakan lce Cream. Jadi ia memutuskan untuk tidak lagi membelinya atau memakannya.


Jane menyadari Deandra sudah tidak berada di sampingnya, ia menoleh kebelakang. Deandra terdiam sambil matanya memperhatikan penjual lce Cream disebrang sana.


Bibir Jane membentuk senyuman manis, ia meraih pergelangan tangan Deandra. Sang empunya mematung, melirik tangannya yang di genggam Jane. Bagai magnet Jane menoleh, ia menyadari arah mata Dean lalu dengan terpaksa ia melepas tangan Deandra.


"Apa yang kamu pikirin Jane? Aku gak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang." batin Dean Lantas ia berjalan mendahului Jane, menuju penjual lce Cream. Jane mengikutinya dengan rasa kekecewaan.


"Pak! Es krim nya satu rasa coklat," Jane mengerutkan keningnya mendengar Deandra cuma membeli satu lce Cream.


"Ekhem!" Jane berdehem, Dean menoleh kearah Jane yang ada dibelakangnya. "Kamu lupa kalau ada aku juga?"


Dean tampak berfikir mendengar pertanyaan Janessa yang ambigu. "Akh! Anda mau juga?" Jane mengangguk mantap.


Kini mereka sudah duduk dibangku taman dengan berjarak lumayan jauh. Karena Deandra tidak enak jika harus duduk berdekatan, Jane sudah bersuami pikinya. Jane melirik Dean yang sedang fokus menikmati lce Cream nya. Entah kapan Jane harus memulai obrolan, karena ia sangat bingung harus memulai dari mana, takut Dean akan berfikir jika ia wanita yang tidak berpendirian. Jujur Jane menyesal telah membiarkan Dean pergi.


Hampir setengah jam mereka duduk dibangku tama saling membisu. Deandra mulai tidak tahan harus berlama-lama berdekatan dengan Jane, ia takut jika usahanya ingin memulai hidup baru akan sia-sia, ia benar-benar takut karena dihatinya masih ada Jane.


"Ekhem!" Deandra berdehem, tatapan nya lurus kedepan. "Apa kita akan masih tetap disini? Suami sama anak Ibu nanti nyariin di rumah." Sungguh berat bagi Dean ia harus mengatakan hal itu.


Jane speechess, bagaimana bisa Deandra tahu akan kejadian tiga tahun lalu. Dean gelisah, ia menyadari arah pembicaraan nya tadi. Terlalu pribadi, ia juga takut jika Janessa menyadari bahwa Dean mengetahui hal itu.


"Akh! Anak kamu cantik ya, sama kayak ibunya." Dean gelabakkan, suaranya bergetar mengatakan hal itu.


"Bodoh banget lo Ndra!" batin Dean merutuki dirinya.


Jane menghela nafas panjang, sungguh berat baginya. Ia harus memulai dari mana untuk menceritakannya. Mereka bertemu pandang, Deandra menatap ke manik mata Jane begitu juga sebaliknya. Seolah-olah berbicara lewat tatapan.


"Kamu mau dengar ceritaku gak?" lirih Jane, yang di tanya tidak menjawab. "Sebelumnya, maafin aku," Dean tertegun, ia tahu pasti Jane meminta maaf atas dasar menyesal.


Lantas ia berfikir, hatinya tidak mau membuat Janessa bersedih jika menolak tidak mau mendengar cerita Jane. Lalu ia memberikan senyuman manis kepada Jane. Ia sudah lebih dewasa sekarang, baginya yang lalu biarlah berlalu. Kini yang harus ia tekankan ia harus menjadi pendengar yang baik, meskipun itu akan menyakiti hatinya. Berteman itu lebih baik kan dari pada saling membenci?


"Boleh, ceritain aja!" Perintah Deandra sambil mengukir senyuman manis.


Jane menatap sayu hatinya terasa sakit menerima senyuman dari Deandra, seolah-olah merasakan perasaan Dean yang tersakiti akibat dirinya. Ia sungguh tidak mampu menerima senyuman dari orang yang telah ia sakiti.


"Sesabar itukah kamu sampai-sampai ngasih senyuman dengan orang yang udah nyakitin kamu? Aku benar-benar gak mampu nerima semua perlakuan kamu yang udah baik banget ke aku. Meskipun dilubuk hatiku ngerasa bahagia banget udah nerima senyuman dari kamu." batin Jane.