
"Mi, kayaknya akhir-akhir ini aku bakal jarang pulang deh," Ucap Jane yang membuat Aryna menghentikan aktivitas makannya.
Sekarang mereka sedang berkumpul untuk makan malam bersama tetapi tidak dengan Ario karena ia sedang perjalanan bisnis keluar Kota.
Aryna menghela nafas panjang. la meletakkan garfu dan sendoknya secara bersamaan. "Kenapa? Baru juga kemarin kamu pulang ke rumah, sekarang malah mau ninggalin rumah lagi?"
"Iya, Jane! Mami bener, apa kamu bosan tinggal di rumah?" Irene ikut menyuarai sedangkan Jihan hanya mengangguk-angguk tidak ikut bicara karena mulutnya masih dipenuhi makanan.
"Mami dan juga kakak-kakak ku!" Gemes Jane, dia menatap ketiga wanita itu secara bergantian. "Aku gak maksud buat ninggalin rumah, tapi kalian tau sendiri jarak kesekolahan, tempat pemotretan dan rumah lumayan jauh. Jadi aku gak sanggup kalau harus kejar-kejaran waktu," Keluh Jane, dia menoleh kearah Grace setelahnya. Berharap wanita itu ikut menyuarainya.
"Iyakan kak Grace? Lagian aku nanti pulangnya di hari minggu sama hari-hari libur lainnya. Kalian kan juga bisa pergi ke Apartment ku nantinya," Tambah Jane.
"Aku rasa Jane benar Tante! Kadang kami harus berangkat pagi buta untuk kesekolahan itu, dan kalian tenang aja selama Jane bersamaku, aku gak akan pernah membiarkan nya sendiri," Akhirnya Grace membantu menjelaskan.
Aryna mengurai senyuman. "Iya deh! Mami kasih izin. Tapi ingat jangan lupa mampir kerumah setidaknya satu minggu 2 atau 3 kali!" Ujarnya memberi peringatan.
Jihan yang sedari tadi tidak bersuara karena sedang sibuk dengan handphone milikinya. Sampai-sampai membuatnya senyum-senyum menatap benda pintar itu.
"Kak, aku pengen pergi makan besok malam," Isi pesan Dean kepada Jihan.
Jihan terkesiap. Ia menyadari jika besok adalah akhir pekan.
"Besok kan malam minggu, apa kamu pengen ngajakin aku kencan?" Balas Jihan.
Tidak perlu waktu lama untuk Jihan menunggu balasan lagi dari Jendra, cukup dua detik pesan dari Dean muncul lagi.
"Masa iya? Kayaknya ide bagus," Isi pesan cowok itu. Jihan sudah bisa menilai jika Jendra sangat berpengalaman dalam hal merayu wanita.
"Kamu kayaknya berpengalaman yaa.. Yaudah nanti aku kabarin lagi." Balas Jihan. Setelahnya ia langsung menyimpan kembali handphone miliknya di atas meja makan. Semua tatapan mata tertuju kepadanya.
"Lagi Chatting sama siapa kamu?" Irene di sampingnya melirik penuh selidik. "Jangan bilang bocah waktu itu, yang kamu emph-"
Jihan yang akan menyadari kalimat terakhir Irene langsung menutup mulut kakaknya itu. Jihan tidak ingin jika Ibunya dan Jane mengetahui. Karena menurutnya itu sangat rahasia. Jane menoleh kearah mereka berdua penuh selidik begitu juga Aryna. Jihan hanya memberikan cengiran. Berharap mereka yang melihat tingkahnya tidak penasaran akan apa yang dimaksud Irene.
Setelah menyelesaikan aktivitas makan malam. Merekapun pergi meninggalkan meja makan satu persatu dan pergi ke kamarnya masing-masing. Jane yang lebih dulu beranjak dari meja makan itu langsung pergi ke kamarnya. Dikamar ia berbaring dan tatapannya fokus pada layar handphone.
"Ck! Jane, fokus nyari Apartemen!" Monolog Jane. Entah kenapa dia sangat gelisah sekarang setelah mendengar apa yang dikatakan Irene. Ia yakin jika Bocah yang dimaksud Irene adalah Jendela. Karena waktu itu Jane sempat mendengar jika Jihan dan Irene pernah bilang kepada Gia bahwa mereka mengenal Deandra.
"Aku yakin bocah yang mereka maksud pasti si Deandra itu. Tapi kok mereka bisa saling kenal ya? Kak Jihan aja sampai Chattingan sama dia." Batin Jane.
Pagi yang cerah di akhir pekan yang selalu ditunggu-tunggu para pelajar dan juga pekerja. Deandra datang kesekolah dengan motor *CBR* warna stabilo dan terlihat baru saja diparkirnya. Ada Jose yang ternyata baru datang juga diantar supirnya dan langsung berlari menuju parkiran karena melihat Dean.
"Gilaa sih! Motor lo makin keren aja," Jose berbinar, tangannya terulur ingin menyentuh motor Dean tetapi langsung ditepis oleh sang empunya.
Dean mengelus-ngelus motornya dengan sayang. "Tangan lo kotor, jangan sentuh motor gue!" Ucapnya yang lantas membuat Jose memutar bola matanya jenggah.
"Anjir! Liat noh!" Heboh Jose, menepuk-nepuk bahu Jendra agar menoleh kepada apa yang ia lihat.
Jose sampai tidak berkedip melihat sebuah mobil Lamborghini melewati mereka menuju parkiran khusus. Dean yang melihat tingkah sahabatnya itu tidak menghiraukan sama sekali, dan tetap fokus mengagumi motor miliknya. Terlihat Jane dan Winnie keluar dari mobil itu.
"Elah! Liat begoo.." Pekik Jose lagi. Tangannya masih sibuk menepuk-nepuk bahu Dean karena masih berjongkok di depan Motornya.
"Selamat pagi Bu Kepsek.." Jane hanya menoleh sekilas kepada Jose yang menyapanya.
Deandra melotot mendengar Jimi menyapa dengan sebutan Kepsek. Ia langsung berdiri.
Deg!
"Anjir, jantung gue," Batin Dean. Jantungnya tiba-tiba berdetak setelah melihat Jane. Itu sangat tidak masuk akal fikirnya. Sedangkan ia sangat tidak suka dengan sikap wanita itu. "Jangan bego.. Lo udah sering liat cewek cantik!" Lagi ia membatin. Dean menggeleng untuk menyadarkan dirinya agar tidak terlalu terpikat oleh Jane.
"Kepada Sekolah!" Dean refleks memanggil Jane sehingga membuatnya terhenti.
"Dia berenti, gimana ini?" Bisik Dean pada Jose.
"Bego! Buru sana!" Jose langsung mendorong kuat Deandra. Alhasil Dean mau tidak mau harus berhadapan langsung dengan Jane sekarang.
"Ada apa?" Tanya Jane dengan intonasi datarnya.
Dean bingung harus mengatakan apa. la juga takut jika salah berbicara kepada wanita itu. "Akh, itu! Selamat berakhir pekan," Ucapnya, ia lantas cengengesan menyadari dirinya mengatakan hal yang tidak penting sama sekali. Jane tidak menanggapi. la langsung melangkahkan kakinya menjauh setelah Dean mengatakan hal itu.
"Berani sekali dia memanggilku? Malah bilang selamat berakhir pekan segala lagi." Batin Jane. Ia menggeleng setelah menyadari Dean yang sempat grogi karena berusaha menyapanya.
Grace menyipitkan mata, ia baru kali ini melihat Jane tersenyum tanpa sebab. "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"
Jane cepat-cepat mendatarkan raut wajahnya. Ia tidak mau jika ada yang mengetahui dirinya tersenyum gara-gara melihat tingkah Deandra yang menyapanya diparkiran.
"Gak! Hari ini jam berapa jadwal pemotretanku?"
Grace semakin penasaran apalagi setelah Jane mencoba mengelak. "Yakin gak ada apa-apa? Kamu lupa hari ini akhir pekan dan tidak ada pemotretan diakhir pekan,"
"Kak, Please! Jangan banyak tanya!" Jane sangat tahu jika Grace penasaran akan dirinya. Jadi ia mensiasati lebih dulu agar tidak diberi pertanyaan tentang apa yang tidak bisa dia jawab.
"Ini juga tangan, kenapa malah dingin gini? Mana malah senyum-senyum gak jelas lagi depan Kak Grace. Ish!" Batin Jane.
Jane yang Sedang sibuk merapikan barang-barangnya, karena baru pindah ke *Apartment* yang beberapa hari lalu sudah menjadi miliknya. Terlihat ia sangat kewalahan bagaimana tidak, ia sendirian disana dan Grace juga sibuk mengemasi barang miliknya di *Unit* yang berbeda. Karena sedari dulu mereka tidak pernah benar-benar tinggal bersama. Jane melirik kearah handphonenya yang berdering, mendapati ada panggilang masuk dari Irene
"Iya, ada apa Kak?"
"Apa kamu udah selesai mengemasi barang-barang mu?" Tanya Irene dari seberang sana.
"Ini sudah hampir selesai, kenapa?"
Terdengar Irene yang langsung ceria. "Serius? Kakak mau ngajakin kamu keluar, kamu bisa kan?"
Jane memikirkan tawaran dari Irene. "Jam berapa? Cuma berdua?"
"Jam 8 Kakak jemput kamu. Iyaa berdua, Jihan ada janji makan malam sama yang lain,"
Jane terkesiap. Entah kenapa ia cukup penasaran dengan salah satu kakaknya itu. "Apa? Makan malam sama siapa?"
"Palingan sama bocah kemarin. Tumben banget kamu kepo?"
"Bocah?" Batin Jane, dipikirannya hanya ada satu yaitu aitu Deandra. Merasa sudah puas berbicara Jane langsung mematikan teleponnya. Entah kenapa ia tiba-tiba merenung setelah mendengar Irene mengatakan jika Jihan akan pergi makan malam bersama salah satu siswa yang ia tebak adalah Dean.
"Apa jangan-jangan Kak Jihan di mainin sama dia? Gimana kalau Kak Jihan sakit hati? Tapi kenapa juga malah aku yang sibuk mikirin nya. Udah akh males, biarin aja deh!" Monolog Jane. Setelah nya dia lantas berdiri dari duduknya untuk segera pergi ke kamar mandi, membersihkan diri.
"Ish! Kenapa deh, hatiku selalu gak terima gini kalau menyangkut bocah itu?!" Gerutu Jane, jujur ia merasa jika Dean punya magnet yang bisa membuat dirinya selalu tidak berhenti memikirkannya. Jane juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dirinya bersikap aneh seperti itu.
Sedangkan di tempat lain. Tepat pukul tujuh malam Deandra sudah siap untuk pergi bersama Jihan. Mereka malam ini ada janji makan bersama. Setelah melihat penampilannya dicermin, Dean langsung keluar. Dia memanggil Taksi, sengaja tidak membawa motor agar punya alasan supaya bisa diantar pulang oleh Jihan. Cukup beberpa menit Taksi yang dia pesan datang.
Dean mengotak-atik handphonenya. Berniat ingin memberitahu Jihan jika dirinya sudah dalam perjalanan.
"Kak, aku udah di jalan." Isi pesan Dean untuk Jihan.
"Sampai jumpa disana." Tak perlu waktu lama bagi Dean untuk mendapatkan balasan dari Jihan.
Dean tersenyum, setelah menerima pesan itu dia lantas menyimpan kembali handphonenya di kantong celana. Deandra yang lebih dulu sampai dari Jihan. Kali pertama ia yang menunggu wanita. Tetapi bagi Dean itu tidak masalah asalkan jangan terlalu lama. Setelah beberapa saat Deandra duduk seorang diri dan akhirnya Jihan datang.
"Anjir cantik banget!" Batin Dean. Ia sampai tidak berkedip melihat kedatangan Jihan yang berjalan menuju kearahnya.
Senyuman manis Jihan terbit diwajahnya. "Kamu disini ternyata," Dean hanya melebarkan senyuman menanggapi ucapan Jihan.
Setelah itu mereka mulai memesan makanan. Karena memang tujuan dan janji mereka adalah mencari makan. Begitu pesanan datang. Mereka yang sama-sama terlihat lapar langsung menyantapnya. Sambil sesekali berbincarng-bincang. Deandra yang menyelesaikan makanan nya lebih dulu dan disusul oleh Jihan. Mereka mengobrol setelahnya, dan tidak terasa sudah satu jam lebih. Waktunya mereka pergi untuk segera bergantian dengan pengunjung lain.
"Kamu udah mau pulang?" Tanya Jihan. Sekarang mereka sedang berjalan menuju mobil wanita itu.
Dean berfikir sejenak. Ini masih awal jika dirinya memilih pulang kerumah. "Hum! Tapi kayaknya aku belum bisa jauh dari kakak. Takutnya nanti pas pulang malah gak bisa tidur lagi," Ucap Jendra sengaja ia mengoda Jihan agar wanita itu mengajaknya berjalan-jalan terlebih dahulu.
Jihan tersenyum. "Kalau gitu kita nonton aja."
Dean langsung sumringah menyadari ia akan menghabiskan waktu akhir pekannya diluar rumah dan tanpa para Sahabatnya yang selalu membuatnya kesal.
Sekarang mereka sudah mengantri untuk pemesanan tiket film yang akan mereka tonton. Deandra menyipitkan mata setelah melihat seseorang yang sepertinya ia kenal sedang duduk diruang tunggu. Setelah dia melihat dengan teliti, ia yakin jika wanita itu Jane yang sedang memainkan handphonenya.
"JIHAN!" Teriak irene yang tiba-tilba muncul disamping Jane. Membawa dua minuman dan satu Popcron.
Refleks Jane menoleh kearah tatapan Irene, ia langsung beretemu pandang dengan Dean yang sedari tadi memperhatikannya.
Deg! Itu jantung Deandra yang berulah lagi. Ini yang kedua kali jantungnya berdetak setelah bertatapan langsung dengan Jane.
"Anjirlah! Jangan berulah Jantung, inget dia itu wanita judes yang selalu marahin lo!" Maki Dean dalam hati. Tetapi malah semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat.