
Dipelajaran pertama kelas *12 Sains 4* ialah *Fisika*. Semua murid sudah siap dengan bukunya masing-masing karena mengetahui siapa yang akan memberikan materi pembelajaran terlebih dahulu. Jovanka yang diketahui berstatus Guru *Fisika* teladan, sudah memasuki kelas itu. Tak heran karena ia seorang Guru yang tepat waktu. Baginya membuat murid pintar adalah tugas utamanya. Karena itu ia berperilaku tegas dan di cap sebagai Guru *Killer*.
Vanka menyincingkan mata, memperhatikan satu per satu murid dikelas itu. "Deandra kemana? Apa terlambat lagi?!" Ujarnya yang terdengar seperti membentak itu.
Alvin sang Ketua Kelas, melirik kanan kiri. "Bu guru, dia lagi sakit." Vanka menggeleng antara percaya atau tidak jika Dean sedang sakit saat ini.
Jane yang kebetulan melewati Kelas itu sesekali menoleh mencari keberadaan Dean. Karena ia sudah tahu jika Dean bertempat dikelas Sains.
"Kemana dia? Apa telat lagi?" Batin Jane.
"Akh, iya.. Kak, tolong nanti kasih tau Ibu Vanka buat kirim hasil ulangan kelas 12 Sains 4! Soalnya tinggal kelas itu yang belum aku liat hasilnya." Grace mengangguk sekaligus bergumam untuk merespon ucapan Jane.
Setelah memeriksa hasil ulangan. Sekali lagi Jane memijit pelipisnya setelah melihat hasil ulangan Kelas Sains. Lagi-lagi emosinya meledak, bagaimana tidak ia harus melihat hasil yang tidak ia inginkan. Apalagi setelah melihat nama Deandra yang mendapatkan warna merah tidak melampaui KKM.
"Kak, Tolong suruh siswa itu keruangan ku sekarang juga!" Jane meninggikan nada bicaranya. Ia benar-benar meredam emosi saat ini.
Dengan langkah cepat, Grace menuju ruang Kelas yang di huni Jendra. Matanya menyusuri setiap sudut kelas, mencoba mencari keberadaan cowok itu.
"Deandra nya ada?" Tanya Grace kepada dua orang di kelas itu. Mereka adalah Alvin dan Gara. Karena ini waktu istirahat. Jadi semua murid melakukan rutinitasnya masing-masing.
Gara yang sekarang duduk diatas meja. Langsung menegakkan badan nya. "Dean nya sakit kak, jadi gak masuk sekolah,"
Grace terdiam sejenak. "Aduh, bisa marah banget dia," Gumam wanita itu. Ia sampai memegangi kepalanya menyadari jika Jane akan marah.
"Ada perlu apa sama Dean kak?" Tanya Gara penasaran. Mereka memang memanggil Grace dengan embel-embel kak, karena cukup bingung harus memanggil wanita itu apa, guru juga bukan.
"akh itu.. Nanti kalau dia udah masuk, bilang aja di cariin kepala sekolah ya, suruh keruangan!" Beritahu Grace, sedikit memaksakan senyuman.
Alvin dan Gara saling menatap, penasaran kedua cowok itu makin meningkat.
"Bisa di wakilin aja gak kak?" Tanya Gara, lagi.
"Iya kak, soalnya gak tau dia kapan bisa masuk nya lagi, emph!" Buru-buru Gara membekap mulut Alvin karena hampir saja keceplosan.
Sekarang gantian Grace yang penasaran, tapi cenggiran dari Sagara membuatnya mau tidak mau mengurungkan rasa penasarannya itu. "Lagi?"
"Itu! Kan dia lagi sakit kak, jadi gak tau kan kapan bisa sembuhnya," Gara mencoba menjelaskan berharap wanita itu tidak mengintegrasikannya.
Grace mengangguk mengerti, karena apa yang dikatakan Gara ada benarnya juga. "Yaudah intinya kapan dia sekolah suruh langsung ke ruangan aja yaa, saya pamit dulu." Lantas ia langsung meninggalkan ruang kelas itu.
Grace membuka kenop pintu secara perlahan. Berharap kehadirannya tidak diketahui empunya ruangan. Tetapi nihil, Jane yang mempunyai Insting kuat menoleh kearah Grace yang sekarang hanya bisa memberikan cenggiran.
"Hum.. Temannya bilang, dia lagi sakit jadi gak masuk sekolah,"
"Aku harus kasih dia pelajaran, jangan sampai dia bikin malu sekolah ini," Tandas Jane, emosinya benar-benar memuncak pada saat ini.
Deandra POV
Aku tersadar dari tidur yang lumayan panjang. Ketika hendak membuka mata sedikit demi sedikit, aku melihat ada empat orang sedang menunggu yang sudahku pastikan mereka adalah sahabat-sahabatku. Mereka terlihat tersenyum lega setelah mendapatiku membuka mata. Meskipun ada tatapan sendu di mata mereka. Mungkin ada banyak pertanyaan yang mereka pendam, tetapi untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa bercerita. Dua hari aku dirumah sakit dan selama itu aku menjalani perawatan yang belum sepenuhnya. Tapi aku tidak ingin berlama-lama disini. Ada kerjaan yang harus dilakukan dan statusku sebagai seorang pelajar. Karena aku tahu jika Kepada Sekolah itu akan marah besar tidak mendapatiku selama beberapa hari disekolah. Jadi hari ini aku memutuskan untuk masuk Sekolah. Luka tusukan diperut bagian kiri membuatku berjalan sedikit tertatih. Karena rasa nyeri yang belum juga sembuh.
Aku melihat didepan pintu Gerbang keempat sahabatku sudah menunggu dengan senyuman manis mereka yang akhir-akhir ini mereka tunjukkan. Mungkin karena aku sedang mengalami musibah jadi mereka lebih menunjukkan senyum dari pada ocehan kepadaku.
"Madam nyuruh lo ke ruangannya sekarang juga,"
Jose menoyor kepala Alvin. "Ckck! Lo jangan bikin Dean pagi-pagi banyak pikiran dong,"
Aku tersenyum kecut. Aku tahu jika beberapa sahabatku memang menyembunyikan sesuatu agar diriku tidak terbebani.
"Gapapa, gue udah tau," Ucapku mencoba meyakinkan mereka jika aku baik baik saja. "Gue langsung kesana aja."
Aku menghirup udara dari rongga hidung berharap dapat kekuatan.
Iyan menepuk bahu ku. "Kalau ada apa-apa bilangin gue yaa.."
"Wih, pahlawan nih!" Pujiku pada Iyan yang lebih bermaksud gurauan.
"Cih! Kapan lagi gue kayak gini coba!"
"Ututu.." Gara mengelus rambut Iya dengan sayang. "Lo doang yang paling sweet di antara kita-kita."
"Udah akh! Gue langsung kesana dulu, nanti makin marah beliau kalau kelamaan," Pamitku kepada mereka.
"Semangat Brother!" Teriak mereka dari belakang, setelah beberapa langkah aku berjalan.
Aku menoleh lalu mengangkat tangan kananku. Menunjukkan jika diriku semangat dan siap mendapatkan ocehan dari sang Madam yaitu Kepada Sekolah.
Mataku berkelana kesetiap sudut dan tidak mendapati seorangpun di ruangannya. Mungkin mereka belum datang pikirku. Aku mondar-mandir mencoba bersabar menunggu mereka. Tepat dimenit kelima mereka tiba. Maksudnya Kepada Sekolah, karena tidak dengan Managernya.
Kedatangannya membuatku sedikit merinding ketakutan karena merasa aura yang begitu sangat mencengkram. Bagaimana tidak, dengan raut wajah datar dan dingin nya itu, aku sudah tahu jika dirinya akan marah besar. Aku menegguk salivaku susah payah. Ia melewatiku tanpa menoleh sedikitpun. Aku hanya bisa menundukkan kepala, bersikap sesopan mungkin kepada dirinya, bertepatan dengan dengan dia sampai di kursi kebangaan nya.
Deandra POV END
Cukup lama mereka saling diam sampai akhirnya Jane membuka suara.
"Apa kau tetap ingin sekolah?" Ujar Jane sambil melepas kacamata hitamnya. Matanya langsung menatap lekat ke manik mata Dean dengan tatapan tajamnya itu yang lantas mampu membuat Deandra terdiam mematung.