MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
GURU KILLER MENAKUTKAN



Hari ini seperti biasanya bagi Deandra. Dirinya yang selalu ingin membolos jika pelajaran Jovanka. Tapi sekali lagi, jika ia merasa tidak berdaya. Jiwanya tidak sanggup jika harus menerima kemurkaan dari seorang guru *Fisika* yang terkenal *Killer*. Guru yang selalu ia hindari sedari kelas sepuluh. Dean mulai terfikirkan, bagaimana mungkin ia malah mengambil Jurusan *Sains*? Jelas-jelas akan bertemu dengan Vanka, sang Guru *Killer* setiap hari. Ia merutuki dirinya, kenapa harus terobsesi ingin menjadi murid yang terlihat keren jika berada di kelas *Sains*.


"Deandra Malik! Kenapa kamu melamun?! Kamu gak mendengarkan penjelasan saya lagi?!" Tanya Jovanka yang lebih terdengar membentak itu.


Benar saja pikir Dean, ia sudah mengira jika Guru Killer itu akan mencari kesalahannya. Padahal dirinya sedari tadi tidak menoleh kesana kemari. Bahkan ia merasa dirinya tidak berkedip sama sekali. Meskipun ia akui jika pandangan dan pikirannya kosong. la cuma mendengar, masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.


"Gak Bu! Ini saya mendengarkan," Jawab Dean dengan intonasi datar. Terlihat dirinya malas untuk menjawab.


Ucapan yang terdengar dingin dari Dean, membuat semua murid dikelas itu menatap kearahnya, pasrah. Mereka sudah menimba-nimba apa yang kiranya akan terjadi.


"Siapa yang menyuruhmu menjawab pertanyaan saya?! Kamu itu benar-benar selalu bikin saya marah ya!"


Dean merasa dirinya sungguh bodoh. Harusnya ia ingat dengan peraturan di kelas Guru Killer itu. Jika sang Guru tidak menyuruh menjawab, maka tidak harus dijawab. Guru yang aneh, memang itu Definisi dari Guru Killer, menurut Dean.


Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang membuat semua Murid menoleh kearah ketukan itu. Begitu juga dengan Vanka.


"Ya! Ada perlu apa, Bu Gia?"


"Akh itu Bu Vanka! Maaf menganggu waktunya, saya cuma ingin meminjam Deandra sebentar, karena saya ada perlu dengannya," kata Gia terdengar memohon. la tahu dimana tempat untuk berbicara hati-hati dengan orang sebayanya.


Jovanka dan seluruh Murid sontak menoleh kearah Dean sedangkan yang di tatap hanya bersikap acuh tak acuh.


"Apa kamu mau ikut Bu Gia?" Jovanka menanyakan. Membuat Dean semangat untuk menjawab.


Dean berdiri dengan tegap. "Ya Bu! Mau, saya mau ikut!" Rasanya ia ingin melompat-lompat karena sangat senang jika harus tidak mengikuti pelajaran Jovanka.


Lantas Deandra berjalan perlahan. Semua pasang mata memperhatikannya. Tapi Dean benar-benar tidak peduli. Bagi Dean, intinya ia bebas dari pelajaran Guru Killer itu hari ini. Bagaimana tidak, ia selalu berusaha menahan nafas untuk terlihat tenang karena takut.


Deandra dan Gia berjalan melewati setiap koridor di sekolah itu. Dean yang mengekori wanita itu, sekarang dia bernafas lega, ia merasa terbebas karena dikurung di ruang Serigala.


Tidak lama dari itu, akhirnya mereka sampai. Dean mengerutkan keningnya setelah menyadari Gia membawanya di ruang Bimbingan Kongseling(BK).


"Apa kamu tau kalau Kepsek menyuruh Ibu jadi guru privat buat kamu?" Tanya Gia setelah mendudukkan pantatnya.


Dean yang sedari tadi asyik membaca kertas-kertas Motivasi menoleh cepat. la ikut mendudukkan pantatnya dan sekarang mereka sudah berhadapan layaknya seorang murid yang melakukan kesalahan lalu menghadap Guru BK.


"Ibu serius? Kenapa Kepsek nyuruhnya Ibu?"


Gia menggeleng tidak tahu. "Ibu juga gak tau pastinya, yang jelas tadi dia WhatsApp terus bilangnya gitu. Sebenarnya ada dua pilihan sih,"


"Dua pilihan?"


"Iya! Dua pilihan yang dimana antara Ibu sama Ibu Vanka,"


"GAK!" tolak Dean cepat. Mendengar ucapan itu membuat Dean langsung bergidik ngeri dan membulatkan matanya. "Kalau Ibu Vanka gak mau, Dean! Ibu Gia aja! Pilih Ibu Gia pokoknya gak mau yang lain!" Cerocosnya.


Gia malah terkekeh melihat reaksi muridnya itu. Ia cukup tahu jika Jovanka sangat dihindari banyak Murid di sekolah ini.


"Tapi kan Ibu hanya bisa dibidang Matematika. Mungkin nanti Ibu Vanka juga akan berpartisivasi jadi guru les privat kamu."


Beberapa Saat Berlalu.


Kini Dean terlihat sangat kesal. la terus mondar-mandir ditaman setelah keluar ruang BK.


"Anjirlah! Awas aja tuh nenek sihir kalau sempat nyuruh Bu Vanka!" Monolognya, jika dirinya kesal ia tidak akan menghilangkan julukan yang ia beri kepada Jane.


Terpikirkan oleh Dean, bisa-bisa dirinya tak berdaya jika harus belajar dengan Jovanka. Dengan langkah cepat bercampur emosi ia melewati setiap koridor. Ia terus berjalan. Kali ini ia benar-benar tidak mersepon siswi-siswi yang memanggilnya.


Deandra memutuskan untuk pergi keruangan Jane. Tanpa mengetuk pintu ia masuk begitu saja. Ia tediam seketika, setelah menyadari ruangan itu kosong. Kedua bola matanya terus berkeliling mencari sosok yang ia cari. Dean perlahan menghampiri meja kerja Kepala Sekolahnya. Dilihatnya meja itu kosong tanpa bekas-berkas yang selalu menumpuk diatas meja.


Melihat itu, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan Jane. Setelah didepan pintu keluar, Dean terdiam sejenak raut wajahnya memancarkan kebingungan. Perubahannya begitu cepat, buktinya kini ia sudah tidak terlihat emosi.


"Apa dia sakit gara-gara semalem?" Monolognya, ia menggeleng setelah sadar, tidak seharusnya ia memikirkan akan hal itu.


"Elah! Ngapain juga gue harus mikirin nasibnya? Toh, nasib gue lebih lah yang dalam bahaya gara-gara dia!"


Deandra pun beranjak dari tempat itu dengan langkah yang seperti orang kebingungan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, perasaan rasa bersalah bercampur dengan rasa takut akan nasibnya. Lantas ia melanksahkan kakinya untuk ke taman. Disana sudah ada keempat shabatnya yang sedari tadi menunggunya.


Jose memperhatikan wajah Dean yang ditekuknya. Dirinya yang peka akan perubahan wajah sahabat-sahabatnya. "Wei! Kenapa tuh muka kusut banget?"


"Lah! Are you oke, bro? Sini cerita sama abang!" Iyan yang juga menyadari. Tetapi ia lebih terlihat mengejek sahabatnya itu.


"Hih! Ganggu banget dah kalian! Gue lagi mikrin nasib gue ini.." Pekik Dean. Ini yang ia tidak suka jika dengan sadar para sahabatnya itu selalu menganggu bahkan mengejek dan mengodanya.


"Widih! Apa Tuhan baru aja berkehendak?" Ejek Gara.


"Gilaaa.. Lo minta mati aja sekalian sama Tuhan," Kali ini Alvin menyuarai. Dirinya mulai berani, tidak biasanya ia seperti ini.


Mendengar ucapan Alvin membuat mereka Tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, Alvin yang mereka kenal Alim dan polos sudah pandai dalam hal mengejek dan bercanda. Tetapi Deandra yang tidak tertawa sedikitpun, karena ia lumayan emosi dengan candaan sahabat-sahabatnya itu.


"Anjir lo! Gue mau di les privat Bu Vanka ini, kalian tau sendirikan tuh orang gimana? Ck!" Kesal Dean, lagi. Ia sampai meninggikan suaranya.


Mendengar Jovanka lah yang akan memberilkan Les untuk Dean, membuat mereka kaget bukan main.


"Guys! Gimana ini? Kayaknya kita harus gali kedaleman dua meter deh," Iyan sengaja mendatarkan mimik wajahnya. la mulai mengajak ketiga sahabatnya untuk bercanda lagi.


"Boleh! Biar gue yang nyumbang Batako, Pasir, Semen sama Porselin," Gara yang selalu menangkap cepat maksud ucapan orang. la juga ikut mendatarkan mimik wajahnya.


Jose menaruh tangannya di bahu Gara. "Kayaknya gue bagian yang nyiapin Nisan aja kali ya? sama foto ukuran besar, secepatnya deh,"


"Oke! Kalau gitu gue bakal nyiapin pesta tujuh hari tujuh malem, sekaian!" Alvin selalu beda sendiri dengan ketiga sahabatnya.


Emosi Deandra meningkat setelah mendengar perkataan yang menurutnya menyumpai dirinya. Ia semakin murka kali ini.


"HEH! SONO PERGI JAUH-JAUH DI HADAPAN GUE! NAMBAH PUSING AJA TAU GAK. SONO PERGI!" Tawa sahabatnya makin menjadi-jadi, melihat ekspresi Deandra yang makin memanas dan emosi.


Tanpa mereka sadar dua wanita sedang berjalan dengan elegan melewati taman tempat mereka tertawa-ria. Dua wanita itu sekarang tampak sedang mendekati mereka yang masih asyik tertawa dengan Dean yang masih emosi.


Tapi Alvin tidak sengaja menoleh kearah mereka yang semakin mendekat. la sontak membulatkan matanya melihat dua wanita cantik yang akan segera menghampiri mereka.


Deg! Alvin meraba arah jantung nya berada. "Jantung gue!"


Jantung Alvin semakin berdetak dengan tempo yang semakin cepat. Sehingga membuatnya refleks menoel pinggang Iyan mengisyaratkan ada dua bidadari yang akan mendekati mereka.


Iyan pun menoleh setelah melihat raut wajah Alvin yang dari tadi tidak berkedip. Kini ia ikut melihat kearah dua wanita itu. la memperlihatkan ekspresi yang sama seperti Alvin.


Deg!


"Anjir! Cantik banget, gilaa.." Batin Iyan sambil ikut meraba area jantungnya berada.


Tanpa mereka sadari, mereka menatap satu wanita yang sama. Wanita yang lebih pendek dan mengemaskan yang sebentar lagi akan menyapa mereka.


"Hai!" Sapa kedua wanita itu. Sambil memberikan senyuman semanis mungkin.


Tapi Iyan dan Alvin masih memperhatikan wanita yang sedari tadi mereka perhatikan. Tanpa menoleh ke wanita yang satunya.