
Setelah menyalakan mesin motor *CBR* miliknya, Deandra langsung memacu kecepatan dengan enam puluh kilo meter per jam. Sambil sesekali bersenandung di jalan, bersiul entah apa yang ia coba nyanyikan.
Sedangkan Jane yang baru saja menyelesaikan mandinya, dengan kaos kebesaran dengan celana pendek yang ia kenakan. Sekarang sedang berusaha mengeringkan rambutnya mungkin ia keramas di malam hari.
Ting! Jane terdiam, ia sedikit kesal dengan orang yang ingin bertamu malam-malam. Jane meletakan Hair Dryernya dimeja rias. Lantas keluar dari kamar, wanita itu keluar dengan rambut yang masih acak-acakkan karena belum sepenuhnya kering. Tanpa melihat-lihat dulu Jane langsung membukakan pintu.
"Good night Ibu Kepsek.." Sapa Dean dengan senyuman manis diwajahnya, tangannya melambai-lambai.
Jane yang melihat kedatangan cowok itu langsung salah tingkah, antara kesal bercampur malu, apalagi sekarang penampilannya sedang acak-acakkan. Berusaha menyisir rambutnya menggunakan tangan.
"Mau ngapain anda kesini?!"
Dean mengerutkan kening. Pikirnya tidak mungkin jika wanita itu melupakan apa yang membuatnya harus menemui Jane. "Anda lupa kalau saya mau les privat?"
"Yang ngajarin anda Ibu Gia, bukan saya. Pergi aja kerumahnya!" Jane ingin menutup pintunya tapi langsung ditahan oleh cowok itu.
"Gak! Saya gak tau rumah Bu Gia dimana," Dean berusaha menahan pintu itu. Alhasil sekarang mereka berdua seperti sedang merebutkan pintu.
"Huft! Itu bukan urusan saya! Minggirlah saya mau nutup pintunya,"
"NO! Itu salah anda jadi biarin saya masuk dulu!" Dengan sekali dorongan, pintu itu terbuka. Membuat Jane hampir terhuyung kebelakang.
"Apa yang anda lakukan?!" Jane menatap tidak percaya kepada Deandra yang dengan seenaknya memasuki Unit miliknya. "Keluar sana!"
Dean tidak mempedulikan ucapan wanita itu, ia malah semakin masuk menuju ruangan tamu ingin segera merebahkan dirinya di sofa. Jane yang masih mematung di depan pintu nampak kesal dan grogi, sejujurnya ia malu bertemu dengan Deandra mengingat kejadian semalam. Tapi melihat Dean tidak mendengar kata-kata nya membuatnya harus pasrah. Setelah menutup puntu, ia berjalan menuju kamarnya meninggalkan cowok itu. Dikuncinya pintu kamar. la terdiam sejenak bersandar pada pintu.
Deg! Deg! Deg! Jane meraba area jantungnya berada. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat, setelah mengingat Deandra yang sempat tersenyum manis kepadanya. Tanpa ia sadari jika pipinya mulai memerah. Tatapannya kosong, dengan nafas yang tidak beraturan karena kelelahan memperbutkan pintu dengan Dean bercampur setelah melihat cowok itu. Bibirnya mengukir senyuman kecil.
Jane memukul Jidatnya pelan. "Aish! Sadar Jane!" Ucapnya setelah beberapa saat ia terdiam.
"Gimana ini?" Jane bermonolog mondar-mandir dikamarnya sambil mengigit kuku ibu jari kanannya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bu Kepsek! Anda ngapain di dalam? Keluarlah! Udah 15 menit saya nungguin," Teriak Deandra.
"Ish! Dia kok bisa gampang banget bisa nyamperin aku sih? Sedangkan aku disini, Argh!" Pekik Jane sambil menghentakan kakinya.
"IYA! Sabar dulu.."
Jane mengumpulkan tenaga untuk menemui Deandra agar tidak memalukan lagi seperti kejadian semalam. Tangannya yang gemetaran mengambil jaket di lemarinya, mengambil tas tangan miliknya, menyimpan dompet dan handphone ditas itu dan langsung keluar dari kamar.
Jane berjalan menuju pintu Apartment, membuka pintu itu dan langsung menyuruh Deandra keluar dengan ia juga keluar. Lantas menuju Lift. Didalamn Lift tidak ada yang berbicara diantara mereka. Rajendra nampak bingung dengan kelakuan Jane. Sedangkan Jane berusaha menetralkan dirinya. Tapi tidak dengan jantungnya, yang sedari kedatangan Dean sampai saat sekarang masih berpacu dan malahan semakin cepat dua kali lipat. Terlihat ia mengigit bibir bawahnya dengan kepala sedikit menunduk.
Ting! Lift pun terbuka, Jane berjalan mendahului Dean. Sedangkan cowok itu hanya bisa mengeleng melihat kelakuannya.
"Mau kemana?" Tanya Deandra setelah melihat Jane membuka pintu mobil.
"Ya, nganterin anda ke rumah Gia lah!"
"Yaudah biar saya yang bawa mobil,"
Mendengar itu Jane langsung membuka pintu penumpang bagian belakang. Membuat Deandra menghela nafas kasar. "Permisi! Saya bukan supir anda, duduklah didepan!" Perintahnya.
Jane salah tingkah. la benar-benar tidak mau jika terlihat seperti orang bodoh lagi. "Terserah saya dong! Ini mobil saya, dan ingat saya itu Kepada Sekolah! Anda gak sopan," Pekik Jane, dirinya dalam keadaan bergetar masih bisa membentak.
Sekali lagi Dean hanya bisa pasrah menerima perlakuan wanita itu. Ia mulai menjalankan mobil itu. Diperjalanan tidak ada yang berbicara diantara mereka. rumah Gia cukup jauh sekitar satu jam menempuh perjalanan jika tidak macet dijalan.
"Kiyutt!!" Batin Dean karena melihat wajah datar Jane dengan pipi mandunya.
Sedangkan Janessa ternyata juga memperhatikan Dean sesekali lewat cermin yang sama. Tanpa mereka ketahui mereka menatap bergantian, sampai pada akhirnya mereka saling bertemu pandang lewat cermin itu.
Deg! Jantung Deandra mulai berdetak. Sedangkan Jane mulai salah tingah tapi tetap refleks saling menatap lewat cermin kecil itu. Pipinya mulai merona lagi, nafas yang semakin tidak beraturan. Dean yang tidak sadar dirinya sedarng menyetir tiba-tiba menginjak pedal rem tanpa sengaja sehingga mengakibatkan mobilnya berhenti mendadak. Jane mulai sadar akan hipnotis cinta itu.
"Heh! Mau bunuh saya?!" Pekik Jane mulai meninggikan suaranya.
Dean bergidik ngeri. "Nggak gitu.. Maaf!" Ia lantas menjalankan mobilnya kembali dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan. Terlihat ia mengigit bibir bawahnya.
Deg!
"Apa tuh tadi?" Batin Dean.
Jane yang dibelakang mulai senyum-senyum mengingat kejadian itu. Dengan wajahnya yang masih memerah sambil sesakali dipegang kedua pipinya.
"Ish! Apa-apaan deh.." Batin Jane.
Tepat satu jam mereka sampai dikediaman Gia. Jene yang sudah sadar jika Deandra sudah membukakan pintu untuknya, malah kelur dari pintu yang lain. Karena ia masih tidak mau menatap cowok itu. Dean juga mulai salah tingkah karena nya.
Janessa langsung menekan Bel. Tidak perlu menunggu lama, seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka. Mereka berjalan dengan jarak yang berjauhan, Dean mengekori Jane.
"Non nyari siapa?" Tanya wanita paruh baya itu. Setelah berhadapan langsung dengan Jane yang kebetulan berdiri didepan pintu.
"Gia nya ada bik?"
"Ada Non, Masuklah! Biar Bibi panggilin dulu,"
Deandra dan Jene masuk mengikuti asisten rumah tangga itu. Dengan santun wanita paruh baya itu menuntun mereka menuju sofa.
"Silahkan duduk dulu Non, Den! Bibi panggilin Non Gia dulu." Wanita paruh baya itu lantas beranjak menuju kamar Gia untuk segera memanggilnya.
Keheningan mulai terjadi lagi, mereka berdua tetap tidak mau saling membuka suara. Dengan keadaan salah tingkah mereka yang sama-sama mereka sembunyikan.
"Jane.." Gia yang hampir tidak percaya jika Jane berkunjung ke rumahnya. la lantas mendekat.
"Gia, aku bawain kamu bocah ini!" Jane menunjuk kearah Rajendra yang sekarang hanya bisa tersenyum kikuk.
Gia memperhatikan cowok itu. Lalu dengan cepat menoleh kembali kepada Jane. "Hum.. Tumben banget kamu mau repot-repot bawa dia kemari,"
Jane terkesiap. Ini lah yang ia tidak suka jika harus ada yang menanyakan kemauan nya. Jujur saja ia juga tidak tahu. Tapi ia meyakinkan hatinya jika itu hanya karena ia tidak mau jika Deandra sampai mengganggunya lagi.
"Soalnya dia gak tau rumah kamu,"
"Gitu.. Yaudah tunggu bentar, aku ambil buku pelajaran dulu di kamar."
Keheningan terjadi lagi setelah Gia meninggalkan mereka berdua. Jane yang tidak tahan jika harus seperti ini, apa lagi Gia yang cukup lama di dalam sana, mulai berdiri dari duduknya.
"Ekhem! Saya mau pulang duluan,"
Refleks Deandra menangkap pergelangan tangan Jene. Setelah wanita itu mulai berjalan dan melewatinya. Sang empunya tersentak. Ingin dilepas tapi ia merasa ada kenyamanan tetapi jika dibiarkan dirinya bisa terlihat bodoh lagi didepan Deandra.
"Pulang barengan! Saya gak akan biarin anda pulang sendirian. Ini udah malem, gak baik buat cewek." Dean terdengar lembut saat mengatakan itu.
Jane yang mendengar kata-kata manis itu secara refleks langsung memandang wajah Dean. Membuat mereka saling bertatapan ke manik mata masing-masing. Deg!